
Kolom: Agusti Anwar
Sudah galibnya manusia bahwa kita suka melihat yang besar-besar dan mengabaikan hal-hal kecil. Tetapi, kalau kita lihat secara lebih teliti, seringkali hal-hal besar yang kita alami atau berlangsung di sekitar kita merupakan kumpulan dari satu dua, ratusan atau jutaan hal-hal kecil.
Tuhan bahkan menganugerahi kita demikian banyak rahmat-rahmat kecil. Dalam bahasa Inggeris, saya suka menyebutnya sebagai all those small favours yang diberikan kepada kita. Semua maklum saja kalau anugerah-anugerah kecil yang kita terima itu cenderung kita anggap sebagai hal-hal yang niscaya (taken for granted). Seringkali ia terlalu biasa, terlalu kecil, terlalu sederhana, terlalu tidak penting, sehingga berlalu begitu saja dari ingatan kita.
Namun hal-hal kecil dapat saja berupa titik pemberat yang mengawali sebuah peristiwa atau perubahan besar. Kalau meminjam istilah Malcom Gladwell, rahmat-rahmat kecil yang saya maksud dapat menjadi semacam tipping point, yang ada tidaknya ia menjadi pemicu sesuatu yang [lebih] penting.
Rahmat-rahmat kecil ini dapat membawa hal-hal indah dalam hidup kita. Ketika anda letih bekerja di kantor, demikian banyak permasalahan yang dihadapi, ada tekanan ini itu, namun ketika sampai di rumah, puteri kecil anda datang bercanda dan mencium pipi anda dengan mencuri-curi, itu adalah rahmat kecil yang dapat saja mejadi pembenteng dari sesuatu yang buruk.
Katakanlah kalau skenario yang terjadi justru lain. Anda letih bekerja di kantor, demikian banyak permasalahan yang dihadapi, ada tekanan ini itu, namun ketika sampai di rumah disambut dengan tangisan anak, isteri yang cemberut, suasana yang berantakan. Besar peluangnya anda semakin jengkel, bisa tertekan, marah. Dan katakanlah, karena kesal anda ke luar rumah, mengandari mobil, mudah panas dan dalam suasana tak nyaman itu tiba-tiba mengalami tabrakan. Rahmat-rahmat kecil dapat pula menghindarkan hal-hal buruk dalam hidup kita.
Cobalah diam sebentar, kenang hal-hal kecil yang pernah terjadi kepada kita. Misalnya, ketika sedang menyeberang jalan sambil bicara di telpon genggam, tiba-tiba anda tertarik menoleh ke sebuah gambar iklan di tembok gedung sehingga sedetik berhenti. Apa yang mungkin terjadi?
Ia akan mejadi rahmat kecil ketika ternyata terhentinya langkah anda itu mengakibatkan anda terselamatkan dari tubrukan mobil kencang yang menerobos lampu merah. Sekiranya bukan karena tertarik oleh sebuah gambar iklan sepele di tembok gedung, dengan telepon genggam di telinga kanan, anda mungkin telah terkapar di tepi trotoar karena terobosan sedan putih yang supirnya sedang lalai itu.
Bayangkan apabila ternyata supir yang menerobos lampu merah tadi adalah seorang laki-laki yang telah letih bekerja di kantor, demikian banyak permasalahan yang dihadapi, ada tekanan ini itu, namun ketika sampai di rumah semakin marah dan akhirnya keluar lagi dengan hati yang panas?
Semua rahmat-rahmat kecil itu dapat saja berupa kesempatan kedua untuk sesuatu yang lebih besar. Ketika kita terhindar dari lubang kecil di jalan, barang yang tak jadi dibeli, kemarahan yang tak jadi ditumpahkan. Ketika kita mengatakan "untung tadi sempat menginjak rem", "untung tidak sempat ditandatangani", "untung tidak sempat terjatuh", "untung kompor sempat dicek", "untung dompet ketinggalan di rumah" dan seterusnya.
Orang tua dulu suka menyebut-nyebut soal "untung" ini. Terlepas dari kesederhanaan cara penyampaiannya, ia adalah sebentuk 'local wisdom' yang perlu dimaknai secara lebih pas. Sebetulnya sering apa yang kita sebut "untung" tadi merupakan bentuk dari rahmat-rahmat kecil yang diberikan Tuhan kepada kita. Rahmat-rahmat kecil yang terasa jadi sangat biasa dan terlupakan; bahkan jadi lalai untuk kita syukuri.
Los Angeles, 14 Mei 2008