
Jumat ini, khatib yang naik mimbar menyinggung soal perlunya bersedekah, memberi dan tidak kikir. Pesan yang biasa, tetapi selalu sulit dilakukan. Dalam kata-kata petuah Jumat itu, dirujuk pula kata-kata penyair Islam Hasan Al-Bashri. Bahwa sejahat-jahatnya musuh adalah uang dan harta benda.
Money, money, money.
Klasik memang isunya, tapi tak akan tamat sampai dunia kiamat. Sebab, lembar-lembar yang penuh kuasa itu dapat membeli berbagai serba-serbi. Dalam kehidupan nyata, bahkan membeli hati.
Tentulah sang ustadz juga tahu bahwa uang dan harta pun dapat menjadi teman. Namun, seperti juga teman dapat berubah menjadi lawan, maka uang pun tak jarang menjadi bumerang. Dalam kehidupan nyata, bahkan musuh yang paling dengki.
Sudah tahu kita semua, bahwa karena uang sekalangan orang sanggup melakukan apa saja. Yang mencuri, menipu, merampok, korupsi, membunuh, makan rezeki anak yatim. Kikir tak hitung-hitung. Gara-gara uang, banyak yang tak tahu diuntung.
Itulah sebabnya, ketika yang kaya banyak, yang tak makan pun dapat saja sekarat tergeletak, persis di sebelah kita. Karena yang punya tidak mau memberi, maka ketimpangan kian menjadi-jadi. Lihatlah nasib dunia Islam kini.
Jadi, melatih diri untuk suka memberi adalah makna penting khutbah Jumat kali ini.
Barangkali kalau ini mampu kita lakukan, maka kata-kata Hassan Al-Bashri pun bisa kita ralat; sebaik-baik sahabat adalah uang dan harta yang membawa berkat.
Karena adanya uang pun membuat dermawan bisa memberi. Menjadikan hidup lebih berarti.
LA, 24/8/07