Blog EntryBEBAN GUS DURJun 20, '06 6:49 AM
for everyone

 

 

 

Kolom: Agusti Anwar

 

 

Sekali waktu seorang ustadz dalam ceramahnya mensinyalir adanya kebiasaan umat Islam yang menawar atau meringankan akidah demi kepentingan muamalah. Maksudnya, seseorang kadang terperangkap dilema antara memelihara hubungan horisontal sesama manusia sehingga terpeleset mengorbankan aspek akidahnya. Secara lebih gamblang, karena ingin bermanis mulut dengan umat agama lain, agama sendiri disepele-sepelekan.

 

Dari kacamata ustadz di atas, peristiwa Gus Dur yang menyatakan bahwa “Kitab suci paling porno di dunia adalah Al Quran…”, termasuk dalam situasi demikian---mengutamakan muamalah di atas akidah.

 

Gus Dur yang kyai haji dan dikenal open-minded telah mempercandakan ekspresi perujukan kitab suci Al Quran itu. Sampai saat ini, sebagai kyai barangkali hanya Gus Dur-lah satu-satunya yang telah beringan kata meremehkan kitab sucinya sendiri.

 

Tuduhan bahwa Gus Dur melakukan penghinaan itu jelas sudah diketahui luas. Kecaman datang dari berbagai penjuru. Hartono Ahmad Jaiz bahkan menulis sebuah buku khusus tentang itu: “Gus Dur Menghina Al-Quran” yang diterbitkan bulan Mei 2006 lalu.

 

Teks wawancara pada mulanya di-upload di situs JIL. Kalau pun orang akan gagal mencari teks wawancara Gus Dur yang dimuat situs Jaringan Islam Liberal karena telah dihapus, dalam buku Hartono itu, verbatim wawancara dimuat lengkap. Termasuk ketawa lepas a la “begitu saja kok repot”-nya Gus Dur.

 

Saya tidak akan menanggapi mengenai penghinaan oleh Gus Dur itu, tetapi lebih soal karakternya yang senang kontroversi. Sudah sejak sangat lama Gus Dur terkenal nyleneh (khariqul ‘adah) dengan ungkapan yang tembak langsung, lugas apa adanya. Ia gemar melucu, membuat plesetan dan berteka-teki. Sebelum ia menjadi presiden, ketika menjadi presiden maupun setelahnya, Gus Dur selalu dilengkapi dengan pernyataan-pernyataan yang menghebohkan.(*)

 

Bagi saya, sebagai seorang muslim yang tidak terikat organisasi massa Islam mana pun---NU, Muhammadyiah atau lainnya---hal menarik lainnya juga terkait dengan bagaimana pembelaan terhadap Gus Dur dilakukan. Gus Dur adalah figur luar biasa. Sebagai seorang kyai, Gus Dur memang mendapat dukungan yang cukup solid dari massa tertentu, khususnya yang berbasis NU.

 

Bagi pendukung setianya, apa pun yang dikatakan selalu dibela dan dibenarkan. Di mata pendukungnya, apabila kata-kata Gus Dur menuai kontroversi, maka telah tersedia beberapa opsi template tangkalan balik yang siap pakai: orang lain tidak memahami ucapan Gus Dur, ada yang memelintir ucapan Gus Dur, ada yang berniat memfitnah Gus Dur, dan seterusnya. Klise atau tidak, ini format yang sudah sangat lazim.

 

Tentu saja elemen integral lainnya dari para pembela Gus Dur  adalah perlunya ber-tabayyun, mengkonfirmasi langsung dengan Gus Dur. Klarifikasi ini dinilai sangat perlu, karena para pendukungnya yakin bahwa ucapan-ucapan Gus Dur adalah ucapan-ucapan seorang wali atau begawan, sehingga sangat mungkin tidak dimengerti oleh kita-kita orang biasa. Dalam berkata-kata, hakikatnya diyakini demikian tingginya, sehingga sering disalahtafsirkan.

 

Sentralnya aspek klarifikasi ucapan-ucapan Gus Dur paling tidak ditekankan kembali oleh Muhammad Guntur Romli dalam tulisan “Gus Dur, Al Quran dan Pornografi” yang diakses di situs resmi Gus Dur (Gusdur.net). Romli mengambil contoh kisah Abu Nawas dan mengibaratkan nasib Abu Nawas sama dengan Gus Dur. Gus Dur, pendeknya, difitnah.

 

Jelas bahwa tidak ada kaum muslimin yang menafikan arti penting klarifikasi. Akan tetapi, kalau menyangkut Gus Dur, yang diperlukan barangkali lebih dari sekedar itu. Sebabnya, Gus Dur yang berkarakter penuh kontroversi terlalu sering berkata-kata yang menyebabkan orang berpenilaian lain.

 

Esensi tabayyun dalam konteks Gus Dur selalu menempatkan orang lain yang salah mengerti, sementara di pihak yang mengatakan selalu benar. Sebagai manusia biasa yang tidak mungkin luput dari kesalahan, Gus Dur padahal bisa salah; bisa terpeleset dan perlu berintrospeksi.

 

Haruslah dimaklumi bahwa umat muslim lain yang tidak sependapat dengan Gus Dur bukan pula harus dipandang sebagai kelompok radikal, tukang fitnah atau berniat buruk.

 

Apabila orang lain dianggap tidak memahami kata-katanya, Gus Dur yang pro-demokrasi semestinya memaknainya sebagai sikap perlunya berkata-kata secara lebih jelas, baik dan benar.

 

Soalnya, ketika seorang ulama mengambil posisi sebagai pemimpin umat atau penyuara Islam, sikap selalu berhati-hati dalam menggunakan lisannya adalah hal yang sudah sepatutnya. Apalagi masyarakat Islam kita masih banyak yang justru sangat awam.

 

Rasulullah dan para sahabat berbicara dengan jelas. Mereka adalah panutan yang selalu menghindarkan hal-hal yang dapat menimbulkan salah pengertian atau tanda tanya.

 

Itulah sebabnya agar para pemimpin yang seterusnya, dengan barbagai kapasitas masing-masing, perlu mengambil pelajaran. Apabila tidak bisa, sebaiknya berdiam diri, daripada menjadi beban dalam masyarakat Islam. Beban, karena justru meresahkan, mempertajam perbedaan dan melemahkan ukhuwah umat. Beban itu bahkan menjadi lebih berat apabila dalam berkata-kata itu pun akhirnya terjebak untuk terlalu mempertimbangkan muamalah dan melukai umat Islam sendiri.

 

Para pemimpin semestinya lebih tahu dan lebih bijak. Sebab, kesalahan dan kekhilafan umat justru adalah kesalahan dan kegagalan mereka-mereka yang memimpin.

 

 

 

*) Dalam buku “Indonesia 2002: Kehilangan Pamor” terbitan Kompas, April 2001, misalnya, khususnya hal 36-37, dapat ditemukan sebuah matriks dengan caption: “Beberapa Kebijakan dan Ucapan Kontroversial Presiden Abdurrahman Wahid” dalam periodisasi waktu 5 November 1999 - 3 Desember 2000. Di dalamnya termasuk "tuduhan tiga menteri terlibat KKN", "DPR seperti TK" dan seterusnya.



masarcon wrote on Jun 20, '06, edited on Jun 20, '06
1. yah, kalo gus dur memang ndak pas jadi presiden. lha wong dia gayanya nyeleneh ala nabi khidir as. sebelnya orang ke pak dur ketika jaman jadi presiden sudah jelas sekali.

2. kalau sekarang sih, diposisikan saja, pak dur ini sebagai oang lsm, yang pendapatnya memang memancing kontroversi, sebagai alat bagi kita untuk berkaca lebih dalam.

toh, di dasar hati kita juga tahu, apa maksud gus dur dengan ucapannya. mendesakralisasi nilai nilai pakem. lha kalo mau bilang porno pornoan, ya perjanjian lama dan veda yg lebih banyak aneh anehnya.

3. kalau masalah porno pornoan dalam al qur'an sendiri guntur romli baru nulis di milis kmnu2000 sbb.

Dalam surat an-naba'a ayat 33 disebutkan wa kawaa'iba atraaba, artinya
adalah, gadis-gadis cantik remaja dan sebaya dengan buah dada yang
mekar, ka'abatil fataatu dalam al-mu'jam al-wasith artinya nahadlat
tsadyuha (buah dada perempuan itu montok)

hayooo kalau dalam kategori ruu app yang tidak bisa membedakan
"erotika" dan "pornografi" maka ayat 33 tersebut sudah masuk dalam
kategori porno, tidak usah pakai alasan gus dur lah yang makai ayat
menyusui, ini ayat 33 sudah terang benderang, balasa bagi orang-orang
muttaqin adalah gadis remaja yang buah dadanya montok...

gimana ini, al-quran porno ngak..? sekarang ini katanya guntur bukan
gus dur, gitu aja kok repot seh..

-GuN-

===

pernyataan ini diselidik lebih lanjut oleh miliser yg lain
Saya coba buka sebentar Al-Qur'an seperti apa yang mas Gun sampaikan karena saya ngga hafal seperti Anda2, dan benar memang isinya adalah Wa Kawaa'iba Atraaba.

Di sana saya menemukan terjemahannya : "dan gadis-gadis remaja yang sebaya". Mungkin hampir mirip dengan terjemahan mas Gun, hanya saja menurut mas Gun diikuti dengan penjelasan "gadis-gadis remaja yang sebaya tersebut dengan buah dada yang mekar (montok)".

Mungkin bagi saya perlu belajar lagi, bagaimana memahami kata remaja dan sebaya itu diartikan dengan remaja yang berbuah dada montok. Bisa saja ini bentuk kiasan, seperti kata Gus Dur. Hanya saja, jika benar kiasan, maka isi dari teks itu bukanlah sesuatu yang porno mas Gun. Oleh karenanya, saya tetap yakin, bahwa Al-Qur'an terbebas dari unsur porno karena kata2 yang digunakan sangat baik dan sopan. Berbeda jika terjemahannya seperti yang Mas Gun sampaikan, maka sudah barang tentu mengandung porno.

Regards,
Yang terus belajar

===

dijawab sebagai berikut

kalau cuma terjemahannya 'gadis remaja sebaya' kurang dong, itu
untuk terjemahan "atraab" aja dari "al-tirb ay al-mumatsil fi al-
sinni" sedangkan terjemahan dan penjelasan "buah dada yang montok"
itu di "kawaa'ib" dari "kaa'ib" lihat juga di al-tafsir al-kabir
karya fakhrudiin al-razi terb dar al-kutub al-'ilmiyah beirut cet. I
tahun 2000 juz 31-32 hal 19 sebelah kiri baris 20 dari atas,
emang kenapa sih kalau al-quran bicara buah dada yang montok? dan
itu bukan kiasan, itu harifiyah dari ayat,
mas pakai al-quran terjemanan mana? kalau terjemahan depag yang
dibiayai saudi arabia saya sudah lama ngak pakai tuh... terjemahan
itu "menghina" al-quran, bahasanya kacau, bagus terjemahan injil,
masa terjemahan al-quran kalah sama terjemahan injil hehehe..

-GuN-

imponk wrote on Jun 20, '06
Saya tertarik menyoroti kasus ini dari segi media, dalam hal ini JIL yang memuat wawancara Gus Dur dengan Guntur Romli. Jelas, dari kejadian itu dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa JIL tidak memiliki etika dalam menghadirkan sebuah tulisan yang bertanggungjawab. Buktinya, tulisan yang dinilai kontroversi itu telah diedit kembali, tanpa pemberitahuan sedikit pun. Seharusnya, sebagaimana ucapan yang sudah terlanjur terlepas, ia tidak dapat ditarik kembali. Dan koreksi atas sebuah tulisan dimedia harus dijelaskan dengan gamblang. Tidak serta merta kemudian disusul dengan 'pembelaan' yang seperti dilakukan Guntur Romli. Dalam hal ini, media yang bersangkutan wajib mengklarifikasi agar kasus tidak menjadi berlarut-larut.

Dan yang perlu dicatat, sebenarnya Gus Dur juga bisa salah. Karena ia sejatinya juga manusia biasa. Namun, memang dibutuhkan tafsir yang cerdas dalam menyelami ucapan yang keluar. Apakah ini pernyataan serius atau hanya guyon sebagaimana kebiasaannya? Namun saya kira ini sebuah guyonan yang tidak lucu!

Salam,
masarcon wrote on Jun 21, '06, edited on Jun 21, '06
nah masalah lucu gak lucunya, itu kan yg emang beda beda penafsiran. dan karena males memperpanjang urusan, ya, rupanya mereka memilih ngademin suasana.

aku yakin bahwa gus dur serius dengan guyonannya. dalam arti itu meang bener bener diomongin. so what.

tapi karena banyak yg gak bisa menerima, ya udah, dia memilih, di revisi aja deh. toh, maksud dia udah jelas (dan sayangnya tidak tersampaikan), bahwasanya dalam agama pun ada hal hal yg sifatnya sensual/erotis.

sementara para pengusung RUU APP berupaya menjadikan sensualitas dan erotisme sebagai sesuatu yg tercela dan bisa dikategorikan kriminalitas.

hal inilah yg justru tidak lucu !
agustianwar wrote on Jun 22, '06
. kalau sekarang sih, diposisikan saja, pak dur ini sebagai oang lsm, yang pendapatnya memang memancing kontroversi, sebagai alat bagi kita untuk berkaca lebih dalam.
Mas, saya setuju sekali kalau GD bisa diposisikan sebagai orang LSM saja; dan tentunya semua label keulamaan ditanggalkan saja. Terus terang saya pribadi tidak 'paham' dengan pilihan kata GD itu, ditambah lagi penggunaan kata sifat superlatif, 'yang paling...' Saya kira, ada 1001 cara mengatakan sesuatu dan sangat banyak pilihan di antaranya yang bermakna baik dan mulia.

Mm, re kutipan diskusi milis Guntur Romli itu, sebagai orang awam, justru bagi saya menjadi 'deal breaker': memiliki ilmu tetapi tidak membawa kecerahan. Ada banyak hal yang cukup dimaklumi, tanpa harus dikatakan, apalagi kalau dikatakan dengan cara-cara yang berlebihan. Saya cuma berharap agar para ulama, termasuk para intelektual muda (yang penuh gairah itu) dapat lebih sensitif terhadap dampak kata-katanya bagi publik, agar tidak membebani. "Gitu saja kok repot..." ya jelas repot dong he he he... Salam, Anwar.
agustianwar wrote on Jun 22, '06
imponk said
Dan yang perlu dicatat, sebenarnya Gus Dur juga bisa salah. Karena ia sejatinya juga manusia biasa. Namun, memang dibutuhkan tafsir yang cerdas dalam menyelami ucapan yang keluar. Apakah ini pernyataan serius atau hanya guyon sebagaimana kebiasaannya?
Mas Imponk, saya sepaham sekali bahwa GD bisa salah; bahkan sebagai selebriti umat ia sering "salah". Saya kira, seorang penyuara yang baik mestinya berbicara jelas dan tidak menuntut 'hermenetika' khusus untuk dapat dipahami. GD perlu berkata-kata, bukan berpuisi. Menurut saya, sebagai orang di baris depan dalam masyarakat Islam, khlayak jangan dibebani dengan teka-teki apakah ini serius atau guyon. Berbicara serius dengan bahasa yang jelas dan lembut dapat dipelajari. Nabi SAW pun bisa bercanda. Namun, menurut saya, jangan pula seorang ulama itu ikut masuk jajaran 'comedian'. Salam, Anwar.
masarcon wrote on Jun 22, '06
kalo gelar ulama kan memang lekat di gus dur karena dia anak kyai dan pernah nyantri, tapi kalo kemampuan mengelola pesantren sendiri ndak pernah tutuk, sekolah juga ndak pernah kelar.

doi memang aktivis tulen. dengan gaya nyeleneh. seperti nasaruddin hoja itulah. dan kedekatan belio dengan kalayak, di akar rumput dan kyai kyai lain (jaringan yg doi bina selama berpuluh tahun) memang membuat dia punya posisi khusus. udah terbukti bolak balik dari jaman lukman harun yg pengen ngedongkel dia dari PBNU jaman 10 tahunan yg lalu.

kalau nasarudin hoja punya gaya aneh dan kita bisa terima, why not dengan gus dur gitu lho. toh banyak yg bisa menerima dan paham, yg gak paham memang tinggal punya dua pilihan saja, cuek bebek, atau berusaha mengerti.
agustianwar wrote on Jun 22, '06
Mas, saya kira tidak ada itu status ulama yang sifatnya melekat. Kalau saya malah berharap pendekatannya lebih bersifat aktif, yakni GD sendiri yang mendeklarasikan bahwa ia menanggalkan semua asosiasinya terhadap status itu. Setiap kali ia mau bicara di publik, sebaiknya dimulai dengan disclaimer dan perlu dimua oleh koran: ini pendapat pribadi yang tidak terkait dengan status masyarakat Islam apa pun.

Maaf kalau berbeda pendapat, tetapi ide memaklumi GD seperti Nasruddin bagi saya terlalu berlebihan, apalagi selucu-lucunya Nasruddin ia tidak bertutur layaknya GD (ref, misalnya, Quran itu paling porno). Yang lebih berbeda lagi, mengapa kalau itu menyangkut GD harus orang lain yang selalu mesti menerimanya? Saya kira umat Islam (apalagi yang bukan seafiliasi dengan GD) sudah sejak lama mencoba memahami GD, memaklumi, menunggu klarifikasi dst. Tabayyun? Tetapi life is a two-way street, Mas. Kita saling bicara dan saling dengar, kedua fungsinya harus seimbang. "Yang nggak paham tinggal punya dua pilihan?" C'mon, man, orang lain juga bisa meminta GD (dan pembelanya) memilih dari dua pilihan: bicaralah dengan jelas dan santun (apalagi sebagai ulama) atau berhenti berbicara... Saya memang tidak sependapat dengan Mas Masarcon. Salam, Anwar.







Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help