Kolom: Agusti Anwar
Angelina Sondakh, selebriti yang anggota DPR itu, dengan lugas mengatakan di televisi, “….tentu saja di blog saya!”
Saya kebetulan sedang melintas di depan televisi, entah infotainment atau betul-betul acara berita ketika soal blog itu disebut-sebut pada Selasa, 30 Januari 2006. Saya bahkan tidak menyimak persis soal apa, selintas terdengar soal hubungannya dengan sesama selebriti yang juga anggota Dewan yang terhormat, Adjie Massaid.
Lalu saya pun melakukan pencarian lewat mesin pencari google yang canggih itu. Dengan sekejap, hasil pencarian google pada saat diakses memunculkan blog Angelina yang jelita di deretan atas. Sekali lagi terbukti ucapan Dubes Marty Legawa ketika dulu masih menjadi jubir Deplu, yang menyebut mesin pencari tersebut sebagai ‘direktorat google’, saking reliable-nya sebagai penawar sumber informasi instan, yang datang lebih cepat daripada bundel laporan resmi pemerintah yang terjebak proses birokrasi dan mesin fax.Mengenai perkara yang dicuapkan oleh Angelina Sondakh, selebriti yang wakil rakyat itu, juga terbukti benar adanya, karena di blog-nya segera terpampang kisah kasihnya dengan wakil rakyat Adjie (kalau diakses pada akhir Januari 2006). Pendeknya, cinta ada di DPR. Baru kemudian berbagai informasi lain pun bermunculan. Ternyata, seperti ditulis blogger rajin Prijadi, Angelina Sondakh adalah anggota dewan pertama yang punya situs blog.
Saya memang tidak melakukan cross check benar tidaknya pernyataan Priyadi. Yang jelas, blogging sekarang ini adalah kegiatan yang biasa-biasa saja, tidak demikian canggihnya. Kalau difrasa ulang, barangkali lebih tepat disebut sebagai ‘kegiatan canggih yang biasa-biasa saja’. Blogging, bagi sebagian orang, sudah menjadi kegiatan rutin membuat jurnal atau catatan harian yang terbuka setengah atau sepenuhnya bagi para pengguna internet di seluruh dunia. Memang tidak terlalu istimewa.
Lantas, apa perlunya memanfaatkan layanan blog? Jawaban klisenya, blog memungkinkan sharing pandangan dan pemikiran tentang berbagai hal. Klise atau tidak, faktanya internet sekarang ini telah menjadi perpusatakaan super berskala global yang sangat ramah pengguna, karena melalui mesin pencari yang tersedia, segala informasi yang diinginkan dapat ditampilkan hanya dalam hitungan detik. Blogging adalah format penggunaan media maya yang juga blogger-friendly, karena ia disuguhkan dengan sederhana tanpa menuntut penguasaan bahasa mesin (html dsb) yang kompleks. Adanya jutaan blog di seluruh dunia ikut memperkaya khasanah informasi perpustakaan global tersebut. Kita bisa meng-upload pandangan dan komentar mengenai segala hal untuk diakses kapan saja oleh suatu komunitas tertentu atau terbuka untuk umum. Blogging membuat kita (dan pandangan-pandangan kita) accessible setiap waktu dan secara berulang-ulang. Komentar si A atau si Z yang berlokasi entah di mana, dapat dihadirkan secara instan di layar komputer kita, tanpa harus repot-repot.
Blogging bermanfaat terutama karena ia merupakan bentuk bebas jurnalisme mandiri. Sebagai jurnalisme mandiri, blogging bersifat membebaskan. Sebabnya tidak lain karena kebebasan yang dimiliki itu sangat luar biasa dan dengan ruang gerak yang tidak terbatas. Blogging itu membebaskan karena setiap waktu kita bisa berpendapat (to have a say) dan to reach out. Apabila untuk semua itu harus dilakukan melalui media cetak yang dikawal redaksi yang ketat dan persaingan tulisan yang berlimpah, maka kebebasan yang diharapkan dapat sangat tersendat. Opini di media cetak memang terkesan lebih bergengsi, bahkan juga bernilai ekonomis, namun pemuatannya di dunia maya jauh lebih cepat dan berpotensi melipatgandakan jangkauan khalayak yang lebih banyak. Prioritas kepuasan setiap orang berbeda-beda. Itulah sebabnya mengapa media cetak yang sadar teknologi juga memanfaatkan edisi online.
Apakah keabsahannya diragukan? Dulu, ketika mayoritas orang masih gagap teknologi, informasi di dunia maya dipersepsi dengan penuh reservasi. Namun sekarang, dengan semakin menguatnya fenomena globalisasi posmodern, lengkap dengan fenomena yang disebut Alvin Toffler sebagai overchoices, keberlimpahan informasi memang menuntut kemampuan pengguna untuk bersikap selektif. Hakikat absah tidaknya sebuah informasi yang ditawarkan akan sangat bergantung pada bagaimana manfaatnya bagi para penggunanya (users). Pada kenyataannya, tanpa harus menjadi sebuah apologi, ada sangat banyak pemikir, profesor atau kolumnis yang menggunakan blog untuk menawarkan pikiran-pikirannya. Sementara di pihak lain, jutaan remaja bertutur tentang perasaannya pagi ini atau cintanya yang terluka.
Realitas yang tak terbantahkan adalah bahwa internet, termasuk format blogs, menawarkan apa pun yang kita mau, dari yang serius sampai yang ringan, dari kajian politik strategis sampai ramuan bumbu masak, dari yang buruk dan nista sampai yang bajik dan bijak. Sebabnya, tidak lain, karena bloggers datang ke internet dengan sejuta niat. Ada yang bertukar pandang mengenai teknik merakit bom atau metode bunuh diri yang paling cepat. Namun secara bersamaan kita juga dapat mendalami budaya saling menolong dan meningkatkan kualitas khusyu’ dalam shalat. Pendeknya, sudah menjadi hukum alam semata, sebuah sunnatullah, bahwa magnet hanya akan menarik lengket elemen dari jenis logam; sedangkan plastik, puing atau sampah lainnya tidak akan bergeming.
Terakhir, setelah atau dengan semua alasan besar dan filosofis yang dapat ditawarkan, memanfaatkan layanan blog menjadi sangat menarik adalah karena ia tersedia secara gratis. Kegratisan ini, dengan segala batas-batasnya, sudah sangat cukup untuk kepentingan personal, karena sekian mega byte yang dialokasikan mampu menampung teks dan gambar yang sangat banyak. Jika masih mau lebih, tinggal di-upgrade dengan berlangganan, itu pun tidak mahal.
I blog; what about you?
Jakarta, 5 Februari 2006
*Diedit ulang untuk ketepatan tautan, 10 Feb 2007