 "Hidup adalah pelajaran panjang dalam merendahkan hati", demikian kata James Matthew Barrie, novelis Scotlandia yang mengarang cerita populer Peter Pan.Namun, tentu, hidup dapat berarti apa saja, tergantung bagaimana kita memaknainya. Sekiranya Barrie benar, sudah pasti dunia ini akan berisikan banyak sekali orang-orang mulia. Barangkali akan bertebaran pribadi-pribadi lembut seperti Nabi SAW, Ali, Abu Bakar atau Umar. Mungkin seperti para sufi, seperti para bijak yang pernah lahir dan hidup di berbagai belahan bumi.Betul bahwa kisah-kisah orang bijak yang rendah hati sering kita dengar. Dari zaman ke zaman, selalu ada orang-orang mulia ini, meski tidak pernah dalam jumlah yang banyak. Kalau disimak lebih teliti, yang ditemukan lebih sering kisah-kisah itu saja, sedangkan bentuk nyatanya jarang-jarang. Apalagi kalau skala kerendahhatian itu demikian dalamnya.Betul bahwa dalam keseharian kita pun, selalu akan ada orang-orang rendah hati, dua tiga, atau berapa. Saya beruntung mengenal beberapa sahabat, kolega atau figur yang berjiwa mulia, demikian rendah hatinya. Kendati, memang, selalu tidak pernah banyak jumlahnya. Persentase antara yang rendah hati dan sebaliknya, sudah pasti tidak akan pernah seimbang. Dari 10 orang, dapatkah kita jumpai 3 yang tergolong rendah hati?Sebetulnya bagaimana memaknai rendah hati itu? Kalau kita bertanya demikian, jawabannya barangkali tidak akan terlalu sulit. Untuk menangkap maknanya, cukup lawankan saja dengan sikap tinggi hati, sombong, angkuh, cepat lupa diri, menempatkan diri lebih penting daripada semua orang lain, dan seterusnya.
Lalu, coba lihat ke sekeliling, seberapa sering kita bertemu dengan orang yang self-centered, yang hanya memetingkan diri sendiri, yang terlalu cepat bermegah-megah, cepat berbangga-bangga, yang akan melakukan segala cara demi meninggikan diri sendiri, yang akan melihat orang lain (apalagi yang lebih 'rendah') dengan sangat sebelah mata? Rasanya tidak akan sulit mendeteksinya di lingkungan sehari-hari kita, dalam tingkatan apa pun itu. Dari yang muda, bahkan yang tua.Pada dasarnya, sebagian besar dari manusia mempunyai porsi hati yang tidak hitam putih; tetapi lebih abu-abu. Di antara yang tinggi hati pun, sepercik dua barangkali ada juga kerendahan hati. Untuk menakar, di antara ujian bagi mereka yang memiliki kadar rendah hati yang sungguh-sungguh adalah ketika berhadap-hadapan dengan mereka yang, karena satu dan lain hal, berada pada posisi yang lebih bawah. Bak kata Benjamin Franklin, orang bijak yang menjadi bapak bangsa Amerika: "[t]o be humble to superiors is duty, to equals courtesy, to inferiors nobleness.” Kerendahan hati itu baru bernilai tinggi, justru kalau sudah mampu menundukan hati di tingkat yang paling jelata.Umar, ketika sebagai khalifah, memanggul karung gandum bagi seorang ibu tua, adalah contoh kerendahhatian orang mulia. Seringkali, memang, mereka yang mampu memetik buah rendah hati adalah mereka yang sangat tahu diri tentang ketidakberartian manusia di bentangan semesta, di hadapan Tuhan.Saya kira benar bahwa belajar merendahkan hati adalah perjalanan panjang dalam memaklumi jalannya kehidupan. Bagi yang beruntung, semakin banyak asam garam, semakin banyak ilmu, semakin banyak pula kesempatan untuk berpapasan dengan ilmu rendah hati itu. Seperti kata pepatah kita, seperti batang padi, semakin merunduk, semakin berisi. Dalam zaman yang semakin menjadikan kepuasan diri, individualisme, sebagai pusat kehidupan, barangkali tantangan untuk meraih makna rendah hati akan semakin sulit dilakukan. Lesson in humility bukan berarti tidak mungkin diperoleh, cuma semakin sulit dicerna. Sebab rayuan untuk menonjolkan diri akan mengikis lapisan terbaik dari komposisi hati, walaupun kadang perlahan-lahan. Itulah barangkali sebabnya mengapa sifat rendah hati justru mudah terpeleset ke kotak yang lain. Apakah itu justru "rendah diri"; atau bahkan berbalik mejadi "tinggi hati". Padahal, dalam kenyataannya, seringkali tidak disadari bahwa penyakit tinggi hati dan rendah diri itu saling berpaut saling berkombinasi. Hanya saja, janganlah sampai tertipu: seringkali orang yang rendah hati adalah mereka yang paling percaya diri. Betapa saya ingin memetik pelajaran dari sini.LA, 2 Maret 2008
 | proses belajar untuk menjadi orang yang rendah hati gimana Bung? apakah ada target,kurikulum dls... |
 | tfs, pak Anwar.. asyik juga..pagi2 baca yg kaya ginian:-) |
 | TFS ya pak anwar.. bener2 setuju sama semuwa kata2 diatas |
 | setuju. belajar utk merendahkan diri memang kadang sulit. tp lihat contoh, dan banyak pepatah bilang, padi yg padat pasti merunduk kebawah. nah gitu jg kita ya, makin berisi ga boleh tinggi hati. thx tuk share bung, jd mengingatkan diri sendiri utk terus belajar lebih lg. |
 | hmm menarik juga pak.. tapi merendahkan hati bukan berarti hidup ala sufi kan..::) |
 | rendah hati... sulit mas, kadang dalam diam pun kita sombong |
 | kayaknya pernah ketemu deh sama yang nulis blog ini? meluaskan pemasaran melalui internet memang cara efisien. yuk, kita berbagi. saat ini sih masih berbagi pendapat. siapa tahu besok-besok bisa berbagi pendapatan. maksudnya kita kerja sama bisnis. gabung yuk di http://perhimi.multiply.com dan kasih komen dong ke http://internetmarketers.multiply.com/journalmakasih. |
| |