Blog EntryTERBANG MISKIN LAYANANApr 10, '07 11:39 PM
for everyone




Low budget flight? Anda tentu tahu apa yang dimaksud. Artinya, anda memang terbang menggunakan pesawat, namun karena memang beranggaran murah maka pelayanan merupakan komponen yang dipangkas habis.

Di tanah air, penerbangan murah merupakan solusi yang luar biasa untuk perjalanan jarak jauh. Penerbangan murah kita betul-betul murah, karena harga tiket dapat ditekan sampai hanya beberapa ratus ribu rupiah. Maskapai penerbangan tetap untung dan tetap beroperasi, meskipun pesawat-pesawat itu berusia tua. Apakah rendahnya margin impas itu menyebabkan terpotongnya anggaran untuk biaya pemeliharaan yang semestinya, sehingga sering terjadi kecelakaan?

Dibanding dengan ongkos penerbangan di berbagai negara maju, harga tiket kita jauh lebih rendah. Untuk jarak tempuh 1,5 jam penerbangan, dapat dibayar dengan hanya sekitar US$30-40. Di Amerika, harga itu setidaknya di atas $100. Itu pun kalau tiket dipesan sekurang-kurangnya dua minggu lebih awal. Pemesanan dengan cara on-line, misalnya lewat www.expedia.com, juga akan dapat memberikan diskon, walaupun sedikit.

Tetapi, jangan coba-coba membeli tiket secara dadakan, berubah-ubah jadwal atau sangat dekat dengan hari keberangkatan. Harganya bisa selangit. Kalau anda mengubah-ubah jadwal, dampaknya bahkan lebih serius, karena anda bisa saja dicurigai. Jangan-jangan terkait jaringan terorisme? Maklum, setelah tragedi 11 September banyak sekali yang sangat sangat ketakutan.

Yang lucu, memang, bahwa semakin banyak penerbangan yang menekan habis jenis layanan gratisnya. In-flight service yang masih ada pun kadangkala terasa ironis. Apabila anda terbang dari Los Angeles ke Washington DC, misalnya, dengan jarak tempuh sekitar 5 jam, sangat mungkin anda hanya akan diberikan sepotong roti dan tawaran minuman. Okelah, ada berbagai jenis jus, kopi, teh dan air mineral, tetapi hanya itu.

Dengan United Airline, misalnya, anda tidak akan mendapatkan layanan makan pagi atau makan siang yang wajar. Kalau mau, memang, anda dapat membelinya dengan harga $5. Memang anda pun dapat saja membawa makanan sendiri, yang penting dibeli di bandara setelah melewati gerbang check-in. Itulah sebabnya di dalam pesawat akan beredar berbagai aroma makanan dan minuman, termasuk uap kopi Starbuck yang menjadi kesukaan semua orang.

Memang masih untung kalau audio headset masih disediakan untuk mendengarkan musik atau film yang ditayangkan. Untuk beberapa maskapai, misalnya Delta, anda harus membeli headset itu seharga $2. Kalau tidak, ada terpaksa bingung-bingung sendiri, syukur kalau ingat bawa buku untuk dibaca atau memang bisa tidur. Untungnya menggunakan medium musik MP3 sendiri, menjalankan DVD player atau laptop diperbolehkan setelah lepas landas dan mencapai ketinggian stabil.

Yang juga lucu, memang, bahwa para pramugari yang bertugas pun tidak harus cantik dan muda. Mungkin kalau anda terpengaruh kesan penerbangan di Indonesia atau Asia, bayangan tentang pramugari di pesawat selalu bagaikan foto model. Bagi penerbangan Amerika atau Eropa, amat biasa menemukan pramugari yang telah berumur. Sekali waktu, dalam penerbangan sebuah maskapai di AS, pramugari yang berusia di atas 60-an pun masih bertugas. Kasihan juga melihat seorang ibu tua yang harus melayani penumpang sedemikian rupa---walau masih secekatan apa pun ia.

Pasti banyak sebab mengapa layanan dalam penerbangan semakin menurun kualitasnya di Barat. Boleh jadi mahalnya upah tenaga kerja (labor wage) mengakibatkan perlunya pemangkasan di mana-mana. Belum lagi biaya yang ditimbulkan oleh peningkatan pengamanan penerbangan dan bandara. Atau, mungkinkah itu karena semua maskapai penerbangan saling berkonspirasi untuk mendapatkan selisih margin keuntungan yang lebih besar? Atau semata-mata penerbangan pun sudah harus diperlakukan sebagai sesuatu yang sangat biasa, tak lebih dari sebuah bis udara?

Patut disangka bahwa layanan demi kenyamanan dapat saja menjadi korban pertama apabila pengetatan anggaran terpaksa dilakukan, asalkan hal-hal fundamental seperti keamanan dan kelayakan penerbangan dipertahankan. Moga-moga, penerbangan di tanah air yang masih sering kecelakaan sama sekali tidak karena keharusan menggaji pramugari yang cantik dan muda atau demi menyediakan lemper dan makan siang kepada para penumpang, sehingga mengorbankan aspek pemeliharaan dan keselamatan.

Namun, apa pun itu, penerbangan sudah pasti haruslah memberikan rasa aman. Sedangkan rasa aman yang diimbangi dengan kenyamanan pelayanan akan menyebabkan para penumpang betah dan puas. Dengan begitu, ketika mendarat di bandara tujuan dan pramugari kepala mengucapkan terima kasih dan selamat jalan, kita akan membalas dengan senyuman.

Thank you for flying with...............

LA-HWii/5/4/07

Entri lain:

Gambar thanks to great drawing by Cal Slayton at http://www.calslayton.com.

19 CommentsChronological   Reverse   Threaded
imamisnaini wrote on Apr 11, '07
Menurut saya, yang harus mendapat prioritas utama bagi alat transportasi adalah keamanan bagi penumpang dan petugasnya. Saya tidak habis pikir, menurut pengakuan pilot salah satu maskapai di Indonesia sesaat setelah terjadi tragedi Adam Air, ternyata sering maskapai itu menerbangkan pesawat meski hanya satu mesin saja yang berfungsi...
yudimuslim wrote on Apr 11, '07
heheheheh lucu nyaakk
demi rupiah nyawa di pertaruhkan..
hehehehhe
16j42 wrote on Apr 11, '07
maka adalah pribasa penerbangan: "hemat pangkal selamat" ?

salam dari uni eropa,
kohar
deshinta wrote on Apr 11, '07
Oh jadi gitu ya bang, sekarang......??
Dulu fly dengan United airlines juga northwest makanannya masih OK..meski cukup jauh juga saya terbang dari SFO ke Louisville, Indiana...
hmmmm........
riza6315 wrote on Apr 11, '07
prioritas utama bagi alat transportasi adalah keamanan bagi penumpang dan petugasnya.
setuju banget
riza6315 wrote on Apr 11, '07
Memang masih untung kalau audio headset masih disediakan untuk mendengarkan musik atau film yang ditayangkan. Untuk beberapa maskapai, misalnya Delta, anda harus membeli headset itu seharga $2. Kalau tidak, ada terpaksa bingung-bingung sendiri, syukur kalau ingat bawa buku untuk dibaca atau memang bisa tidur. Untungnya menggunakan medium musik MP3 sendiri, menjalankan DVD player atau laptop diperbolehkan setelah lepas landas dan mencapai ketinggian stabil.
Di Indonesia, yang paling tobat adalah penggunaan HP di pesawat. Mungkin pada nggak tau arti "mengganggu navigasi" ya?
agustianwar wrote on Apr 11, '07
Saya tidak habis pikir, menurut pengakuan pilot salah satu maskapai di Indonesia sesaat setelah terjadi tragedi Adam Air, ternyata sering maskapai itu menerbangkan pesawat meski hanya satu mesin saja yang berfungsi...
Prihatin sekali soal kenekatan demikian ini Mas; main-main dengan nyawa orang lain.
Seorang antroplog di University of Hawaii at Manoa memang memang menilai bangsa kita ska 'bermain-main dengan batas-batas' termasuk bahaya. Semestinya keamanan, apalagi menyangkut banyak orang lain, menjadi faktor yang tidak boleh ditawar. Salam...
agustianwar wrote on Apr 11, '07
demi rupiah nyawa di pertaruhkan..
Kalau nyawa sendiri sih nggak terlalu dirisaukan orang lain; yang paling parah kalau nyawa banyak orang lain, seperti kometnar Mas Imam di atas. Ya kan?
agustianwar wrote on Apr 11, '07
16j42 said
"hemat pangkal selamat" ?
Yang benar, Bang, bukannya "hemat pangkal kaya"...ha ha ha....
agustianwar wrote on Apr 11, '07
Oh jadi gitu ya bang, sekarang......??
Dulu
Ya tuh, memang baru beberapa waktu belakangan ini saja...dan syukurnya belum merata di semua penerbangan.....

agustianwar wrote on Apr 11, '07
Di Indonesia, yang paling tobat adalah penggunaan HP di pesawat. Mungkin pada nggak tau arti "mengganggu navigasi" ya?
Ini yang susah....pada lupa mematikan HP, padahal naik pesawat kecil yang sistem navigasinya mudah saja terganggu. Kalau cuma satu dua mungkin tak jadi soal, tapi kalau banyak, wah, gara-gara ada yang mau kontak2 dengan darat, keamanan bersama yang dipertaruhkan....waduh......
diaz2000 wrote on Apr 12, '07
Yah.....mudah-mudahan dunia penerbangan Indonesia bisa meniru hal positif dari berbagai model penerbangan di dunia, yang penting faktor keslamatan penumpang harus menjadi prioritas utama. TFS.
medzilla wrote on Apr 12, '07, edited on Apr 12, '07
Menggunakan hp di pesawat kalo masi di darat mungkin OK lah (pamitan, emergency, dll). Saya rasa yg mengganggu navigasi itu kalo udah terbang, karena pada ketinggian tertentu sudah tidak ada sinyal cellular, HP masi "roaming" berusaha cari sinyal. Roaming-nya itu yg bisa mengganggu sistem di pesawat. Jadi memang sbaiknya hp dimatikan slama penerbangan, selain hemat battery juga untuk mencegah hal2 yg tidak diinginkan.
agustianwar wrote on Apr 12, '07
HP masi "roaming" berusaha cari sinyal. Roaming-nya itu yg bisa mengganggu sistem di pesawat.
Ya tuh...kalau sudah di udara, lebih baik di-off-kan atau 'airplane mode', toh selalu diingatkan kok. Terbang itu hal yang riskan, meskipun tetap disebut the safest way for travel. Jaga-jaga demi keamanan semua jauh lebih baik, ya kan.....
agustianwar wrote on Apr 12, '07
mudah-mudahan dunia penerbangan Indonesia bisa meniru hal positif dari berbagai model penerbangan di dunia, yang penting faktor keslamatan penumpang harus menjadi prioritas utama.
Setuju sekali; saling belajar hal yang baik, apalagi soal keamanan penerbangan, adalah hal yang mutlak positif. Salam....
anionghasiyo wrote on Apr 14, '07
Duh..ajaibnya uang ya kang Agus, harga murah, pramugarinya pun dikasih yang sudah sepuh. Heh..heh..heh.
agustianwar wrote on Apr 14, '07
pramugarinya pun dikasih yang sudah sepuh.
Kalau penerbangan Asia kan biasanya pramugari senior ditugaskan untuk kantor atau apa, bukan di depan. Di AS, usia kerja mencapai 65 dan mereka terus bekerja di posisi yang sama. Memang maskapai diuntungkan tanpa harus selalu menyediakan tenaga baru, tidak harus melatih SDM lagi dsb dan itu berarti penghematan kan? Salam....
sellyna wrote on Apr 18, '07
Kalau penerbangan Asia kan biasanya pramugari senior ditugaskan untuk kantor atau apa, bukan di depan. Di AS, usia kerja mencapai 65 dan mereka terus bekerja di posisi yang sama. Memang maskapai diuntungkan tanpa harus selalu menyediakan tenaga baru, tidak harus melatih SDM lagi dsb dan itu berarti penghematan kan? Salam....
Salam dari Hawaii Bang..

Iya tuh.. .. hampir semua maskapai di Asia pramugarinyaa sengaja dipilih yang muda, cantik dan segar..seolah membenarkan image perempuan Asia masuk pasar dunia hanya mampu menjadi pelayan, sebagai pekerja domestik di rumah2 (PRT dan nurse), juga di maskapai yg lumayan bergengsi sekalipun..

agustianwar wrote on Apr 19, '07
sellyna said
Salam dari Hawaii Bang..

Iya tuh.. .. hampir semua maskapai di Asia pramugarinyaa sengaja dipilih yang muda, cantik dan segar..seolah membenarkan image perempuan Asia masuk pasar dunia hanya mampu menjadi pelayan, sebagai pekerja domestik di rumah2 (PRT dan nurse), juga di maskapai yg lumayan bergengsi sekalipun..
Salam juga Sel, senang saya telah bertemu dengan teman2 di Hawaii. Btw, komennya ini dari gender mainstream ya ha ha ha.....salam buat yang lain....

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help