
Hari Raya Idul Fitri 1428 H telah berlalu sekarang ini. Tak menjadi soal apakah anda ikut yang tanggal 12 Oktober atau 13 Oktober. Tetapi, tentu saja perbedaan itu tercatat abadi. Dari naga-naganya, situasi seperti ini masih dapat terulang kembali. Memang sudah jadi klise belakangan ini bahwa setiap kali datang lebaran, masyarakat awam bertanya-tanya akan ikut yang mana. Seperti biasa, ini akan terkait dengan dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah atau NU. Ormas lain seperti Persis, karena lebih kecil, bukan pemain yang terlalu penting.Soalnya, sudah cukup lazim kedua ormas itu berbeda pendapat. Untuk hari raya Idul Fitri 1428 H ini, Muhammadiyah telah menetapkan sejak awal jadwal 1 Syawal bersamaan dengan 12 Oktober 2007. Sedangkan NU menetapkan hari yang berikutnya, kebetulan bersamaan dengan jadwal yang ditetapkan Pemerintah RI.Benar bahwa kedua ormas besar itu bisa mengklaim umat pengikut yang jumlahnya relatif puluhan juta. Yang merasa Muhammadiyah atau NU, menuruti penetapan oleh kelompoknya. Sedangkan kita yang tidak berkiblat ke ormas yang mana pun, barangkali memilih yang paling enak saja, atau memilih ikut jadwal yang ditetapkan Pemerintah.Ironisnya, perbedaan ini, menurut para ulama yang menokohi, tidak perlu dibesar-besarkan dan perlu disikapi dengan hati yang lapang. Memang, para tokoh itu cukup lihai bermain kata-kata; sama-sama sepakat untuk tidak sepakat. Masing-masing memiliki dasar dan alasan untuk bersikukuh pada keputusan ijtihad sendiri. Namun, perbedaan ini bagi banyak orang adalah perbedaan yang konyol. Ketika dua kelompok yang berbeda sama-sama menetapkan jadwal 1 Syawal, keduanya justru menyatakan hari yang berlainan, apakah Jumat atau Sabtu, dengan tanggal yang sama. Karena 1 Syawal adalah bulan kalender dalam tahun Hijriah, pertanyaan ringkasnya apakah logis bila ada satu tanggal yang punya dua hari berbeda? Lantas, yang menjadi persoalan derivatifnya, karena bulan Syawal dimulai dengan hari yang berbeda apakah seluruh bulan-bulan yang lain ikut bergeser atau bersifat ganda? Secara logika awam, tentu harus demikian. Bulan Zulkaidah, Zulhijjah, yang selanjutnya bahkan permulaan tahun baru 1 Muharram sepatutnya berlainan; demikian seterusnya.Patut dicatat bahwa penetapan kalender merupakan domain ilmu astronomi. Secara historis, umat Islam termasuk yang terdepan dalam pengembangan awal ilmu ini. Minat dalam kajian itu justru karena keperluan penetapan tanggal-tanggal penting seperti masuknya Ramadhan dan lainnya dengan melihat hilal.
Para pakar astronomi pun tentu tahu betul perbedaan-perbedaan karakter tahun yang didasarkan pada matahari (solar calendar) atau bulan (lunar calendar). Dan para pakar itu pun tentu tahu bahwa sebaik-baiknya kalender adalah dianutnya prinsip ketaatasasan, bahwa ia berlaku sama di seluruh dunia. Artinya, sebuah tanggal harus mengacu hanya kepada sebuah hari, di belahan dunia mana pun itu. Kalau tidak?Untung memang di Indonesia kita menggunakan tahun Masehi sebagai acuan sehari-hari. Sekiranya acuan kalender kita adalah tahun Hijriah, maka akan semerawutlah penentuan hari dan tanggal di Indonesia. Penyebabnya, tidak lain karena dua ormas Islam terbesarnya asyik berbeda pendapat. Jelas ada keangkuhan (ijtihad) kelompok di sini.Bahkan, dalam skala global, sudah sepatutnya pula bahwa jadwal 1 Syawal di Saudi Arabia atau negara mana pun, termasuk Mesir, harus sama atau tidak saling berbeda. Umat Islam seluruh dunia, apakah melalui OKI (Organisasi Konperensi Islam), harus mampu menyelesaikan urusan kalender yang bertele-tele ini. Apa pun alasannya, terasa ironis kalau umat ingin menonjolkan Islam sebagai alternatif peradaban, ketika---seperti kritik kalangan pengecam Islam---urusan 1 Syawal saja (yang prinsip utamanya adalah keajegan) tak mampu terselesaikan.Jelas, dunia modern sekarang adalah dunia yang bersifat universal. Perbedaan pun dalam dunia modern ini semakin dapat dimaklumi. Kendati demikian, tidak lantas segala hal harus berbeda karena juga terdapat hal-hal tertentu yang semestinya bersifat tetap, sama dan konsisten, termasuk di dalamnya kalender di manapun kita berada. Diakui bahwa perhitungan kalender memang mengandung banyak permasalahan intrinsik. Namun, semua masalah tentu ada penyelesaiannya, termasuk melalui kesediaan untuk bersepakat. Perbedaan perhitungan kalender Masehi yang sekarang dipakai diselesaikan justru lewat penetapan Paus Gregory XIII beberapa abad yang lalu---dus kalender Gregorian. Semua akhirnya sepakat, tidak ada perbedaan lagi; lantas dipakai secara internasional.Kalender Islam yang berdasarkan siklus bulan tentunya dapat pula diseragamkan. Sudah pasti akan ada permasalahan-permasalahan teknis ini dan itu. Namun para pakarnya, termasuk para ahli astronomi muslim, dapat mengkaji bersama dan kiranya bersepakat untuk sepakat. Lebih tepat lagi, karena berada dalam satu negara yang berdaulat, maka Departemen Agama yang menjembatani urusan keagamaan umat dapat dibantu dan dipercayakan untuk menetapkannya.Lebih penting lagi, kalau pakar-pakar negara Muslim pun duduk bersama dan membahasnya untuk sebuah kesepakatan kalender Hijriah yang seragam. Titik patokannya tinggal disepakati, karena dunia memang bulat dan bulan berputar mengitarinya.Ketika kemajuan ilmu pengetahuan sekarang telah mampu memperhitungkan berbagai faktor spesifik gugusan bintang-bintang yang lain, maka fakultas keilmuan yang ada untuk menetapkan jadwal 1 Syawal sudah sangat wajar apabila dapat diamini bersama. Ironi itu: ketika bangsa lain telah menginjakkan kaki di bulan (bahkan semakin sering), umat Islam yang banyak memberikan kontribusi pada ilmu astronomi, masih bertikai---seperti disebut Menag Maftuh Basyuni---dalam hal "...mengintip bulan". Padahal kalender pun merupakan tanda penting sebuah kemajuan peradaban. LA, 17/10/07
Attachment: Perbeda1Syawal-olehUstad Sarwat.pdfAttachment: IslamicCalendar-A-Case-Study.pdfAttachment: IslamicCalendar-problems.pdf
 | Selamat Idul Fitri 1428 H ya pak, taqabbalAllahu minna wa minkum...mohon maaf lahir & batin atas semua salah & khilaf...salam untuk semua keluarga pak anwar di LA, semoga senantiasa diberikan kesehatan, amiin...(Kosi+Heri) |
 | selamat Idul Fitri, maaf lahir bathin......... artikelnya menarik.......mudah2an kedepannya semua sepakat untuk sepakat......hehehe bukan sepakat untuk tidak sepakat..... |
 | maka setiap menjelang lebaran, rasanya ingin menembak jatuh bulan sebab meledakkan kepala mereka yang gemar menegakkan perselisihan itu hukumnya haram. :) |
 | Selamat hari raya idul fitri 1428H. Mohon maaf lahir dan bathin. Ada rencana ikutan pesta blogger gak mas? |
 | wah..tapi buat saya perbedaan kali ini termasuk berkah..buat orang kecil seperti saya yang ga bisa dapet libur lebaran, bisa gantian libur sama temen yang lain..jadi saya tetap bisa shalat ied bareng2 keluarga, teman saya masuk kerja menggantikan saya, sedngkan besoknya, saya sudah masuk kerja, dan teman2 saya yang kerja kemaren, bisa libur dan shalat ied bareng keluarganya pas hari saya kerja, walah...ko jadi bertele-tele gini...tapi ngerti kan maksudnya ya...
well, kadang2 perbedaan memang merupakan berkah bagi sebagian orang |
 | buat orang kecil seperti saya yang ga bisa dapet libur lebaran, bisa gantian libur sama temen yang lain  fenomena lebaran tetap harus bekerja ini buat saya menyebalkan. saya menulis satu jurnal terkait hal ini. memang ulasannya tidak dalam, dan tidak teknis. tapi satu harapan saya seharusnya saat lebaran masyarakat (apalagi kaum pekerja yang umumnya menengah ke bawah) diijinkan untuk berkumpul dengan keluarganya barang satu dua hari. |
 | tqabalallahu minna waminkum, mohon maaf lahir dan bathin. menurut saya, salah dua dari persoalannya adalah: pada skala nasional negeri kita tidak mempunyai mufti, sedang pada skala dunia kita tidak mempunyai kekhalifahan.
walaupun mungkin tidak sepenuhnya benar, tapi saya pikir ada benarnya juga |
 | Iya yah, dunia memang selalu dua sisi... Tapi saya merasa paling pas lagi membaca jurnal Mas Denny itu, "kok harus kerja" ya? salam.... |
 | pada skala nasional negeri kita tidak mempunyai mufti, sedang pada skala dunia kita tidak mempunyai kekhalifahan.  Sama-sama Mas, kami sekeluarga juga mohon maaf lahir batin....
Soal dua hal di atas, memang akan menjadi pelik, karena ketidakadaan itu akan mengakibatkan tidak pernah terselesaikannya permasalahan. Perlu cara-cara baru untuk mengatasinya. Untuk level nasional, umat harus bersedia menyerahkan pemutusannya pada Pemerintah (Depag, misalnya) yang tentunya berdasarkan masukan tim ahli dari semua ormas itu sendiri. Di tingkat internasional, kerjasama antar negara memang perlu didorong, bahkan forum seperti OKI dapat menjadi kaukus dalam menjembatani perbedaan. Memang perlu kerja keras dan karena situasi yang berbeda (tanpa konsep kekhalifahan), amat perlu bekerja cerdas, lihai dalam mencari cara-cara baru yang relevan. Menurut saya begitu, salam..... |
 | Mohon maaf lahir & batin ... saya bersyukur, di instansi tempat saya bekerja bahkan memberi hadiah Lebaran tambahan libur 1 hari sebelum cuti bersama, yang tidak dipotong sebagai cuti. baik untuk yang berlebaran tanggal 12 maupun tanggal 13 Oktober |
| |