Kolom: Agusti Anwar
MUMPUNG MASIH MUDA, mari coba kita duduk diam sejenak untuk merenungkan masa depan. Kata orang, back to the future. Bayangkan ketika kita telah pensiun dan banyak makan asam garam, lantas melakukan retrospeksi proses panjang perjalanan hidup kita sehingga sekarang telah tua dan ubanan, lemah dan sakit-sakitan. Apa yang kita lihat dalam proses itu? Dapatkah kita tersenyum puas karena telah menjalani kehidupan yang penuh dan bermakna, atau ternyata hanya termangu kaget karena tiba-tiba semua berlalu begitu saja? Kalau di masa depan nanti kita sangat mengharapkan adanya kesempatan kedua, itu berarti ada yang salah sepanjang proses hidup itu.
Sebagai sebuah proses, tak putus-putusnya pengalaman menyaksikan beragam tingkah laku di sekitar kita. Sadar atau tidak, sebagian besar dari kita menjalani proses hidup dengan keharusan bekerja keras, bahkan dengan waktu yang lama. Mencari hidup di Jakarta biasanya berarti menghabiskan sebagian besar waktu di kantor (ditambah waktu sekian lama untuk pergi dan pulang dalam hiruk pikuk kemacetan Jakarta) daripada di rumah. Rutinitas setiap hari adalah berangkat pagi pulang malam. Sudah klise bahwa waktu untuk anak dan isteri menjadi sedikit. Paling hebat hari Sabtu atau Minggu kita bisa bercengkerama di rumah, itu pun kalau tidak disita oleh berbagai hal lain, bahkan termasuk kerja lembur.
Keluhan seputar masalah ini sepertinya memang sudah terlampau basi. Sebagian besar orang hanya akan menjalaninya, tanpa harus perlu (atau tidak sempat?) melakukan refleksi kembali. Artinya, mereka telah mengaku kalah; sebagian bahkan sampai lupa segalanya, sehingga karier pun diberhalakan.
Bungkus manis dari kita yang terfokus pada karier adalah istilah workaholic. Kalau diterjemahkan sebagai sekedar ‘gila kerja’ barangkali akan menimbulkan konotasi negatif. Lain halnya kalau dilafalkan dalam bahasa Inggeris---workaholic. Banyak yang akhirnya menempatkan kebanggaan tersendiri dalam konteks ke-workaholic-an ini, meskipun yang dimaksudkan tidak lebih daripada sekedar memusatkan seluruh energi hidupnya untuk pekerjaan. Apabila dalam proses itu harus mengorbankan segala yang lain, mereka pun telah siap. Istilahnya, committed.
Sudah terlalu biasa kita temukan orang-orang di sekitar kita, baik atasan, kolega atau bahkan bawahan, yang telah bulat menjadikan pekerjaan sebagai esensi hidup itu sendiri. Life is work. Artinya, istilah filosofis Descartes “aku ada karena aku berfikir”, di-rephrase menjadi “aku ada karena aku bekerja”. Demi pekerjaan itu, seringkali, ibadah sebagai fitrah manusia yang sejati menjadi terlalaikan, apabila tidak terlupakan.
Pangkal tolak seperti ini telah menempatkan pekerjaan sama dan sebangun atau bahkan lebih penting daripada hidup itu sendiri. Seringkali, dalam prosesnya para pemburu karier sanggup melakukan apa saja, termasuk permainan curang dan jahat, demi mencapai puncak yang diinginkan. Adalah pengalaman yang lazim kalau kita kebetulan berada dalam ruang gerak para pemberhala karier maka pergesekan dan percikan api yang diakibatkan oleh ambisi individual sering terjadi---dalam bentuk ketidakpuasan yang berlebihan, emosi dan amarah atau bahkan perilaku bully.
Yang salah tentulah pemberian makna atau penafsiran terhadap karier itu sendiri. Pertanyaan apakah “hidup untuk makan” atau “makan untuk hidup” sama konteksnya antara hidup dan bekerja. Yang benar tentu saja bahwa bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kelangsungan hidup. Sekalipun kita yang beruntung memiliki pekerjaan yang kita senangi sehingga menjadi faktor pemberi bobot bagi kehidupan, tetap tidak berarti menyebabkan hidup perlu disetarakan, apalagi lebih direndahkan, daripada pekerjaan itu sendiri.
Sekiranya Tuhan cuma menginginkan makhluk yang bekerja, barangkali yang diciptakan-Nya cukup keledai penghela atau sekedar robot. Tetapi kita diciptakannya sebagai manusia dan itu tidak dimaksudkan-Nya sebagai sesuatu yang sia-sia. Pada hakikinya, hidup itu mempunyai makna yang jauh lebih mulia. Allah berfirman bahwa Ia menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Artinya, ketika hidup kita semata-mata bertumpu pada karier sehingga beribadah pun sampai terlupa, maka ada yang betul-betul keliru di sini, sesuatu yang menyimpang dari fitrah sebagai manusia. Padahal, kalau bekerja diseiringkan dengan ibadah, kedua-duanya dapat dicapai: dunia dan akhirat.
Itulah sebabnya, kalau kita ternyata telah terlanjur salah meletakkan priorits, maka yang perlu dilakukan adalah segera menginjak pedal rem, berbalik memutar dan kembali bergerak maju---break and redirect. Walaupun jalan yang ditempuh tetap sama, tetapi proses kita menempuhnya telah berbeda. Untuk itu, mari coba kita duduk diam sejenak untuk merenung dari masa depan, melakukan retrospeksi, agar ketika the gold and the glory dari karier telah berlalu, berujungkan pensiun, kita akan sampai pada titik yang tidak menyesali kemana perginya tahun-tahun usia itu.