
(Sequel entri Bongkar-bongkar, Rak dan Buku)
Buku tampaknya masih akan tetap menjadi harta peradaban manusia yang akan terus diwariskan dan dipertahankan. Artinya, produk bacaan berbasis kertas ini masih akan tetap laku dan belum akan tergantikan.
Benar bahwa dunia internet menawarkan gagasan yang revolusioner menyangkut keterkaitan manusia secara global. We are now globally connected. Secara relatif, khasanah pengetahuan umat manusia terbesar saat ini justru tersimpan di dunia maya yang bisa diakses siapa pun secara virtual dari pelosok mana saja, bukan hanya secara fisik di perpustakaan nasional.
Sebagai turunannya, kemanjuan teknologi virtual lantas menawarkan konsep ‘paperless’. Namun tingkat penggunaannya ternyata tidak terlalu revolusioner. Ketika sesuatu temuan baru sering mengubah orang untuk memberontak terhadap status quo, dalam hal buku sebagian besar pembaca ternyata tetap bersikap konservatif dan merasa lebih nyaman dengan format cetak, termasuk buku. Itulah sebabnya mengapa konsep e-book pun ternyata lebih bersifat sebagai pelengkap (komplementer) daripada pengganti (subtitusi).
Ketika penulis laris novel-novel horor Stephen King meluncurkan karya e-book ekslusifnya, Riding the Bullet, mula-mula memang ada euforia, tetapi hanya sesaat dan tidak seperti yang dibayangkan. E-book keduanya, the Plant, juga begitu. Karya-karya King yang tebal-tebal itu tetap lebih digemari dalam bentuk cetak a la paperback, daripada format virtual yang paperless. Lebih dari 30an novel King lainnya menjadi best-seller dalam bentuk buku, karena para pembaca tetap lebih menikmati halaman-halaman cetak yang ringkas, yang dapat dicicil membacanya di kala senggang.
Bagi masyarakat penggemar buku, esensi fisik sebuah buku diringkas ke dalam dua konteks. Pertama, sebagai sumber ilmu; dan, kedua, kegembiraan memilikinya---sebagai kolektor. Seorang penggemar baca dapat saja puas dengan meminjam dari perpustakaan atau teman, membacanya dan mengembalikannya. Bagi penggemar buku, membaca adalah bagian yang inheren; sedangkan memilikinya membuat jaminan ilmu itu lebih abadi. Lebih dari itu, koleksi penggemar buku idealnya juga dapat berfungsi sebagai perpustakaan.
Masalah paling serius bagi penggemar buku adalah keterbatasan daya beli. Buku merupakan produk yang cepat menyerap dana. Buku-buku lokal di tanah air pun umumnya cukup mahal, apalagi buku-buku asing. Untungnya sejak era reformasi ini, berlawanan dengan fakta krisis ekonomi, produk-produk buku melonjak pesat. Karya-karya terjemahan buku asing yang berkualitas juga banyak diterbitkan, dengan hasil alihbahasa yang sudah baik.
Memang bagi banyak penggemar buku, memiliki edisi asli terasa lebih bernilai. Membaca buku dalam bahasa penulisnya akan menangkal fenomena lost in translation, karena perbedaan dengan karya terjemahan sering sangat terasa.
Sudah galibnya juga bagi penggemar buku bahwa soal baru tidaknya buku itu tidak menjadi garis pemisah yang bermakna. Buku dilihat lebih pada kualitas kandungannya. Sebuah buku baru dengan disain tata letak yang indah bisa saja tidak diinginkan karena kandungannya yang bersifat trivia atau di luar bidang yang diminati. Sedangkan sebuah buku lama yang sudah lusuh dan tidak diterbitkan lagi dicari ke mana-mana.
Di banyak negara Barat di Eropa, Amerika atau Australia, bahkan juga di RRC, terdapat toko-toko buku yang sekaligus menyediakan baik buku baru (yang belum dipakai) maupun buku bekas (used book). Ini merupakan ‘treat’ bagi penggemar buku. Kalau di tanah air, penjualan buku bekas bukanlah domain toko buku besar. Lebih parah lagi, seringkali toko buku besar terkesan bersikap ‘arogan’ karena buku-buku yang dipajang dibungkus plastik tanpa adanya buku contoh (sample). Akibatnya, pembeli dipaksa menebak isi buku dan memutuskan untuk membeli atau tidak hanya dengan melihat cover depan dan belakang.
Bagi masyarakat penggemar, pasar buku tradisional, termasuk buku bekas, misalnya, seperti di Kwitang atau Senen di Jakarta, Soping atau Palasari di Yogyakarta dan Bandung, adalah tempat yang biasa diakrabi. Dari pengalaman, kunjungan reguler ke Kwitang sering terasa sangat memuaskan, karena menemukan buku ini atau itu dan dengan harga yang miring.
Beberapa teman, misalnya, senang berhubungan dengan penjual buku langka yang berlokasi di Taman Mini. Untuk sebuah buku lama The Laughing Diplomats yang dicetak awal 1920-an, misalnya, dibeli sekitar Rp. 150 ribu-an. Untuk kita itu mahal, meskipun bagi orang Barat yang berpendapatan tinggi $15 itu biasa saja. Bayangkan berapa harganya kalau itu buku edisi pertama (first edition) yang sering diburu para kolektor.
Bagi saya berburu sendiri ke pusat-pusat buku bekas itu yang lebih menyenangkan. Jika generasi sekarang melakukan window shopping ke berbagai mall, para penggemar buku lebih merasa nyaman berpanas-panas, kalau perlu berjongkok, menyisir buku-buku lama yang sebagain sudah sangat kuning dan meriapkan debu.
Dari pengalaman, sekali waktu, saya menemukan bukunya Robert L. Heilbroner, “The Making of Economic Society” 6th Edition, yang diterbitkan Prentice Hall, New Jersey, tahun 1980 di pojokan jalan Kramat Raya. Buku ini monumental bagi mereka yang menggeluti atau terkait dengan kajian hubungan internasional atau politik ekonomi internasional. Di lain waktu di tempat yang berbeda, saya menemukan edisi “The New Shape of World Politics: Contending Paradigms in International Relations” terbitan Foreign Affairs, New York, 1999, yang didalamnya dimuat tulisan Fukuyama, Huntington, Fareed Zakaria, Joseph Nye, Mearshemier, Fouad Ajami, Krugman dan lainnya.
Seluruhnya saya beli dengan harga yang sangat miring. Sebabnya tentu saja karena bagi si penjual itu sekedar barang dagangan buku bekas yang biasa saja, sedangkan bagi saya buku-buku itu sangat bernilai. Masya Allah, bagi saya itu seperti mendapatkan harta karun.
Jakarta, 31 Maret 2006
Gambar dari www.anothersubcontinent.com