Posted by Agusti on Feb 3, '07 12:19 AM for everyone







Soal suka duka mencari daging halal (halal meat) ini, saya teringat tentang seorang penjual daging halal di Los Angeles yang berasal Malaysia, yang baru akhir Desember lalu bangkrut dan menutup usahanya secara permanen.

"Maaf lah Pak," katanya lirih dalam bahasa Melayu, "kita sudah tutup habis."

Namun sebelum itu, marilah kita awali dengan menyinggung kolom Dr. Azyumardi Azra di harian Republika yang mempersoalkan kebiasaan sejumlah mahasiswa Indonesia di luar negeri yang terlalu hirau soal daging halal yang dikonsumsi. Sudah tentu yang dimaksud bukan soal daging hewan apa, melainkan soal penyembelihannya apakah secara Islami atau tidak, karena sudah pasti daging yang dimaksud berasal dari hewan yang tidak diharamkan. Itulah yang dimasud dengan halal meat, apakah sapi, domba atau ayam, persoalan yang umumnya ditemui ketika berada di luar negeri, terutama di negara-negara Barat yang mayoritas bukan Islam.

Pandangan dari aspek fiqh Rektor UIN Jakarta yang pakar sejarah Islam dan aktivis dialog lintas agama itu tentu tidak salah. Saya ingat betul ketika Buya HAMKA dulu berkunjung ke Amerika dan ditanya bagaimana sikap beliau soal makan daging [sapi] yang tidak disembelih secara Islami, beliau menjawab dengan hati bersih cukup dengan membaca bismillah. Saya kira yang tidak pas dari sikap Azyumardi barangkali adalah kegagalannya memaknai keteguhan hati para mahasiswa kita itu yang justru mau bersusah-payah mencari daging halal, walau pun jauh. Saya kira, semestinya sikap demikian adalah hal yang patut dipuji, bukan justru diremehkan; meskipun secara bersamaan juga tidak menjadi jalan pembenaran bagi mahasiswa yang satu menganggap lemah keisalaman mahasiswa yang lain.

Dari pengalaman sendiri karena berpindah-pindah, apakah karena sekolah atau tugas, masalah mencari daging halal memang punya suka-duka tersendiri. Walaupun saya sebatas seorang muslim yang reguler, yang sama sekali tidak hirau soal janggut, meninggikan kaki celana dan lebih merasa pas berbahasa Indonesia dalam penyebutan atau ucapan yang lazim, misalnya, toh rasanya selalu lebih afdol kalau di rumah mengkonsumsi daging yang dibeli dari halal store.

Rasanya selalu ada yang kurang kalau tidak menyempatkan waktu mendapatkannya, sementara kita tahu penjual daging halal itu ada di kota yang sama, walaupun kadang cukup jauh. Semakin jauh tempatnya, biasanya semakin banyak daging yang dibeli agar bisa distok di kulkas untuk tenggang waktu yang cukup lama.

Waktu masih sekolah di Brisbane, Australia, setahu saya satu-satunya toko daging halal yang dikelola oleh warga Pakistan terletak di China Town yang letaknya bertolak belakang dengan kampus. Saya perlu dua kali naik bis untuk datang, dari ujung ke ujung. Karena biasa, akhirnya cukup akrab dengan pemilik toko dan sebagai mahasiswa selalu mendapat potongan harga.

Ketika bermukim di Beijing selama hampir empat tahun, walau pun di negara komunis, ternyata tidak sulit mendapatkan daging halal. Pasalnya, ketika di negara berpenduduk 1,3 milyar itu hanya ada sekitar 20 juta orang Islam, namun kebanyakan dari mereka justru bekerja sebagai tukang jagal. Orang-orang dari etnis Hui yang sudah turun-temurun beragama Islam banyak yang bergerak di bidang pengelolaan makanan, penjual daging dan membuka restoran. Saya biasanya suka singgah untuk menyantap la mien (mi pedas) serta sate kambing atau panggang paha kambing muda. Memang yang agak lucu dan kontradiktif adalah bahwa di semua restoran Muslim itu, baik yang dikelola orang Hui ataupun Xinjiang yang memang berdarah Turki, selalu tersedia minuman bir (yang disuguhkan secara hangat di musim dingin).

Profesi sebagai tukang jagal di kalangan Hui memang tergolong andalan. Tukang jagal terbaik dan bersih biasanya yang dari kalangan muslim ini. Di pasar-pasar, tukang jagal biasanya menempati kios-kios yang berjejer, sehingga seringkali berbagai bagian hewan babi terpampang bersebelahan dengan penjual daging sapi dari kalangan Hui. Pembeda terjelas, selain papan namanya juga bertulisan Arab, para pejagal itu pun selalu menggunakan kopiah putih.

Herannya, daging jualan penjagal muslim seringkali lebih laku daripada yang lain. Apakah itu karena penampilan dan penyuguhan yang lebih bersih atau lainnya, yang pasti kelarisan itu juga menjadi penimbul rasa dengki. Sekali waktu pernah terjadi di sebuah kota di RRC, bahwa penjual daging etnis Han yang iri memasang pamflet "dijual daging babi halal" yang berujung pada kerusuhan. Karena marah dan tak terlerai, akhirnya terjadi perkelahian massal antar tukang jagal dari kedua kelompok etnis yang berbeda itu, yang satu Islam yang lain tidak beragama. Keputusan hukum menyalahkan kelompok muslim, karena dituduh secara fisik melakukan penyerangan.

Sekarang, setelah berada di Amerika, soal ketersediaan daging halal untuk konsumsi di rumah kembali menjadi isu, walaupun tidak sulit diatasi. Untungnya, di wilayah Los Angeles yang memang memiliki komunitas muslim cukup besar terdapat beberapa toko halal meat. Memang tidak ada yang dikelola orang Indonesia, melainkan umumnya oleh orang Pakistan, Bangladesh, bahkan Malaysia. Baiklah, biar saya ceritakan tentang toko daging yang dikelola teman dari Malaysia ini.

Setelah bermukim di Los Angeles, seorang teman memperkenalkan kami dengan Mustafa, sebutlah demikian, yang mengelola toko daging di sudut sebuah jalan di tengah kota. Posisinya memang tidak jauh dari Islamic Center yang ditokohi oleh dr Maher Hatout yang juga dikenal sebagai tokoh Islam yang penting di Amerika. Yang menjadi persoalan dengan tokonya Mustafa adalah posisinya yang kurang strategis dan berbatasan langsung dengan jalan raya, sehingga kesulitan tempat parkir. Bagi warga LA yang lazimnya mengendarai mobil ke mana-mana, tidak tersedianya tempat parkir yang memadai akan menjadi masalah yang serius.

Pertama kali berkenalan dan belanja, langsung saja menjadi akrab karena sama-sama dari daerah Melayu, toh saya dibesarkan di Riau. Di toko itu saya perhatikan memang tidak terlalu banyak barang dagangan lain, walau pun daging yang disediakan cukup segar. Ia bekerja dengan dua orang tenaga lain asal Pakistan. "Datang lagi ya, Pak", pesannya waktu itu sambil tersenyum senang, setelah selesai belanja. Dan, tentunya, setelah hampir dua minggu, kami datang lagi untuk kedua kalinya, lalu yang ketiga kalinya.

Di waktu yang terakhir inilah suasana telah berubah murung. Di depan kaca pintu, secarik kertas putih ditempelkan, ternyata berisi pemberitahuan. Dikatakan bahwa terhitung sejak 25 Desember 2006 toko dinyatakan tutup secara permanen dan tidak pindah lokasi. Waktu datang lagi itu, tokonya memang terbuka sedikit, walau agak gelap, tetapi saya perhatikan masih ada kesibukan di dalam. Karena pintu tidak dikunci, saya pun masuk dan menemukan Mustafa yang sendirian mengemas sisa-sisa barang yang ada. Ia pun menatap saya dengan wajah sedih.

"Kita sudah tutup, Pak," katanya. Untuk lebih meyakinkan lagi, saya bertanya dengan dialek Melayu, "Pindah lokasi ke?"

"Tidak, Pak, kita dah tutup habis," ia mengulangi. "Maaf lah, Pak".

Mustafa telah bangkrut. Saya dengar dari teman-teman lain, di wilayah LA memang ada beberapa toko daging halal lainnya, tetapi memang ada juga yang tutup dan alih jalur menjadi restoran. Menurut khabar, toko tempat Mustafa itu pun dulu dikelola pasangan asal Pakistan yang juga menjual daging halal. Namun, suami isteri itu katanya mati ditembak dengan latar belakang peristiwa yang tidak begitu jelas.

Begitulah, ketika membaca pandangan Dr. Azyumardi Azra tadi, saya menjadi sedih karena teringat sesama saudara yang bisnis daging halalnya justru telah bangkrut. Kami pun memang menemukan toko daging yang lain, kali ini yang dikelola orang Bangladesh. Tokonya pun berada pada lokasi yang lebih baik dan memiliki lahan parkir. Ternyata, si pemilik mengenal banyak warga Indonesia yang suka membeli daging di situ.

LA, 1-2/02/07

Tautan terkait:
> Azyumardi Azra, Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri.
> Harry Sufehmi, Azyumardi Azra: Boleh Konsumsi Daging Haram

> My Halal Meat (online)
> zabihah.com: your guide to halal eating


16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
sriprativil wrote on Feb 3, '07
Seperti konflik di Poso, Pak. Menurut sumber, terjadi karena kecemburuan sosial penduduk non muslim pada penduduk muslim yang perekonomiannya membaik.
Cerita lengkapnya bisa lihat blog Tiwiw yang me-link langsung pada sumber.

Sedih ya??
agustianwar wrote on Feb 3, '07
Thx Tiwiw, saya sudah baca informasinya. Semoga konflik dapat diatasi sampai ke akarnya; yang salah dihukum keras secara adil, tanpa keberpihakan. Salam.....
latifabdul wrote on Feb 3, '07, edited on Feb 3, '07
Sdr Anwar..sangat bagus sekali artikelnya..sesungguhnya saya sedang memikir mikirkan untuk menulis jurnal tentang issue daging halal, dan menjadi soal bagi umat islam yang berada di luar negeri....banyak pelajar2 di amerika dan Japan bertanya kepada saya tentang issue daging halal ini;

Yang sangat mengembirakan saya terutama adalah ALLAH memberikan banyak kesempatan kepada Anwar untuk mengunjungi negeri orang yang bermacam budaya, dan tidak banyak orang Indonesia yang mendapat hadiah Tour seperti sdr Anwar..ALLAH Maha Pengasih Penyang kepada Hamba2nya,semoga pengalaman2 Anwar yang bagus2 itu dapat pula di berikan kepada anggota MP atau masarakat Indonesia.

Mengenai ISSUE daging halal,baiklah saya jelaskan sedikit saja disini kalau boleh.
Semenjak dulu ulama2 Islam berbeda pendapat tentang daging sembelihan non islam. Dalam Al Quran ada dua ayat yang menjelaskan issue ini:
1.. Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab(Yahudi,Nasrani) itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka.
(Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. .(QS.5:5).

Dari ayat ALLAH yang jelas dan detail itu maka tidak ada keraguan keraguan bagi kita umat islam untuk memakan daging sembelihan orang2 Nasrani dan Yahudi.
Kalau sekiranya ada daging yang halal sebagusnya dibeli daging halal tersebut.Hikmahnya apa?
1.1 Pertama untuk memajukan pedagang2 islam,ini adalah kewajiban umat islam, untuk bekerja sama membangun pradapan islami yang maju dlm ekonomi.

1.2 Hidup yang adalah perlombaan dalam kebaikan antara golongan bangsa dan agama,kalau bukan kita yang memajukan pedagang2 islami siapa lagi.

Kalau daging halal tidak ada di kota anda, maka ALLAH juga memberitahukan seperti berikut dibawah ini:
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.16:115).

Jadi jelaslah bagi kita ajaran islam itu sangat moderat(bukan keras,atau konserfatif), dan ajaran islam itu tidak menyusahkan penganut2nya, hanya saja manusia saja yang menyusahkan dirinya sendiri...inilah lagi peringatan ALLAH dibawah ini;

Dan mereka mengatakan: "Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki" menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan. . (QS.6:138).

Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezekikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.QS6:140.

Berdasarkan ayat2 ALLAH diataslah ulama2 islam yang berpikir moderat membolehkan memakan daging2 sembelihan umat Non islam(yahudi dan Nasrani).
Secara ilmu kesehatan dengan menggunakan technologi serta adanya undang2 penyemblihan maka kebersihan daging2 ayam atau sapi terjaga sekali...jauh dari penyakit yang akan merugikan masarakat.

Apa makna dari hukum Haram itu.Haram itu adalah larangan dari ALLAH,ALLAH maha Tahu akan ciptaannya mana yang baik dimakan oleh manusia dan mana yang merugikan manusia.

Jadi sembelihan2 dari umat non islam, kalau tidak akan membawa penyakit kepada yang memakannya, kenapa tidak boleh dimakan?

Sekali lagi ajaran2 islam itu membawa rahmatan lil'alamin, membawa keindahan, moderat, bagi pemeluk2nya dan bagi non islampun.

Demikian sedikit respond yang dapat saya berikan,mohon maaf bagi kawan2 yang berbeda pendapat dalam issue2 daging halal.Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum wrwb




1.2
agustianwar wrote on Feb 3, '07
Uda Latif, terima kasih sekali atas urainnya. Ini lebih melengkapkan entri di atas dari segi hukum Islamnya. Salam, Anwar

--------------------------------

Bagi teman-teman pembaca/pengunjung lainnya, mohon juga dirujuk ke uraian Pak Latif Abdul sebagai penguat landasan hukumnya, terima kasih.
rinrinjamrianti wrote on Feb 3, '07
yg sll sy ingat `doa kita akan terhalang, jika ada yg haram masuk dlm tubuh`

daging hukumnya sudah jelas..... alhamdulillah disini juga ada halal shop, jadi ngak tll repot untk mendapatkannya..... wlpn msh ada juga yg wlpn tokonya depan mata, tetep msh pilih yg lain......

hatur nuhun mas anwar cerita n remindernya :)
agustianwar wrote on Feb 4, '07
alhamdulillah disini juga ada halal shop, jadi ngak tll repot untk mendapatkannya..... wlpn msh ada juga yg wlpn tokonya depan mata, tetep msh pilih yg lain......

hatur nuhun mas anwar cerita n remindernya :)
Syukurlah ya Rin, di Jepang mungkin juga nggak susah2 amat kali ya....
Ini pun hanya sekedar sharing saja----agak kecewa rasanya membaca gaya pikir Pak Azyumardi di harian Republika itu.....salam...
gitasinta wrote on Feb 5, '07
Thanks ulasannnya. Di Indonesia pun yang mestinya memaknai arti halal secara komplit, seringkali kata "halal" hanya ditempel untuk sekedar formalitas (terutama di resto2). Saya jadi mikir, benarkan si pemilik resto tahu bahwa halal bukan sekedar tidak mengandung pork?.
agustianwar wrote on Feb 5, '07
Saya jadi mikir, benarkan si pemilik resto tahu bahwa halal bukan sekedar tidak mengandung pork?.
Setuju, bahwa memang untuk terjaga sekali kehalalannya itu susah, bahkan di Indonesia. Apalagi yang bergerak di industri makanan sering bukan muslim. Itu juga poin yang saya tekankan di entri sebelumnya "Daging Babi, Halal?" Kiranya pebisnis muslim dapat lebih agresif dalam industri makanan ini....(agar di negeri yang mayoritas muslim keterjaminan makanan halal itu menonjol)......
imamisnaini wrote on Feb 5, '07
bagaimanapun hati ini lebih tenang dan santapan lebih lezat jika tahu kalau apa yang kita makan halal....tetapi kalau terpaksa, buta sama sekali, dan sudah berusaha tidak bisa ya ikut kata buya Hamka...bismillah...

terima kasih Mas, artikelnya menarik...
agustianwar wrote on Feb 5, '07
.tetapi kalau terpaksa, buta sama sekali, dan sudah berusaha tidak bisa ya ikut kata buya Hamka...bismillah...
Ya, Mas, kata-kata Buya itu sejak lama jadi pegangan di hati, dengan hati yang bersih.....salam....
elbintang wrote on Feb 5, '07, edited on Feb 5, '07
hhhh...
alangkah baiknya orang-orang yg dijadikan rujukan seperti pak azyumardi lebih bijak mengusung isu. Mahasiswa diluar negeri boleh konsumsi daging haram ? didalam negeri aja boleh kok *kalau terpaksa !* :p kenapa mesti kata-kata seperti lebih ditonjolkan seolah-olah mereka yg menganjurkan untuk berpayah mencari daging halal di luar negeri menjadi kelompok "sok suci" (ini pernah terjadi di kalangan teman2 saya di jerman)

padahal yg perlu diberitahukan adalah, jika hanya ada satu2nya daging halal yg karena prosesnya menjadi tidak halal *seperti cara sembelih dlsb* yang tersedia dan kita membutuhkan daging tersebut, mengapa tidak ?

hanya saja konsep hidup sederhana rasul itu untuk menahan diri bukan untuk bunuh diri

kalau saja cukup dengan makan yg halal kita bisa hidup kenapa cari yg berat2 ?
-------------------------------------------------------------------------------
salah satu cara para shahabat mengukur kemunduran kaumnya adalah kedekatannya dengan kasur dan pemenuhan perut
---------------------------------------------------------------------------------
wallahu'alam
--------------------------------------------------------------------------------
*agak berat hati (malas?) sebenarnya mengomentari kata2 pak azyumardi* :D
agustianwar wrote on Feb 5, '07
alangkah baiknya orang-orang yg dijadikan rujukan seperti pak azyumardi lebih bijak mengusung isu.
Iya....tak ada salahnya kok jika beliau bisa lebih pas dan bijak melihat masalah.....Kok malah membuat umat menjadi sedih saja.....salam....
myrosa wrote on Feb 12, '07
sedih juga dgn bangkrutnya usaha pak Mustafa, untung lah Pak Anwar msh punya pilihan toko halal yg lain...

Alhamdulillah di sini tersedia beberapa "boucherie" halal, tapi yg jadi masalah adalah jika ada acara kantor "lunch atau dinner",... maka kami akan selalu berusaha memilih menu sea food saja.
agustianwar wrote on Feb 12, '07
myrosa said
sedih juga dgn bangkrutnya usaha pak Mustafa, untung lah Pak Anwar msh punya pilihan toko halal yg lain...
Iya tuh, bayangkan waktu saya bertatap muka dengannya, sosok sedihnya itu. Itu pun, ia masih sempat bilang "maaf" karena tutup usaha.......jadi bikin prihatin saja...
myrosa wrote on Feb 13, '07
Itu pun, ia masih sempat bilang "maaf" karena tutup usaha.......jadi bikin prihatin saja...
seharusnya kita yg minta maaf yaa Pak, karna tak dapat membantu mempertahankan usahanya yg halal ini... :-(
duhhh emang bikin tambah prihatin
vaniahuebsch wrote on Jul 28, '07
Assalamu alaikum, salam kenal pak, mau sedikit curhat dan tanya2 boleh kan? kebetulan saya mampir disini krn cari kriteria daging halal. Saya tinggal di kota kecil di Jerman, dsn ada satu toko daging Jerman yg kualitasnya baik, tapi saya belum tanya gimana cara motongnya. Kami selalu beli disitu krn kualitas daging lebih baik daripada yg di Supermarkt (sudah di kotak i spt dari Pabrik), cuma yg kurang sreg di toko daging itu pisaunya itu lo, dipakai motong macam2 daging. Gimana niy?

Ditambah baru saja saya lihat di TV kalau di rumah pemotongan hewan di Jerman, sebelum mereka potong kalkun or ayam, binatang itu disetrum dulu trus baru dipotong lehernya. Berarti itu kan ngga syah ya, setahu saya kalau motong binatang kan harus sekali mati.

Soal toko Turki or halal meat saya akan cari, disini kecil sekali kotanya ya, dan saya satu2nya orang Indonesia disini.
Add a Comment