Hari Senin lalu, ketika melakukan pencarian google, saya terserempak sebuah kolom saya, "Menggertak Para Koruptor", di websitenya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kolom itu telah saya unggah di blog Kolom-kolom Agusti Anwar ini sejak September tahun 2006 lalu, termasuk juga di PenulisLepas.com tempat saya ikut jadi kontibutor. Memang, tulisan itu pun menanggapi masalah korupsi dan terkait dengan buku kecil keluaran KPK dalam rangka kampanye publik. Ketika tautan itu diklik, betul termuat kolom saya itu dalam arsip website KPK di bawah kategori "Opinion". Saya senang saja bahwa tulisan itu dicakupkan dalam arsip KPK, karena forum pembacanya dapat lebih luas. Yang membuat saya merasa tak tentu adalah bahwa ternyata kolom itu terlebih dahulu dimuat oleh Harian Ekonomi Neraca pada edisi 1 November 2007. Nama saya sebagai penulis tetap tercantum. Konon, saya adalah "pemerhati masalah ekonomi dan sosial". Soal menjadi pemerhati, termasuk dalam masalah sosial, tidak janggal rasanya, karena dulu pun suka saya pakai untuk melabeli tulisan yang saya kirimkan ke media cetak. Tetapi, kali ini saya disebut pemerhati masalah ekonomi juga, barangkali karena yang menerbitkan kolom saya itu adalah sebuah harian ekonomi. Tentu, saya tidak diberitahu sama sekali. Mungkin bagi sebagian orang terdengar klise, tetapi bagi saya menulis di mana bukan menjadi esensi, karena yang esensi adalah menulis itu sendiri. Setelah bersentuhan dengan medium blog, maka menulis di blog terasa seperti pembebasan, karena lebih sebagai hobi yang melekat namun tidak harus dipasung suka duka proses pemuatan naskah di media cetak. Paling tidak, sementara sekarang ini seperti itu posisi saya. Sayangnya, tulisan dalam blog pun ada lucu-lucunya. Saya tahu bahwa sejumlah bloggers pernah mengalami tulisannya yang di-copy paste begitu saja oleh 'blogger' yang lain. Sebagian yang mengalami ini dengan bijak memasang pernyataan yang mengizinkan pemuatan ulang seperti itu asalkan tetap mencantumkan sumbernya. Yang membuat jengkel tentu mereka yang menyabet tulisan secara mentah-mentah dan mengakuinya sebagai tulisan sendiri. Inilah para pembajak yang lebih dari sekedar plagiat itu. Ketika kebetulan tersangkut dalam entri "O, Plagiator" Helvy Tiana Rosa sebagai penulis yang telah banyak menerbitkan novel, saya turut prihatin bagaimana beberapa karyanya dibajak habis-habisan oleh orang lain. Ada novelnya yang hanya diubah sedikit di sana-sini lalu diterbitkan oleh Puslitbang Departemen Agama dengan judul dan nama penulis lain. Setelah terbit, bahkan menang lomba penulisan buku di Departemen itu. Karyanya pun dibajak habis oleh seorang pengajar bergelar doktor di Malaysia. Sedangkan sebuah lagi dicetak di Inggeris tanpa sepengetahuan Helvy. Berbeda dengan tulisan di internet yang memang mudah di-copy paste dan disiar ulang (republish), para pembajak ternyata siap mengetik dan menyunting ulang novel orang lain demi uang. Betul bahwa demi uang orang rela melakukan apa saja. Tetapi menjadi pembajak seperti ini? Itulah yang dialami Helvy, dan barangkali sejumlah penulis lain. Di tahun 2002 sewaktu masih di Beijing, saya sempat menyimak kehebohan ketika seorang pencatut nama J.K. Rowling menerbitkan sebuah seri Harry Porter (ha li bo te) yang sepenuhnya baru, Harry Potter and Leopard-Walk-Up-To-Dragon. Rowling tidak merasa menuliskan versi yang sangat ber-setting Cina itu, walaupun namanya dipakai dan tokoh-tokoh ceritanya sama. Seorang penulis bayangan (ghost writer) dan penerbit nakal betul-betul mencoba menangguk untung dari pasar pembaca Cina yang gigantik. Rowling mencak-mencak dan seri Harry Porter palsu itu pun jadi urusan polisi. Lalu soal penyabetan tulisan dalam blog, saya termasuk mereka yang mengizinkan kolom saya disiar ulang oleh yang lain secara non-komersial asalkan dengan tetap memberi kredit kepada penulis dengan merujuk sumbernya. Satu dua kolom saya dari blog ini ternyata dimuat ulang oleh yang lain dengan menyatakan nama penulis. Ada juga yang sedikit diedit, namun tetap menyatakan sumbernya. Harapan saya, semoga tulisan itu membawa manfaat yang lebih luas.   Yang membuat saya sedih adalah penyabetan mentah-mentah tulisan tanpa penyebutan sumber. Dari beberapa yang sempat saya tahu, misalnya, seorang mahasiswa Sosiologi yang merasa perlu menyiar sendiri kolom "Sosiologi Bersalaman" di blognya. Kolom saya "Matematika Pergunjingan" yang disabet oleh Zulkifli dari Makasar malah disiarkan kembali di tempat lain sebagai sebuah renungan dengan rujukan sumber kepada Zulkifli itu. Labelnya pun tidak tanggung-tanggung, Al-Islam. Begitulah. Ketika saya pun terserempak tulisan "Menggertak Para Koruptor" di website KPK itu, saya jadi senyum-senyum sendiri tentang ironi yang terjadi. Bayangkan, tulisan yang menolak korupsi itu justru diterbitkan secara sepihak oleh harian Neraca yang akhirnya singgah di arsip website KPK. Walau pun readership-nya meningkat, tetapi the joke wasn't on me! Bagaimana pengalaman anda? LA, 7/Nov/07
 | hehehe..... berarti tulisan kita bukan hanya sekedar tulisan, tapi bernilai pendidikan. Cukup bangga..dan sedih.. hehehe... |
 | Hhhhmmm, kalau jurnal saya pernah ada yg ngedit2 pak dan hasil editan tulisan itu disebarkan ke milis2. Tulisan aslinya seperti biasa, cerita sebuah keluarga yg membutuhkan uluran tangan...Eh, tulisan itu diedit menjadi sebuah cerita porno, di mana di bagian endingnya masih tercantum nomor kontak saya.
Yo wis, sejak tulisan error itu tersebar, saya kebanjiran telepon, sms bahkan sedikit teror. Tapi hikmahnya ada banyak juga, setelah saya berikan klarifikasi, jadi banyak yg bersimpati dan memberikan bantuan untuk keluarga tersebut, alhamdulillah... |
 | wah seru-seruan juga nih ceritanya. Tapi kalau saya dari dulu memang tidak menjadikan tulisan sebagai objek publisitas. Karena semuanya lebih bersifat berbagi, sehingga justru berterima kasih jika ada yang bersedia menyebarluaskan dengan atau tanpa menyebut sumbernya.
Bagi saya, nilai karya sesungguhnya tidak terbatas pada gonjang ganjing 'hak cipta' tapi bagaimana tulisan itu bisa menginspirasi dan bermanfaat buat orang banyak. |
 | Satu bukti lagi, suara blogger memang pantas untuk didengar... baik hati lagi boleh dicontek, cuma satu permintaannya hanya menyebutkan sumbernya...
Terus berkarya Mas... |
 | dennybaonk wrote on Nov 8, '07, edited on Nov 8, '07 Beberapa tulisan saya pernah juga melanglang buana :) Yang paling lucu cerpen saya berjudul Seorang Lelaki & Iblis Yang Menangis. Cerpen itu disebarluaskan bukan hanya di millist berbasis agama Islam, tetapi juga masuk ke forum komunitas kristen, khatolik, sampai budha. Dari millist orang batak, sampai komunitas etnis tionghoa (berbahasa indonesia). Seru juga waktu menelusurinya. |
 | Saya prihatin mas dengan nasib tulisan2mu. Lebih prihatin lagi sama yang bajak sana dan bajak sini, menghalalkan segala cara demi suatu yang 'semu'. Gimana ga semu, mereka sebenarnya ga bisa kok. alias nyontek 100%. (karena menurut saya, ada juga istilah nyontek yang dibolehkan, yaitu menyempurnakan apa yang sudah ada, tapi tentu dengan tatakrama yang berlaku umum). Terus saja berkarya, ikhlas selalu, semoga dicatat jadi amal ibadah yang shaleh kelak.
|
 | hiks..saya ikut prihatin pak..dan saya juga sering dilakukan begitu..:( tapi ya sudahlah.. yang penting saya hanya bisa ikhlas saja.. |
 | betul sekali pak, ironis sekali ya. kudunya lembaga2 pemerintah sudah selayaknya memberikan contoh yang baik dengan minta izin terlebih dahulu pada penulisnya. btw, saya juga pernah punya pengalaman yang sama saat menjadi pengelola salah satu portal iptek. menurut saya, asal untuk tidak kepentingan komersil, barangkali kali diikhlaskan saja (istilah mas yudi), mudah2an menjadi ladang amal yang tidak putus-putusnya (amin). |
 | Hhhhmmm, kalau jurnal saya pernah ada yg ngedit2 pak dan hasil editan tulisan itu disebarkan ke milis2. Tulisan aslinya seperti biasa, cerita sebuah keluarga yg membutuhkan uluran tangan...Eh, tulisan itu diedit menjadi sebuah cerita porno, di mana di bagian endingnya masih tercantum nomor kontak saya.
Yo wis, sejak tulisan error itu tersebar, saya kebanjiran telepon, sms bahkan sedikit teror. Tapi hikmahnya ada banyak juga, setelah saya berikan klarifikasi, jadi banyak yg bersimpati dan memberikan bantuan untuk keluarga tersebut, alhamdulillah...  Aduh, gak nyak sampai segitu-gitunya ya Kosi. Untung juga akhirnya banyak yang simpati.....salam... |
 | betul sekali pak, ironis sekali ya. kudunya lembaga2 pemerintah sudah selayaknya memberikan contoh yang baik dengan minta izin terlebih dahulu pada penulisnya. btw, saya juga pernah punya pengalaman yang sama saat menjadi pengelola salah satu portal iptek. menurut saya, asal untuk tidak kepentingan komersil, barangkali kali diikhlaskan saja (istilah mas yudi), mudah2an menjadi ladang amal yang tidak putus-putusnya (amin).  Mungkin sedikit saya luruskan Mas; kalau KPK bagi saja tidak salah sama sekali, karena memang ia mengarsipkan tulisan dari Harian Ekonomi Neraca itu. Harian itu, yang notabene bersifat bisnis, yang sebetulnya tidak pas.
Namun, saya memang tidak ingin apa-apa kok; tulisan ini pun hanya sekedar record saja; dalam hal mana, sekaligus untuk menyikapi para penyabet tulisan lainnya yang keterlaluan itu....salam.... |
 | heks...sepakat dengan Pak Anwar, orang yang bermoral selalu menghargai hasil karya orang lain. ------------------------------------------------ :-) tfs, pak ------------------------------------------------ yangpernahsangatbersedihsaatbukukeduagagalpublishkernakeburudicaplok'teman'sendiri |
 | Budaya merujuk kayaknya masih jauh ya Mas ... |
 | Masalah plagiat dan kopi rasa paste skrg ini lagi rame jadi bahan pergunjingan di ranah blogosphere Indonesia mas. Tujuannya macam2, mulai dari yg baru mulai belajar ngeblog hingga yg bertujuan utk meningkatkan trafik. Yang kuat (menghadapi tudingan sbg plagiator) cuek saja, merasa tidak bersalah dan terus ngeblog. Sementara yg merasa bersalah akhirnya menutup blognya dan enggan ngeblog lag (ybs tidak kuat menghadapi komen2 yg masuk ke blognya).
Pengalaman saya sendiri, tulisan saya pernah dikopi paste begitu saja di beberapa blog, walau ada juga menyebutkan sumbernya. Lucunya lagi pernah juga tulisan saya digabung dengan tulisan Sugianto Roma (kebetulan ngomongin topik yang sama), jadinya tulisan lama kemasan baru dan tentu saja jadi lebih panjang. |
 | Lucunya lagi pernah juga tulisan saya digabung dengan tulisan Sugianto Roma (kebetulan ngomongin topik yang sama), jadinya tulisan lama kemasan baru dan tentu saja jadi lebih panjang.  Iya Mas Aris, saya juga maklum banget kok soal ini; cuma baru bikin entri sendiri saja. Yang saya tidak hargai hanya yang copy-paste dan mengklaim sebagai tulisan diri sendiri. Kalau disiar ulang dengan rujukan ke sumber, silahkan saja, bahkan ayo lebih sering lagi....he he he....
Yang menjengkelkan lagi memang karena banyak blogger yang terpesona rayuan untuk cari uang dari iklan sehingga konten harus terus ada dan diperbaru demi traffict. Padahal kita cari traffict terhebat justru kalau menulis tentang bagaimana cari uang dari internet itu sendiri ha ha ha....., atau bikin tutorial ngeblog, template gratis, mp3 gratis, cerita porno, gambar panas dsb...iya kan? Coba cek saja google trend, pasti kelihatan....salam, Anwar.
Nb. Jadi Sony18 ngeblog juga ya.....
|
 | banyak dikirim sana-sini. Tapi tampaknya masih mencantumkan nama ya....  di blognya ady permadi dulu tidak. tapi saya ambil insiatif untuk memberi salam dan memberi tahu kalau itu karya saya. dan responnya sangat positif. di beberapa tempat lain yang mencantumkan nama DBaonk) saya juga beri salam dan terimakasih. :) tapi hari ini saya akhirnya nemu juga, ada yang sengaja mengubah sedikit cerpen itu dan memposting sebagai karyanya. Misalnya di sini dan di siniUntuk kasus pembajakan secara sengaja (terlihat dari adanya bagian yang diganti) dan bukan karena sakadar "tidak tahu sumbernya dari mana", saya memilih bersikap tegas dan menegur. Supaya yang melakukan juga kapok. Karena hal seperti itu buruk bukan hanya bagi yang dibajak, tetapi juga buat dia sendiri. |
 | saya juga anti pembajakan pak, tetapi kalau terinspirasi boleh kan pak?
salam kenal. helvry |
 | Namanya juga inspirasi, ya boleh dong...he he he....salam juga... |
 | Ah, namanya juga di internet yang bebas Pak. Gak perlu sewot gitu deh... |
| |