Kolom: Agusti anwar
Ketika Thomas Alfa Edison menemukan bola lampu dan memasarkan energi listrik menjelang akhir abad 19, ia mungkin tak menduga bahwa kelak listrik yang dipopulerkannya itu akan menjadi jantung yang menyalurkan degup kehidupan bagi peradaban manusia. Sekarang setiap bangsa yang mengadopsi peradaban modern sudah sangat tergantung pada sumber energi yang satu ini. Meski masih ada negara atau masyarakat yang belum tersentuh peradaban serba listrik, namun situasi demikian pasti akan berakhir.
Sekarang, bahkan, sebuah aksioma baru telah ditegaskan. Saya memang agak terperangah ketika pertama kali membaca pernyataan tandas Yukio Natano dari The Central Research Institute of Electric Power Industry (CRIEPI): To Live is to Use Electricity. Betapa optimistiknya pernyataan itu, saya membantin.
Betul, ini adalah premis yang diajukan ketika Institut itu merumuskan sistem pemantauan bagi warga lansia yang hidup sendiri. Argumen dasarnya cukup brilian, dengan mengatakan bahwa semua orang menggunakan energi listrik dalam kehidupan sehari-hari, apakah untuk penerangan, televisi, memasak, mencuci pakaian dan sebagainya, maka aktifitas di rumah akan dapat dideteksi dari pola penggunaan peralatan listrik, menyalakan dan mematikannya. Sistem ini terutama dinilai efektif untuk memonitor apakah seorang lansia yang tinggal sendiri masih sehat dan beraktifitas atau justru terbaring sakit tak berdaya. Dengan sistem ini, warga lansia yang hidup sendiri dapat dipantau dari jarak jauh, tanpa harus sering diganggu untuk mengecek langsung keadaannya.
Memang, sistem yang ditawarkan itu sejauh ini hanya feasible diterapkan di negara-negara maju. Namun premis dasarnya bahwa keterkaitan antara hidup dan penggunaan listrik semakin hari semakin tidak terbantahkan. Sebabnya tentu tidak lain karena hampir keseluruhan struktur penyangga kehidupan modern terkait dengan listrik. Keterpautan ini bahkan lebih sering bersifat langsung daripada tidak langsung. Di rumah, kita menggunakan penerangan listrik, menyalakan televisi, menjawab telepon, menyimpan makanan di kulkas dan seterusnya. Di kantor, kita bekerja dengan topangan energi listrik, apakah untuk komputer, presentasi dengan in-focus, teleconfernce dan sebagainya. Pabrik-pabrik serta berbagai macam permesinan yang melingkupi hajat hidup rakyat banyak sangat bergantung pada ketersediaan tenaga listrik.
Bahkan, ketika entri ini diunggah ke internet, sama sekali tidak mungkin dilakukan apabila listrik tidak tersedia, karena komputer tak akan bisa mengakses internet. Gagasan besar tentang dunia virtual menempatkan listrik sebagai sel-sel kecil yang bersifat mutlak dan menopang eksistensinya. Tanpa jaringan listrik, tidak akan pernah ada itu www.
Dengan demikian bahwa hidup = penggunaan listrik, akan semakin benar setiap harinya. Memang sekali pun tanpa penggunaan listrik, peradaban manusia tetap akan dapat bertahan. Toh sejak zaman batu jutaan tahun sebelumnya manusia telah hidup tanpa mengenal penerang listrik. Namun setelah era listriknya Edison, peradaban modern pun berkembang dengan berbagai kemungkinan teknis baru yang mewarnai proses kehidupan itu sendiri.
Lantas, sudah menjadi hukum alam pula, bahwa semakin kita tergantung kepada sesuatu, semakin sulit bagi kita untuk bertahan tanpanya. Sekarang, negara saling berperang, bahkan sampai memusnahkan negara lain, demi memperebutkan atau mendapatkan akses kepada sumber daya energi. Minyak bumi dan gas pun menjadi primadona tidak lain karena fungsi dasarnya sebagai bahan bakar yang menghasilkan listrik. Dengan itu, maka hadirlah kehidupan bagi pabrik-pabrik yang memproduksi barang konsumen, kantor-kantor tempat kita bekerja, rumah-rumah tempat kita berdiam.
Jadi, tidak mengherankan betapa hebohnya masyarakat ketika pasokan listrik berkurang karena adanya kerusakan pembangkit listrik. Jakarta bahkan diperkirakan akan mengalami krisis listrik pada tahun 2008, apabila pembangkit baru tidak ditambah. Kelangkaan, apalagi ketiadaan, daya listrik tentu bukan saja sangat mengganggu kelangsungan kehidupan yang normal, tetapi juga merugikan kehidupan ekonomi.
Apabila sepertiga dari kota Jakarta tidak mendapatkan pasokan listrik satu hari saja, itu akan mengakibatkan kerugian milyaran rupiah, karena proses produksi dan perputaran ekonomi termacetkan. Bayangkan besarnya peluang terjadinya kecelakaan jalan raya dan berapa buruk kemacetan yang akan terjadi sekiranya lampu lalu lintas mati karena tidak adanya listrik? Tak akan berlebihan apabila dikatakan bahwa dalam situasi krisis daya yang berlarut-larut, maka kehidupan seperti apa yang kita jalani sekarang praktis akan lumpuh.
To live is to use electricity, katanya, sehingga hidup tanpa listrik menjadi tak mungkin.
Namun demikian, dalam situasi yang luar biasa memang akan selalu ada pengecualian. Ketika banjir melanda Jakarta yang baru lalu, listrik ternyata juga menyebabkan berakhirnya hidup, ketika beberapa warga kota yang dilanda banjir tewas tersengat arus listrik tegangan tinggi yang menghidupi kota. Waktu itu, petugas terpaksa memutuskan pasokan listrik demi menghindarkan jatuhnya korban yang lebih banyak. Kombinasi antara banjir dan arus listrik ternyata bukan saja melumpuhkan, tetapi juga mematikan. Listrik memang dapat menunjang hidup, tetapi bagi si terhukum yang duduk di kursi listrik, hidup justru berakhir karenanya.
Alhasil, bukan hanya hidup yang memerlukan listrik, kematian pun bisa diantarkan olehnya.
LA, 14 Feb 2007
 | yah betul, tanpa listrik apa artinya? untung dulu edison nggak nyerah meski 9900 kali eksperimen gagal. kalo nyerah kita masih pake petromaks kali ya he he |
 | cerita yang menarik mas, listrik bisa menghidupi sekaligus mematikan... |
 | Baru saja kolejku kebakaran kabel listrik......bayangkan office kami tanpa api (bhs malaysia, maksudnya listrik)..... AC gak ada, komputer gak bisa nyala, mau ke toilet juga gelap gulita........betul2 kegiatan kami lumpuh... semuanya kepanasan.. krn AC gak nyala. Di rmh pun, kipas nggak bisa dihidupin... Listrik mmg penting...jadinya sempat pakai generator waktu itu. Alhamdulillah, esoknya kabel baru sudah dipasang.. BTW saya suka tampilan MP nya Bang Anwar yg sekarang........ sukaaaaaaaaaa... banget..... |
 | pastinya kita tak kan berdaya tanpa listrik sekarang. sempet ngerasain dulu penerangan di rumah pake petromak |
 | Weleh.. yang jelas klo ga ada listrik kita ga bakalan bs ngeBlog di MP. hehe... |
 | Sdr Anwar artikel yang bagus dan saya ingat kepada nasehat Rasul; Kalau ingin benar2 ingin masyuk syurga dan hendaklah meninggalkan warisan2 yang bermanfaat untuk masarakat. 1.Meningalkan anak2 yang selalu mendokan orang tuanya yang telah meninggal dunia.yaitu anak yang beriman dan taqwa(saleh) 2.Meninggakan ilmu atau buku2 yang bermanfaat untuk masarakat.Selagi ilmu2 itu bermanfaat selama itu pula pahala2 mengalir kepada accountnya. 3.Meninggalkan warisan2 yang banyak seperti; Lestrik, pompa.mobil, sekolah2, mesdjid ,rumah sakit dll.Selagi bermanfaat maka selama itu pula pahala2 mengalir kepada account nya dan selama itu pula dikenang namanya, umurnya bertambah panjang.
Dulu orang2 Barat yang belajar kepada ahli2 islam, sekarang kita yangbanyak belajar kepada Barat...T.A.Edison meninggalkan kita lestrik yangsangat kita perlukan, semoga arwahnya di terima oleh ALLAH swt. salam latif...
|
 | ciput wrote on Feb 16, '07 komentar 1: rencana pemerintah membangun pembangkit 10.000 MW sangat tidak masuk akal. Pertama karena fokusnya di Jawa, yg kelebihan tempat tapi kekurangan tempat (baca: lahan). Kenapa ga bangun di Sumatra terus dialirkan lewat kabel bawah air? Kedua karena pakai batubara! Batubara yg kualitas bagus di Indonesia sangat kurang, yg melimpah kualitas rendah dan perlu pengayaan dulu, ini khan biaya lagi. Belum lagi kalau bicara dampak pencemaran udara. Huh! :( |
Comment deleted at the request of the author.
 | ciput wrote on Feb 16, '07 Bang, tau ga kalau listrik ada hubungannya dengan tingkat keberhasilan KB? Baca di sini penjelasannya. :D |
 | Alhamdulillah dan Terima kasih kepada T A Edison......kalau tidak oleh beliau, kita di MP ini tidak akan berkenalan satu sama lain........... |
 | Ngomong2 bung Anwar kata nya lama di Riau, dimana di Riau nya ?.......kalau saya juga lama di Riau tepat nya di daerah Bangkinang..... |
 | wah emang enak pake listrik cuma kalo kesetrum yang gak enak. mas dulu saya waktu dikampung pernah pake lampu tempel tapi waktu pagi sudah tiba saya tiup lampunya ehhhhhhhhh taunya hidung saya pada hitam kacian deh. |
 | Jadi sedih ingat di daerah pelosok Indonesia yang masih belum menikmati manfaat listrik ... (btw masih ada yaa..?) |
 | ryono wrote on Feb 28, '07 moga-moga T.A Edison masuk surgaNya....Amiiiinn...(ya ..ketimbang Imam samudra cs yang ga bisa ninggalin manfaat apa-apa..)
Andai Pemerintah kita juga mikirin para lansia ituuuhhh... Andai..para Elit Politiknya juga "ngucurin" duit buat program listrik se-Indonesia....
|
 | renovaldy wrote on Sep 8, '07, edited on Sep 8, '07 Degan ada nya lisrik ,sangat membantu segala kegiatan manusia di muka bumi ini.Memang ada sebagian orang yang mendapat musibah karena lisrik.Tetapi yang mesti kita ingat,lisrik akan berjalan dengan sistemnya.Apapun efeknya baik bermanfat atau musiba dari sipemakai lisrik.lisrik akan tetap jalan sesuai dgn sistemnya.gunakan lisrik dengan hati2.slm menikmati lisrik. |
| |