Blog EntryPARADOKS TELEVISIFeb 17, '06 7:11 AM
for everyone

Kolom: Agusti Anwar

 

TELEVISI tidak lagi menjadi tumpuan ketakjuban sebagai sebuah hasil kemajuan teknologi. Televisi adalah medium transmisi audio-visual yang sangat lumrah. Dalam fact book yang membentangkan data dasar suatu negara, jumlah kepemilikian televisi adalah salah satu indikator yang penting. Bagi sebuah negara berkembang, statistik sebarapa banyak televisi dimiliki rakyat bangsa itu secara kolektif adalah faktor yang mengukur kemajuan negara tersebut. 

 

Susah memang saat ini mencari segemen masyarakat yang secara total tidak bersentuhan dengan televisi. Sebaliknya, semakin hari semakin tinggi tingkat kecanduan dan ketergantungan terhadap keberadaan televisi itu. Di Indonesia, dengan hanya belasan saluran televisi, seluruh segmen bangsa ini telah dibuat terpaku di depan televisi. Selain para isteri atau pembantu yang dipukau rangkaian sinetron tak kunjung putus, anak-anak kita pun, suka atau tidak, sering kali telah menjadi konsumen terpenting televisi, karena suguhan Spongebob, Dora, Franklin dan segudang program kartun dan animasi lainnya yang datang silih berganti. Bayangkan runtutan urusan membujuk hati anak yang merajuk atau derasnya air mata yang mengalir setiap kali kita larang menonton program kesayangannya di televisi, karena disuruh shalat, bikin PR atau pergi mengaji.

 

Televisi memang bukan musuh. Sebagai teknologi temuan manusia, ia diciptakan adalah sebagai alat bagi kehidupan manusia yang lebih baik dan berkualitas. Meskipun dapat saja diperdebatkan apakah teknologi bebas nilai atau sepenuhnya netral, faktanya keberadaan televisi tidak lebih sebagai alat. Bebas nilai atau tidaknya ia sebagai hasil cipta manusia yang hi-tech adalah persoalan bagaimana orang-orang yang terkait dengan pelaksanaan fungsi televisi itu sendiri. Ini adalah deretan panjang: mulai dari produser, presenter, wartawan, pemilik modal, publik pemirsa, dan tentunya pemerintah. Seluruh elemen dalam masyarakat sebagai entitas sosial, politik, ekonomi dan seterusnya memainkan peran dalam apa dan bagaimana televisi bereksistensi.

 

Seperti telenovela, realitas sehari-hari televisi memberikan segalanya lengkap kepada kita. Kita tertawa bersamanya, kita terharu dan menangis, kita menjadi semakin bijak atau semakin bingung, kita menjadi well-informed atau justru dibodoh-bodohi. Sesuai istilah yang sedang populer, kebohongan publik, tentunya televisi pun amat terkait atau aktif memfasilitasinya. Dari mulai komedi ala Bajuri atau extravaganza; reality show seperti Toloong, Haji Gratis sampai penampakan dan klenik; gosip selebriti andalan infotainment yang tak putus-putus, dan seterusnya. Dengan hanya belasan saluran, semua program dari yang penuh sirik dan trivia sampai yang bajik dan bijak dapat giliran untuk disuguhkan. Jika satu saluran menawarkan program A, apaila ternyata sukses menyedot publik,

 

Semua orang tahu bahwa idelogi yang dianut televisi adalah ideologi mayoritas, dan tentu saja pokrol bambu. Insan televisi, apalagi pemilik modal yang tidak ada lain selain mempertuhankan untung, sudah utuh dan bulat tekadnya untuk memberhalakan rating yang langsung diterjemahkan secara komersil sebagai potensi iklan. Bagi mereka, Tuhan jelas sakral, tetapi dalam bisnis rating melampaui apa pun.

 

Alhasil televisi adalah fenomen personalitas ganda yang akan menjadi apa saja dan siap menawarkan segala sesuatu yang akan menyedot pemirsa. Ia menjadi sangat Islami dalam bulan Ramadhan; sangat Kristiani di saat Natal dan seterusnya. Secara bersamaan, ia menjadi pendorong kepercayaan klenik dan takhyul yang aktif, penyuplai informasi sampah (termasuk melakukan rekonstruksi peristiwa perkosaan anak di bawah umur---lengkap dengan kalimat penutup ‘agar anda lebih waspada’), sampai saluran efektif pengumpulan dana penanggulan bencana. Televisi dibenci dan dipuja oleh elemen-elemen masyarakat yang berbeda setiap detiknya.

 

Yang salah tentunya bukan televisi itu, tetapi insan-insan di belakangnya. Ketika berhala rating yang disembah, maka tidak jelas lagi apakah televisi mengemban secara sadar suatu tanggung jawab sosial yang setara dengan peran sentralnya. Padahal rating pun, yang bagi insan televisi merupakan bentuk riel dari keterpautan mutualistik televisi dengan publiknya, sering kali terpasung dalam lingkaran setan yang kompleks. Penjajahan pop culture sekarang ini telah mengaburkan batas-batas siapa yang mempengaruhi siapa. Rating, baik itu merupakan hasil survei lembaga media tertentu atau lainnya,  hanyalah sebuah tipu daya.

 

Jakarta, 12 Januari 2006

 



Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help