Blog Entry[BUKAN] KALANGAN PEMBACA BUKUMar 13, '08 1:07 AM
for everyone






[Entri terkait Soal Menyikapi Buku]


Katakanlah sekali waktu anda membeli sebuah buku bagus dan ingin menghadiahkannya kepada seseorang. Buku itu bahkan ditandatangani langsung oleh penulisnya yang terkenal. Tetapi, ketika buku itu anda hadiahkan dan diterima, yang menerima cuma melihatnya sebentar, membalik-balik halaman kulit sambil mengucapkan terima kasih. Lantas berdiri dan menaruh buku tersebut di rak.

Bagaimana perasaan anda?

Sekali pun ini sekedar sebuah perandaian, tetap saja bermacam ragam reaksi perasaan kita, bahkan tak menentu. Yang pasti, orang yang dihadiahi buku itu bukanlah dari golongan pembaca atau penggemar buku.  

Memang tidak semua orang menggemari buku. Sebagian orang yang membeli buku pun, bukan serta merta tergolong penggemar membaca. Sebagian orang membeli buku sekedar untuk koleksi, kalau bukan gengsi. Untuk dipajang di meja hias di ruang tamu atau di kantor. Itu sebabnya sering terpampang koleksi ensiklopedia lengkap, apakah Encyclopedia Britanica atau lainnya, di rak buku seseorang, termasuk orang-orang penting. Barangkali, bersebelahan pula dengan buku hadiah dari orang lain.

Membaca memang bukan pekerjaan mudah. Walau pun Al Quran dimulai dengan perintah iqra, tidak berarti mayoritas umat Islam rajin membaca. Membaca itu memerlukan dedikasi. Kita perlu membangun sebuah kebiasaan (habit), apa pun faktor pendorongnya, untuk dapat menjadikannya sebuah kesenangan. Sekali kenikmatan itu dicapai, maka ia akan dicari; bahkan dimodali.

Betul bahwa banyak kita yang mencantumkan hobi membaca. Tetapi, jenis bahan bacaan yang dimaksud bisa bermacam-macam pula. Banyak yang senang membaca kisah fiksi, karena terangsang ruang gerak imaginasinya. Ada yang hanya tahan membaca tulisan yang pendek-pendek, apakah berita atau esai ringkas. Pertanyaannya, sebarapa banyak yang mau atau tahan membaca buku non-fiksi tebal sampai tamat? Apalagi kalau kemampuan speed reading-nya sama sekali belum terlatih?

Hampir pasti bahwa mereka yang membaca cenderung memiliki pengetahuan yang lebih luas. Menurut filosof Amerika Mortimer Adler, membaca merupakan perangkat dasar untuk menjalani hidup yang baik (good life). Apa pun yang dibaca, dari sekedar komik, koran sampai buku teks, seluruhnya menawarkan akses kepada ruang informasi dan pengetahuan.

Sangat mungkin bahwa yang membedakan kelompok pembaca tulisan ringkas dan buku tebal lebih pada soal penguasaan pengetahuan detail. Yang ingin tahu mendalam, bahkan menjadi pakar, memang perlu membaca buku. Banyak dan tebal-tebal.

Thomas Charlyle, penulis klasik dari era Victoria, mengatakan bahwa "a good book is the essence of a human soul".  Artinya, semakin bermutu buku yang dibaca itu, semakin bernilai waktu yang ditumpahkan untuk menamatkannya. Sebab, bacaan itu akan memperkaya jiwa kita. Oleh sebab itu, membaca pun perlu pilih-pilih.*

Bahkan, ketika anda ingin menghadiahkan buku pun, harus juga pilih-pilih. Bukan tidak mungkin hadiah itu sekedar dibariskan di rak, sementara orang-orang yang haus buku masih ada di mana-mana. Sebab, bukan semua orang termasuk kalangan pembaca buku. Bagaimana dengan anda?

LA, 11/3/08

*) Di tanah air saat ini, misalnya, memang sedang berkembang pesat produksi berbagai buku. Malangnya, volume produksi tidak sejalan dengan kualitas isi. Dari pengamatan saya, seringkali buku-buku yang diterbitkan itu bermutu rendah, ditulis secara instan dan sekedarnya, bahkan penuh dengan ketidaktepatan tata bahasa sampai dengan kandungan yang dangkal. Membaca buku-buku yang demikian, dengan waktu yang cukup panjang, memang tidak akan begitu bermanfaat.


Gambar display, karena saya memang sangat menyukai buku bagus pro gerakan hijau ini.



17 CommentsChronological   Reverse   Threaded
aguswid wrote on Mar 13
Kebiasaan membaca kita masih rendah, habis itu tergoda dengan aneka tayangan TV.

ivanatm wrote on Mar 13
Bagaimana perasaan anda?
Buku adalah hadiah yang bijak. Tidak peduli orang suka membaca atau tidak, tapi ketika menerima sebuah buku, pasti kesan yang ditimbulkan positif. Kalo menghadia seseorang buku, biasanya saya liat, apakah ia penggemar bacaan seperti apa. Kalo suka komik, ya jangan kasih kamus tebal hehe. Jadi yang nerima senang, kita pun senang.
bundakirana wrote on Mar 13
wah Pak, saya sering tuh..menghadiahkan buku ke anak, dibolak-balik sebentar lalu dilupakan :))
apa kabar Pak Anwar?:)
udintpi wrote on Mar 13
kalau saya tetap berprasangka baik. awalnya pasti mereka terima buku hanya bolak balik, tapi setelah itu --entah kapan mereka pasti baca.
biasanya saya kasih buku ke orang yang memang suka baca.
ambarbriastuti wrote on Mar 13
Mungkin membaca itu memang kultur mas anwar. Saya ingat ketika kecil menyisihkan uang saku untuk menyewa buku novel musashi, lupus, lima sekawan dll . Sampai sekarangpun buku sudah jadi makanan pokok. Saya sendiri juga suka menghadiahkan buku. Kalaupun tidak dibaca saya mengira memang orangnya sibuk, atau tema yang saya berikan belum 'kena' di dia.

Kembali soal budaya baca, saya positif melihat perkembangan buku di Indonesia. Memang secara kualitas kadang ada yang instan dan kacangan. Tapi mendewasakan masyarakat itu perlu waktu mas anwar. Dan juga proses. Saya dulu juga membaca cerita lupus (yang mungkin bisa dikatagorikan chick lit atau easy reading), tapi darisana lantas saya mencoba yang lebih 'berisi'.
elbintang wrote on Mar 14, edited on Mar 14
Bahkan, ketika anda ingin menghadiahkan buku pun, harus juga pilih-pilih. Bukan tidak mungkin hadiah itu sekedar dibariskan di rak
heuheuheu...jadi inget, belikan hadiah buku untuk seorang teman, setelah nyampe rumah baru sadar. Buku yang dibeli itu jenis bacaan saya, bukan jenis bacaan yg dia sukai :-D
setelah beberapa lama, waktu teman itu datang berkunjung, saya sodorkan buku itu *penasaran, kira-kira dia tertarik nggak*
ternyata...
blas!
...
nggak :))
---------------------------------------------------------------
pesan moral : saat beli buku harus dalam keadaan sadar! :-p
agustianwar wrote on Mar 14
aguswid said
Kebiasaan membaca kita masih rendah, habis itu tergoda dengan aneka tayangan TV.

Betul juga kali mas. Tayangan televisi memang lebih instan. Cuma saya kira keduanya tidak perlu saling mengalahkan; tetapi saling melengkapi. Saya tergolong fanatik menonton, tetapi juga penggemar baca, gimana....
agustianwar wrote on Mar 14
ivanatm said
Kalo menghadia seseorang buku, biasanya saya liat, apakah ia penggemar bacaan seperti apa. Kalo suka komik, ya jangan kasih kamus tebal hehe. Jadi yang nerima senang, kita pun senang.
Iya sih, idem dito dengan saya. Cuma, kadang terjadi juga situasi seperti ilustrasi di atas. Bayangkan kalau kebetulan buku itu ditulis penulis internasional yang terkenal dan ditandatangani, lalu dihadiahkan, eh.....gimana? Ini hanya pengantar cerita saja.....
agustianwar wrote on Mar 14
wah Pak, saya sering tuh..menghadiahkan buku ke anak, dibolak-balik sebentar lalu dilupakan :))
apa kabar Pak Anwar?:)
Itu mah masih mending mbak. Kedua puteri saya, termasuk si Alya yang tiga tahun lebih dan belum pandai baca, maunya dibelikan buku melulu. Di toko buku, selalu pilih buku ini itu, lalu "daddy plizzzzz...plizzzzz....I wannit....." Eh, dibeliin. Sampai di rumah, entah ditaruh dimana itu buku-buku ha ha ha..... Cuma, tentu saja saya tidak akan kapok, akan tetap membelikan dan membelikan.... Daripada hanya sekedar boneka atau mainan, iya kan?
agustianwar wrote on Mar 14
udintpi said
kalau saya tetap berprasangka baik. awalnya pasti mereka terima buku hanya bolak balik, tapi setelah itu --entah kapan mereka pasti baca.
Benar juga sih mas. Memang bukan soal prasangka baik atau tidak kok; ini fakta saja bahwa ada yang suka membaca ada yang tidak. Persoalannya, kadang karena buku itu sangat bagus dan ingin dihadiahkan, ternyata yang menerima tidak punya penilaian yang sama....ya jadi begitu.... Intinya, memberi hadiah buku pun memang harus pilih-pilih, agar lebih bermanfaat....ya kan...?
agustianwar wrote on Mar 14, edited on Mar 14
Mungkin membaca itu memang kultur mas anwar. Saya ingat ketika kecil menyisihkan uang saku untuk menyewa buku novel musashi, lupus, lima sekawan dll . Sampai sekarangpun buku sudah jadi makanan pokok.
Setuju banget mbak. Saya dulu sebelum masuk sekolah ingin cepat-cepat masuk sekolah, karena penasaran melihat Ibu yang suka baca komik. Komik lho, komik silat lagi....ha ha ha...... Lalu, setelah kwartal pertama kelas satu, saya langsung saja lancar membaca; sangat termotivasi dari keingintahuan itu. Sampai sekarang pun saya jadi penggila buku. Kebetulan dari keluarga, ayah ibu sampai semua adik-adik. para penggemar buku..... Jadinya, kultur tentunya.

Soal perkembangan produksi buku di Indonesia, saya pun tidak menilai itu negatif; malah termasuk yang senang. Jujur saja, saya selama di Jakarta kalau beli buku langsung belasan, kadang pas pameran puluhan; jadi agak freaky juga bagi yang gak paham. Bahkan saya langganan tuh main ke Kwitang cari buku obral; sampai-sampai para penjual hapal. Kalau saya datang langsung di sambut; "nggak ada yang baru pak", katanya langsung kalau kebetulan yang dijual masih seperti yang minggu lalu ha ha ha........

Yang saya garisbawahi lebih pada buku-buku yang sekedar diproduksi demi memanfaatkan boom pasar. Banyak lho mbak buku yang ditulis penulis asal-asalan; yang menulis teks biasa saja masih belum pas, eh sudah jadi buku. Bulum lagi buku yang ditulis dengan referensi sekedarnya, tanpa pendalaman berarti. Ada euforia yang berlebihan; dan tentu ini tidak akan serta merta baik. Bagi buku-buku yang bagus, pasti bernilai untuk dicetak dan dibaca.

Soal cerita lupus, saya pun penggemar lho mbak. Saya jadi senang menulis cerpen (dan juga novelet) dulu karena membaca karya 'sastra' remaja seperti itu; termasuk yang berbasis majalah HAI. Lalu, juga beranjak kepada yang lebih bermutu; eh karena usia barangkali, semakin hari semakin senang membaca buku yang "penuh beban" itu ha ha ha.......salam....

Btw, foto-foto di gunung saljunya keren oi.....

agustianwar wrote on Mar 14
pesan moral : saat beli buku harus dalam keadaan sadar! :-p
Ha ha ha......ini dia nih yang ngalamin; jadi tahu rasanya kan...? Cuma, kalau justru beli dan dihadiahkan secara sadar karena alasan yang sebetulnya pas, tetapi tidak seperti yang kita bayangkan responsnya, lantas bagaimana ha ha ha....?

Saya termasuk orang yang sangat senang dihadiahi buku. Ayo siapa yang mau menghadiahi saya....he he he........
amathonthe wrote on Mar 14
saya jarang memberikan orang hadiah apalgi hadiah buku (lebih enak buat sendiri)
tapi paling sering dikasih hadiah buku ma temen2 (entah itu karena nodong ataw bener2 dikasih.. ^_^..)

saat kemaren mengunjungi pameran buku entah kenapa merasa antusias masyarakat berkurang dibanding tahun pertama datang ke jogja dan pertama kalinya ke pameran buku
kata temen saya presentasi pembaca indonesia tidak sampai 1 persen hanya 0,09% benar atau tidak belum dibuktikan. tapi melihat dari lingkungan sekitar saya yang notabenenya mahasiswa di Jogja ini sangat mungkin benar.
seorang temen saya bilang buang-buang waktu saja untuk membaca buku
lebih suka maen komputer (soalnya jurusan informatika)dan baca tutorial yang didownload (saya suka baca tapi gak suka baca lama-lama didepan komputer)

di seminar nasional pengembangan konten juga dipaparkan data berapa jam yang dihabiskan oleh seorang ahli di IT, 10.000 jam untuk maen games dan kurang dari 5000 jam untuk baca
hmmm jauh banget perbandingannya
walaupun saya anak it tapi megang komputer dan megang buku banyakan megang buku deh, temen2 saya malah sebaliknya
hal yang biasa saya lakukan dikos dan temen2 saya adalah menceritakan kembali isi buku yang saya baca dan mengajak ke toko buku dan pameran buku
alhamdulillah ada segelintir orang yang akhirnya tertarik baca buku wlaupun bukunya tidak yang berat, seperti cupiderman3g, suparman pulang kampung, badman bidin..

harapannya rakyat Indoensia laebih suka membaca lagi
dan lebih banyak orang kayak yang membangun reading house gratis khusnya di daerah terpencil
karena membaca adalah sebuah kebiasaan


adijm wrote on Mar 14, edited on Mar 14
Terus terang pembacaan buku saya menurun drastis sepulang ke tanah air. Bisa dibilang belum ada buku yang terbaca tuntas. Bacanya loncat buku yang satu ke buku yang lain. Dengan berbagai aktifitas yang mesti dijalani, plus ketidakdisiplinan mengalokasikan waktu, memang tidak mungkin menamatkan sebuah buku bermutu.

Ada beberapa buku yang bisa saya tamatkan saat di tinggal di Jepang, karena saya punya waktu banyak saat bepergian dengan kereta api. Saya jadi ngerti, kenapa banyak orang Jepang baca di kereta, karena memang efektif juga baca buku di atas densa itu.

Nah, Mas Anwar, bagi2 donk tips-nya supaya di rumah juga kita bisa tetap produktif baca buku ... Thanks in advance. Salam.
agustianwar wrote on Mar 14
adijm said
Nah, Mas Anwar, bagi2 donk tips-nya supaya di rumah juga kita bisa tetap produktif baca buku ...
Waduh, ini susah memang Mas Adi. Kalau sudah di rumah, lebih sering menggendong anak, atau dipanjati anak-anak, jadinya nggak bisa baca. Tetapi, saya suka baca malam hari, setelah sepi. Kalau bukunya tipis dan menarik, bisa cepat atau langsung tuntas barangkali ya. Tapi kalau tebal, bakal ada episode bersambung dst. Tentunya membaca tidak wajib tuntas, apalagi kalau yang diperlukan cuma bagian-bagiannya, ya nggak? Salam.......
agustianwar wrote on Mar 15

harapannya rakyat Indoensia laebih suka membaca lagi
dan lebih banyak orang kayak yang membangun reading house gratis khusnya di daerah terpencil
karena membaca adalah sebuah kebiasaan
Harapan 'Aisyah" sama dengan harapan saya; kiranya masyarakat kita lebih gemar membaca, agar dapat lebih cerdas. Saya perhatikan semakin banyak juga orang yang dengan susah payah membangun komunitas baca tersendiri, termasuk rumah baca, sampai ke desa-desa. Saya pernah baca laporan feature Kompas tentang seorang Ibu yang berkeliling di sekitar pinggiran Bogor dengan sepeda untuk meminjamkan buku-buku, seperti perpustakaan keliling.

Saya pribadi juga ingin sekali bisa buka rumah baca demikian itu. Rencananya, (pas sudah pulang nanti ke Jakarta), saya akan renovasi rumah dan satu bagian akan diperuntukkan sebagai rumah baca umum yang terbuka buat yang berminat. Koleksi buku saya cukup banyak dan tiap waktu bertambah, siapa tahu bisa bernilai bagi orang lain....

Bagaimana kalau "Aisyah" juga merintis projek rumah baca di daerahnya; melalui silaturrahmi online ini juga akan banyak yang bisa bantu dan, bahkan, menyumbang. Beberapa teman sudah melakukan itu.....salam pembaca buku....


amathonthe wrote on Mar 22
Bagaimana kalau "Aisyah" juga merintis projek rumah baca di daerahnya; melalui silaturrahmi online ini juga akan banyak yang bisa bantu dan, bahkan, menyumbang. Beberapa teman sudah melakukan itu.....salam pembaca buku
Insya Allah saya juga ingin punya reading house sendiri saat ini saya sedang mengumpulkan buku sendiri walaupun sedikit2, Insya Allah jadi bukit dan semoga nanti temen2 oinline juga mau membantu..Amiiin
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help