
Tangan bertemu tangan, saling menggenggam. Itulah bersalaman atau berjabat tangan, yang merupakan ekspresi ramah tamah yang paling umum di dunia.
Semua bangsa pasti mengerti maknanya. Walau pun budaya lokal dapat berlainan, namun saking mendunianya jabat tangan, maka semua orang pasti mengenalnya sebagai bahasa tubuh penyampaian salam.
Konon, bersalaman adalah pernyataan sikap damai; bahwa masing-masing hampa tangan dan tidak memegang atau menyembunyikan senjata. Artinya, bersalaman bertolakbelakang dengan sikap bermusuhan.
Menurut Herbert Spencer yang malang melintang dalam Sosiologi, berjabatan tangan pertama kali bermula dalam budaya bangsa Arab yang bertemu di gurun pasir. Di Eropa kuno, juga Yunani, bersalaman kemudian juga menjadi simbol. Semua untuk menunjukkan sikap bersahabat. Dalam praktek hingga kini, bersalaman merupakan bentuk interaksi yang positif. Orang bersalaman ketika baru bertemu, atau ketika berpisah; ketika mengucapkan selamat atau sepakat dan saling berjanji. Ketika kontrak di tandatangani, ketika pernikahan dilangsungkan, ijab dan kabul itu pun disimpulkan dengan tangan yang saling berjabatan. Ketika permusuhan diakhiri, hati dibuka untuk memulai hubungan baru yang bersahabat, maka bersalamanlah. Ketika meminta maaf, bahkan meminta ampun, jabatan tangan pun merupakan salah satu penandanya. Memang tidak semua bangsa akan saling bersalaman. Namun, bangsa kita adalah di antara yang paling sering melakukan itu. Sebagian dari kita bahkan terlalu rajin untuk bersalaman, hampir dalam setiap kesempatan. Yang lain, mungkin sedikit lebih jarang; hanya ketika dirasa perlu.Namun yang lebih perlu adalah bahwa jabatan tangan itu tulus, bukan palsu.Adakalanya, dalam bersalaman itu, lebih berwarna basa-basi. Kita bersalaman sekedar untuk bersalaman. Beberapa orang ketika sedang bersalaman, bahkan sama sekali tidak melihat orang yang disalam/inya. Herannya, sengaja atau tidak, ketika bersalaman dengan orang, apalagi yang tidak dikenal, langsung terukur penting tidaknya kita dimata lawan bersalaman kita itu. Dalam menyalami orang penting, tidak jarang ketika tengah bersalaman, hanya tangan yang bertaut. Mata, entah kemana. Apalagi, mungkin, hati?Yang paling menyakitkan, tentunya, apabila yang disalami justru bukan siapa-siapa, dan jabatan tangan anda pun masih disambillalukan.Lucunya, tidak jarang berjabatan yang paling terasa hangat adalah dengan politisi yang butuh suara, dengan penjual ketika anda menjadi calon pelanggan yang potensil atau dengan diplomat yang menggenggam tangan anda dengan erat. Kalau pun mereka mungkin bukan betul-betul tulus, lebih sekedar formalitas public relations atau pendekatan bisnis karena kebutuhan profesi, paling tidak mereka berusaha memperlihatkan antusiasme.
Bersalaman memang sering mampu mengukur temperatur hati seseorang. Orang yang tulus akan bersalaman dengan mata dan hati yang bersih. Bahkan, sekalipun itu politisi, pengusaha atau diplomat. Sedangkan mereka yang sekedar angkuh atau tinggi hati, kadangkala lebih pantas untuk tidak disalami.
|
Kiat bersalaman dengan si tinggi hati: |
|
Genggamlah tangannya dengan erat dan jangan lepaskan sampai ia melihat anda. Setelah ia memandang, tersenyumlah, baru lepaskan. Barangkali ia tak sengaja atau terlupa. |
Atau, yang lebih tegas:
Genggamlah tangannya sampai ia melihat anda dan katakan: "Maaf, mohon hormatilah orang lain, terima kasih". | 1/5/07 edited 2/5/07
 | saya juga sering digituin: disalami tanpa ditatap. biasanya yang menyalami, status sosialnya lebih superior (atau paling tidak, begitu anggapan ybs). hiks. :D |
 | terus bagaimana dengan etika bersalam itu sendiri jika dengan yang bukan muhrim? |
 | salamanku: menggenggam sepenuh telapak tangan. |
 | bersalaman memang dapat menyejukkan karena merasa dekat dan bersahabat. saya cenderung menerima dan sangat suka bila diajak bersalaman, jadi kalau bertemu silahkan ajak saya bersalaman atau mari saling bersalaman... |
 | bangsa perancis; mkgn karena pengaruh dari afrika utara, adalah yang bangsa eropa yang setiap bertemu saling bersalaman + ciuman di pipi kalau bertemu wanita. kalau di nigeria lain lagi, setiap bertemu saling bersalaman, tangan tetap dalam genggaman sewaktu bertanya tentang kesehatan, khabar dll dll |
 | Kalo gak salah Bersalaman ini juga sunnah Rasulullah khan? :) Alhamdulillah...TFA Bang :)
*ngajak salaman Bang Agusti* |
 | anoeh wrote on May 2, '07 setuju, salaman dapat mengukur temperatur hati manusia. makanya salaman menjadi simbol perdamaian, karena secara kasat mata hal itu sudah mewakili "akhir dari perseteruan". tapi mungkin yang lebih pas, dikatakan: "Sikap bersalaman yang dapat mengukur hati", hal itu lebih menyelamatkan substansi "berjabat tangan" yang akan menghilangkan doa seperti dalam hadits: "Tashaafahu (bersalamanlah)...". jadi, salaman ya tetap salaman sebagai simbol perdamaian dan kedekatan, tapi sikap orang yang melakukannya bisa berbeda. thanks. |
 | kalo satu hari nanti kebetulan kita ketemuan..salaman kita ya.. |
 | Salaman dulu ach (sambil memandang mata Bang Anwar). Kalau cipika cipiki bagaimana? disini ada kebiasaan cipika cipiki 3 kali (bukan 2 kali seperti di Perancis) kalau kita bertemu dgn orang yang sudah kenal. Secara sosioligis mungkin tentunya akan lebih menggambarkan keakraban dan keterbukaan, bukan sekedar sambil lalu seperti saat bersalaman. |
 | Btw gambarnya kok gak nyambung yach? Mungkin kalau gambar tangan lagi bersalaman seperti di sabun cuci batangan akan lebih cocok. |
 | Salam erat dlm Qolbun Salim kepada Abang Agustianwar, Barokalloh fiik
|
| |