 | TAKDIR | Apr 1, '07 2:32 PM for everyone |

"Takdir," kata seorang ustadz dalam sebuah ceramah Maulid, "adalah ukuran."
Ukuran di sini ia terjemahkan sebagai takaran yang telah ditetapkan bagi masing-masing kita, tentang bagian dan peruntukan yang telah digariskan. Namun, menurutnya lagi, takdir itu menjadi tetap bukan sebelum usaha, melainkan sesudahnya.
Itu jawaban ringkas yang diberikan atas pertanyaan hadirin tentang makna takdir. Pertanyaannya menyangkut kecenderungan masyarakat kita untuk sekedar menyalahkan takdir dalam menyikapi berbagai cobaan dan bencana yang dihadapi.
Jadi, dalam alur pikir di atas, orang yang duduk diam dan berdoa saja pun sepanjang hari lalu mati kelaparan, bukanlah ekspresi sebuah takdir. Yang ini tidak lebih dari sebuah ekspresi ketololan, kalau bukan sekedar kemalasan.
|
KITA HANYA PERLU MENUNGGU
Kita hanya perlu menunggu Jika menyangkut ketentuan Tuhan
Dari balik dinding harap Setelah tangan-tangan lepuh Menuntaskan kerja Tinggal penantian Pada Tuhan segenap perjanjian
Terus tak putus Mari kembangkan tangan Bagai kuncup mawar mekar ke langit Pasti doa kan berjawab Sebagai embun di pucuk daun, menyegar Dan ikhlas hatimu itu pun dihitung amal
Pekanbaru, Apr 1993 *) Merdeka, Minggu ke-3 Mei 1993 |
Memang, di zaman penuh persaingan sekarang, ketika manusia yang menghuni bumi lebih dari 6 milyar orang, mereka-mereka yang duduk diam dan cuma melafalkan doa agar rezeki datang tanpa usaha fisik, mungkin dapat saja dituding kurang akal.
Orang yang sangat ahli ibadah sekali pun perlu turun tangan bekerja keras untuk mencari nafkah. Sedangkan Rasul yang termat disayang Yang Maha Kuasa, tak pernah lalai bekerja, apatah lagi kita yang orang biasa.
Bencana pun, ketika ia datang, bahkan bertubi-tubi, tetapi kalau sekedar dihadapi dengan duduk diam saja, tanpa antisipasi, tidak berbuat apa-apa, maka tak seluruhnya jatuh menjadi takdir. Takdir hanya ada pasca usaha.
Sesuatu baru masuk dalam koridor takdir, apabila kita telah berupaya keras sedaya upaya, telah melakukan semua yang mungkin tanpa terkecuali, baru setelah itulah takdir tertetapkan. Bahwa hasil pekerjaan dapat menjadi sangat ranum dan penuh berkah. Namun, juga, dapat saja tak bernas, hanya kering dan hampa.
Itulah takdir.
Bagi yang telah mahfum (sampai ke hati), takdir itu tentunya selalu akan mendatangkan dua hal: syukur (ketika mendapat berkah) dan sabar (ketika yang diperoleh tidak seperti yang diharapkan).
Dalam makna yang paling luas, takdir akan sangat jauh dari sekedar sebuah keniscayaan. Jelas bukan sesuatu yang sifatnya taken for granted.
Sebetulnya kalau kita mau menyelaminya sedikit lebih dalam, kewajiban untuk percaya terhadap takdir (sebagai bagian dari iman) adalah sesuatu yang sangat indah. Ia menjadi sebuah kombinasi antara faktor yang dapat dikontrol dan yang tidak. Di dalamnya tercantum kerja keras dan keikhlasan menerima ukuran yang ditetapkan.
Jadi, ia membuat kita mampu memenuhi kebutuhan aktualisasi diri a la Abraham Maslow, sampai ke titik paling optimal. Ia menuntut kita untuk dapat memenuhi hakikat manusia sebagai makhluk rasional, yang bisa memilih apa pun yang paling tepat. Sebagai makhluk kreatif, makhluk yang berusaha, makhluk yang ingin mendapatkan yang terbaik.
Namun, setelah semua faktor yang berada dalam kontrol diri kita dilakukan, maka faktor-faktor lain yang berada di luar diri kita adalah bentuk akhir keseluruhan takdir itu. Hidup toh akan selalu diwarnai keberhasilan dan kegagalan.
Oleh sebab itu, kalau takdir kita imani, maka ia akan menjadi safety blanket kalau harapan tidak menjadi kenyataan; menjadi rasa syukur ketika rahmat diberikan. Di sinilah esensi filosofis manusia sebagai makhluk yang bertuhan.
"Takdir," kata seorang ustadz dalam sebuah ceramah Maulid, "adalah ukuran."
LA, 31/3-1/4/07
 | jadi salah ya mas jika ada yang berujar, takdir memang kejam!
|
 | 16j42 wrote on Apr 1, '07 bernas, lugas. keren! (puisinya juga)
tks |
 | penjelasan ttg takdir yg ringkas namun tebal maknanya, puisinya juga indah makasih postingannya Pak Anwar. |
 | Ada saatnya kita berdoa ada pula saatnya kita bekerja. Kemudian jangan melupakan NIKMAT hasil pekerjaan selama WAKTU masih ada.
Itulah kehidupan. Bagi diri saya tentunya. Dan Anda, Bung Anwar?
Salam dan doa dari kejauhan. |
 | Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. 13:11)
Jadi konkretnya, berdoa, berusaha secara maksimal dan betawakkal pada Allah akan semua yang kita dapat karena itulah pilihan Allah untuk kita. Gitu kali ya? |
 | Abis baca tulisannya abangku satu ini, makin semangat deh ! thanks ya. |
 | hiks, ma kasih banget postingannya...pas banget momennya bang |
 | Allah tahu yg terbaik untuk kita |
 | Alhamdulillah, tidak ada yang kebetulan di dunia ini, pasti ini rencana Allah, hingga saya membaca tulisan ini. Bagaimana dengan jodoh bang? sejauh mana usaha berpengaruh dan bagaimana usahanya? |
 | Bagaimana dengan jodoh bang? sejauh mana usaha berpengaruh dan bagaimana usahanya?  Aduh Sari, ini pertanyaan yang sulit dijawab: Apakah ditunggu untk datang, atau dicari untuk bertemu? Saya kira jodoh pun tak lepas dari aspek usaha; yang bertemu, saling menjaga. Yang pasti, kalau memang tidak jodoh, bagaimana pun caranya, akan terlepas jua, walau telah menempuh segala ragam upaya. Sedangkan yang jodoh kita, pun belum tentu jadi rahmat, bisa saja cobaan. Itulah barangkali makna istikharah, memintakan Allah yang memilihkan. Moga-moga berkat. Salam... |
 | DUIT, Do'a, Usaha, Ikhtiar, Tawakal.Dan ujung Usaha itulah Takdir. Betul tidak Mas Anwar? |
 | "Takdir" kadang memang sangat sulit untuk mendefenisikannya. Sebagian orang yang percaya pada USAHA, setelah itu HASIL, mungkin akan cenderung membenarkan paham Jabariyah. Namun bagi orang yang sudah banyak USAHA, namun karunia Allah yang diperolehnya, hanya SECUKUPNYA saja, mungkin akan cenderung pada paham Qadariyah.
Namun kita simak saja Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda:
Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia.
Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha?
Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara.
Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah (untuk beramal saleh mencari pahala)! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia (misalnya Sedekah, Zakat, Haji, Umrah). Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara (Sabar, Qanaah, dll).
Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.
|
| |