
Kolom: Agusti Anwar
Dulu, waktu mahasiswa, ada seorang anak laki-laki kecil kelas 5 atau 6 SD yang memandang saya dengan ekspresi agak kagum. Bukan karena apa-apa, tetapi karena saya memakai kacamata.
“Bang, abang pasti orang pintar, ya?”
“Kok? Maksudnya bagiamana?” tanya saya.
“Abang kan pakai kacamata!” Saya masih belum maklum benar.
“Orang pakai kacamata kan pintar?”
Mm, saya hanya bisa senyum-senyum; tidak tahu mau mengatakan apa.
Baiklah. Saya tidak pernah mengklaim diri pintar, meski telah menjadi kutu buku sejak pandai membaca di kelas 1 dan terpaksa memakai kacamata sejak kuliah di tingkat dua. Satu-satunya pernyataan yang benar tentang kacamata hanyalah bahwa mata saya memerlukan alat bantu untuk mengoreksi fokus visual (corrective lenses) agar melihat dengan lebih jelas. Myopia, namanya; jelas kalau melihat dekat, kabur kalau jauh. Apakah karena dulu terlalu banyak membaca?
Saya tidak akan membahas masalah ini, tetapi soal kacamata itu. Kacamata atau pun lensa kontak hanyalah wujud materi dalam menata ulang tampak pandang kita, tentang apa-apa yang ada di hadapan mata. Sebetulnya, semua kita selalu memakai kacamata dalam mempersepsi dunia. Apakah anda sehari-hari memakai kacamata yang bertengger di atas hidung atau pun tidak, sebetulnya bagaimana sudut pandang terhadap segala sesuatu sangat berpijak pada kacamata yang dipakai itu
Itulah kacamata dalam tanda petik. Jadi, bukan soal bingkai rodenstock, designer eye glasses, tebal tipisnya lensa, jenis metal yang digunakan atau lainnya. Melainkan, soal sebuah sudut pandang terhadap apa pun di luar diri dan bagaimana kita menyikapi atau bereaksi terhadapnya.
Kacamata ini adalah soal world view kita; sebuah Weltanschaung---dalam bahasa Jerman. Kacamata adalah penentu persepsi: suka atau benci, setuju atau tidak, marah atau sayang, damai atau perang. Seluruh fakultas rasa yang masuk ke otak atau ke hati, kemudian diterjemahkan menjadi reaksi, bahkan tindakan, adalah hasil saringan oleh kacamata yang kita pakai. Dengan demikian, mata yang normal secara klinis sekali pun, belum tentu memandang dunia persis seperti apa adanya.
Entah mengapa, semua kita seakan perlu mengoreksi terus-menerus kacamata pandangan. Seringkali, tiba-tiba kita jadi rabun dekat atau malah rabun jauh. Ketika lensa yang dipakai berwarna biru, seluruh yang dianggap benar berwarna biru. Bila kacamata hitam dikenakan, apalagi di tengah malam, maka dunia pun semakin gelap, bahkan tak terlihat. Kacamata kuda?
Apabila kacamata kita diwarnai sebuah ideologi, maka segala sesuatu yang di luar itu semakin sulit untuk dipandang benar. Dengan kacamata pikiran yang marah, dunia dilihat dengan penuh dendam dan kebencian. Prasangka buruk adalah proyeksi kacamata hati yang tak rela terbuka. Kacamata yang sempit membuat kita lebih cepat murka dan memaki-maki orang lain, padahal belum betul-betul melihat orang itu dengan sungguh-sungguh. Dari kacamata pembenci Islam, seluruh kaum Muslim adalah teroris. Sedangkan bagi mereka yang kacamatanya kaku melihat umat lain, seluruhnya dinilai kafir.
Sebab, salah satu kecenderungan manusia, hanyalah melihat apa yang ingin dilihat. Meskipun seluruh kebenaran ada di depan mata, namun ketika kacamata yang dipakai tidak sesuai dengan hal itu, maka kebenaran sekali pun tetap tak akan terlihat. Kesalahan yang dilihat bisa nun jauh di sana, sedangkan kebenaran hanya sejengkal jaraknya, yang terlihat tetap yang jauh itu. Seperti kata pepatah, “Tungau di seberang lautan tampak jelas, sedangkan gajah di pelupuk mata tak terlihat”. Kita hanya akan melihat apa yang ingin kita lihat.
Inilah sebuah manifestasi dari beragam bentuk distorsi kacamata. Bahkan semua tragedi kemanusiaan, apakah terkait dengan ras, suku, agama, paham, atau apa pun itu, adalah produksi kacamata yang sempit dalam melihat dunia di sekitar. Lalu, ketika sudut pandang mata kita diubah menjadi reaksi fisik yang bermusuhan, maka akan datanglah kehancuran.
Itulah sebabnya mengapa setiap waktu kita perlu mengoreksi kacamata yang dipakai. Apakah minus atau plusnya bertambah, apakah fokusnya semakin distortif, apakah warnanya tepat? Dari waktu ke waktu, perubahan dapat terjadi. Sebab hidup sering kali adalah sebuah kompromi; yang selalu berkembang di sekali waktu, sedangkan di kala lain ia kadang menyempit. Distorsi sangat mungkin terjadi.
“I see no color”, kata Stevie Wonder, penyanyi kulit hitam yang terlahir buta itu, ketika sekali waktu ditanya soal rasialisme. “Bagi saya, semua adalah hitam”. Dan Stevie si pelantun lagu “I Just Called To Say I Love You” itu, ternyata bisa menjadi lebih bijak (walau dengan jenaka) tanpa mata sekali pun.
Sungguh dunia ciptaan Tuhan penuh dengan warna-warna.
LA, 18 Feb 2007