Kolom: Agusti Anwar
Pada hari Minggu, 29 Januari 2006, tepat saat tahun baru Imlek, saya dan keluarga bertandang ke Bandung. Tidak ada kaitannya dengan tahun baru teman-teman Tionghoa tersebut. Di tol Purbaleunyi yang mulai langganan bermasalah, pagi itu masih boleh dilalui kendaraan pribadi, meskipun retakan badan jalan telah terlihat. Bandung diguyur hujan silih berganti, berhenti dan mulai lagi.
Saat singgah di Cibaduyut dan menunggui isteri mencari barang-barang yang diinginkan, seorang penjaja kerajinan senjata tradisional yang terbuat dari bambu datang menawarkan dagangannya. Hanya dua jenis: (1) perangkat sumpit, dan (2) perangkat panahan yang lengkap dengan busur dan anak panahnya.
Sumpit yang ditawarkan ada dua jenis, yang berukuran panjang maupun yang pendek, lengkap dengan sejumlah anak pelurunya. Terbuat dari batang bambu bulat sebesar jempol kaki, sumpit itu dapat dibongkar pasang menjadi tiga bagian. Ini sumpit knock-down tentunya. Anda tinggal menyambungkan potongan yang satu dengan yang lain, memasukkan anaknya di ujung, lalu tiup pangkalnya sambil menarik nafas yang dalam seperti pemain terompet jazz yang ternama. Jika telah terampil, barangkali satu dua tupai bisa terkena.
Alat panahannya pun dibuat a la knock-down, siap dibongkar pasang menjadi tiga bagian. Gagang tengah dilengkapi ukiran kayu sederhana, dengan dua lobang untuk menyelipkin sisi atas dan bawah busur yang lentur. Lalu, tinggal dipasangkan talinya, pasang anak panah, siap menjadi Robin Hood. Kalau sudah mahir, barangkali satu dua kancil dapat jadi hasil buruan. Atau, mungkin, ikut jadi atlit panahan nasional.
“Ayo, Pak, sumpitnya, iseng-iseng untuk hiasan”, ia mulai menawarkan. Sigap diperagakan penggunaannya, cara bongkar pasangnya, kemudian mematut-matut pemajangannya di dinding, dengan beberapa pilihan posisi yang mungkin.
Peragaan panah pun dilakukan dengan cara yang sama. Dipasang dan diaju. Tentu saja lengkap dengan beberapa opsi posisi pemajangan di dinding yang kira-kira bisa cocok.
“Ini mah bisa untuk pajangan, tapi dipakai berburu juga bisa”.
“Murah saja.” Ia menyebutkan harga yang memang tidak mahal. Nada suaranya lunak, khas Sunda. “Ditawar saja boleh, maunya berapa?”
Kedua jenis kerajinan rakyat ini memang barang yang biasa ditemukan dan dijual di berbagai tempat, termasuk tempat-tempat rekreasi atau wisata. Sekedar suvenir hasil kerja tangan yang sederhana.
Namun, itu persis yang menjadi masalah dalam pemasaran suvenir tradisional seperti ini. Ia dibuat dengan sangat sederhana, walaupun sudah cukup praktis karena bisa dibongkar pasang, namun kualitasnya tetap saja sederhana. Dapat diperhatikan bahwa beberapa bagiannya masih terkesan kasar. Meskipun dipoles tipis dengan pernis, namun masih saja tergolong sebuah finishing yang ringkas dan seadanya. Ini memang produk sangat low-end, untuk konsumen biasa, dan tentunya dengan harga yang tidak pretensius.
Oleh sebab itu, harap maklum, bahwa apabila dihadapkan dengan pertanyaan apakah akan membeli atau tidak, nalar cepat saja mengatakan tidak. Untuk apa, otak akan berkata. Faktanya, untuk hiasan dinding pun terasa kurang pas. Saya juga bukan seorang penggemar kegiatan berburu, bahkan termasuk orang yang tidak senang terhadap orang lain yang memiliki hobi menembaki hewan untuk tujuan yang sia-sia. Pendek kata, semua alasan yang ada berujung dengan permohonan maaf tidak membeli.
Tetapi hati biasanya suka berkata lain. Berbeda dengan otak, yang dilihat oleh hati sama sekali bukan materi dagangan itu. Yang diperhatikan justeru adalah sosok seorang lelaki separuh baya berpakaian lusuh yang keletihan, rambut ikal yang sudah kepanjangan yang meriap ditiup angin lewat, mata yang tulus dengan sorotan bermartabat, keranjang sandang yang masih penuh dagangan, sedangkan waktu beranjak mendekati senja. Yang dipertanyakan, sudah berapakah sumpit atau panah yang laku terjual? Sudah makankah ia? Hati bahkan akan menelusur lebih dalam: berapa orangkah anggota keluarga yang menunggu di rumah, yang mengharapkan dagangan sang suami atau sang ayah laku terjual? Seberapa jauhkah tempatnya tinggal?
Malangnya hari itu hati saya kalah dengan rasio: Saya tidak membeli. Untuk enaknya, saya bahkan sempat memindahkan persoalan kepada keponakan yang ikut dengan saya. Sejujurnya hati saya berharap-harap cemas agar si keponakan yang berhati sopan itu berminat, agar saya menemukan alasan untuk membeli, paling tidak salah satunya---sumpit atau panah.
Tetapi anak muda sekarang lebih menggemari musik rock, main gitar listrik sambil berjingkrak-jingkrak atau sekedar bergadang main game, daripada menghiraukan produk kerajinan rakyat. Kalau pun ada yang suka menembak, paling tidak yang diinginkannya adalah senapan angin merek Benjamin atau sejenisnya. Hiasan dinding pun, bagi anak muda, lebih sering berupa poster lebar penyanyi papan atas atau sekedar figur pemberontak lainnya. Sebatang sumpit bambu?
Akhirnya, meskipun sang penjaja kerajinan itu siap menurunkan harga dengan memelas, otak yang berkuasa tetap tidak berubah posisi. Senja semakin turun; kami pun berpamitan dengan Bandung.
Namun susahnya, itulah, kalau otak dan hati bersiteru, selalu akan ada yang terasa kurang, kadang bahkan disesali. Kata orang, the unfinished business. Sampai saat mampir untuk shalat Maghrib di persinggahan pertama tol Purbaleunyi, perasaan tak selesai itu terus-menerus mengganjal. Ketika akhirnya kita bahas ramai-ramai masalah itu sepanjang perjalanan, terasa bahwa hati pun semakin berkibar, mengalahkan otak, meskipun terlambat. Si keponakan bahkan mengungkakan perasaan yang persis sama, meskipun tadi segan mengutarakannya. Sedangkan isteri saya yang memang telah mengenal kebiasaan suaminya, cuma berkomentar, “Mengapa tidak dibeli saja, untuk menolong, biasanya kan begitu?”
Saya jadi teringat berbagai ini dan itu sebelum-sebelumnya, tak perlulah disebutkan lagi. Ternyata, ketika hati telah berniat baik dan hal itu tidak disampaikan, yang tersisa adalah sebuah kesempatan yang hilang---a missed opportunity. Akan datang ganjalan penyesalan yang tidak selesai, rasa bersalah yang tidak bisa begitu saja di-undo atau dibatalkan.
Ternyata, kalau di hati telah terbersit niat untuk berbuat baik, maka langkah yang terbaik cukuplah dengan melakukannya saja, tanpa perlu mencari-cari alasan rasionalnya. Do not concentrate on all other wrong things. Sebab, yang sebetulnya kita butuhkan atau bayarkan adalah sekelumit perasaan bahagia itu, karena dapat menolong, bukan soal sebuah suvenir yang entah bermanfaat atau tidak. Sensasi sekelumit rasa bahagia itu bahkan akan cukup kuat untuk membuat kita tidak mempersoalkan perkara imbalan pahala dan sebagainya, karena semua itu sekedar efek samping berupa bonus di akhirat yang pencairannya masih sangat lama.
Malam itu, keponakan saya dengan ringan menawarkan sebuah penutup sambil menyetir, “Nggak apa-apa, Mas, ntar kalau kita ke Bandung lagi dan ketemu dia, kita beli deh”.
Sementara itu, jalur sisi kanan Tol Purbaleunyi untuk jurusan Jakarta-Bandung sudah ditutup dan dialihkan, meskipun jurusan Bandung-Jakarta yang kami lewati tetap lancar. Menurut berita koran 1 Februari, ada tujuh titik kerusakan yang sedang diperbaiki di tol brandnew proyek dadakan KAA itu. Menteri Pekerjaan Umum dengan tenang menisbatkan permasalahan kerusakan sebagai sekedar bagian dari dampak bencana yang banyak dialami bangsa ini.
Jakarta, 1 Februari 2006