Blog EntryMEN-DEFRAG HIDUPMar 18, '07 10:42 PM
for everyone

 

 

 

 

Bersama waktu, tiba-tiba semua kita bisa merasa menjadi terlalu letih, terlalu penuh sesak, seakan tidak ada lagi yang kosong. Segalanya terasa membebani, apa yang sudah ada di dalam seakan tak kuat lagi menerima apa pun lainnya. Mungkin sekali kita bahkan tidak tahu persis hal-hal apa sajakah itu yang memmenuhi dan membuat sistem diri kita menjadi terlalu berat dan lambat. Mungkin saja ada jutaan hal kecil yang hampir tidak bermakna, tetapi hadir sebagai beban yang memenuhkan rongga.

Situasi sedemikian tentu pernah dialami siapa pun. Bukan saja mereka yang memiliki posisi puncak, yang dipenuhi jadwal padat per menitnya. Kita yang orang biasa, seorang average joe kata orang Amerika, juga dapat dihadapkan oleh tekanan yang sama. Tiba-tiba, dalam suatu titik, rasa letih dan terlalu sesak itu datang. Kincir-kincir otak bekerja lebih lambat; energi seakan terus berkurang; semangat menjadi turun. Grafik kinerja terganggu.

Ada perasaan tak menentu. Bagi sebagian, bahkan perasaan yang muncul dapat seperti menjadi lepas kontrol. Jika dilukiskan secara lebih grafis, situasi itu dapat seperti berdiri di tengah danau tak bertepi, ujung kaki menjejak dasar, tersangkut dan tak bisa lepas, sedangkan air terus naik mencapai bahu, terus ke leher, lalu tepat di atas mulut. Lalu tepat di pangkal hidung, dengan wajah yang telah terus mendongak.

Dalam bahasanya Malcolm Gladwell, titik batas situasi seperti ini barangkali pas disebut 'the tipping point'. Memang bukan dalam makna yang diinginkan Gladwell, sebagai sebuah pengantar bagi epidemi sosial; melainkan sekedar sebuah titik batas. Sebagai manusia, perasaan letih dan sesak dapat membawa ke sebuah kulminasi. Apabila balon atau gunung merapi, meletus; bom, meledak. Air yang menggenang terus, meluapkan banjir.

Para ulama penghibur jiwa, pakar psikologi yang menggali emosi, guru dan penyair pengajar makna dan seterusnya, akan meminta kita yang mengalami situasi seperti ini untuk berhenti sejenak dan bermeditasi. Break and redirect, istilah yang saya saya suka gunakan. Di antara ratusan nama dari Barat sampai ke Timur, adalah Qarni yang telah membuahkan La Tahzan, ada Hamka dengan Tasawwuf Modern-nya, yang semua akan menuntun pada penataan hati. Sangat banyak aspiran pembuka jiwa yang kata-katanya dapat dipakai sebagai jalan penyejuk. Chicken soup for the soul, demikian istilah yang masih populer digunakan. Namun dari semua resep yang ada, dapat dipastikan bahwa pendekatan yang paling efektif adalah dengan khusyuk merendahkan diri di hadapan Yang Maha Besar.

Sudah galib saja bahwa kehidupan dapat membuat manusia letih. Di zaman teknologi komputer ini, pengibaratan paling pas situasi letih dan sesak ini barangkali adalah file fragmentation. Setiap detil sehari-hari, lengkap dengan seribu satu masalahnya, memang tersimpan dalam file masing-masing. Kendati demikian, tumpukan file yang masuk dalam berbagai clusters itu dapat saling acak tidak teratur, tumpang tindih atau salah tempat, sehingga susah dilacak, lambat ditemukan.

Pun, karena setiap hari bertambah terus dan penyimpanannya semakin terpencar ke mana-mana, maka akan cepat tiba waktunya sistem operasi menjadi berat. Proses kerjanya menjadi semakin lambat, kinerja (performance) menurun. Itulah saatnya komputer perlu di-defrag.

Sebagai manusia, kita memang bisa iri karena fasilitas defragmentasi komputer jauh lebih andal dan, bahkan, sangat sederhana. Begitu perintah defrag dipilih, pemindaian langsung dilakukan. Segera tampaklah tumpukan clusters berwarna merah yang tak teratur itu (fragmented), file yang saling terkait, file yang tak terpindahkan, dan tentu ruang putih yang kosong.

Selang beberapa waktu, semua yang tidak teratur tadi berurut menjadi lebih tertib. Beberapa di antaranya memang akan ada yang terkategori 'unmovable', bahkan yang rusak dan tak terperbaiki. Namun yang lain, telah kembali tertata sehingga meringankan sistem yang dipakai. Performance kembali meningkat.

Hidup kita mungkin akan lebih mudah apabila fasilitas defragmentasi pun kita miliki. Masing-masing kita bisa saja telah punya pilihan fasilitas defragmentasi sendiri-sendiri. Ada yang bekerja cepat dan efektif; ada yang lebih lamban. Namun yang jelas, setiap kali rasa letih dan sesak itu datang, maka bukalah sistem operasi anda dan jalankan fasilitas defrag itu. Moga-moga terbantu.

LA, 18/03/2007

Kartun lucu tentang defrag lihat di sini.


25 CommentsChronological   Reverse   Threaded
bundakirana wrote on Mar 19, '07
Pak Anwar, apa kabar nih.. semoga Bapak dan kel. baik2 dan sehat2 saja ya..
terimakasih atas tulisannya yang membawa hikmah ini.
agustianwar wrote on Mar 19, '07
Pak Anwar, apa kabar nih.. semoga Bapak dan kel. baik2 dan sehat2 saja ya..
terimakasih atas tulisannya yang membawa hikmah ini.
Baik alhamdulillah....terima kasih karena sempat berkunjung lagi...salam...
deshinta wrote on Mar 19, '07
Bang ada kisah lama. Konon seorang guru memperlihatkan dua buah gelas berisi air, yang satu penuh dan yang satu lagi setengah penuh. Dia bertanya pada muridnya, yang mana yang lebih berat. Hampir semuanya berkata, gelas penuh itulah yang berat.

Sang guru berkata, sesungguhnya berat atau tidak ditentukan dari "berapa lama" kita memegang gelas itu. Kalau gelas penuh kita pegang sebentar, tentu tidak terasa berat. Kalah gelas setengah penuh di pegang lama, maka akan terasa berat juga. Jadi intinya adalah perlu "break" atau istirahat sebentar.

Sama dengan kehidupan kita. Seberat apapun permasalahan di kantor atau di rumah, berehatlah dulu. Esok kita lanjutkan lagi, untuk mengangkat masalah itu lagi, sama seperti mengangkat gelas tadi.

*wallahualam*

deshinta wrote on Mar 19, '07
Bang gambarnya bagussssssss deh.......!!
mizakisakina wrote on Mar 19, '07
Defragmentasi yang saya pilih biasanya melalui sholat, apalagi sholat ketika tak ada satupun pekerjaan yang layak dilakukan pada saat itu...dan insya Allah itu sangat besar pengaruhnya, bukankah Allah telah menjamin bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenang...
tulisannya bagus tenan...
ghinarumaisha wrote on Mar 19, '07
bisa juga, kalau sudah suntuk banget, di reset aja ya.....mulai dari awal lagi (seperti main game)
16j42 wrote on Mar 19, '07
terimakasih atas sajian tulisannya, yang bernas.

salam
(kohar)
agustianwar wrote on Mar 20, '07
Sama dengan kehidupan kita. Seberat apapun permasalahan di kantor atau di rumah, berehatlah dulu. Esok kita lanjutkan lagi, untuk mengangkat masalah itu lagi, sama seperti mengangkat gelas tadi.
Setuju Des---ini perbandingan yang cukup sering disebut-sebut. Yang ringan pun kalau dipegang lama bisa jadi berat; yang berat kalau hanya sebentar jadi lebih ringan.

Btw, menulis tentang defrag ini sudah lama sekali ingin saya lakukan, tetapi nggak jadi-jadi. Sebetulnya lebih sebagai empati, karena hal demikian pasti pernah dialami semua orang sekali waktu dalam proses kehidupan. Sekiranya bisa didefrag, mungkin kerumitan yang ada dapat lebih terang, benang yang kusut jadi tergulung kembali.... salam.

agustianwar wrote on Mar 20, '07
Bang gambarnya bagussssssss deh.......!!
Gambarnya minjam dari internet juga kok.....
agustianwar wrote on Mar 20, '07
bukankah Allah telah menjamin bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenang...
Ini betul poinnya.....mengingat Allah itu memang seperti mendefrag sistem diri kok...insyaAllah....salam, Anwar.
agustianwar wrote on Mar 20, '07
bisa juga, kalau sudah suntuk banget, di reset aja ya.....mulai dari awal lagi (seperti main game)
He he he....ya di-reset juga bisa; cuma, kalau reset kan dilakukan sekiranya sudah betul-betul macet dan otomatis akan ada data yang akan hilang total. Kalau game, yang paling enak adalah peluang di replay itu, jadi latihan kehidupannya berulang-ulang dan semakin hari semakin mahir. Sayangnya hidup kita tidak punya 'second chance'; segalanya hanya satu kali....
agustianwar wrote on Mar 20, '07
16j42 said
terimakasih atas sajian tulisannya, yang bernas.
Alaikumsalam. Semoga ada manfaatnya Bang Kohar...
kakrahmah wrote on Mar 20, '07
muhasabah diri mungkin salah satu cara untuk membuat jiwa dan pikiran kita "fresh"
agustianwar wrote on Mar 22, '07
Ya, setuju tuh, menjadi mahfum tentang diri sendiri merupakan kekuatan untuk menakar.....salam, Anwar.
anionghasiyo wrote on Mar 24, '07
bagi saya, defrag bisa juga dilakukan dengan cara mendengarkan lantunan musik.
herbhayu wrote on Mar 24, '07
bisa saja bang Anwar menganalogikan defrag dengan kehidupan sehari-hari. It's true though. Hanya saja komputer tidak punya algoritma untuk merefleksi diri dan memperbaiki kesalahan-kesalahannya. As humans, we do.
agustianwar wrote on Mar 25, '07
defrag bisa juga dilakukan dengan cara mendengarkan lantunan musik.
Ya...bisa begitu atau bahkan apa saja, yang penting jalan. Musik adalah sebuah capaian besar peradaban manusia...
agustianwar wrote on Mar 25, '07
bisa saja bang Anwar menganalogikan defrag dengan kehidupan sehari-hari. It's true though. Hanya saja komputer tidak punya algoritma untuk merefleksi diri dan memperbaiki kesalahan-kesalahannya. As humans, we do.
'Hanya saja komputer tidak punya algoritma untuk merefleksi diri dan memperbaiki kesalahan-kesalahannya. As humans, we do':------but, we'll never know Bay, oneday...mmm..ha ha ha...

Yet, Bayu benar sekali, kita punya fasilitas refleksi, komputer fasilitas mekanis. Coba kalau kita punya dua-duanya...... "We are only human", kata kita pada mesin; "we are only the machines" kata para komputer itu ha ha ha...........



.
diyan31 wrote on Mar 27, '07
Mungkinkah defrag bisa kita lakukan sebelum mencapai 'the tipping point' yang sesungguhnya terjadi? dengan tujuan agar proses defragmentasi itu sendiri tidak memerlukan waktu yang lebih lama, misalnya dengan men-defrag diri kita saat ada sinyal akan terjadinya 'the tipping point' ..
agustianwar wrote on Mar 27, '07
diyan31 said
agar proses defragmentasi itu sendiri tidak memerlukan waktu yang lebih lama
Perumpamaan yang pas sekali; kalau sudah di titik kritis, pasti sangat berat dan lama......
Cuma, memang, terlalu sering di-defrag juga tidak baik bagi sistem diri, karena file pun bisa kehilangan hal-hal yang justru harus dipertahankan....salam.
smkperguruancikini wrote on May 15, '07
hallo assalamu'alaikum wr.wb, how are u ?
agustianwar wrote on May 15, '07
hallo assalamu'alaikum wr.wb, how are u ?
Alaikumsalam....terima kasih atas kunjungannya......
aguswid wrote on May 24, '07
Mencermati tulisan dan tanggapan2nya, ternyata sistim defrag di manusia bisa macam-macam nih. Tinggal pilih untuk diinstall ke dalam sistim diri masing2. Trims pencerahannya.
agustianwar wrote on May 27, '07
aguswid said
Tinggal pilih untuk diinstall ke dalam sistim diri masing2. Trims pencerahannya.
Mm ya, saya kira juga begitu, sistem bisa lain-lain, bahkan di-customized sesuai konteks dan kebutuhan....yang penting barangkali bahwa sistem defrag itu memang harus ada, agar tidak terlalu berat dan membebani...ya kan? salam Mas Agus....
tatakota wrote on Jul 18, '07
Bang Anwar, matur nuwun
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help