Mula-mula saya tidak tahu soal RSI---repetitive strain injury. Lebih parah lagi, bahkan boleh dikatakan saya tidak begitu mau tahu. Siapa mengira bahwa seringnya menggunakan mouse untuk mengklik halaman di komputer, dapat menimbulkan masalah yang mengganggu.
Di zaman modern ini, penggunaan komputer dalam pekerjaan dan kegiatan lainnya sudah merupakan hal yang galib belaka. Saya sudah menggunakan komputer belasan tahun lamanya, namun tidak mengalami masalah yang berarti, termasuk karena penggunaan mouse.
Saking terbiasanya bekerja langsung dengan komputer, saya selalu merasa janggal mengkonsep sesuatu melalui tulisan tangan, apalagi panjang. Hanya dalam menulis sajak atau membubuhkan tanda tangan saya merasa perlu menggunakan pena. Dalam melakukan koreksi teks pekerjaan junior di kantor pun, saya lebih senang langsung di layar komputer. Tentu saja, ini bahkan lebih praktis dan hemat waktu.
Jujur saja, saya dulu suka menyoal seorang staf yang menggunakan laptop tanpa mouse. Semua fungsi mouse yang sangat praktis dijalankan dengan cara manual. Bagi saya, hal itu memperlambat.
Belakangan ini barulah saya merasakan gangguan langsung karena penggunaan mouse. Sebagai perangkat penunjuk (pointing device), mouse yang ditemukan Douglas Engelbrat di tahun 1963 ini dapat menimbulkan gangguan atau cedera fisik karena penggunaan yang repetitive---terus menerus atau berulang-ulang.
Gangguan fisik yang dirasakan bukan karena radiasi elektromagnetik atau yang disebabkan oleh substansi luar lainnya, melainkan justru karena frekwensi penggunaan yang terus-menerus. Repetitive strain injury ini juga dikenal sebagai occupational overuse syndrome. Dikatakan demikian karena cedera yang ditimbulkan biasanya terkait dengan jenis pekerjaan.
Sama seperti kegiatan olah raga yang dapat menimbulkan cedera otot atau tulang karena penggunaan bagian tubuh secara berlebihan, pekerjaan yang menggunakan suatu bagian tubuh secara terus-menerus dan berlebihan dapat mengakibatkan cedera (stress). Para buruh pabrik perakitan, misalnya, cukup rentan terhadap RSI ini. Ternyata, bekerja di kantor pun, karena penggunaan mouse yang intensif juga dapat menimbulkan cedera lapisan tissue atau urat (tendon) tubuh yang berujung pada inflamasi.
Dikatakan bahwa RSI memang bukan suatu jenis penyakit klinis melainkan kondisi cedera atau disorder yang dapat mengganggu. Ada berbagai jenis RSI seperti Carpal tunnel syndrome, DeQuervain's syndrome, Intersection syndrome, Reflex sympathetic dystrophy syndrome (RSDS), Stenosing tenosynovitis, Tendonitis, Tenosynovitis, Thoracic outlet syndrome, Trigger finger/thumb dan Ulnar nerve entrapment.
Yang saya alami adalah gangguan pada ujung jari telunjuk (trigger fingger) yang terasa mengalami peradangan dan sedikit membengkak. Setiap kali mengklik mouse atau menekan tuts keyboard terasa nyeri, apalagi kalau dipaksakan terus untuk waktu yang relatif lama. Akibatnya, saya jadi enggan menggunakan komputer, kecuali untuk yang sangat perlu, sambil memberi waktu rehat bagi jari untuk kembali pulih. Selain itu, juga dipijat dan dioles balsem.
Tidak disangka bahwa kondisi stres jari telunjuk ini dapat berlarut-larut. Sudah hampir sebulan berlalu, rasa nyeri itu belum hilang secara permanen. Klise atau tidak, rasa nyeri itu juga menjadi faktor penyangkal (repellent factor) yang membuat hati jadi enggan berlama-lama di depan komputer.
Padahal, untuk menulis, ketergantungan saya pada word processor komputer sudah seperti mutlak. Dari pengalaman ini, perlunya mencari dan menggunakan mouse yang lebih aman dan ramah pengguna tampaknya merupakan keharusan.
Bagaimana pengalaman anda?