Kolom: Agusti Anwar
Sekali waktu seorang ustadz dalam ceramahnya mensinyalir adanya kebiasaan umat Islam yang menawar atau meringankan akidah demi kepentingan muamalah. Maksudnya, seseorang kadang terperangkap dilema antara memelihara hubungan horisontal sesama manusia sehingga terpeleset mengorbankan aspek akidahnya. Secara lebih gamblang, karena ingin bermanis mulut dengan umat agama lain, agama sendiri disepele-sepelekan.
Dari kacamata ustadz di atas, peristiwa Gus Dur yang menyatakan bahwa “Kitab suci paling porno di dunia adalah Al Quran…”, termasuk dalam situasi demikian---mengutamakan muamalah di atas akidah.
Gus Dur yang kyai haji dan dikenal open-minded telah mempercandakan ekspresi perujukan kitab suci Al Quran itu. Sampai saat ini, sebagai kyai barangkali hanya Gus Dur-lah satu-satunya yang telah beringan kata meremehkan kitab sucinya sendiri.
Tuduhan bahwa Gus Dur melakukan penghinaan itu jelas sudah diketahui luas. Kecaman datang dari berbagai penjuru. Hartono Ahmad Jaiz bahkan menulis sebuah buku khusus tentang itu: “Gus Dur Menghina Al-Quran” yang diterbitkan bulan Mei 2006 lalu.
Teks wawancara pada mulanya di-upload di situs JIL. Kalau pun orang akan gagal mencari teks wawancara Gus Dur yang dimuat situs Jaringan Islam Liberal karena telah dihapus, dalam buku Hartono itu, verbatim wawancara dimuat lengkap. Termasuk ketawa lepas a la “begitu saja kok repot”-nya Gus Dur.
Saya tidak akan menanggapi mengenai penghinaan oleh Gus Dur itu, tetapi lebih soal karakternya yang senang kontroversi. Sudah sejak sangat lama Gus Dur terkenal nyleneh (khariqul ‘adah) dengan ungkapan yang tembak langsung, lugas apa adanya. Ia gemar melucu, membuat plesetan dan berteka-teki. Sebelum ia menjadi presiden, ketika menjadi presiden maupun setelahnya, Gus Dur selalu dilengkapi dengan pernyataan-pernyataan yang menghebohkan.(*)
Bagi saya, sebagai seorang muslim yang tidak terikat organisasi massa Islam mana pun---NU, Muhammadyiah atau lainnya---hal menarik lainnya juga terkait dengan bagaimana pembelaan terhadap Gus Dur dilakukan. Gus Dur adalah figur luar biasa. Sebagai seorang kyai, Gus Dur memang mendapat dukungan yang cukup solid dari massa tertentu, khususnya yang berbasis NU.
Bagi pendukung setianya, apa pun yang dikatakan selalu dibela dan dibenarkan. Di mata pendukungnya, apabila kata-kata Gus Dur menuai kontroversi, maka telah tersedia beberapa opsi template tangkalan balik yang siap pakai: orang lain tidak memahami ucapan Gus Dur, ada yang memelintir ucapan Gus Dur, ada yang berniat memfitnah Gus Dur, dan seterusnya. Klise atau tidak, ini format yang sudah sangat lazim.
Tentu saja elemen integral lainnya dari para pembela Gus Dur adalah perlunya ber-tabayyun, mengkonfirmasi langsung dengan Gus Dur. Klarifikasi ini dinilai sangat perlu, karena para pendukungnya yakin bahwa ucapan-ucapan Gus Dur adalah ucapan-ucapan seorang wali atau begawan, sehingga sangat mungkin tidak dimengerti oleh kita-kita orang biasa. Dalam berkata-kata, hakikatnya diyakini demikian tingginya, sehingga sering disalahtafsirkan.
Sentralnya aspek klarifikasi ucapan-ucapan Gus Dur paling tidak ditekankan kembali oleh Muhammad Guntur Romli dalam tulisan “Gus Dur, Al Quran dan Pornografi” yang diakses di situs resmi Gus Dur (Gusdur.net). Romli mengambil contoh kisah Abu Nawas dan mengibaratkan nasib Abu Nawas sama dengan Gus Dur. Gus Dur, pendeknya, difitnah.
Jelas bahwa tidak ada kaum muslimin yang menafikan arti penting klarifikasi. Akan tetapi, kalau menyangkut Gus Dur, yang diperlukan barangkali lebih dari sekedar itu. Sebabnya, Gus Dur yang berkarakter penuh kontroversi terlalu sering berkata-kata yang menyebabkan orang berpenilaian lain.
Esensi tabayyun dalam konteks Gus Dur selalu menempatkan orang lain yang salah mengerti, sementara di pihak yang mengatakan selalu benar. Sebagai manusia biasa yang tidak mungkin luput dari kesalahan, Gus Dur padahal bisa salah; bisa terpeleset dan perlu berintrospeksi.
Haruslah dimaklumi bahwa umat muslim lain yang tidak sependapat dengan Gus Dur bukan pula harus dipandang sebagai kelompok radikal, tukang fitnah atau berniat buruk.
Apabila orang lain dianggap tidak memahami kata-katanya, Gus Dur yang pro-demokrasi semestinya memaknainya sebagai sikap perlunya berkata-kata secara lebih jelas, baik dan benar.
Soalnya, ketika seorang ulama mengambil posisi sebagai pemimpin umat atau penyuara Islam, sikap selalu berhati-hati dalam menggunakan lisannya adalah hal yang sudah sepatutnya. Apalagi masyarakat Islam kita masih banyak yang justru sangat awam.
Rasulullah dan para sahabat berbicara dengan jelas. Mereka adalah panutan yang selalu menghindarkan hal-hal yang dapat menimbulkan salah pengertian atau tanda tanya.
Itulah sebabnya agar para pemimpin yang seterusnya, dengan barbagai kapasitas masing-masing, perlu mengambil pelajaran. Apabila tidak bisa, sebaiknya berdiam diri, daripada menjadi beban dalam masyarakat Islam. Beban, karena justru meresahkan, mempertajam perbedaan dan melemahkan ukhuwah umat. Beban itu bahkan menjadi lebih berat apabila dalam berkata-kata itu pun akhirnya terjebak untuk terlalu mempertimbangkan muamalah dan melukai umat Islam sendiri.
Para pemimpin semestinya lebih tahu dan lebih bijak. Sebab, kesalahan dan kekhilafan umat justru adalah kesalahan dan kegagalan mereka-mereka yang memimpin.
*) Dalam buku “Indonesia 2002: Kehilangan Pamor” terbitan Kompas, April 2001, misalnya, khususnya hal 36-37, dapat ditemukan sebuah matriks dengan caption: “Beberapa Kebijakan dan Ucapan Kontroversial Presiden Abdurrahman Wahid” dalam periodisasi waktu 5 November 1999 - 3 Desember 2000. Di dalamnya termasuk "tuduhan tiga menteri terlibat KKN", "DPR seperti TK" dan seterusnya.