Bagaimana pengalaman anda menyetir mobil di negara lain?
Pengalaman tentu bisa bermacam-ragam. Yang pasti, kalau menurut putri kecil saya, Alya, yang berusia 3 tahun, menyetir itu gampang. Kalau sudah besar, ia akan menyetirkan bunda belanja atau ayah beli DVD. Beli DVD? Ini memang tidak terlalu relevan; cuma karena ia tahu saya senang nonton film. Yang relevan justru soal menyetirkan itu.
Memangnya adek bisa bawa mobil?
"Bisa," jawabnya yakin. "Adek masukin kuncinya, baca bismillah, jalan deh....."
Si Alya tentu belum bisa menyetir, walaupun sudah lancar baca bismillah. Bahkan, sesuai peraturan keselematan di AS, duduknya pun di kursi belakang masih harus memakai booster. Yakni, alat bantalan duduk yang menjadi suplemen jok, agar anak balita dapat duduk lebih tinggi dan safety belt dapat dipasangkan.
Menyetir di AS yang peraturan lalu lintasnya lebih tertib memang terkesan gampang. Namun, namanya juga sebatas kesan, maka keadaan sesungguhnya bisa saja tidak selalu semudah itu.
Betul, para pengendara mobil di AS (atau umumnya negara-negara Barat yang telah maju) lebih taat peraturan lalu lintas. Penyebabnya tentu bukan sekedar karakter moral yang sedemikian rupa, melainkan lebih karena sanksi hukum itu sendiri ditegakkan. Pelanggaran lalu lintas betul-betul terancam sanksi dan hukuman; dan itu tidak bisa diselesaikan lewat tawar-menawar di sisi jalan dengan polisi lalu lintas.
Walaupun lebih tertib, tabrakan dan kecelakaan lalu lintas pun tetap terjadi. Manusia dapat saja silap; yang lebih sering tentu karena lengah. Yang terburu-buru atau terlalu bernafsu, apalagi mereka yang menyetir sambil mengantuk atau mabuk, dapat saja menjadi pemicu kecelakaan. Bahkan membuat mereka yang telah menyetir secara aman (safety driving) pun dapat terkena getahnya. Numpang sial kena senggol, misalnya.
Memang, resiko kecelakaan terbesar di kota-kota besar AS tetap saja di freeways yang panjang dan berlapis-lapis. Untuk wilayah California yang terkenal karena jaringan lalu lintas freeway-nya, hal ini menjadi lumrah saja. Sekalipun ada batas kecepatan, tetapi kepadatan kendaraan yang melaju dengan
kecepatan tinggi dengan sendirinya membawa peluang kecelakaan. Menurut sebuah laporan LA Times, Los Angeles pun berada pada tingkat 5 kota besar teratas dalam hal resiko kecelakaan jalan raya di Amerika.
Kendati demikian, suatu hal yang paling saya acungi jempol dalam budaya menyetir di AS adalah penghormatan terhadap pejalan kaki. Apa pun situasinya, pejalan kaki selalu lebih dahulu kemaslahatannya dan dalam segala sesuatu kejadian pun akan berada pada posisi yang terbela. Pejalan kaki dapat salah dan kena denda, tetapi pengendara bisa lebih salah lagi jika mengabaikan hak mereka. Jika anda baca buku manual Driver's Handbook dari dinas lalu lintas atau Department of Motor and Vehicle (DMV) ketika anda mengajukan permohonan surat izin mengemudi, maka penekanan pada kepentingan pejalan kaki akan terlihat menonjol.
Sejak halaman pertama pun akan anda temukan penekanan pada menyetir secara aman; bahwa hak untuk menyetir itu dapat membahayakan orang lain. Yang lebih penting tentunya bahwa 'teori' dalam buku manual itu ditaati dalam 'praktek' di jalan raya. Jadi, bukan sekedar kata-kata yang tidak diindahkan dalam kenyataan lalu lintas yang sesungguhnya.
Itu sebabnya, apabila anda menyetir di Amerika, para pengendara sangat berhati-hati apabila bertemu dengan pejalan kaki, terutama di tempat penyeberangan (pedestarian crossing). Demikian pula apabila berpapasan dengan bis sekolah.
Lebih menarik lagi adalah bagaimana prioritas jalan yang diberikan kepada mobil ambulan, pemadam kebakaran dan polisi yang menyalakan sirine. Apabila terdengar aungan sirine itu, semua mobil akan meminggir dan berhenti, untuk memberikan jalan kepada mereka, tak kenal waktu, tempat atau situasi. Sanksinya serius apabila pengendara menghalangi mereka menjalankan tugasnya. Boleh jadi ada situasi darurat kebakaran, peristiwa kriminal atau pasien sekarat dan lainnya.
Ada juga hal menarik menyangkut perempatan lampu merah di dalam kota. Ketika lampu kuning bersiap merah, sebaiknya anda berhenti saja. Tak perlulah bersigegas menjadi jagoan menembus lampu itu. Pertama, ada kemungkinan anda akan ditabrak mobil dari sisi lain yang akan menyeberang. Yang kedua, bisa saja anda sial karena di perempatan itu ada kamera pemantau dan klik, foto anda dan plat nomor mobil tertangkap, lalu tunggulah di rumah surat denda. Kata orang, foto diri paling mahal di AS adalah foto ketika melanggar lampu lalu lintas---bisa kena $200,-.
Kalau pun ternyata tidak terfoto kamera, menyerobot lampu merah tetap akan sia-sia, karena paling hanya belasan meter ke depan saja yang dapat dikejar, sebab di depan toh lampu lalu lintas berikutnya tetap juga akan berwarna merah.
Kecuali soal asuransi kendaraan yang bersifat wajib dan rate-nya terasa mencekik, budaya menyetir secara aman di AS ini memang perlu dicontoh dan dijadikan budaya lalu lintas kita juga. Menyetir ugal-ugalan memang jarang ditemukan. Hati-hati, soalnya pengendara lain dapat saja melaporkan lewat nomor plat kendaraan anda yang tersimpan dengan baik dalam sistem database kepolisian.
Juga, karena budaya menyetir aman ini, orang-orang tua pun merasa percaya diri untuk tetap menyetir mobil sendiri kesana kemari. Saya kenal beberapa ibu yang telah berusia 70-80 tahunan yang masih tetap menyetir sendiri, bahkan rumahnya pun tergolong jauh. Ternyata budaya safety driving juga kondusif bagi kalangan usia lanjut yang tetap independen.
Seandainya di Indonesia juga punya budaya menyetir aman juga. Menyetir aman di Indonesia menjadi barang langka dan bahkan si pelaku menjadi mahkluk langka.Berhenti pada waktu lampu kuning menuju merah? Siap-siap di klakson ataupun di maki-maki mobil/motor di belakang kita. Dan ketika mereka akhirnya punya kesempatan menyalip, pasti tidak lupa menoleh dengan pandangan yang sangat tidak menyenangkan.
Itu sebabnya, apabila anda menyetir di Amerika, para pengendara sangat berhati-hati apabila bertemu dengan pejalan kaki, terutama di tempat penyeberangan (pedestarian crossing). Demikian pula apabila berpapasan dengan bis sekolah. Lebih menarik lagi adalah bagaimana prioritas jalan yang diberikan kepada mobil ambulan, pemadam kebakaran dan polisi yang menyalakan sirine. Apabila terdengar aungan sirine itu, semua mobil akan meminggir dan berhenti, untuk memberikan jalan kepada mereka, tak kenal waktu, tempat atau situasi.
betul-betul budaya menyetir yang "islami" ya mas? kita, orang indonesia, seharusnya malu. :)
wenisaja wrote on Nov 2, '07, edited on Nov 2, '07
:confession: saya tidak bisa drive... walau praturan lalu lintas di california ini sudah notabene mantab, teteup saya takut ngedrive... mungkin krn praturannya kebanyakan ? sampe2 saya takut kena tilang... abisnya biaya tilang disini harganya setengge langeett..., cicilan mobil blum lunas, harga tiket/tilang bisa buat ngebayar sebulan cicilan :D *halah, ini mah namanya pelit ya ? hehehe*
Suatu hal yang paling saya acung jempol dalam budaya menyetir di AS adalah penghormatan terhadap pejalan kaki. Apa pun situasinya, pejalan kaki selalu lebih dahulu kemaslahatannya dan dalam segala sesuatu kejadian pun akan berada pada posisi yang terbela.
masih dalam hal tiket/tilang, untuk seorang penyebrang jalan yg cuek bebek nyebrang walau tanda penyebrangannya merah, dia bakal kena tiket ga kurang dari $80 ! ! secueknya bebek, kalo tau kena tiket segitu tinggi, saya rasa dia juga jadi mikir 1000x... hehehe.
dennybaonk wrote on Nov 2, '07, edited on Nov 2, '07
membangun budaya jalanan yang baik di indonesia, saya pikir memang harus ada "kerelaan" dari kita sendiri. rela dimaki orang saat kita tegakkan perilaku berlalu-lintas yang benar. rela juga "bersitegang" saat kita menegur orang yang ngawur di jalanan.
repot memang. tapi kalau yang sadar saja enggan ikut secara langsung membenahi lalu berharap pada siapa lagi?
jadi, kalau ada yang berpapasan dengan saya di jalan dan saya mungkin silap/khilaf mengendarai motor dengan cara tak benar, tegur saja. jangan ragu-ragu, karena yakin kalau berada di posisi sebaliknya, saya juga akan berbuat yang sama. :D
nah itu baru adil. kalau pengemudi yang tak mengindahkan prioritas pada pejalan kaki/penyeberang jalan bisa kena denda tinggi, demikian pula dengan penyeberang jalan sembarangan, dapat denda tak kalah gilanya.
untuk kondisi indonesia, seharusnya calon penumpang yang mencegat angkot sembarangan juga dikenakan denda tinggi, jangan hanya angkotnya yang ditilang. :)
soal menaati peraturan, kemarin di lampu merah buaran (bawah jembatan layang, dekat rel KA i gusti ngurah rai, aku menghentikan laju motor, tepat sebelum garis saat lampu sudah menyala merah. biarpun arus kendaraan masih terus melaju (tanpa perintah polisi), aku berhenti di jalur kiri (karena takut ditabrak kendaraan dari belakang).
AssWrWb.. Menarik sekali temanya.. Sepantasnya pengguna jalan di Tanah- air adalah pengguna jalan paling tertib, paling disiplin dan paling santun dimuka bumi ini. Disamping ada peraturan dan sangsi, juga kita adalah bangsa yang agamis serta juga kita punya adat ketimurannya. Lebih dari cukup untuk menjadikan kita bangsa yang paling santun dalam mengemudi/ menyetir. Hanya kenyataan berbicara lain. Bukan hal yang mudah memang mengurai benang kusut masalah ini. Satu hal berkaitan dengan sekian banyak hal yang lain. Serba salah. Tapi akan lebih salah lagi bila kita tidak lakukan apa- apa. Bukan cuma kenyamanan dijalan yang hilang tapi utamanya lagi keselamatan dijalan yang terancam. Nyawa kita lho! Jadi sambil juga kita fikirkan jalan keluarnya/ pemecahannya( karena inipun menjadi tanggung- jawab kita bersama) ,seperti juga kata seorang Da'i, yu kita mulai dari ( entah urutannya yang betul yang mana) dari hal- hal yang kecil, dari diri sendiri dan dari sekarang. Sederhana sekali sebenarnya. Beberapa hal diantaranya adalah: - Pakai helm yang cukup memenuhi sarat bila kita mengendarai sepeda motor. Jadi bila kita pakai Helm asalan seharga puluhribuan, ya semurah itu kita menghargai kepala kita. padahal kerepotannya luar biasa sekali, bila tak kita harapkan terjadi kecelakaan parah. Darah mengalir deras, dokter belum juga datang, orang sekampung memenuhi ruang gawat darurat, menghambat kerja petugas2 rumah- sakit, harus kesana- kemari guna mendaftar, menyiapkan uang muka bila diharuskan, telpon sana- sini. Cari donor darah yang juga tidak mudah, karena jangan2 golongan darah kita termasuk yang lebih langka. Belum lagi bila ternyata kamar rumah- sakit penuh. Belum lagi bila kebetulan sedang tidak siap uang dikantong maupun juga di rekening/ tabungan. Luar biasa sekali kerepotannya kan!. Cuma gara2 kita menghargai kepala kita semurah puluhribuan saja. Bila sampai nyawa melayang? - Gunakan selalu sabuk pengaman bila bermobil. Baik mengemudi maupun sebagai penumpang. Seringkali terjadi, bila kebetulan mobil yang kita peroleh adalah bekas, dan kebetulan sabuk pengamannya bukan yang pakai pengencang otomatis, malas lagi kita mau pakainya. Akhirnya hanya kita selendangkan agar tampak seolah- olah kita pakai, bila kelihatan ada Pak Polisi. Untuk beli yang dengan pengencang otomatis sayang rasanya. Padahal sekarang mungkin hanya ratus ribu saja harganya. Tapi kebalikannya kita akan mudah dan semangat sekali saat beli soundsystem berharga 4 kali lipatnya bahkan mungkin lebih dari 10 x lipatnya. Belum lagi ban lebar, velg racing, belum lagi asesoris lainnya. - Pilihan kita hanya satu, taati rambu2 lalu- lintas yang ada. Semua sudah diperhitungkan dengan kondisi jalan, kepadatan lalu- lintas sekitar dsb. Termasuk juga kecepatan yang sesuai dengan kelas jalannya. - Trotoar peruntukannya sudah jelas untuk pejalan kaki. Bukan jalan pintas bagi kendaraan roda dua saat jalannya macet. - Bila macet, atau terhambat entah karena satu atau sebab lain, hadapi dengan sabar. Belum pernah terjadi macet yang tiba2 hilang karena kesabaran kita yang hilang. - Alihkan kreatifitas kita ke hal2 yang lebih bermanfaat daripada mengganti klakson dengan bunyi2 yang jelas2 tujuannya mengagetkan bukan memperingatkan. Juga daripada mengganti lampu rem yang sudah seharusnya berwarna merah menjadi putih menyilaukan pengguna jalan dibelakang kita, juga daripada mengganti knalpot dengan yang lebih hingar- bingar lagi bunyinya. - Setiap saat kita berdo'a tak pernah lupa/ tak pernah ketinggalan kita panjatkan juga doa memohon sehat dan selamat kepada Alloh Swt. Rasanya koq seperti melecehkan ya, bila setelahnya kita lakukan hal- hal yang bertolak- belakang dengan permohonan do'a kita tadi. Dengan tidak memakai kelengkapan keamanan,dengan berkendaraan ugal- ugalan, seenaknya tanpa peduli bahwa orang lainpun berhak atas jalan yang ada. Yu kita mulai dari hal- hal kecil ini, mulai dari diri- sendiri, dan mulai sekarang. Tentunya pertama sekali saya tujukan untuk diri saya sendiri. Salam sobat- sobat, semoga berkenan,
pak Agusti, hampir sama dengan di Jepang ya (mungkin tipikel negara2 maju, spt yg bapak sampaikan diatas). tapi pengalaman saya tidak dengan sopir taksi, yg sepertinya rada2 sembrono, (walau tetap lebih baik di banding di tanah air). sopir bus juga demikian adanya. jika kita naik bis di jepang, ada perintah dari pak sopir agar kita segera mencari tempat duduk, karena jika tidak maka bisnya tdk akan bergerak. suatu bentuk pelayanan yg memberikan kenyamanan buat para penumpang. hal yang sama juga terlihat di Taipei. cuma bedanya sopir bisnya tidak seperti di jepang, belum sempat kita duduk di kursi, bis sudah buru2 jalan. pikri saya, wah ini mirip aja dengan sopir bis di jakarta.
di Msia budaya nyupirnya lebih bagus dari Indonesia. Contohnya klakson, jaraaaaannggggggggggg sekali terdengar. Namun, krn jalanan yang lebar, luas dan bagus, kelengahan yang sering terjadi adalah kecepatan mengemudi. Kecelakaan lalu lintas sering terjadi karena faktor kecepatan mengemudi yang diluar kontrol. Satu lagi, pengemudi Msia belum menghargai pejalan kaki, kalah dengan Spore. Apalagi dgn Amerika. Driver in Msia always expect pedestrian to walk fast or even run.
Lain sekali dgn Amerika. Jadi ingat dulu, pertama kali menjejakkan kaki di USA, di SF waktu itu, saya takjub dan takut menyeberang, krn jalannya lebar sedangkan saya pendek (155cm), kaki saya tentu saja bisanya melangkah cuma 'secuil' dibandingkan dengan American. Saya berlari lari kecil kalau menyeberang. Sampai ada seorang Ibu, American yang negur...Dia kesian kali ya. Ha ha ha... Dia bilang "do not worry young lady, they will wait you to the edge".
Berhenti pada waktu lampu kuning menuju merah? Siap-siap di klakson ataupun di maki-maki mobil/motor di belakang kita. Dan ketika mereka akhirnya punya kesempatan menyalip, pasti tidak lupa menoleh dengan pandangan yang sangat tidak menyenangkan.
Iya, memang kita perlu banyak belajar dalam hal keamanan ini. Saya merasakan selagi di Jakarta, menyetir memang harus selalu 'alert', kalau tidak bisa celaka sendiri..... Akhirnya, kita semua jadi supir jagoan kalau di Jakarta ha ha ha..... salam.....
betul-betul budaya menyetir yang "islami" ya mas? kita, orang indonesia, seharusnya malu. :)
Ini selalu persoalannya Mas Tian, budaya Islami bagi yang tidak; budaya yang tidak Islami justru di antara yang Islam..... Btw, Khatib kita di Masjid Jumat ini, KH Toto Tasmara, menekankan perlunya akhlak Islami dipraktekkan sehari-hari, sebab Nabi pun diutus untuk menyempurnakan akhlak kok.... Yang jelas, marilah kita semua belajar terus ya.....salam...
Di Surabaya, lampu kuning itu pertanda tancap gas...hehehe..
Namanya juga Arek-arek Suroboyo ha ha ha.......
Yang pasti Mas Imam, dari pengalaman saya pribadi (dan banyak teman lain, saya kira), setiap pulang ke tanah air [setelah sekian lama di negara orang], apalagi kalau pulang ke Jakarta, jadi takut menyeberang jalan, grogi kalau nyupir dsb...ha ha ha....
jadi, kalau ada yang berpapasan dengan saya di jalan dan saya mungkin silap/khilaf mengendarai motor dengan cara tak benar, tegur saja. jangan ragu-ragu,
Saya janji kalau ketemu Mas Denny lagi ugal-ugalan, bakal saya teriakin..... "Hoii...., liat-liat dong, kartunnya mana...." ha ha ha..............
aku berhenti di jalur kiri (karena takut ditabrak kendaraan dari belakang).
Ini nih Mas Tian (yang headshotnya lagi sama dengan kartunis Denny Baonk) yang jadi masalah. Kita berhenti, yang di belakang yang nyeruduk....walah.... Masih jauh perjalanan kita tampaknya.........
hampir sama dengan di Jepang ya (mungkin tipikel negara2 maju, spt yg bapak sampaikan diatas). tapi pengalaman saya tidak dengan sopir taksi, yg sepertinya rada2 sembrono, (walau tetap lebih baik di banding di tanah air).
Ya, di AS ada variasinya juga kok Mas...coba naik taksi di New York, misalnya.... Di Jepang memang tertib saya kira. Di beberapa kota seperti saya lihat di Kyto, lampu merah setiap beberapa meter sekali; sia-sia saja tuh bagi yang ingin menerobos, gak akan sampai jauh...ya kan? Salam dari LA........
di Msia budaya nyupirnya lebih bagus dari Indonesia. Contohnya klakson, jaraaaaannggggggggggg sekali terdengar. Namun, krn jalanan yang lebar, luas dan bagus, kelengahan yang sering terjadi adalah kecepatan mengemudi. Kecelakaan lalu lintas sering terjadi karena faktor kecepatan mengemudi yang diluar kontrol. Satu lagi, pengemudi Msia belum menghargai pejalan kaki, kalah dengan Spore. Apalagi dgn Amerika. Driver in Msia always expect pedestrian to walk fast or even run.
Lain sekali dgn Amerika. Jadi ingat dulu, pertama kali menjejakkan kaki di USA, di SF waktu itu, saya takjub dan takut menyeberang, krn jalannya lebar sedangkan saya pendek (155cm), kaki saya tentu saja bisanya melangkah cuma 'secuil' dibandingkan dengan American. Saya berlari lari kecil kalau menyeberang. Sampai ada seorang Ibu, American yang negur...Dia kesian kali ya. Ha ha ha... Dia bilang "do not worry young lady, they will wait you to the edge".
Wah pengalaman di SF-nya...ha ha ha....: "do not worry young lady, they will wait you to the edge". Kita yang dari Asia kelihatannya cenderung buru-buru kalau menyeberang jalan, karena kebiasaan... Cuma, kalau melihat pejalan kaki yang terlalu cuek bebek juga nyebelin lho kalau kita yang lagi nyupir...ha ha ha...... Soal klakson, memang paling rame di negeri kita deh Des..... salam...
di insonesia kan orang yg ngak bisa nyetir juga bisa punya SIM :D.. mungkini ini lah yg buwat makin sembraut nya para penegndara di indonesia, BTW pak anwar itu poto freewaynya bikin pusing banged ya hehehehehe...hehehe skaliyan salam buwat alya