
"The only thing worth stealing is a kiss from a sleeping child." ~Joe HouldsworthBuah hati, demikian sebutan anak-anak dalam bahasa Indonesia. Betapa indah dan tepatnya memang penamaan itu.
Sebab, anak adalah benar buah hati kita. Risau gundah, riang senang orang tua sangat banyak terpaut pada risau gundah, seluruh yang dirasa anak-anaknya.
Bahkan, ketika mereka tertidur dengan lena pun, dalam senyum polos mereka itu, akan terus ada gedegap jantung yang waswas sepanjang waktu.
"Bagaimanakah besarnya mereka nanti?"
"Akankah mereka menjadi anak-anak yang terpuji, yang berakhlak berpekerti?"
"Akankah hidup mereka nanti baik, bekal mereka cukup?"
"Apakah kita telah mendidik mereka cukup, membekali sesuai, membesarkan mereka dengan sebaik-baiknya?"
Amat panjang dan banyak pertanyaan yang bertubi-tubi datang ke pikiran dan hati kita. Setiap waktu berdebar-debar, aduh, janganlah sampai ada yang salah. Janganlah sempat silap langkah.
Ketika kita sayang dan manjakan pun kita khawatir; takut mereka menjadi tak mandiri. Ketika kita peringatkan dan marahi pun, khawatir mereka terluka hati, scarred, menjadi rendah diri.
Setiap waktu kita bimbang, selalu menimbang-nimbang; sudah seimbangkah semuanya? Dimanakah yang tidak tepat?
Menjadi orang tua menyebabkan kita mengerti perasaan ayah ibu dahulu, sewaktu kita pun masih kecil-kecil. Semakin terasa pahit getir menjadi orang tua, semakin berterima kasih kita kepada mereka.
Menjadi orang tua memang menempatkan kita dalam situasi diuji sepanjang hari; sekian puluh tahun. Inilah ujian yang paling lama dalam kehidupan, karena nilai kelulusan kita pun adalah bagaimana jadinya anak-anak kita nanti.
Anak-anak kita membuat kita harus selalu siap menawar semua rencana; mencari kompromi di antara segala penat letih, beban dan tanggung jawab yang diemban hari.
Lalu, dalam khawatir yang tak putus itu, ketika suatu kali anak kita menghampir, "Ayah, adek mau bisikin deh. Beneran," katanya.
Kita akan cepat saja tersenyum; ada apakah gerangan? Di waktu kita menelengkan telinga, menunggu bisikannya, ternyata ia tak langsung membisik, tetapi mencuri mencium di pipi. Sehingga mengalirlah gelombang energi itu, yang me-recharge baterai kehidupan kita, yang berkelip-kelip, yang khawatir dan gelisah sepanjang waktu. "You are my favourite daddy", bisiknya.
Ia memang lagi gandrung kata 'favorit' itu. Sementara kita akan tersenyum sepanjang hari. Dan akan kembali tersenyum lagi di hari-hari lain, saat teringat bisikan suara sang buah hati.
Anak-anak kita.
LA, 15 Maret 2008