
Kolom: Agusti Anwar
Sejak kecil, semua kita terbiasa dengan figur pahlawan---para superhero. Mereka adalah para penegak kebenaran, yang berjuang membela rakyat yang ditindas, para korban kesemena-menaan. Mereka muncul tiba-tiba di saat kritis dan langsung pasang badan, adu jotos dengan kawanan bandit dan begundal.
Para pahlawan ini adalah figur-figur mulia yang bertindak tanpa pamrih, tanpa kenal lelah, hanya untuk menciptakan suatu kehidupan masyarakat sehari-hari yang lebih aman. Mereka kerap menjalani kehidupan ganda sebagai sosok orang biasa dalam kesehariannya, tetapi begitu ada peristiwa kriminal atau bencana yang memerlukan tenaga mereka, tiba-tiba saja dari sebuah sudut atau apa, mereka muncul dengan gemilang, langsung memburu ke tempat kejadian peristiwa. Di balik kostum supernya, mereka menjadi pahlawan yang penuh rerahasia. Begitu dramatisnya.
Semua bangsa mempunyai figur para pahlawan masing-masing. Fenomena globlalisasi memang membuat semua anak dari berbagai penjuru dunia mengenal Superman, Spiderman, Batman, Fantastic Four, Daredevil, Hulk, kelompok X-Men dan seterusnya. Semua nama yang baru saja diurut telah dituangkan ke layar lebar lengkap dengan special effect yang menakjubkan, sedangkan yang belum masih amat banyak. Sejak Jerry Siegel dan juru gambar Joe Shuster memperkenalkan Superman di tahun 1930an, industri action comics terus berkibar memunculkan berbagai tokoh baru. Jutaan kopi komik-komik manusia super itu dicetak setiap bulannya dan habis disedot oleh pasar.
Memang genre komik pahlawan yang dikembangkan Amerika dan menyebar ke seluruh dunia merupakan yang paling dramatis. Jika di Eropa, figur pahlawan memunculkan Tintin, Asterix dan lainnya, para jagoan dari daratan Amerika justru tampil lebih luar biasa. Selain para jago tembak seperti Dick Tracy, figur jagoan yang mengandung misteri justru memberikan pesona tersendiri. Setelah Superman dan lainnya, masih ada Captain America, Flash, Wonder Woman, Human Torch dan banyak lagi. Berbagai tokoh baru muncul lebih belakangan, baik yang dicuatkan oleh sindikasi Marvel Comics yang dikomandani Stan Lee atau sindikasi yang lain.
Tentu saja para manusia super itu juga mendorong lahirnya berbagai jagoan lokal. Di tanah air, antara lain ada Gundala (Putera Petir), Godam, Laba-laba Merah dan Bantala. Tidak seramai kreasi Marvel memang, tetapi cukup lumayan. Mereka muncul memperkaya khasanah pahlawan tradisional a la pewayangan seperti Gatotkaca atau Hanoman. Di RRC, Monkey King merupakan primadona. Entah berapa banyak lagi di negara-negara lainnya. Belakangan ini, seorang komikus berdarah Arab yang besar di Amerika juga diberitakan akan memunculkan action hero yang bernuansa Islami karena kekuatannya bersumberkan Asmaul Husna.
Yang unik adalah bahwa kita selalu membutuhkan manusia-manusia luar biasa itu, yang bertindak tanpa perhitungan untung rugi. Mereka para ikon yang menjunjung kebaikan di tengah-tengah keputusasaan dan kekeringan harapan. Ketika kita tertindas dan teraniaya, mereka bersegera menolong dan mengangkat kita dari nestapa dan tragedi yang disebabkan kekuatan-kekuatan gelap, penindas dan jahat.
Khasanah filsafat maupun ilmu psikologi memang juga menyentuh ruang kesuperan yang sarat konsepsi ideal ini. Friederich Willem Nietzsche menyebut-nyebut tentang Ubermansch---'overman' atau superman. Menurut Nietzsche figur luar biasa itu diperlukan untuk merekonstruksi dengan caranya yang heroik dunia yang tidak bernilai dan penuh paradoks ini. Dalam konteks yang agak berlainan, kita juga mengenal mengenai insan kamil, seorang makhluk sempurna.
Tentu dapat diduga bahwa kedambaan kita atas figur pahlawan atau sosok luar biasa dalam kehidupan nyata merupakan refleksi besarnya jurang antara harapan dan kenyataan. Mereka selalu muncul dan kita dambakan sebagai realitas alternatif yang lebih manusiawi. Mereka memang bukan ahli ekonomi makro yang lihai menyiasati kemiskinan rakyat sebagai ekspresi ketertindasan yang subtil. Para super heroes tampil ketika kriminal dan kejahatan mengangkara murka dan kehadiran mereka adalah untuk menyelesaikan permasalahan ketertindasan dalam bentuknya yang paling kasar.
Dalam dunia nyata yang dijalani rakyat sehari-hari, segala bentuk kepahlawanan sangat dibutuhkan, baik yang terkategori biasa apalagi yang super. Memang karena hidup kita tidak di lembaran kertas komik yang dramatis, semestinya para super hero kita tidak lain dan tidak bukan adalah para pemimpin kita: Presiden, Gubernur, Bupati, Camat sampai RT, semua para pemuka itu, yang semestinya dengan lantang menabuh genderang pembelaan rakyat.
Bayangkan kalau dalam pengabdian itu, mereka pun setiap waktu dapat tiba-tiba muncul secara dramatis dalam selubung kostum penuh rahasia untuk menyelamatkan kita dari penderitaan dan ketertindasan dalam berbagai bentuknya yang kasar, tanpa kalkulasi politik yang penuh pamrih.
Jakarta, 12 April 2006
Bertaut ucapan terima kasih atas ilustrasi 'Gundala' yang inspiratif oleh Denny Baonk.
Kalau iseng ingin tahu anda superhero jenis yang mana, klik ke Which Superhero Are You?