Blog EntryMATEMATIKA PERGUNJINGANApr 14, '07 12:39 AM
for everyone

 

 

 

"Janganlah bergunjing," demikian pesan khatib Jumat mengingatkan semua hadirin. Sebab, bergunjing itu membawa kepada keburukan, bukan kebaikan.

Semua ini tentu bukan isu baru dan semua telah tahu. Ia dilarang oleh agama, karena esensi agama selalu berlandaskan ajaran kebaikan. Katakanlah yang baik, demikian yang semestinya. Walaupun dalam kehidupan, mengatakan yang buruk justru terjadi lebih sering.

Sebetulnya apakah bergunjing itu? Marilah kita ulas sedikit. Definisinya yang paling umum tentu membicarakan keburukan atau hal-hal buruk dari seseorang dengan orang lain di belakang. Tema dasarnya adalah hal buruk, bukan yang baik. Celakanya, seperti juga diktum wajib dunia pers bahwa "bad news is good news", hal-hal buruk seseorang itu selalu menimbulkan kegatalan untuk segera pula diketuktularkan kepada yang lain.

Diagram pergunjingan bermula dengan si A dan si B mengutak-utik hal buruk dari si C. Hal buruk itu pun bisa saja benar, bahwa memang sebuah aib, sesuatu yang kurang baik. Namun, ia pun bisa saja sebatas duga-duga, sebuah persangkaan buruk terhadap si C.

Sayangnya, dalam matematika pergunjingan, apabila dasarnya adalah prasangka, maka variabel turunan yang menjadi bumbu kombinasi pun beragam: apakah sikap melebih-lebihkan yang tak baik, mengada-adakan dusta, memancing fitnah, menajamkan benci dan banyak lagi. Pergunjingan dapat memperanakpinakkan berbagai keburukan, termasuk permusuhan.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah bahwa pergunjingan itu seperti rasa gatal---yang selalu minta digaruk tak henti-hentinya. Semakin digaruk, semakin enak. Maka, setelah si A dan B selesai, maka selanjutnya mereka akan dipancing gatal nafsu untuk memperlebar jaring garukan dengan menyampaikan kembali kepada si D dan si E. Apabila pihak-pihak yang telah terlibat konsisten meneruskan perkelipatannya, maka tak akan terlalu lama bagi semua orang untuk tahu: Tentang keburukan si C.

Tentu saja yang paling mengkhawatirkan apabila masing-masing partisipan pun aktif menambahkan bumbu kombinasi sesuai selera masing-masing. Yang jelas, ketika informasi hal buruk si C sampai ke orang paling akhir, maka tak lagi jelas sekecil apa porsi kebenaran dan sebesar apa kebohongan.

Memang, kalau permainan pesan berantai yang diikuti 5 orang dijadikan bandingan, misalnya, informasi akhir yang sampai pada orang ke-5 tidak harus dalam pola 1+4, bahwa informasi awal tetap hadir ditambah dengan informasi-informasi lainnya. Boleh jadi, yang diterima peserta ke-5 justru informasi yang sama sekali tidak berkaitan.

Artinya, dalam jaringan pergunjingan, sangat mungkin bahwa si C yang disebut-sebut aibnya mendapat fitnah kejam yang tak ada kebenarannya secuil pun.

"Janganlah bergunjing," demikian pesan khatib pada Jumat ini, mengingatkan semua hadirin. Dan sang khatib sangat benar, karena tak ada kebaikan di dalam pergunjingan itu.

Barangkali, ketika sampai juga ke kita tentang keburukan seseorang, marilah belajar memutuskan rantainya---dengan menutupkan telinga dan mendoakan kebaikan baginya. Jika ini bisa kita lakukan dan ketika kita yang ternyata dicoba pada posisi si C, moga-moga doa kebaikan pulalah yang akan kita terima.

Bahkan bertambah. Lantas dunia pun menjadi berkah.

LA, Jumat/13/4/07


20 CommentsChronological   Reverse   Threaded
yudimuslim wrote on Apr 14, '07
pak syukran atas sharenya
terus bagaimana tentang entertainment yang ebih cenderung menggunjing
tianarief wrote on Apr 14, '07
kata KH zainuddin MZ berita berantai cenderung bertambah (ditambah-tambahi), tapi duit yang dititip-titipkan lewat orang-orang cenderung berkurang. TFS mas
agustianwar wrote on Apr 14, '07
terus bagaimana tentang entertainment yang ebih cenderung menggunjing
Iya tuh, walaupun sudah dikritik dan diprotes berbagai kalangan, eh jalan terus. Mengontrol faktor di luar diri biasanya lebih sulit, walaupun bisa. Yang paling praktis, kalau kita tidak ikut menjadi partisipannya, agar rantainya terputus. Barangkali.....salam, Anwar.
agustianwar wrote on Apr 14, '07
kata KH zainuddin MZ berita berantai cenderung bertambah (ditambah-tambahi), tapi duit yang dititip-titipkan lewat orang-orang cenderung berkurang. TFS mas
Pak Kyai kita itu memang sering bijak.....salam..
penamuda wrote on Apr 14, '07
Nah, penjelasan detail seperti ini yang saya suka. Kadang kalau cuman pesan "Jangan Bergunjing", kurang ngefek. Kalau disertai model tips menghindari gunjingan semacam ini kan jadi inget dan tergerak untuk tidak menggunjing orang lain. Sukron Pak.
lumpiabasah wrote on Apr 14, '07
"Artinya, dalam jaringan pergunjingan, sangat mungkin bahwa si C yang disebut-sebut aibnya mendapat fitnah kejam yang tak ada kebenarannya secuil pun."

Artikel di atas sangat jitu. Saya sendiri selalu menggambarkan berguncing seperti memasak sepiring nasi goreng. Pada awalnya, saya cuma melihat nasi putih yang digoreng. Kemudian ditaruh telur, sayuran + sambal dan sejuta macam bumbu yang lain.

Ma kasih pak, karena sudi berbagi ilmu ~
agustianwar wrote on Apr 15, '07
Kalau disertai model tips menghindari gunjingan semacam ini kan jadi inget dan tergerak untuk tidak menggunjing orang lain
Moga-moga bermanfaat, memang. Salam, dan teruslah menulis (berbagi).....
agustianwar wrote on Apr 15, '07
Saya sendiri selalu menggambarkan berguncing seperti memasak sepiring nasi goreng. Pada awalnya, saya cuma melihat nasi putih yang digoreng. Kemudian ditaruh telur, sayuran + sambal dan sejuta macam bumbu yang lain.
Mm, bedanya, kalau nasi goreng setelah ditambah sana-sini, menjadi hidangan lezat yang banyak membawa kebaikan; kalau gunjing justru sebaliknya.... Ngomong2 pasti bikin nasi gorengnya enak deh...ya.....ha ha ha....salam...
timurmatahari wrote on Apr 15, '07
saya dianggap tidak enak diajak ngobrol krn tidak mau bergosip dan tidak seru kata beberapa orang. hiks....menghindari bergunjing malah dihindari.
agustianwar wrote on Apr 15, '07
menghindari bergunjing malah dihindari.
Ha ha ha....efek samping tak bergunjing...wah......
diyan31 wrote on Apr 16, '07
Intinya sama dengan pepatah 'Diam itu emas'. Betul tidak ya??
shofyarinie wrote on Apr 16, '07
Betul sekali Mas, Setuju."Lidah memang tak bertulang"tapi tajam seperti pedang,he...he...(Nyambung g ya?)makasih Mas ilmunya!
agustianwar wrote on Apr 17, '07
diyan31 said
Intinya sama dengan pepatah 'Diam itu emas'. Betul tidak ya??
Diam memang bisa jadi emas di tengah para penggunjing.... Tapi, kalau profesinya jubir, harus banyak bicara kan? Yang penting, bicaranya yang benar, ya nggak?
agustianwar wrote on Apr 17, '07
."Lidah memang tak bertulang"tapi tajam seperti pedang,he...he...(Nyambung g ya?)makasih Mas ilmunya!
Memang, kalau lidah bertulang, bakalan repot, karena nggak bakal lentur....gimana mau melafalkan kata-kata ha ha ha...... Kuncinya memang menjaga lisan....salam, Anwar.
diaz2000 wrote on Apr 18, '07, edited on Apr 18, '07
kajian yang sangat menarik Bang, memang dalam masalah komunikasi ini unsur "tabayyun" harus selalu dikedepankan. TFS.
agustianwar wrote on Apr 19, '07
memang dalam masalah komunikasi ini unsur "tabayyun" harus selalu dikedepankan.
Setuju sekali....saling mengklarifikasi.....salam...
ghinarumaisha wrote on Apr 19, '07
jazakallah atas tausiahnya
agustianwar wrote on Apr 20, '07
jazakallah atas tausiahnya
Semoga ada manfaatnya; hanya sekedar saling mengingatkan....salam, Anwar.
jampang wrote on Apr 30, '07
nonton infotainment itu yang sebenarnya masuk dalam bergunjing, tapi enggak ngerasa begunjing.
*repot*
agustianwar wrote on May 1, '07
jampang said
tapi enggak ngerasa begunjing.
Mungkin tetap merasa; cuma karena 'berduit', ya bisa bablas dan lupa....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help