Blog EntryDISTORSI KACAMATAFeb 18, '07 9:07 PM
for everyone




Kolom: Agusti Anwar


Dulu, waktu mahasiswa, ada seorang anak laki-laki kecil kelas 5 atau 6 SD yang memandang saya dengan ekspresi agak kagum. Bukan karena apa-apa, tetapi karena saya memakai kacamata.


“Bang, abang pasti orang pintar, ya?”

“Kok? Maksudnya bagiamana?” tanya saya.

“Abang kan pakai kacamata!” Saya masih belum maklum benar.

“Orang pakai kacamata kan pintar?”


Mm, saya hanya bisa senyum-senyum; tidak tahu mau mengatakan apa.


Baiklah. Saya tidak pernah mengklaim diri pintar, meski telah menjadi kutu buku sejak pandai membaca di kelas 1 dan terpaksa memakai kacamata sejak kuliah di tingkat dua. Satu-satunya pernyataan yang benar tentang kacamata hanyalah bahwa mata saya memerlukan alat bantu untuk mengoreksi fokus visual (corrective lenses) agar melihat dengan lebih jelas. Myopia, namanya; jelas kalau melihat dekat, kabur kalau jauh. Apakah karena dulu terlalu banyak membaca?


Saya tidak akan membahas masalah ini, tetapi soal kacamata itu. Kacamata atau pun lensa kontak hanyalah wujud materi dalam menata ulang tampak pandang kita, tentang apa-apa yang ada di hadapan mata. Sebetulnya, semua kita selalu memakai kacamata dalam mempersepsi dunia. Apakah anda sehari-hari memakai kacamata yang bertengger di atas hidung atau pun tidak, sebetulnya bagaimana sudut pandang terhadap segala sesuatu sangat berpijak pada kacamata yang dipakai itu


Itulah kacamata dalam tanda petik. Jadi, bukan soal bingkai rodenstock, designer eye glasses, tebal tipisnya lensa, jenis metal yang digunakan atau lainnya. Melainkan, soal sebuah sudut pandang terhadap apa pun di luar diri dan bagaimana kita menyikapi atau bereaksi terhadapnya.


Kacamata ini adalah soal world view kita; sebuah Weltanschaung---dalam bahasa Jerman. Kacamata adalah penentu persepsi: suka atau benci, setuju atau tidak, marah atau sayang, damai atau perang. Seluruh fakultas rasa yang masuk ke otak atau ke hati, kemudian diterjemahkan menjadi reaksi, bahkan tindakan, adalah hasil saringan oleh kacamata yang kita pakai. Dengan demikian, mata yang normal secara klinis sekali pun, belum tentu memandang dunia persis seperti apa adanya.


Entah mengapa, semua kita seakan perlu mengoreksi terus-menerus kacamata pandangan. Seringkali, tiba-tiba kita jadi rabun dekat atau malah rabun jauh. Ketika lensa yang dipakai berwarna biru, seluruh yang dianggap benar berwarna biru. Bila kacamata hitam dikenakan, apalagi di tengah malam, maka dunia pun semakin gelap, bahkan tak terlihat. Kacamata kuda?


Apabila kacamata kita diwarnai sebuah ideologi, maka segala sesuatu yang di luar itu semakin sulit untuk dipandang benar. Dengan kacamata pikiran yang marah, dunia dilihat dengan penuh dendam dan kebencian. Prasangka buruk adalah proyeksi kacamata hati yang tak rela terbuka. Kacamata yang sempit membuat kita lebih cepat murka dan memaki-maki orang lain, padahal belum betul-betul melihat orang itu dengan sungguh-sungguh. Dari kacamata pembenci Islam, seluruh kaum Muslim adalah teroris. Sedangkan bagi mereka yang kacamatanya kaku melihat umat lain, seluruhnya dinilai kafir.


Sebab, salah satu kecenderungan manusia, hanyalah melihat apa yang ingin dilihat. Meskipun seluruh kebenaran ada di depan mata, namun ketika kacamata yang dipakai tidak sesuai dengan hal itu, maka kebenaran sekali pun tetap tak akan terlihat. Kesalahan yang dilihat bisa nun jauh di sana, sedangkan kebenaran hanya sejengkal jaraknya, yang terlihat tetap yang jauh itu. Seperti kata pepatah, “Tungau di seberang lautan tampak jelas, sedangkan gajah di pelupuk mata tak terlihat”. Kita hanya akan melihat apa yang ingin kita lihat.


Inilah sebuah manifestasi dari beragam bentuk distorsi kacamata. Bahkan semua tragedi kemanusiaan, apakah terkait dengan ras, suku, agama, paham, atau apa pun itu, adalah produksi kacamata yang sempit dalam melihat dunia di sekitar. Lalu, ketika sudut pandang mata kita diubah menjadi reaksi fisik yang bermusuhan, maka akan datanglah kehancuran.


Itulah sebabnya mengapa setiap waktu kita perlu mengoreksi kacamata yang dipakai. Apakah minus atau plusnya bertambah, apakah fokusnya semakin distortif, apakah warnanya tepat? Dari waktu ke waktu, perubahan dapat terjadi. Sebab hidup sering kali adalah sebuah kompromi; yang selalu berkembang di sekali waktu, sedangkan di kala lain ia kadang menyempit. Distorsi sangat mungkin terjadi.


I see no color”, kata Stevie Wonder, penyanyi kulit hitam yang terlahir buta itu, ketika sekali waktu ditanya soal rasialisme. “Bagi saya, semua adalah hitam”. Dan Stevie si pelantun lagu “I Just Called To Say I Love You” itu, ternyata bisa menjadi lebih bijak (walau dengan jenaka) tanpa mata sekali pun.


Sungguh dunia ciptaan Tuhan penuh dengan warna-warna.


LA, 18 Feb 2007

20 CommentsChronological   Reverse   Threaded
lollytha wrote on Feb 18, '07
Sungguh dunia ciptaan Tuhan penuh dengan warna-warna.
setuju...........
peduli wrote on Feb 18, '07
Kalau ada yg menjual kacamata tawazun (seimbang), saya pengen beli deh, supaya bisa memandang secara seimbang pula terhadap sisi2 kehidupan ini, hihihi :)
jampang wrote on Feb 18, '07
Itulah sebabnya mengapa setiap waktu kita perlu mengoreksi kacamata yang dipakai.
dengan melihat dari berbagai sudut pandang, pak?
nicelovelydentist wrote on Feb 18, '07
Yup... kurang lebih setuju, Mas.

Aku sering menenangkan diri bila dalam kesulitan maupun kebahagiaan, bahwa kesandungnya kita kalau sudah mulai merasa lupa bahwa kita pake kaca mata kadang bisa di analogikan dengan, cobaan agar kita ingat dan meng'adjust' sudut pandang kita agar dapat meneruskan perjalanan yang 'lurus' kembali.

*padahal aku ga pake kacamata, tapi dari kecil pingin banget dan terus rajin ngetes...biar bisa pake kacamata,...hehehe soalnya keliatannya lebih 'berwibawa' kalau pake kacamata*
agustianwar wrote on Feb 18, '07
setuju...........
Setuju apanya Lit? Emang polling? ha h h.....
agustianwar wrote on Feb 18, '07
peduli said
Kalau ada yg menjual kacamata tawazun (seimbang), saya pengen beli deh, supaya bisa memandang secara seimbang pula terhadap sisi2 kehidupan ini, hihihi :)
Tapi, walaupun tak ada, kita tetap harus mencoba, Kosi. Yang parah itu adalah yang sejak awal apriori dan tidak ingin mencoba.....
agustianwar wrote on Feb 18, '07
jampang said
dengan melihat dari berbagai sudut pandang, pak?
Tepat! Ha ha ha.....benda saja selalu dalam bentuk tiga dimensi. Ketika kita hanya melihatnya secara dua dimensi, otomatis terjadi distorsi..... Bayangkan hal-hal yang lebih kompleks....
agustianwar wrote on Feb 18, '07
*padahal aku ga pake kacamata, tapi dari kecil pingin banget dan terus rajin ngetes...biar bisa pake kacamata,...hehehe soalnya keliatannya lebih 'berwibawa' kalau pake kacamata*
Alya, kok mirip amat ya sama si Alya kecil. Tiap hari senang betul mencoba-coba kacamata saya. Kalau pakai kacamata, kayak dokter...katanya dengan r yang cadel....
Comment deleted at the request of the author.
adijm wrote on Feb 19, '07
Kita hanya akan melihat apa yang ingin kita lihat.
Dan cinta manusia pada dirinya senantiasa melandasi sikap dan perbuatannya -dalam arti positif maupun negatif-. Seorang teman memberi ilustrasi begini: Pada sebuah foto yang memotret 25 orang ada dirimu di dalamnya. Lalu kau mengatakan,"Boleh lihat fotonya enggak?" Foto itu pun disodorkan kepadamu. Maka siapakah yang kau cari pada foto itu? *smile*

Tulisan yang menarik dan membuat saya berkaca. Semakin matang kepribadian seseorang, semakin baik pula world view yang ia gunakan dalam kehidupan. Terima kasih, Mas Anwar.
nicelovelydentist wrote on Feb 19, '07
Alya, kok mirip amat ya sama si Alya kecil. Tiap hari senang betul mencoba-coba kacamata saya. Kalau pakai kacamata, kayak dokter...katanya dengan r yang cadel....
=================================
hahaha...khan kembar !!!
agustianwar wrote on Feb 19, '07
adijm said
Seorang teman memberi ilustrasi begini: Pada sebuah foto yang memotret 25 orang ada dirimu di dalamnya. Lalu kau mengatakan,"Boleh lihat fotonya enggak?" Foto itu pun disodorkan kepadamu. Maka siapakah yang kau cari pada foto itu? *smile*
Betul sekali mas. Saya ada cerita yang mirip dengan ini, tapi mungkin akan ditulis secara terpisah nanti. Kalau boleh, ilustrasi teman di atas akan saya pinjam juga. Banyak sekali hal di sekitar kita yang membuat kita terus belajar, ya kan? Salam, Anwar....


adijm wrote on Feb 19, '07
Saya ada cerita yang mirip dengan ini, tapi mungkin akan ditulis secara terpisah nanti. Kalau boleh, ilustrasi teman di atas akan saya pinjam juga.
Silakan, Mas. Ditunggu kolom-nya ... *smile*
elbintang wrote on Feb 19, '07
kalau ada orang yg selalu bisa dibohongi, selalu bisa ditipu apa namanya ?
bisa saja ia orng jujur sehingga melihat semua orang dengan kacamata kejujuran yg dia gunakan.
atau bisa jadi ia tidak menggunakan kacamata padahal ia tahu tanpa menggunakannya ia tidak bisa melihat apa yg ada di depannya.
atau
ia tidak tahu kacamata apa yang tepat myopi atau hypermetrop :D
------------------------------------------------------
kalau banyak orang saya lebih suka tidak pake kacamata. Lebih mantap karena semuanya tidak bisa dilihat dengan jelas :))
agustianwar wrote on Feb 19, '07
kalau banyak orang saya lebih suka tidak pake kacamata. Lebih mantap karena semuanya tidak bisa dilihat dengan jelas :))
Dan kata Stevie Wonder, "everyone is black".....

Mm, sebetulnya setiap sesuatu itu ada konsekwensinya. Mencoba maklum dengan memakai kacamata yang lebih tepat pun menimbulkan dampak yang tidak mudah. Semua orang tetap akan punya bias, karena selapang apa pun pikirannya, pasti ada batasnya. Manusia pasti tak akan sempurna, sebijaksana apa pun ia.

Menurut saya, yang terpenting adalah kemakluman bahwa pandangan kita belum tentu selalu benar, sehingga harus mau meninjau kacamata sendiri. Kalau dokter, perlu ada second opinion. Setelah semua itu pun, masih tidak dijamin kita akan punya pandangan yang sempurna.

Yet, we all got to try, ya kan......?
latifabdul wrote on Feb 19, '07
KIta bersyukur sekali kepada pembuat2 kaca mata ini..kalau tidak ada kaca mata..yaa saya terasa terganggu melihat ciptaan ALLAH yang indah berwarna warni ini...bagus sdr Anwar...
latifabdul wrote on Feb 19, '07
KIta bersyukur sekali kepada pembuat2 kaca mata ini..kalau tidak ada kaca mata..yaa saya terasa terganggu melihat ciptaan ALLAH yang indah berwarna warni ini...bagus sdr Anwar...saya berdoa semoga pembuat kaca mata saya ini di rahmati oleh ALLAH
Thank you
agustianwar wrote on Feb 19, '07
saya berdoa semoga pembuat kaca mata saya ini di rahmati oleh ALLAH
Aminn...tapi itu untuk pembuat kacamata in materilnya. Juga perlu kacamata lainnya, yang di batin itu kan Uda...?
diyan31 wrote on Feb 21, '07
Berbeda dg Mbak Alya, kalo dulu saya justru gak mau periksa mata karena takut pakai kacamata, padahal pandangan jauh sudah mulai kabur dan dobel, saya pikir akan sangat mengganggu bila ada kacamata yang bertengger di hidung, sekarang mau gak mau harus pakai dech, apalagi saat ngeblog .... trima kasih untuk penemu kaca mata ... Semoga 'kacamata kebenaran' kita selalu berfungsi melihat yang 'benar' itu memang benar dan yang salah 'memang benar' salah
agustianwar wrote on Feb 24, '07
diyan31 said
Semoga 'kacamata kebenaran' kita selalu berfungsi melihat yang 'benar' itu memang benar dan yang salah 'memang benar' salah
Amiin..... Ini tantang yang paling susah dalam kehidupan. Kita terlalu sering melakukan kompromi, sehingga yang benar belum tentu terlihat benar, sedangkan yang salah dicoba tawar dan dibenar-benarkan..... Namun ketika kita telah berdoa dan berniat demikian, moga-moga bisa terkabuk, ya kan?
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help