
Kolom: Agusti Anwar
“Hare gene macet
nulis?” Itu pertanyaan gaul di lingkungan sebuah forum penulisan
guna memberi semangat para peminat yang terganjal ide tak tahu mau
menulis apa.
Faktanya memang, bukan
saja yang pemula yang suka macet dan termenung di depan komputer, kehilangan kata-kata. Penulis profesional sekali pun, yang hidup
justru dari kegiatan menulis, pasti pernah mengalami situasi seperti
ini. Inilah yang disebut writer's block; situasi yang mengerangkeng
sang penulis dalam status quo, macet tak ada langkah maju. Secara psikologis ia disebut terkait dengan depresi dan anxiety yang menandai adanya disorder pada frontal lobe dari otak seseorang.
Fenomenanya bisa saja
separah situasi black out, betul-betul gelap tak ada cahaya, maupun
seringan kehilangan pilihan kata belaka. Ada yang terpenjara sampai sangat lama,
ada yang cepat saja berlalu dan maju lagi.
Coba lihat dalam
film-film. Cukup sering kita saksikan adegan seorang tokoh yang
mentok tak punya ide dan
berulang-ulang merobek dan membuang kertas yang telah dituliskannya.
Kalau dalam film kartun yang hiperbolis, tentulah kertas yang disobek
dan dibuang itu akan menumpuk sampai menggunung. Macet!
Waktu
mahasiswa biasanya tekanan untuk menulis itu sangat terasa. Mulai
dari makalah sampai skripsi. Terutama yang terakhir ini, bagi
sebagian mahasiswa bisa berbulan atau bertahun lamanya proses
penulisan yang berlangsung. Betul-betul merupakan saat-saat yang
menekan dan membuat frustrasi.
Penulis
novel pun sering menghadapi hal ini, macet pada draft yang tak
maju-maju. Sebagian bahkan bertahun-tahun. Kalau anda pernah menonton
film Finding Forester yang dibintangi Sean Connery, itu adalah kisah seorang penulis novel
berkepribadian tertutup (reclusive), William Forester, yang hanya
menghasilkan sebuah karya besar dan itu satu-satunya karya yang
dihasilkan hingga bertahun-tahun. Tentu ada banyak contoh lain, termasuk dalam dunia nyata. Penulis Amerika Henry Roth
(1906-1995), misalnya, mengalami masalah ini secara kronis yang berlangsung
sampai enam dekade.
Memang
penghalang yang dihadapi masing-masing orang dapat saja berlainan.
Ide atau inspirasi bisa saja sama sekali tidak datang. Dalam sebuah
serial komedi Seinfeld (season 7), Jerry bahkan mempercandakan Elaine yang
berprofesi sebagai penulis katalog produk komersil, karena macet dan
bingung tidak tahu mau menuliskan apa tentang sebuah produk sepatu
gunung. “Catalaog writer's block?” sindir Jerry.
Karena
sudah menjadi 'penyakit umum' seperti layaknya flu atau pusing,
berbagai resep telah disarankan untuk mengatasi masalah ini. Anda
dapat mencari dan memilih berbagai langkah cepat yang ditawarkan.
Namun, tentunya juga seperti flu dan pusing, tidak semua merek obat
yang diiklankan akan mujarab bagi semua orang. Dosis masing-masing
bisa berlainan.
Yang
jelas, writer's block lebih sering berasal dari diagnosa
psikologis diri penulis itu sendiri. Seringkali ambisi untuk
menghasilkan sebuah karya tulis yang luar biasa akan menjadi beban
penghalang yang sangat berat. Tidak jarang bahwa target besar menjadi
batu penghalang yang dipasang sendiri di depan mata, bahkan sebelum
betul-betul memulai.
Memang
tanpa ambisi besar pun, menulis tidak selalu mudah dilakukan. Selalu
saja ada seribu satu alasan yang membuat kita gagal atau terus
menunda untuk menorehkan kata pertama itu. Jika ini yang terjadi pada
anda, saran terbaiknya bukanlah mencari selusin pembenaran lain,
tetapi langsung tuliskan saja kata itu, apa pun ia.
Biasanya,
apabila kita takut melakukan sesuatu, resep terbaik untuk
mengatasinya (jika memang perlu diatasi) justru dengan spontan
melakukan apa yang ditakutkan itu. Face your fear, kata orang; dan
kita dapat saja akan heran sendiri ketika ternyata setelah dihadapi,
masalah yang tadi terasa sangat berat ternyata hanya ringan saja.
Writer's
block? Aha! Saya merasa mengalami masalah ini sejak beberapa waktu
belakangan: walau pun demikian banyak yang singgah dan menggumpal di
kepala, mereka tetap tidak tumpah menjadi jalinan kata-kata seperti
yang diinginkan. Herannya, alasan pembenaran bagi saya untuk
membiarkan pengganjal itu berkuasa adalah tuts huruf k pada
laptop saya.
Mmm,
beberapa waktu yang lalu, ketika membersih-bersihkan debu barisan
keyboard di halaman laptop, tuts huruf k macet dan ketika saya coba
perbaiki malah semakin rusak, sehingga kalau tidak ditekan keras,
huruf k tidak akan tertulis di layar, padahal semua tuts yang lain
tetap lembut. Begitu saja, soal huruf k telah berubah menjadi
pengganjal yang membuat malas menulis.
Bayangkan betapa mudahnya
tercipta alasan untuk mengganjal kreatifitas. Masing-masing kita
dapat saja memiliki beragam alasan untuk tidak jadi
produktif---writer's block itu.
Masih
belum puas? Saya pun jadi teringat sebuah karikatur di blaug.com di
atas. Adegannya, Stan mengatakan bahwa ia tidak tahu mau menulis apa
di blognya hari ini, yang justru dijawab ringan oleh temannya, “That
hasn't stopped you from writing about nothing before, Stan”.
Persis
itu pula alasan mengapa saya menulis soal writer's block ini.
Senin,
15/01/2007 (Liburan Martin Luther King's Day)
 | Menurut pengalaman saya selama ini...yaa terkadang kita tidak bisa menulis...pikiran kosong saja...mungkin juga sudah jenuh,,,atau capek..jadi otak tidak bisa bekerja. Sebaiknya kita istirahat dan jalan jalan keluar kota atau kegunung gunung mencari rekreasi..nanti keluar inspirasi baru...kemudian kata demi kata akan keluar dari otaknya.....kalau keluarnya lancar rasanya lega sekali... Wassallam Anwar...selamat tahun baru 2007,semoga tahun ini tahun yang lebih sukses buat kita semua...karena angka tujuh di belakang nya.Insya ALLAH
|
 | sama mas. saya juga terkadang macet saat mau menulis, terutama tulisan feature. padahal, kerjaanku sehari-hari kan menulis. :) |
 | Kalau saya koq malah sebaliknya ya pak, ingin sekali 'berhenti menulis' (baca : tidak banyak muncul kisah 'duka') di blog saya :) |
 | karena saya lagi enggak mood nulis, jadi nulis di reply ini aja, Pak :) |
 | FInding Forester! Suka banget sama film itu :D
Menulis tentang alasan mengapa tidak menulis. Ya ya... terdengar familiar sekali hehehe... Resep yang jitu buat saya: kalo mentok, berhenti, ganti dengan membaca. Membaca sambil ngemil kek, makan es krim kek, jalan-jalan kek, apa aja lah. Kalo blok-nya akut banget sampe bikin bosen, ngacir deh. Jalan-jalan, window shopping, main sama anak... hihihi... |
 | Menulis memang lain dengan hanya asal bicara, sebab menulis perlu dipikirkan masak-masak, karena hasil karya tulis kita akan lebih lama terekam dan selalu dibaca orang. Makanya untuk menulis perlu ketelatenan dan kesabaran. Problem writer's block juga saya alami, kalo lagi stag sulit untuk mengoperasionalkan apa yang ada di pikiran kita menjadi kata-kata. Tapi yah terus aja berusaha untuk menulis sebisa kita. TFS Bang. |
 | aku gak tau apa aku pernah ngalamin writter's block... tapi pastinya aku sering putus asa dengan "bahasaku"... |
 | kalau saya krn mood...... masha allah, saya tidak menyangka, kehilangan adik bisa membuat saya kehilangan hampr separuh diri.......... |
 | Mas Anwar, kalau saya menulis karena ingin membaca. Tapi karena banyak yg harus dibaca, eh jadinya malah gak nulis-nulis hehehehe. Btw thanks sharingnya, jadi pengen nulis lagi nich. Salam. |
 | agustianwar wrote on Jan 16, '07, edited on Jan 16, '07 Ini namanya "reply writer's block"...he he he.....salam... |
 | agustianwar wrote on Jan 16, '07, edited on Jan 16, '07 tapi pastinya aku sering putus asa dengan "bahasaku"...  Ah masa sih? Untungnya tulisan di blog bisa sangat informal kan, tergantung bagaimana kita menentukan garis batasnya sesuai yang diinginkan...ya kan? (Selamat atas arus kunjungan di blognya yang semakin gencar....) salam, Anwar. |
 | Alhamdulillah dah sembuh nih...hehegehehehe |
 | ekape wrote on Jan 17, '07 Saya ingiiin sekali bisa menulis. Seringkali terlintas ingin menuliskan sesuatu,entah apapun itu,tetapi seringkali pula mentok saat merangkai kata. Terima kasih pak,sudah berbagi.
|
 | Terima kasih Mas, telah berbagi.... Ini sangat sering terjadi. Padahal komputer sudah on, tangan sudah di keyboard, ide sudah ada tapi berseliweran...giliran buat tulisan satu katapun tidak terbentuk...hehehe.. |
 | "Heh heh heh, membaca artikel ini saya jadi semangat lagi. Ternyata macet menulis ini bukan hanya milik saya yang baru tertatih-tatih belajar menulis tapi juga miliknya Mas Agusti Anwar. Bedanya, Mas Agus terganjal oleh tuts k yang tidak muncul di layar monitor, sedangkan saya terganjal oleh ide dan gagasan yang tak muncul-muncul di otak. |
 | "Heh heh heh, membaca artikel ini saya jadi semangat lagi. Ternyata macet menulis ini bukan hanya milik saya yang baru tertatih-tatih belajar menulis tapi juga miliknya Mas Agusti Anwar. Bedanya, Mas Agus terganjal oleh tuts k yang tidak muncul di layar monitor, sedangkan saya terganjal oleh ide dan gagasan yang tak muncul-muncul di otak.  Ha ha ha....block tidak menulis dihadapi oleh siapa pun. Tadi malam saya kebetulan menonton film "Stranger than fiction", yang juga menyangkut writer's block yang dialami sang tokoh, bahkan telah berlangsung 10 tahun.
Terhalang menulis memang dialami semua kita yang suka menulis. Alasan untuk menunda itu bisa macam-macam, mulai dari tuts k yang bandel sampai lain-lain yang lebih canggih. Tapi, jujur saja, isteri saya baru dua hari yang lalu meledek: "Katanya karena tuts k yang macet, sekarang sudah punya laptop baru yang tutsnya lembut, tetap saja nggak menulis..." ha ha ha.....
Ya, memang, karena masalah laptop yang dulu (apalagi sistemnya memang telah semakin berat), saya jadi beli laptop baru yang (ok bangetlah gitu), tetapi eh ternyata tetap belum mengalir lagi tulisan-tulisan itu, ha ha ha. Apalagi kebetulan di kantor pekerjaan sedang menumpuk dan menunggu antrian....mmm........
Yang jelas, tetap saja mencoba ya, jangan berhenti.....sebagai manusia, kita selalu naik dan turun kok.....salam dari LA, Anwar.
|
 | Ada-ada aja Mas.....kalau sempat sama artinya, wah susah deh...... |
| |