
Low budget flight? Anda tentu tahu apa yang dimaksud. Artinya, anda memang terbang menggunakan pesawat, namun karena memang beranggaran murah maka pelayanan merupakan komponen yang dipangkas habis.
Di tanah air, penerbangan murah merupakan solusi yang luar biasa untuk perjalanan jarak jauh. Penerbangan murah kita betul-betul murah, karena harga tiket dapat ditekan sampai hanya beberapa ratus ribu rupiah. Maskapai penerbangan tetap untung dan tetap beroperasi, meskipun pesawat-pesawat itu berusia tua. Apakah rendahnya margin impas itu menyebabkan terpotongnya anggaran untuk biaya pemeliharaan yang semestinya, sehingga sering terjadi kecelakaan?
Dibanding dengan ongkos penerbangan di berbagai negara maju, harga tiket kita jauh lebih rendah. Untuk jarak tempuh 1,5 jam penerbangan, dapat dibayar dengan hanya sekitar US$30-40. Di Amerika, harga itu setidaknya di atas $100. Itu pun kalau tiket dipesan sekurang-kurangnya dua minggu lebih awal. Pemesanan dengan cara on-line, misalnya lewat www.expedia.com, juga akan dapat memberikan diskon, walaupun sedikit.
Tetapi, jangan coba-coba membeli tiket secara dadakan, berubah-ubah jadwal atau sangat dekat dengan hari keberangkatan. Harganya bisa selangit. Kalau anda mengubah-ubah jadwal, dampaknya bahkan lebih serius, karena anda bisa saja dicurigai. Jangan-jangan terkait jaringan terorisme? Maklum, setelah tragedi 11 September banyak sekali yang sangat sangat ketakutan.
Yang lucu, memang, bahwa semakin banyak penerbangan yang menekan habis jenis layanan gratisnya. In-flight service yang masih ada pun kadangkala terasa ironis. Apabila anda terbang dari Los Angeles ke Washington DC, misalnya, dengan jarak tempuh sekitar 5 jam, sangat mungkin anda hanya akan diberikan sepotong roti dan tawaran minuman. Okelah, ada berbagai jenis jus, kopi, teh dan air mineral, tetapi hanya itu.
Dengan United Airline, misalnya, anda tidak akan mendapatkan layanan makan pagi atau makan siang yang wajar. Kalau mau, memang, anda dapat membelinya dengan harga $5. Memang anda pun dapat saja membawa makanan sendiri, yang penting dibeli di bandara setelah melewati gerbang check-in. Itulah sebabnya di dalam pesawat akan beredar berbagai aroma makanan dan minuman, termasuk uap kopi Starbuck yang menjadi kesukaan semua orang.
Memang masih untung kalau audio headset masih disediakan untuk mendengarkan musik atau film yang ditayangkan. Untuk beberapa maskapai, misalnya Delta, anda harus membeli headset itu seharga $2. Kalau tidak, ada terpaksa bingung-bingung sendiri, syukur kalau ingat bawa buku untuk dibaca atau memang bisa tidur. Untungnya menggunakan medium musik MP3 sendiri, menjalankan DVD player atau laptop diperbolehkan setelah lepas landas dan mencapai ketinggian stabil.
Yang juga lucu, memang, bahwa para pramugari yang bertugas pun tidak harus cantik dan muda. Mungkin kalau anda terpengaruh kesan penerbangan di Indonesia atau Asia, bayangan tentang pramugari di pesawat selalu bagaikan foto model. Bagi penerbangan Amerika atau Eropa, amat biasa menemukan pramugari yang telah berumur. Sekali waktu, dalam penerbangan sebuah maskapai di AS, pramugari yang berusia di atas 60-an pun masih bertugas. Kasihan juga melihat seorang ibu tua yang harus melayani penumpang sedemikian rupa---walau masih secekatan apa pun ia.
Pasti banyak sebab mengapa layanan dalam penerbangan semakin menurun kualitasnya di Barat. Boleh jadi mahalnya upah tenaga kerja (labor wage) mengakibatkan perlunya pemangkasan di mana-mana. Belum lagi biaya yang ditimbulkan oleh peningkatan pengamanan penerbangan dan bandara. Atau, mungkinkah itu karena semua maskapai penerbangan saling berkonspirasi untuk mendapatkan selisih margin keuntungan yang lebih besar? Atau semata-mata penerbangan pun sudah harus diperlakukan sebagai sesuatu yang sangat biasa, tak lebih dari sebuah bis udara?
Patut disangka bahwa layanan demi kenyamanan dapat saja menjadi korban pertama apabila pengetatan anggaran terpaksa dilakukan, asalkan hal-hal fundamental seperti keamanan dan kelayakan penerbangan dipertahankan. Moga-moga, penerbangan di tanah air yang masih sering kecelakaan sama sekali tidak karena keharusan menggaji pramugari yang cantik dan muda atau demi menyediakan lemper dan makan siang kepada para penumpang, sehingga mengorbankan aspek pemeliharaan dan keselamatan.
Namun, apa pun itu, penerbangan sudah pasti haruslah memberikan rasa aman. Sedangkan rasa aman yang diimbangi dengan kenyamanan pelayanan akan menyebabkan para penumpang betah dan puas. Dengan begitu, ketika mendarat di bandara tujuan dan pramugari kepala mengucapkan terima kasih dan selamat jalan, kita akan membalas dengan senyuman.
Thank you for flying with...............
LA-HWii/5/4/07
Entri lain:
Gambar thanks to great drawing by Cal Slayton at http://www.calslayton.com.