Blog EntrySEJARAH PIPET SEDOTANMay 12, '08 11:06 PM
for everyone




Kolom: Agusti Anwar

Kita barangkali cenderung berfikir bahwa "sejarah" harus selalu terkait dengan hal-hal besar. Apakah itu kepahlawanan, perjuangan kemerdekaan atau peradaban besar di masa lalu. Akan tetapi, sejarah sebetulnya dapat saja tentang segala sesuatu, seberapa penting atau tidak pun ia. Bahkan, dalam bangunan menyeluruh kehidupan manusia, sejarah yang terbanyak adalah tentang hal-hal yang biasa.


Ketika duduk membaca in-flight magazine sebuah penerbangan AS, saya membaca sebuah tulisan pendek tentang asal usul pipet sedotan. Betul, sebuah selang plastik tipis kecil yang bolong di tengah dan digunakan untuk menyedot minuman itu. Dalam bahasa Inggeris, kata yang dipakai adalah "straw" atau "drinking straw".  Nama ini kuat kaitannya dengan asal usulnya yang dari batang rumput, padi atau tumbuh-tumbuhan sejenis.

Yang menarik dari sejarah sedotan plastik adalah proses bagaimana ia menjadi bagian yang lazim dalam kehidupan kita yang lebih beradab. Batang padi, atau bahkan bambu, telah ada dari sejak zaman purba. Sejarah budaya padi, misalnya, telah bermula sejak tahun 3000 SM, ketika mulai dikenal
di India. Artinya, ini adalah sejarah yang telah demikian panjang. Tetapi, sejak kapankah sebuah medium kecil berlubang seperti batang padi diangkat kelasnya menjadi alat untuk menyedot minuman?

Kalau anda melihat film-film tentang manusia purba, barangkali akan terserempak adegan perempuan yang meniup api melalui sepotong bambu, misalnya. Dalam film-film survival, seorang tokoh yang dikejar-kejar musuh dapat saja mencebur ke dalam air dan bernafas melalui selang kecil dari rumput di sekitar. Ia bersembunyi di bawah air dan bernafas lewat sebatang rumput yang bolong.


Di kampung-kampung, petani kita barangkali akan memetik batang padi, menyilet beberapa lubang di permukaannya, lalu meniup dan memainkan sebuah musik lembut yang mengalun mendayu-dayu. Ia menjadi onang-onang bagi orang Mandailing di Sumatera, misalnya. Namun, batang padi itu tentu tidak digunakan untuk menyedot minuman dari dalam gelas atau botol.

Faktanya adalah bahwa proses peralihan sedotan dari batang rumput menjadi pipet yang berpaten dan diperjualbelikan memerlukan waktu yang demikian panjang. Sejarah sedotan yang sederhana itu adalah sejarah yang melalui waktu beribu tahun.

Konon orang-orang Sumeria yang menggunakan sedotan rumput jerami (rye-grass straw) untuk pertama kalinya ketika mereka minum bir, lima r
ibu tahun yang lalu. Karena bir yang diproduksi masih bercampur dengan sisa-sisa sampingan dalam proses fermentasinya, penggunaan sedotan jerami dapat menepis terminumnya by-product yang tidak diinginkan. Sayangnya, sedotan jerami ini sering juga menyisakan rasa rumput yang tak enak dan mengganggu di lidah.   

Namun baru di tahun 1888, seorang Marvin Stone mendapat gagasan untuk memproduksi sedotan artifisial berbahan kertas. Ia menggulung lembar kertas pada sebatang pensil dengan lem di sisi tepi, menarik
pensilnya sehingga tinggal sebuah selang kertas yang kosong di tengah. Kemudian medium itu dicelupkan ke dalam parafin agar memperkuat terhadap air. Penemuannya ini dipatenkan setahun kemudian.

Marvin yang sebelumnya telah pernah mematenkan satu dua temuan lain, mendirikan pabrik sedotan, Stone Straw Company, yang sampai sekarang masih berdiri. Ia pun semakin menyempurnakan penemuannya itu dan menciptakan mesin pembuatnya. Ia juga menetapkan bahwa panjang ideal pipet sedotan adalah 8.5 inci dengan diameter sedikit lebih kecil dari biji jeruk.* Sekarang sedotan umum
nya bukan berbahan kertas, walaupun masih ada, tetapi dari bahan plastik polypropylene atau polystyrene.  

Yang pasti, pipet sedotan langsung saja masuk dan tidak lagi dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Di tahun 1930an, Joseph B. Friedman dari San Fransisco juga menemukan variasi yang dapat ditekuk, sehingga semakin menyempurnakan sejarah pipet sedotan ini.

Sekarang ia adalah bagian yang sangat biasa dalam kehidupan kita. Ia ada di mana-mana sebagai sumbangan kecil yang membuat jus alpukat terasa lezat ketika kita nikmati. Tentu sejarahnya yang melampaui lima millenium itu segera berubah menjadi pernak-pernik perdaban manusia yang terlalu biasa. Seperti juga dulu sejarah roda, angka, kertas, plastik dan seterusnya. Lalu sekarang, seperti juga sejarah televisi, komputer atau telepon genggam yang cepat saja menjadi hal-hal rutin.

Ketika kita lihat secara lebih menyeluruh, ternyata hidup dan peradaban kita ini sering kali ditopang oleh hal-hal kecil, yang sejarahnya menjadi sangat biasa dan tidak penting. Namun hakikinya, semua yang pada akhirnya kita sebut penting pun adalah kumpulan dari satu dua atau ribuan dan jutaan hal-hal yang biasa. Akhirnya, semua akan berpulang pada bagaimana kita mau mengambil makna.

Los Angeles, 12 Mei 2008

*) Agar tidak tersedot.

Gambar display 'straw' dari Stone MD TM; mesin pembuat sedotan Lewis C. Maltby, US Patent No. 1252284 (perpendulum.com)


10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
aguswid wrote on May 13
Dlm perkembangannya ada pemikiran juga untuk membuat sedotan yang permanen (mungkin untuk rumah tangga), yakni kombinasi antara sendok dan sedotan. Ini lebih baik untuk mengurangi sampah2 plastik.
arishu wrote on May 13
Pernah lihat iklan Shell? Gara-gara melihat anaknya menyedot minuman di gelas hingga bersih, sang pakar pengeboran mendapatkan inspirasi utk membuat alat bor yg cara kerjanya mirip dgn sedotan dan mampu menyedot minyak sebanyak mungkin.

Btw si bossy nurbi sehat2 aja kan hahahahaha
lanatika wrote on May 13
Di kampung-kampung, petani kita barangkali akan memetik batang padi yang sedang, menyilet beberapa lubang di permukaannya, lalu meniup dan memainkan sebuah musik lembut yang mengalun mendayu-dayu. Ia menjadi onang-onang bagi orang Mandailing di Sumatera, misalnya. Namun, batang padi itu tentu tidak digunakan untuk menyedot minuman dari dalam gelas atau botol.
welehh..ini pernah jadi mainan aku weaktu kecil Om. malahan pake dikasih aksen2 pita sgala dari daun batang jaung, klo perlu dikasih pewarna dari biji2an taneman warna merah (klo ga salah inget, biji tumbuhan kemuning deh). :)
nadaminor wrote on May 13
Pipet sedotan memang alat bantu untuk menyedot minuman, umumnya digunakan untuk minuman dingin, tapi kadang menyedot kurang pas jika menggunakan sedotan, justru akan lebih nikmat jika disedot langsung tanpa pipet, misalnya menyedot susu, maksud saya menyedot minuman susu panas atau kopi yang panas...

kapan ngopi bareng pak....he..he...
agustianwar wrote on May 13
aguswid said
yakni kombinasi antara sendok dan sedotan. Ini lebih baik untuk mengurangi sampah2 plastik.
Bisa jadi jenis penemuan baru lagi mas; dan jangan lupa dipatenkan...he he he...salam....
agustianwar wrote on May 13
arishu said
Pernah lihat iklan Shell?
Ya, jadi lihat juga di youtube. Yang bikin 'jengkel' justru penampilan wayang kulit yang melatarbelakanginya, dengan konteks Malaysia...he he he....

(Si Nurbi---oh udah pada tahu ya....mmmm..........).
agustianwar wrote on May 13
welehh..ini pernah jadi mainan aku weaktu kecil Om. malahan pake dikasih aksen2 pita sgala dari daun batang jaung, klo perlu dikasih pewarna dari biji2an taneman warna merah (klo ga salah inget, biji tumbuhan kemuning deh). :)
Jadi bernostalgia nih ya....ha ha ha......
agustianwar wrote on May 13
Pipet sedotan memang alat bantu untuk menyedot minuman, umumnya digunakan untuk minuman dingin, tapi kadang menyedot kurang pas jika menggunakan sedotan, justru akan lebih nikmat jika disedot langsung tanpa pipet, misalnya menyedot susu, maksud saya menyedot minuman susu panas atau kopi yang panas...

kapan ngopi bareng pak....he..he...
He he he....maaf Pak, dilarang pretensius dalam soal sedotan....he he he...

@Ngopi ah.....
ianrevival wrote on May 14
gimana ya rasanya ngopi pake sedotan
agustianwar wrote on May 14
gimana ya rasanya ngopi pake sedotan
Kalau kopi panas pasti tak nikmat deh, soalnya kopi harus diseruput atau disisip baru terasa. Kalau kopi es barulah enak pakai sedotan....he hehe......
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help