Blog EntryFRAGMEN RASA SAKIT SANG ANAK*Jan 23, '07 12:56 AM
for everyone




"Setelah cucumu lahir/aku lebih faham betapa beratnya/Membesarkan dan setia melindungi, semua anak-anakmu/Kita yang selalu hidup sederhana, kau sanggup mengasuh hingga kami dewasa/Dengarkanlah nyanyian yang aku peruntukkan buatmu ibu."

---Lagu Nyanyian Rindu untuk Ibu (Ebiet G. Ade)



Anak  periang anda yang tersayang tiba-tiba terjatuh ketika bermain, pipinya terantuk ujung meja dan ia menjerit kesakitan. Ia menangis teramat keras, memang tak ada yang luka, tetapi rasanya pastilah amat sakit. Ia pun meraung kesakitan sampai lama, meski anda tiup-tiup pipinya yang terantuk, anda gendong hilir-mudik, anda ucapkan beribu kata penghibur, tak reda jua tangisnya.

Anda tentu amat berharap rasa sakitnya akan hilang terangkat secepat mungkin. Detik itu juga. Mohon, terjadilah keajaiban. Namun tentu rasa sakit sang anak tak akan begitu saja hapus.

Pada saat-saat seperti itu, ketika anak kita menangis menanggungkan sakit, bagaimana perasaan yang berkecamuk menyaksikan sang anak di depan mata, sedangkan kita tak bisa berbuat apa-apa, selain sekedar melipur-lipur?

Baiklah, beralih sedikit. Kalau anda penggemar film, barangkali akan langsung teringat film Green Mile dan diperankan Tom Hank. Yaitu tentang seorang tahanan yang memiliki kemampuan penyembuhan yang ajaib, faith healer. Si tahanan, John Coffey (diperankan Michael Clark Duncan) dalam film berdasarkan novel Stephen King itu adalah lelaki berkulit hitam berbadan besar dan berwajah lugu yang dijatuhi keputusan salah hukum karena prasangka warna kulit. Ia dipergoki sedang memangku korban, seorang anak kulit putih, padahal sebetulnya John sedang berusaha mengangkat penderitaan sang anak. Sebab ia adalah seorang penyembuh ajaib.

Dalam dunia film, kisah-kisah penyembuhan ajaib memang cukup sering diproduksi. Ada berbagai versi, mulai dari makhluk luar angkasa, manusia yang pernah diculik UFO atau pernah mendapat keajaiban alam lainnya; baik itu versi serial televisi atau layar lebar, semuanya cukup dengan meletakkan tangan sang tokoh di bagian yang sakit, maka sembuhlah. Dalam sebuah seri The X-Files, sang pengobat memang mendapat dampak negatif, karena ia sebetulnya sekedar memindahkan segala sakit si penderita kepada dirinya sendiri. Sengaja atau tidak, kisah-kisah penyembuhan seperti zaman Nabi Isa sering dijadikan sumber inspirasi penyembuhan ajaib demikian ini. Faktanya, ketika menderita, semua kita mengharapkan adanya keajaiban.

Lalu, kembali ke kisah sang anak yang terantuk meja tadi, pada saat-saat seperti itu, ketika kita tak bisa berbuat apa-apa selain sekedar melipur-lipur, tentulah ingin rasanya untuk diberkahi kemampuan ajaib mengangkatkan rasa sakit sang anak dengan seketika.

Lebih dari itu, sebagai orang tua kita pun tentu tak akan menolak apabila rasa sakit si anak dapat serta merta ditransfer atau dipindahkan ke kita, bahkan dengan resiko sakit yang berlipat sekali pun. Daripada si anak tersayang yang menderita, biarlah kita saja yang menanggungkannya.

Waktu kecil-kecil dulu, ketika saya atau adik-adik ada yang terjatuh atau sakit, seringkali ibu atau ayah berlari menghampir dan menggendong, membujuk, melipur-lipur. Kalau hanya sekedar jatuh, dibujuk dan ditiup-tiup di mana yang sakit. "Biar kuat dan cepat besar," hibur mereka.

Kalau sakit seperti demam dan lainnya, tak pernah lepas perhatian, dalam tatap wajah yang penuh cemas itu. Tak jarang dulu saya dengar ibu atau ayah melipur sambil berkata berdayu-dayu, agar segala sakit atau penyakit dipindahkan dari sang anak ke mereka saja, biarlah mereka yang menahankan rasa sakit itu. Entah mengapa, rasa sakit pun waktu itu seakan terasa menjadi lebih ringan.

Ah, tentulah rasa sakit tak dapat dipindah seperti memindahkan barang. Tetapi sebagai orang tua kini dan semakin belajar suka duka dan getir khawatir dalam membesarkan anak-anak sendiri, berbagai fragmen waktu yang dulu di waktu kita kecil mungkin terasa biasa saja dan tak begitu bermakna, sekarang datang kembali, berulang, dan membawa makna-makna baru.

Lalu, ketika anak yang kita sayang terjatuh terantuk dan menangis kesakitan, pastilah ingin rasanya agar semua rasa sakit itu dapat dipindah-pindahkan semudah memindahkan barang; agar si anak tersayang dapat terus bermain, bergoyang, bernyanyi riang. Dan tidak terjatuh, terantuk ujung meja hingga meraung sakit, dengan air mata yang berlinang.

Meskipun sadar semua itu tak mungkin, tetapi rasa harap agar keajaiban terjadi selalu akan muncul. Sebab, sepuluh kali lipat pun rasa sakit itu apabila bisa kita yang mengganti menanggungkannya, pasti tak akan terasa, tersebab terobat nyayian sang anak yang asyik bergoyang-goyang.

22 Jan 2007

*) Catatan ketika si kecil Alya yang periang jatuh terantuk meja.



14 CommentsChronological   Reverse   Threaded
jampang wrote on Jan 23, '07
alya luka, pak?
dbaonk wrote on Jan 23, '07, edited on Jan 23, '07
semoga tidak. (diedit : maksudnya semoga alya tidak luka).
perasaan seperti ini berlaku umum atau tidak ya? mestinya sih umum. tapi tak jarang melihat yang sebaliknya.
atau ada juga hal seperti ini : ketika merasa luka-sakit anak adalah luka-sakit orang tua, tapi masih juga terjadi keteledoran "berlebihan" yang mengakibatkan sang anak bukan hanya luka-sakit tapi juga bahkan meninggal dunia.
(sempat baca di media, kasus anak balita terjatuh dari lantai sekian puluh di apartemen karena tidak waspada adanya pintu yang rusak, atau kasus lain ada anak tangannya terluka parah akibat terjepit eskalator di suatu mall karena orang tuanya tengah asyik merayakan pesta di restoran dan lalai memperhatikan si anak yang keluyuran sendiri)
peduli wrote on Jan 23, '07
Teriring do'a, semoga dek Alya tidak apa2 dan kembali riang seperti sedia kala. Amiin :)
gitasinta wrote on Jan 23, '07
Catatan ketika si kecil Alya yang periang jatuh terantuk meja
========================
mudah2an tidak terjadi hal yang tidak diinginkan ya? :-)
namun, anak2 juga perlu "belajar" untuk sakit kok :-) biar tidak kaget nantinya. Jatuh, kejedug, semua adalah pengalaman buat si kecil...(hmm biarpun belum punya si kecil boleh juga kan ngomong kayak gini :-))
rinrinjamrianti wrote on Jan 23, '07
semoga tdk terjadi apa2 ya dengan dek alya..... ini pengalaman yg berharga buat de alya.... :)
imamisnaini wrote on Jan 23, '07
semoga tidak terjadi apa-apa Mas
latifabdul wrote on Jan 23, '07
Sdr Anwar...lain lubuk lain ikannya..kalau orang2 israeal dan Japan pada umumnya yang saya perhatikan...dlm mendidik anak2nya berbeda dgn ibu2 atau aya2 orang2 Indonesia...Kalau kita sering mengatkan kepada anak2 itu tidak boleh..ini tidak bagus...kata kata2 negatif itu sering di rekam oleh anak2 akibatnya..anak2 kita pada umumnya penakut...kurang motifasi..kurang kreatifitas dibandingkan dgn anak2 Japan dan Israel.

Mereka membiarkan anak2 nya bermain api,air dan yang berbehaya sekalipun...mereka bilang biarlah mereka sendiri membuatpengalaman2 pahit atau berbahaya..katanya..
Misalny seorang anak main api..kalau terbakar baru dia tidak mau lagi main api...demikian seterusnya.

Jadi setelah dewasa ternyata orang2 ini memang orang2 berkratifitas yang tinggi dan berani mengambil resiko tinggi.
Bisakah kiat meniru seperti itu kalau kita benar2 mencintai anak2 menjadi anak2 yang sukses,berani menghadapi perjuangan hidup yangmaikin kompetatif...??
semoga bermanfaat.
Wassalam
agustianwar wrote on Jan 23, '07
jampang said
alya luka, pak?
Ah nggak apa-apa kok...sudah asyik main lagi....
(Cuma catatan sentimentil ayahnya saja...thx...)
agustianwar wrote on Jan 23, '07
dbaonk said
perasaan seperti ini berlaku umum atau tidak ya? mestinya sih umum. tapi tak jarang melihat yang sebaliknya.
Dunia menyediakan semuanya, yang perduli dan yang tidak.... Bagi saya anak itu amat bernilai, seperti juga dulu orang tua sendiri membesarkan anak-anaknya..... Yang lebih menyedihkan justru kalau oangtuanya sangat sayang pada anak, namun masih juga terjadi hal2 yang tidak diharapkan dan di luar kontrol. Saya kira sebagai orang tua, semua perlu menunjukkan kasih sayang itu pada anak-anak, agar nanti melekat dan menjadi pedoman jua. Betapa membesarkan anak-anak itu bisa penuh kekhawatiran dan a full day job/commitment---aduh, jadi bagaimana nanti mereka setelah besar?---pertanyaan seperti itu. Kiranya anak-anak sedunia selalu mendapatkan orang tua yang sayang kepada mereka....salam, Anwar.
agustianwar wrote on Jan 23, '07
peduli said
Teriring do'a, semoga dek Alya tidak apa2 dan kembali riang seperti sedia kala. Amiin :)
Amin dan terima kasih Kosi---sudah asyik main lagi kok....
agustianwar wrote on Jan 23, '07
namun, anak2 juga perlu "belajar" untuk sakit kok :-) biar tidak kaget nantinya. Jatuh, kejedug, semua adalah pengalaman buat si kecil...(hmm biarpun belum punya si kecil boleh juga kan ngomong kayak gini :-))
Betul sih itu, belajar memang kadang harus dari pengalaman ril, bahwa jatuh itu sakit, agar berhati-hati.... Angle entri di atas saya akui lebih rasa sentimental seorang ayah saja....thx...

(You'll be a good and caring mother and I count on it.....)
agustianwar wrote on Jan 23, '07
ini pengalaman yg berharga buat de alya.... :
Setuju...Rin... Saya tulis ini karena kebetulan terjatuhnya pas di depan mata dan dalam posisi yang memang pasti sangat sakit..... Pilu tangisnya itu yang membuat saya teringat di masa kecil, bagaimana ayah/ibu membujuk melipur-lipur....salam, Anwar.
agustianwar wrote on Jan 23, '07
semoga tidak terjadi apa-apa Mas
Thx mas, nggak apa-apa kok....kiranya jadi bagian dari pelajaran menjadi besar bagi Alya....salam....
agustianwar wrote on Jan 23, '07
Thx Uda....memang semua bangsa perlu saling belajar, karena masing-masing punya poin yang perlu diambil dan juga ada yang perlu dibuang. Sebagai ikan dari lain lubuk, kadang lubuknya orang terasa tidak pas atau bisa juga lebih baik.... Yang penting tentu mengambil yang baik-baik saja....salam...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help