Kolom: Agusti Anwar
Mohon perhatian: “Menulis bukanlah perkara mudah”.
Ini bukan kalimat yang menyenangkan dan dapat dijadikan kutipan untuk dimuat sebuah book of famous quotes. Yang dijadikan kutipan biasanya adalah ekspresi yang sifatnya persuasif dan memberikan dorongan. Sederetan panjang buku kiat menulis selalu mengangkat materi yang menekankan bahwa menulis justru mudah. Seperti biasanya, tentu saja dengan seribu satu prasyarat.
Ini bukan untuk menakut-nakuti para calon penulis. Faktanya, sebagian besar para penulis, termasuk yang berkaliber besar, mengalami kesulitan dan kegelisahan (anxiety) yang luar biasa ketika akan menuangkan kata-katanya.
Diyakini bahwa ada jutaan para calon penulis yang berguguran bagai laron di terang lampu. Hanya sedikit orang persisten yang akhirnya berhasil, dan lebih sedikit lagi yang sukses bertahan hidup karena menulis.
Karakter yang paling membuat gundah banyak calon penulis tentulah ada tidaknya bakat (talent). Tentu saja bakat atau talenta tidak sehebat yang dibayangkan; dengan kata lain cenderung overrated. Kata Jessamyn West, "Talent is helpful in writing, but guts are absolutely essential”. Sebab, orang berbakat tanpa persistensi hanya menjadi penulis yang tidak produktif.
Persistensi itu adalah guts atau kemauan keras. Semua penulis yang berkarya adalah yang berhasil menjinakkan kegelisahan inspirasinya dan lalu menulis. Kata orang, kalimat pertama sering kali merupakan yang tersulit.
Sebagai makhluk psikologis yang membutuhkan pemacu eksternal, berbagai cara ditempuh untuk merangsang inspirasi itu. Sejumlah pengarang fiksi dan non-fiksi punya kiat, bahkan ‘ritual’, yang beragam. Arswendo Atmowiloto, katanya, suka melakukan perjalanan untuk merangsang inspirasi. Pengarang Robohnya Surau Kami, almarhum A.A. Navis, duduk berjongkok berlama-lama di kamar kecil. Tentu saja banyak sekali yang merokok tak putus-putus, jalan berkeliling, termenung sendiri. Ada yang minum kopi, teh, alkohol, bahkan mencium bau apel. Anything, as long as it works.
Zaman sekarang, karya-karya tulis bagus sering pula dihasilkan melalui metode kerja kolektif. Seorang Naisbitt, Toffler, Karen Armstong bahkan juga Stephen King, punya tim riset yang berada di belakang layar. Artinya, si penulis mempunyai ide, timnya mengumpulkan dan menyortir materi. Konon kabarnya, beberapa bahkan telah dituliskan dulu oleh tim suksesnya, para penulis bayangan (ghost writer), sedangkan si penulis sebenarnya lebih berperan sebagai konseptor, atau, paling tidak, editor.
Dulu, saya pernah terkagum-kagum terhadap seorang penulis yang setiap hari menurunkan satu dua artikel yang padat data dan analisa, bahkan dengan tema yang berlainan. Belakangan saya tahu ia mempunyai tiga orang sekretaris yang mampu bekerja keras. Sekarang, setiap menemukan penulis yang produktif, apalagi kalau hasil karyanya (khususnya buku) sangat padat dan bermutu, saya jadi cenderung berprasangka menebak-nebak siapa tim kreatifnya.
Saya tidak tahu pasti bagaimana Jared Diamond, misalnya, mengumpul, menyortir dan mengolah materi tulisannya, namun ia tergolong produktif untuk bidang yang sangat spesifik dan serius seperti “sejarah kemanusiaan”. Buku-buku Diamond yang mengkombinasi ketajaman pengetahuan linguistik, genetika, perilaku hewan, biologi molekular dan sebagainya, adalah produk bestseller yang juga memenangkan hadiah buku non-fiksi, termasuk Pulitzer. Buku barunya “Collapse: How Societies Choose to Fail or Survive” yang diterbitkan Penguin Book tahun 2006 ini kembali meraih rekor the no.1 international bestseller. Seperti dicatat Penguin Books, demikian fenomenalnya Diamond sampai-sampai nama “Jared Diamond” diduga sebagai sebuah penisbatan samaran yang dipakai sebuah komite para pakar yang menulis secara kolektif di bawah satu nama.
Fenomena ghost writer juga telah marak di tanah air. Kalau itu menyangkut draft pidato menteri atau presiden, dapat dimaklumi bahwa sebuah tim telah bekerja keras mengkonsepnya terlebih dahulu. Bagaimanapun, pidato pimpinan negara adalah kebijakan kolektif pemerintah. Tentu akan lain halnya apabila yang ditulis itu dikategorikan sebagai opini pribadi.
Fenomana yang dimaksud di sini adalah atas nama pribadi. Kalau sekedar untuk makalah semesteran atau skripsi mahasiswa, sudah biasa didengar, lengkap dengan semangat keplagiatannya yang mengerikan. Tapi ini untuk kepentingan yang lebih serius dengan target yang lebih tinggi.
Matematikanya sederhana: Anda tidak punya waktu menulis (eufimisme---bisa dibaca sebagai ‘tidak mampu’), tetapi anda punya uang dan ingin populer dengan karya intelektual di media massa, maka tinggal menghubungi tim sukses ini. Kalau tidak salah, dengan tarif sekitar Rp. 20 jutaan, maka sebuah menu layanan dapat diperoleh, yakni jaminan pemuatan beberapa tulisan di media massa besar atas nama anda, satu dua buku dituliskan untuk siap cetak, dan beberapa kali slot wawancara di televisi. Ini cara instan untuk menjadi populer dan dianggap pakar melalui jasa tim sukses, apalagi kalau sudah punya target politis atau posisi yang ingin dicapai.
Sekali lagi, mohon perhatian: “Menulis bukanlah perkara mudah”. Atau, barangkali perlu sedikit direvisi dengan menggantikan huruf d menjadi r: menulis bukanlah perkara murah. Bisa jadi menulis pun merupakan kemewahan.
Jakarta, 31 Maret 2006