Blog EntryAMSAL JEMARIMay 20, '07 3:21 AM
for everyone

 

 

Kolom: Agusti Anwar

Kedua tangan yang kita miliki masing-masing memiliki lima jari. Namun, dari kesepuluh jari yang ada, cukup banyak simbol yang dapat dihasilkan, bahkan amsal yang dapat dijadikan perbandingan.

KH Toto Tasmara dalam ceramah Pesantren Kilat (yang diberikannya di Los Angeles) menyusun kedua tangan berdempetan dengan melipatkan jari tengah. Lalu digerak-gerakkanlah kedua ibu jari saling beradu sedangkan pasangan jari-jari lain diam di tempat; lalu giliran jari telunjuk; kemudian kelingking. Semua mudah dilakukan. Namun, ketika yang digerak-gerakkan pasangan jari manis, ternyata tidak mudah atau bahkan tidak bisa.

Ustadz kita itu memang pembicara yang handal dan lihai meng-entertaint audience-nya. Dengan amsal jemari demikian itu saja, ia mengajak kita berfikir betapa bagian tubuh seperti jari-jari kita sendiri pun belum tentu dapat kita kontrol sesuka hati. Silahkan anda coba!

Demikian banyak keterbatasan yang kita miliki, bahkan hanya dalam soal jari. "Apakah kita patut menjadi sombong?" demikian Ustadz Toto bertanya dengan nada retoris. Dan guru kita itu benar, bahwa apa pun itu, tak akan pernah cukup alasan bagi seorang manusia untuk bersikap sombong. Apalagi takabur di depan Tuhan.

Faktanya, hanya dengan jari jemari saja pun pelajaran hidup dapat diambil berlimpah-limpah. Jari tangan kita adalah bagian tubuh kita yang berfungsi paling dinamis, yang mempunyai paling banyak sendi sehingga lebih lentur dan membuahkan hidup yang menjadi lebih mudah. Tak terhitung jumlahnya jenis pekerjaan yang mengandalkan keberadaan jari tangan itu.

Ketika kolom ini diketik, ketika anak dibelai, kerabat bersalaman, berhitung, menggaruk yang gatal, memijat, memegang atau menggenggam sesuatu, memainkan gitar atau piano, memetik buah, bahkan ketika menarik pelatuk pistol atau menandatangani cek palsu. Jari-jari tangan kita hadir menjalankan tindak yang otak kita inginkan, tak kenal baik atau buruk.

Lebih hebat lagi, jari-jari kita pun amat kaya dengan beragam bentukan simbol. Jari-jari pun merupakan komponen paling kaya dari beragam bahasa tubuh.

Memang, karena perbedaan-perbedaan kultural, satu simbol dapat bermakna bagi suatu bangsa, sedangkan bagi yang lain tidak. Namun, sangat banyak pula simbol-simbol itu yang dipahami di mana dan oleh siapa pun. Bagi kalangan tuna rungu dan tuna wicara, bahasa tangan dan jemari atau sign language sama kayanya dengan kamus tebal yang memuat jutaan kata. Dari berbagai lipatan jari, kesemua abjad dapat dibentuk.

Itulah sebabnya, dalam hidup sehari-hari, ketika jari telunjuk kita gerakkan, ia menyampaikan banyak makna: Ia dapat berarti menyetop taksi di pinggir jalan, memberikan perintah, sekedar menunjuk arah, acungan untuk bertanya dan sebagainya. Jari telunjuk yang dituding-tudingkan pun dapat membawa arti yang kasar, ketika yang punya jari kebetulan memang sedang marah.

Lalu, dalam beragam budaya dunia, kita pun maklum tentang jari jempol yang diacungkan ke atas; makna simbolik jari telunjuk dan jari tengah yang direnggangkan---entah itu victory atau peace; makna vulgar acungan jari tengah atau kelingking dan sebagainya. Di RRC, setelah angka lima, terdapat simbol-simbol jemari lainnya yang menyatakan angka enam sampai sepuluh, yang hanya lazim di sana. Ketika di Shanghai jari tangan menunjukkan angka delapan, di Barat barangkali dimaknai sebagai simbol pistol atau sekedar tanda keakraban.

Ketika jari tengah, jari manis dan ibu jari menekuk dan membiarkan dua jari lainnya berdiri dapat dimaknai sebagai simbol setan, atau corna di Itali; tetapi di Texas itu menjadi tanda salam kalangan mahasiswa, "hook 'em horns", kata mereka. Atau, tepatnya, kata Harley Clark yang mempopulerkan simbol itu di tahun 1955. Sedangkan di Hawaii, ketika ketiga jari ditengah yang ditekuk dengan menyisakan ibu jari dan kelingking, ia menjadi shaka, atau lebih populer disebut hang loose, yang menjadi tanda salam yang beragam makna.

Pendeknya, hanya dari jari-jemari kita itu pun tersangat banyak hal yang dapat disimbolkan, bahkan dimaknai. Ketika di masa kecil kita mengibaratkan ibu jari sebagai gajah, telunjuk sebagai manusia dan kelingking semut, maka terjadilah sebuah permainan.

Sedangkan yang sebagai amsal, yang dapat menjadi pelajaran dalam hidup pun teramat banyak. Sebagai misal, ketika ada yang asyik menunjuk-nunjuk dan menuding-nuding, menyalah-nyalahkan orang lain, sebetulnya hanya satu yang tertuju kepada yang dituding, sedangkan tiga (kalau bukan empat) jari lainnya justru mengarah kepada diri sendiri. Oleh sebab itu, kata orang bijak, janganlah cepat melihat keburukan orang lain tanpa terlebih dahulu melakukan introspeksi diri sendiri.

Namun, sebuah amsal jemari yang sering terlintas di benak saya adalah tentang filosofi hubungan kelingking dan ibu jari, seperti dicatatkan seorang teman, Adi J. Mustafa, dalam mengenang Alm. Prof Dr. Koesnadi Hardjosumantri. Seorang wakil UNESCO, demikian kisah Pak Koesnadi, bertanya kepada seorang Kepala Desa tentang rahasia sukses dalam memimpin desanya.

Ternyata, jawaban sang Kades sederhana saja, bahwa ia menerapkan "falsafah jari tangan". Rakyat, menurut Pak Kades, ibarat jari kelingking, sedangkan pemimpin adalah ibu jari. Bagi kelingking tidak akan mudah menjangkau ibu jari apabila si ibu jari tak mau atau enggan menekuk. Sedangkan menjangkau kelingking bagi ibu jari akan jauh lebih leluasa, walau pun kelingkingnya tetap diam.

Makna dari amsal itu ternyata tidak lagi sesederhana penuturan seorang Kepala Desa, karena ternyata dapat menjadi sangat dalam: Bahwa sudah sepatutnyalah bagi pemimpin untuk memperhatikan rakyatnya, karena akan lebih mudah baginya melakukan itu daripada sebaliknya. Bayangkan kalau antara pemimpin dan rakyat  sebagai ibu jari dan kelingking saling menekuk bersambut ke tengah, bukankah semuanya akan menjadi lebih mudah?

Betapa hidup ini teramat kaya, bahkan untuk memetik arti dari sekedar amsal jari jemari.

LA, 19/05/07


30 CommentsChronological   Reverse   Threaded
yudimuslim wrote on May 20, '07
mari kita bersyukur/....
:D
anionghasiyo wrote on May 20, '07
Maha Kreatif, Tuhan yang telah menciptakannya.
deshinta wrote on May 20, '07
Iya Bang. sussssssssaaaaaaaaaaahhhhhhhh.................
sepasangmatabola wrote on May 20, '07
Hm, tulisan ini patut direnungkan, mas. ;)
thiaddcal wrote on May 20, '07
bagus deh postingannya...
have a good sunday!!
riza6315 wrote on May 20, '07
kalau antara pemimpin dan rakyat sebagai ibu jari dan kelingking saling menekuk bersambut ke tengah, bukankah semuanya akan menjadi lebih mudah?
Ya, insyaAllah lebih mudah. Cuma bagaimana agar keduanya bisa saling dan mudah menekuk? Jalan panjang pendidikan jiwa ...?
latifabdul wrote on May 20, '07, edited on May 20, '07
Sdr Anwar yang dirahmati ALLAH...sangat mengagumkan seetiaap ciptaan ALLAH

Setiap yang diciptakan ALLAH mempunyai fungsi,namun sedikit sekali yang kita ketahui....orang yang baanyak ilmunyaa lebih banyak mengetahui ilmu ALLAh swt..
semoga kita tidak pernah berheneti untuk belajar sampai hari terakhir...thank you for sharing
salam latif dari Amstertdam...
adijm wrote on May 21, '07
Tulisan yang menarik, Mas Anwar. Terima kasih sudah memperkaya Amsal Jemari-nya.
myrosa wrote on May 21, '07
apa yg patut kita sombongkan, jika menggerakkan jari manis saja tak mampu?
tausiah yg dalam sekali maknanya Pak Anwar... jadi ada ide nih utk ngajak Ghina main jari jemari:-)
jazakallah khoir
lllsemeleketelll wrote on May 21, '07
wow... baru tahu neh aLe. makasih infonya om
selamat datang kembali... kemana aja neh, lama g muncul ;)
hehe... :D ato aLe aja ya yg lama gak mampir kesini :P
katabelece wrote on May 21, '07
Acungan dua jempol buat bang Anwar !
Hal yang paling penting di dalam hidup kita bukanlah hal yang luarbiasa, hanya pada saat kita saling merasakan sentuhan satu sama lainnya ..

salam,
-upi
agustianwar wrote on May 22, '07
mari kita bersyukur/....
Ya...........thx...
agustianwar wrote on May 22, '07
Maha Kreatif, Tuhan yang telah menciptakannya.
Betul sekali mas..........
agustianwar wrote on May 22, '07
sussssssssaaaaaaaaaaahhhhhhhh.................
He he he.........."ayo kamu bisa...!"
agustianwar wrote on May 22, '07
tulisan ini patut direnungkan, mas. ;)
Moga-moga ada manfaatnya....salam....
agustianwar wrote on May 22, '07
bagus deh postingannya...
have a good sunday!!
Thx mbak....
agustianwar wrote on May 22, '07
Cuma bagaimana agar keduanya bisa saling dan mudah menekuk? Jalan panjang pendidikan jiwa ...?
Mmm....yah....mm....ha ha ha..... (jalan panjang yang berbelok dan berliku kali ya Mas Riza. Long and winding road, kata Beatles....)
agustianwar wrote on May 22, '07
salam latif dari Amstertdam...
Duh, salamnya udah nggak dari Arkansas? Lagi di Amsterdam jalan-jalan atau gimana ini uda?
agustianwar wrote on May 22, '07
adijm said
Terima kasih sudah memperkaya Amsal Jemari-nya.
Sebetulnya sudah agak lama ingin dituliskan, tetapi ketika mendengarkan ceramah Pak Totok Tasmara, kulminasinya jadi pas, lalu dituliskan..... Tapi, jujur, sejak membaca entri Mas Adi itu dulu, filosofi kelingking dan ibu jarinya selalu menempel, nggak bisa lupa....thx...
agustianwar wrote on May 22, '07
myrosa said
jadi ada ide nih utk ngajak Ghina main jari jemari:-)
Ha ha ha....itu potret yang di atas sekali juga memang tangannya si Kakak Aisya, yang juga saya ajak bermain jari jemari....."Sussah, Yah," katanya...salam..
agustianwar wrote on May 22, '07
ato aLe aja ya yg lama gak mampir kesini
Nah tuh...emengnye kemene eje seh?
agustianwar wrote on May 22, '07
Hal yang paling penting di dalam hidup kita bukanlah hal yang luarbiasa, hanya pada saat kita saling merasakan sentuhan satu sama lainnya ..
Setuju sekali; hal besar atau kecil itu relatif, yang lebih besar adalah maknanya bagi kita...ya, kan? waalaikumsalam dari LA...
diyan31 wrote on May 24, '07
Benar, banyak rahasia diantara jemari kita.Maha Indah Allah... coba bayangkan kalau semua jari kita sama panjangnya atau sama pendeknya...???
Kalau kita perhatikan punggung tangan kanan kita dan menghubungkan garis kelima jari kita dari arah kanan,maka akan membentuk lafadz "Allah" dalam huruf Arab. Seolah itu sebagai sign Allah atas hasil Maha KaryaNya.... Subhanallah...
agustianwar wrote on May 27, '07
diyan31 said
Kalau kita perhatikan punggung tangan kanan kita dan menghubungkan garis kelima jari kita dari arah kanan,maka akan membentuk lafadz "Allah" dalam huruf Arab. Seolah itu sebagai sign Allah atas hasil Maha KaryaNya.... Subhanallah...
Iya tuh Diyan, pasti masih banyak lagi yang lain-lain, tergantung kita mau menyimak atau tidak saja kan? salam....
diaz2000 wrote on Jun 1, '07
Betul sekali Bang Anwar, segala apa yang Allah ciptaan pasti mengandung banyak "hikmah" untuk manusia, Robbanaa maa kholaqta haadzaa baatilaa. It's a nice article.
agustianwar wrote on Jun 3, '07
segala apa yang Allah ciptaan pasti mengandung banyak "hikmah"
betul---asal kita mau membacanya saja, ya kan? salam....
abhicom2001 wrote on Jul 16, '07
amsal yang paling sering aye dgr di sini : kalo org jawa nunjuk tujuan (arah dan jarak) pake telunjuk berati masih jauuuuuuh tapi kalo pake jempol brati udeh deket....ga tau deh bener ndaknya :D
papaemarvel wrote on Aug 6, '07
selamat ulang tahun ya mas agustianwar ..yang keberapa?
agustianwar wrote on Sep 13, '07
pake telunjuk berati masih jauuuuuuh tapi kalo pake jempol brati udeh deket....ga tau deh bener ndaknya :
He he he...bisa saja demikian......ya kan? Atau?
agustianwar wrote on Sep 13, '07
yang keberapa?
Wah kalau pakai jari bisa banyak deh hitungannya.....ha ha ha............
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help