Hari Minggu, 26 Maret, saya bongkar-bongkar barang dan dus di gudang. Niat semula cuma mau mencari arsip-arsip tulisan lama, baik artikel, sajak dan cerpen, yang tersimpan di salah satu dus-dus itu. Dua tahun terakhir karena pindahan, sebagian barang hanya dipindah dari kontainer ke gudang dan belum sempat disortir dengan baik. Maklum rumah ukuran sedang dan kurang cukup ruang.
Menjelang Maghrib baru berhenti, sekitar dua puluhan buku dipindah ke rak. Di ruang belajar, buku saya yang ada saja sudah menumpuk. Di kamar tiga kali empat itu, satu sisi bertempatkan perangkat komputer, printer dan rak kertas. Di tengah sofa lipat yang bisa digelar menjadi tempat tidur. Sedangkan di dua sisi lainnya, dua rak buku panjang berjejer menempel di dua sisi dinding. Itu pun sudah berjumpal-jumpal, karena banyaknya buku.
Mula-mula saya berniat membuat sendiri sebuah rak buku besar. Maklum senang bertukang. Rencananya, cukup dengan beberapa lembar papan meranti yang dipotong dibentuk sampai ke batas loteng. Tetapi, setelah pergi ke tukang kayu, dihitung-hitung, hanya untuk papan saja plus upah potong dan serut, sudah membutuhkan Rp 720 ribu. Padahal masih perlu cat, vernis, paku, penyangga dan lainnya, termasuk waktu, itu pun harus pakai tenaga sendiri. That is too much.
Batal. Jadinya ambil cara yang lebih praktis, walaupun kurang memuaskan—beli rak buku olympic saja. Tidak optimal, memang, baik dari segi kualitas maupun ukuran. Tapi, okelah, ini karena sifatnya yang praktis, di samping bisa lebih murah.
Setelah bongkar-bongkar, juga menemukan tumpukan arsip lama, hati menjadi riang. Sampai malam, saya senyum-senyum sendiri membaca kembali sejumlah cerpen, sajak dan artikel yang dulu ditulis ketika mahasiswa atau setelahnya, masih di tahun 1990-an, yang belum sempat dipublikasi. Dari dulu saya memang suka malas urusan merepotkan mengirim naskah, baik karena harus ketik rapi dua spasi, biodata, pengeposan dan seturusnya. Lalu, itu pun membutuhkan masa menunggu yang memerlukan kesiapan mental untuk ditolak. Kesimpulan ringannya, barangkali memang saya tidak ‘berbakat’---dan, lebih parah lagi, tidak termasuk rajin.
Sisi lain yang menarik saat bongkar-bongkar itu adalah karena menemukan beberapa buku lama. Saya sampai tidak habis pikir bahwa saya punya edisi asli buku “Promises Not Kept: The Betrayal of Social Change in the Third World” (4th edition) oleh John Isbister, Kumarian Press, Connecticut, 1998. Padahal saya sudah bikin copy-nya.
Begini, saya senang buku itu karena kandungannya yang sensitif terhadap masalah pembangunan di negara berkembang, yang ditilik dari sudut kemiskinan, underdevelopment, penjajahan, pembangunan ekonomi dan politik luar negeri. Saking terkesan, di tahun 2004, saya pernah pinjam buku itu dari perpustakaan dan membuat fotocopy yang kemudian dijilid rapi persis aslinya. (Kalau untuk penggunaan studi pribadi boleh kan?) Bagian-bagian yang relevan di sana-sini telah saya baca. All this time, without even knowing that I have the original edition of the book on my own.
Lama saya pikir-pikir mengapa saya bisa sampai lupa dan jadi melakukan redundancy. Saya yakin itu pasti karena buku itu dulu saya beli di akhir tahun 2003, di toko buku Foreign Languange Book Store di Wanfujing, Beijing. Namun kemudian dipak ke dalam dus berikut sejumlah buku lainnya tanpa sempat dibaca lebih dahulu. Jadi disitulah ia berdiam cukup lama.
Ketika saya ceritakan hal ini pada teman-teman di kantor, mereka jadi tertawa. “Kalau begitu, edisi copy-annya bisa dihibahkan dong, Bang?” Semua tertawa: Tentu saja---asal mau ambil sendiri ke rumah saya di Kreo dengan prinsip first come first serve. Tak perlu kompetisi.
Sekarang tinggal menyusun ulang semua buku-buku itu. Koleksi pribadi saya mencakup buku-buku mengenai Cina, AS, Uni Eropa, ASEM, ASEAN, Politik Luar Negeri, Islam, Populer, Sastra dan beberapa kategori lainnya. Sebetulnya, lebih penting lagi, kalau semua bisa diindeks secara tertib, sehingga kejadiaan di atas tidak terulang lagi. Barangkali ada yang bisa membantu? Ha ha ha?
Jakarta, 27 Maret 2006