
Doa-doa siapakah yang cepat makbul? Dalam ceramah Ustadz Mohammad Joban hari ini, ia sebutkan tiga orang yang doanya cepat terpenuhi: doa seorang ibu, seorang musafir dan orang yang berbuka puasa.
Ramadhan memang semakin dekat. Materi demikian jadi relevan. Bahwa doa orang-orang lain pun dapat makbul, namun yang ingin saya singgung adalah soal doa seorang musafir itu.
Ada waktunya memang, ketika dalam situasi yang sempit, apalagi bagi orang yang dalam perjalanan, doa terkabul seperti ajaib, ketika dibacakan dengan ikhlas.
Begini; hanya sebagai pembanding. Dua atau tiga tahun yang lalu, ketika dengan seorang kolega menghadiri sebuah pertemuan internasional di Rotterdam, teman tersebut bingung mengupayakan tiket penerbangan pulang. Saya sendiri sudah fixed, tetapi teman tersebut tidak dan harus pulang tertunda sendirian.
Ia bingung sekali dan berusaha menghubungi beberapa perwakilan tiket untuk menjadwal penerbangan. Namun itu waktu peak season, susah sekali untuk mengubah-ubah penerbangan. Upaya melalui bantuan staf KBRI Den Haag pun dilakukan. Saat itu, masih tetap hopeless, dan ia pun mencoba pasrah dan mengulur waktu keberangkatan.
Namun, untuk mengisi waktu, ketika saya sendiri harus berangkat ke bandara Schipol Amsterdam, ia ikut mengantar. Siapa tahu bisa dicoba langsung di bandara, katanya. Tetapi ernyata, tetap penuh, tidak ada seat. Jadwal penerbangan ke Asia luar biasa ramai.
Meskipun demikian, beruntung dapat petugas counter yang ramah, dan masih tetap mencari dan terus mengutak-atik data di komputernya sambil meminta kita duduk. Kolega saya itu sendiri kelihatan sudah seperti putus harapan, walau pun ia sangat tidak ingin untuk tinggal sehari lagi.
Lalu dalam suasana tak jelas itu, saya lihat ia duduk pun diam, diam yang dalam dan khusyuk. Ekspresi tubuhnya pasrah, dengan wajah diam menunduk, mulut bergerak-gerak halus.
Selang beberapa lama kemudian barulah ia berhenti. Tapi herannya, beberapa saat begitu ia selesai, petugas di counter memanggil dengan wajah gembira. Ia berhasil mendapatkan sebuah seat. Barulah terang muka teman itu; walau pun sejak awal ia tetap tenang, kali ini ia terlihat riang. Jadi juga berangkat, akhirnya!
Iseng-iseng saya bertanya, tadi membaca apa. Apakah mantera? Ia menjawab bahwa ia diajarkan gurunya apabila dalam situasi tidak ada peluang lagi, bacalah surat Alam Nasrah dengan khusyuk; bahwa setelah ada kesulitan akan ada kemudahan.
Begitulah; dan ketika mendengar ceramah Ustadz Joban tadi, saya teringat kisah perjalanan beberapa tahun yang lalu ini. Doa musafir. Bacaan ayat-ayat Quran surat 94 itu pun pasti luar biasa, karena memang maknanya yang amat dalam. Apalagi kalau diresapi:
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu/Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu/yang memberatkan punggungmu/Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu/Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan/sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan/Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain/dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap". [QS.94]
Juga sudah pasti bahwa ini tidak untuk mengatakan bahwa doa laki-laki yang bukan musafir dan bukan sedang berbuka puasa tidak akan terjawab. Tuhan yang Maha Pemurah toh selalu memberi insentif kemudahan bagi hambanya, termasuk dalam situasi-situasi khusus.
Bukankah rahasia doa-doa yang cepat makbul hanya Dia yang Maha Pemberi yang akan tahu. Meskipun juga kasat jelas di mata bahwa doa-doa akan selalu memerlukan kekhusyukan hati yang ikhlas, agar dapat lebih sampai.
Menjadi ibu, musafir yang berkeadaan sempit dan orang yang baru saja menyelesaikan puasanya, memang merupakan kondisi yang membuat kita pasrah. Itulah yang saya catat. Meskipun bagi semua yang berhati ikhlas, kata-kata kepada-Nya insyaAllah terdengar jelas.
LA/26/8/07
Foto display dari sini.