Kolom: Agusti Anwar
Mungkinkah di abad kita ini akan muncul negara muslim yang berkemampuan adidaya (superpower)?
Sepanjang sejarah, peradaban global selalu diarahkan dan dipengaruhi oleh negara-negara yang kuat. Di era modern ini, peradaban global tidak bersifat parsial atau regional, melainkan mencakup dan merasuki seluruh pelosok masyarakat dunia tanpa terkecuali.
Agar Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dapat dimaknai, maka dengan sendirinya negara-negara muslim perlu menjadi kuat, bahkan perlu menjadi adikuasa. Tetapi, mungkinkah muncul negara muslim yang seperti itu?
Sebelum itu, mari kita telusur seluk-beluknya secara generik dan sangat sederhana. Negara superpower adalah negara yang “tergolong ranking teratas dalam sistem internasional dan memiliki kemampuan memproyeksikan kekuatan dalam skala global”. Ia adalah negara yang mempunyai keunggulan dalam hal kapasitas ekonomi, teknologi, politik dan pertahanan keamanan. Kombinasi dari keseluruhan kapasitas ini yang akan menjadikan negara tersebut sangat kuat.
Kekuatan militer akan membuat sebuah negara menjadi penting, karena memiliki kemampuan defensif dan agresif yang diperhitungkan. Akan tetapi untuk mendapatkan semua itu memerlukan kapasitas ekonomi yang tidak tanggung-tanggung.
Karena kehidupan bernegara mensyaratkan ketahanan ekonomi agar ia dapat berjalan baik dan didukung rakyat, maka karakter terpenting bagi eksistensi negara adalah kemampuannya dalam menghidupi dan mensejahterakan rakyat.
Dalam era pascamodern sekarang, kemampuan ekonomi baru akan dapat berkesinambungan (sustainable) apabila difasilitasi oleh penguasaan teknologi. Tanpa teknologi, sebuah negara dapat saja menjadi kaya karena kelebihan sumber daya alam (natural resources), namun kekayaan demikian memiliki batas-batasnya.
Negara yang kaya bahan baku tanpa dapat mengolahnya sebagai produk bernilai tambah (added value) semata-mata akan berperan sebagai penyedia (supplier) bagi pemilik teknologi. Tanpa kekayaan alam pun, pemilik teknologi dapat menjadi lebih kaya dengan mengolah bahan baku yang diimpor.
Jika sebuah negara memiliki kapasitas yang unggul di bidang ekonomi dan teknologi, maka secara global pengaruh politiknya akan meningkat. Politik jelas merupakan arena yang memerlukan kemampuan uang agar dapat berpengaruh. Negara miskin yang ingin berengaruh dalam politik global hanyalah utopia.
Kemampuan ekonomi dan teknologi akan mendukung kemampuan militer. Sebabnya, tidak lain, karena keunggulan militer memerlukan dana yang besar. Untuk tetap unggul dibutuhkan kemandirian teknologi persenjataan sendiri. Ketergantungan dengan pihak lain, apalagi secara berlebihan, tidak akan menjamin keunggulan militer. Pada zaman sekarang ini, kemampuan militer ditingkat puncak adalah dengan memiliki kemampuan nuklir.
Dari sudut pandang teori realis, ketahanan militer adalah alat penjamin agar pengaruh politik globalnya terjamin. Kombinasi komponen ekonomi, teknologi dan militer merupakan hard power yang secara otomatis menempatkan negara bersangkutan pada tingkatan negara besar (major power) yang berpengaruh dalam tatanan internasional. Apabila di antara sesama negara besar itu ia adalah yang teratas, maka ia merupakan negara adidaya.
Mungkinkah ada negara muslim yang berstatus superpower? Jika status itu diperlukan dalam abad ini, maka jawabannya jelas tidak. Sebabnya, tidak lain, karena dari sekitar 60-an negara-negara muslim di dunia, mayoritas adalah negara berkembang kalau bukan negara miskin. Banyak dari pemerintahannya pun terkategori korup atau otoriter, sehingga proses keluar dari lingkaran setan kemiskinan berlangsung sangat lambat kalau tidak gagal dan gagal lagi.
Beberapa negara di Timur Tengah memang tergolong negara kaya, tetapi kekayaan mereka hanyalah berbasiskan sumber daya alam seperti minyak bumi dan gas. Faktanya, dunia sekarang ini sedang diambang habisnya persediaan minyak bumi itu. Tidak akan lama datangnya waktu bahwa negara-negara yang kaya minyak itu akan jatuh miskin, apabila sumber ekonomi alternatif tidak disiapkan jauh-jauh hari.
Dari analisis generik yang sesederhana ini saja, peluang ke arah munculnya negara muslim yang kuat masih sangat jauh dari harapan. Kita yakin bahwa Islam adlah rahmat bagi seluruh alam. Akan tetapi, alih-alih ini dapat kita katakan kepada dunia global, kenyataannya umat Islam bahkan gagal mengamininya dalam dunia Islam sendiri.
Sebabnya, seperti sangat sering dilontarkan Mahatir Mohammad, karena lemahnya ukhuwah umat. Yang miskin tetap miskin; yang kaya asyik sendiri. Yang ditonjolkan adalah perbedaan; ikatan persaudaraan dilupakan. Itu pulalah sebabnya maka mengharapkan munculnya negara muslim superpower sekarang ini masih sekedar mimpi.
Jakarta, 4 mei 2006