(Sequel Menyikapi Buku dan Bongkar-bongkar, Rak dan Buku)
Kok tidak membaca novel lagi?
Susah menjawab pertanyaan seperti ini. Tetapi, kenyataannya, saya sudah cukup lama tidak membaca novel. Baiklah, dalam sepuluh tahun terakhir, saya hanya membaca satu novel saja---The Da Vinci Code oleh Dan Brown. Selain itu, rasanya, tidak ada. Paling tidak, tidak ada yang tuntas---hanya lompatan sangat cepat halaman kulit depan dan belakang, dua paragraf pertama dan, cukup.
Padahal sekarang banyak sekali terbit novel baru, yang menurut sementara resensi cukup bagus dan buah karya penulis negeri sendiri. Selintas di toko buku saya menilik-nilik novel “Maling Republik” itu. Tetapi kemudian bertanya sendiri, seperti juga dipertanyakan orang lain, kok bukan republik maling judulnya. Dan, akhirnya, saya tetap tidak tertarik.
Saya tahu bahwa di era reformasi ini, ketika krisis ekonomi menekan rakyat, industri perbukuan justru meningkat. Ini termasuk karya-karya fiksi. Beberapa pemerhati bahkan asyik mengkaji kebangkitan sastra Islami di Indonesia, termasuk untuk konsumsi kaum muda. Ternyata, maaf karena baru tahu, sejumlah penulisnya justru warga teras di komunitas blog kita atau berada di sekitar kita. Saya baca dalam postingan, satu dua juga dalam status siap cetak. Selamat dan luar biasa.
Dulu, waktu mahasiswa, saya penggemar berat segala bentuk karya sastra. Karya besar orisinal dari Brave New World-nya Aldous Huxley, Madame Bovary-nya Gustave Flaubert dan banyak lagi sampai Metamorphosis-nya Kafka, tuntas dilahap. Pokoknya semua buku asing yang dimiliki Perpustakaan Daerah Pekanbaru, di samping dua tiga yang saya koleksi sendiri. Sebuah karya terjemahan setebal 5-600 halaman yang judulnya saya lupa, tamat hanya dalam beberapa waktu. Tentu saja kalau serial Kho Ping Hoo masuk hitungan, berjilid-jilid jumlahnya yang dikunyah, sampai-sampai rasanya ilmu ginkang yang dimiliki sudah sangat mumpuni. Saking senangnya dengan karya-karya Hamka, misalnya, novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” ditamatkan tiga kali.
Sejak awal saya (adik-adik dan orang tua) penggemar buku dan senang mengkoleksi buku, satu demi satu. Saya tidak pernah terlalu risau soal pakaian atau tetek bengek lainnya. Tetapi setiap kali kumpulan cerpen atau buku puisi masuk etalase toko buku, jarang saya tidak ikut membelinya. Memang kalau soal mengkoleksi, saya tidak pernah memberi prioritas pada karya-karya novel, kecuali yang betul-betul kelas satu seperti karyanya Y.B. Mangunwijaya atau Ahmad Tohari dan beberapa sastrawan lainnya. Karya-karya bagus terjemahan dari luar biasanya juga dikoleksi, sebisa mungkin. Namun dibandingkan kumpulan cerpen, koleksi novel (dan kemudian membacanya) memang lebih sedikit.
Barangkali baru sampai 1997-an ketika studi di Brisbane, Australia terakhir kali karya-karya panjang yang penting lainnya saya sempat tuntas baca. Itu pun beberapa bukunya Pramudya yang memang dilarang di tanah air di era Pak Harto tetapi lengkap tersedia di perpustakaan kampus di negeri kangguru. Setelah itu, mm, ada satu dua lainnya, tapi itu pun karena ikut proyek penerjemahan novel asing, bukan by choice. Lalu, ya, Da Vinci Code itu.
Barangkali pertanyaannya sekarang, kok sampai baca novelnya Dan Brown tesebut?
Jawaban untuk pertanyaan ini mungkin juga lumayan embarassing. Bulan Mei 2005, karena mendampingi bos dalam rangka dinas, singgah transit di Changi sebelum terbang ke Kyoto via Bangkok, terjadilah bincang-bincang umum. Kebetulan kedua atasan tersebut penggemar berat buku. Singgung sana bahas sini, setelah mengulas buku Kishore Mahbubani yang paling baru, Beyond the Age of Innocence, sampailah ke novelnya Dan Brown itu. Well, saya belum baca, jadi tidak begitu tahu. Yang jelas, senior saya yang eselon satu itu saja telah membacanya, termasuk buku yang mengkomentari Da Vinci Code itu sendiri. Ini rekomendasi yang tidak mungkin diabaikan, apalagi ternyata kalangan gereja ikut bereaksi keras.
Lebih parah lagi, di pesawat, satu dua penumpang lain, bule atau bukan, juga asyik membaca novel yang sama. God, I got to read that one. Saat singgah, saya sempatkan mencari buku itu sebentar, edisi paperback-nya, juga bukunya Kishore, dan uff saya mulai baca. Karena sibuk, saya baru bisa tamatkan beberapa hari kemudian---very slow. Dan memang buku itu menarik. Data yang dikemukakannya bukan barang baru bagi saya, tetapi ketika disuguhkan dengan cicilan plot fiksi yang dramatis khas sebuah novel, ia jadi mempunyai daya tarik tersendiri. Memang saya tidak begitu puas dengan ending-nya, karena plot yang telah dibangun mencapai klimaks ditamatkan hanya begitu saja. Menurut saya, akhir cerita dibuat seolah-olah ketika Brown telah kehabisan energi atau terlalu ditekan oleh editor karena tenggat kontrak penerbitan.
Jadi itulah novel terakhir yang tamat saya baca dalam, mm, kurang lebih satu dekade terakhir. Tertarik untuk melanjutkan dengan Angels and Demons? Mm, saya masih punya daftar tunggu untuk dibaca, entah kapan, beberapa buku klasik kelas satu lainnya, novel maupun cerpen, yang telah sejak lama nongkrong di rak: War and Peace-nya Tolstoy, koleksi Chekov, Hemingway, Mauppasant, Thoreau, Edgar Allan Poe, bahkan juga dari David Forsyth. The Scholars-nya Wu Ching Tzu yang 600-an halaman, atau the Three Kingdoms dan sebagainya, berada pada urutan lainnya. Pater Pancali-nya Banerji atau bahkan, Black House-nya Stephen King dan Peter Straub, hanya menambah panjang daftar tunggu itu, plus lain-lainnya. Karena terpesona trilogi Lord of the Ring, novel tebal Tolkien juga saya koleksi dan telah membaca sekilas beberapa halaman awalnya tentang the Hobbits. Saya terpesona dan sangat yakin bahwa fiksi tertulisnya akan jauh lebih seru daripada kegalaan filmnya. Malangnya, saya juga kok yakin tidak akan pernah sempat membacanya dengan tuntas.
Lantas, mengapa saya tidak membaca novel lagi? Apakah karena saya tidak punya waktu atau memang sudah semakin tua? Malangnya alasan usia sepertinya tidak akan memuaskan, karena atasan saya yang jauh lebih sibuk, senior dan masak asam garam malah sempat membaca Da Vinci Code. Atau, mungkinkah itu karena ada perasaan bahwa realitas kehidupan bangsa sehari-hari terasa sudah jauh lebih dramatis dari plot panjang karya fiksi itu sendiri?
Atau, barangkali anda justru yang lebih tahu?
Jakarta, 4 April 2006
(Tech revised on 7 April 2006)