
Telah lama juga saya tidak menuliskan sesuatu tentang substansi khutbah Jumat. Di Jumat ini, khatib yang naik mimbar adalah Dr. Yunahar Ilyas, yang merupakan salah satu
Ketua PP Muhammadiyah dan anggota MUI itu. Yang menarik dari kandungan khutbah singkatnya adalah soal pemaknaan urusan duniawi dan akhirat.
Kalau orang shalat, puasa, mengantar jenazah dan sebagainya, sering disebut sebagai urusan akhirat, demikian tuturnya. Sedangkan bekerja, makan minum dan lainnya, sebagai urusan duniawi. Ustadz yang bahasanya lugas itu pun mendefinisikan urusan duniawi sebagai kegiatan yang hasilnya dibalaskan langsung di dunia. Sedangkan yang ukhrawi, dibalaskan dalam bentuk pahala di akhirat.
Seringkali orang, katanya, berbasa-basi bahwa mereka bekerja sekedar mencari pahala, bukan uang. Namun pertanyaan sesungguhnya bagi mereka yang mengatakan demikian adalah apabila mereka bekerja tidak diberikan imbalan, masihkah mau bekerja? Jika tidak, jadi batallah ucapan bekerja untuk mencari pahala itu.
Pembedaan urusan duniawi dan urusan akhirat ini, menurut sang khatib, menyebabkan mencuatnya fenomena ketidakterkaitan antara ibadah dan perilaku sehari-hari. Artinya, ketika seseorang shalat sangat rajin, bahkan lengkap dengan ibadah sunnahnya, tidak selalu berarti memastikan yang bersangkutan akan terbebas dari perilaku korupsi, misalnya.
Itulah pula sebabnya seusai shalat Jumat, masih saja ada banyak sandal yang hilang, katanya.
Dari garis pemikiran Ustadz Yun itu, persoalan batas-batas antara urusan duniawi dan urusan akhirat tidak harus terpisahkan secara tajam. Ketika shalat dan puasa dikategorikan sebagai urusan akhirat, di dalamnya juga terdapat elemen-elemen kesehatan tubuh. Gerakan-gerakan shalat dapat menjadi bentuk senam yang menyehatkan. Sedangkan puasa telah dibuktikan baik bagi kesehatan lambung.
Demikian pula kegiatan-kegiatan yang tergolong duniawi. Makan, misalnya, adalah aspek tubuh yang sangat duniawi. Apabila makanan yang dimakan ternyata kurang garam, sekalipun dibacakan bismillah sepuluh kali, maka elemen kimiawi makanan itu tidak akan berubah menjadi sedikit lebih asin.
Tetapi, demikian diuraikan khatib, ketika kegiatan makan itu diawali dengan ucapan bismillah, yang berubah adalah urusan berkahnya. Dengan demikian, urusan keduniawiannya mendapatkan berkah akhirat, berupa pahala karena bersyukur.
Itu pulalah sebabnya apabila kita bekerja keras sehari-hari diniatkan sebagai mencari nafkah bagi keluarga, dalam rangka mencari rezeki yang halal, maka jatuhnya pun menjadi ibadah. Akan berbeda halnya apabila kita bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, maka tidak lebih dari hanya gaji itulah yang diperoleh. Tidak ada keberkahan dan pahala di dalamnya.
Niat yang berbeda itu yang menjadikan jembatan antara urusan duniawi dan urusan akhirat. Ketika shalat mampu menjadikan kita lebih berakhlak, maka dampak duniawinya akan terlihat berupa pribadi yang lebih bermartabat, insan baik yang terpercaya. Sedangkan urusan duniawi yang disengajakan mencari berkah, akan pula menghasilkan pahala di hari akhir.
Begitulah hakikat dari khutbah Jumat Dr. Yunahar Ilyas di Los Angeles hari ini. InsyaAllah bagi diri saya sendiri hendaknya menjadi pelajaran; dan bagi anda apabila juga ingin mengambil perbandingan.
LA, Jumat, 9/5/08
Foto display dari sini. Baca juga: