Kolom: Agusti Anwar
Apa sih perasaan masing-masing warga DKI dan sekitarnya terhadap kota Jakarta ini?
Jawabannya bisa beragam. Apabila sangat banyak yang justru menyampaikan keluh kesah, mulai dari urusan kemacetan, polusi, kesemerawutan, tingkat kriminal yang tinggi, wilayah kota yang terlampau padat dan terlalu besar (oversize) dan seterusnya, semua itu tentu sah-sah saja. Dalam kondisi terbaik sekali pun, keluhan adalah wajar.
Untuk Jakarta, keluhan tampaknya justru normal. Di Jakarta, pola ‘benci dan cinta’ sepertinya merupakan status hubungan alamiah antara warga dan kotanya. Warga kota yang tergolong pengeluh absolut pun tetap bertahan di Jakarta; sedangkan pecinta beratnya tak juga berhenti berkeluh-kesah.
Jakarta, bagaimanapun, adalah kota metropolitan terpenting di negara ini. Sebagai ibukota negara merangkap pusat bisnis nasional, Jakarta otomatis menampung segala aspek kehidupan masyarakat dalam keseluruhan dimensinya. Tidak ada yang tidak ada di Jakarta. Pemenang dan pecundang hidup saling bersanding.
Namun, bagaimana semestinya kita mempersepsi ibukota kita ini? Secara teoretis, pendekatan Kian Tajbahks dalam bukunya The Promise of the City cukup relevan untuk digunakan. Menurut Tajbahks, terdapat tiga elemen penting yang membentuk fenomena perkotaan: identitas, struktur dan ruang. Semua kota di seluruh dunia dapat dibedah dari sudat pandang ini, termasuk DKI. Kketiganya dapat saling melengkapi dan merupakan konstruksi bagaimana Jakarta menjadi sebuah kota yang utuh.
Sebagai elemen identitas, eksistensi historis ibukota jelas penting. Ibukota yang kita kenal sekarang setidaknya merupakan metamorfosa dari yang semula dikenal sebagai Sunda Kelapa, kemudian menjadi Jayakarta, Batavia dan, hingga kini, Jakarta.
Ia adalah Sunda Kelapa ketika masih sangat orisinal, sebelum adanya sentuhan asing dan tangan kolonial. Periode Sunda Kelapa di bawah Kerajaan Pajajaran, paling kurang sejak abad ke-12, merupakan masa sejarah yang penting sebagai sebuah identitas kenusantaraan yang bebas penjajah.
Memang, akhirnya, ketika hari lahir Jakarta perlu ditetapkan, penetapan itu bukanlah didasarkan pada masa awal berdiri dan berpenghuninya Sunda Kelapa karena memang tidak ada catatan (record) spesifik yang patut disempenakan sebagai pertanda kelahiran.
Penetapan hari ulang tahun Jakarta, 22 Juni, justru dinisbatkan pada ekspresi heroik dikalahkannya pasukan Portugis oleh Pangeran Fatahilah dari Kerajaan Demak. Tanggal kemenangan itu adalah 22 Juni 1527. Fatahilah juga mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang berarti ‘kemenangan besar’. Dengan masuknya Belanda sejak 1596 dan diangkatnya Jan Piterzon Coen sebagai gubernur, merupakan titik mula bergantinya Jayakarta menjadi Batavia. Coen meluluhlantakkan Jayakarta dan membangunnya kembali sebagai Batavia sejak Mei 1619. Baru setelah masuknya Jepang di tahun 1942, Batavia diganti nama menjadi Djakarta.
Bagi saya, identitas Jakarta adalah identitas perlawanan terhadap penjajah asing. Ia tidak harus dilihat semata-mata sebagai kota warisan kolonial yang nyaman bagi bangsa Belanda. Meskipun arsitektur klasik Jakarta yang masih ada berasal dari konstruksi ruang Belanda, namun ia abadi sebagai simbol perlawanan. Itulah sebabnya maka ulang tahun DKI mesti tanggal 22 Juni.
Namun dimensi historis hanyalah salah satu konstruksi identitas keseluruhan kota ini. Strukturnya sebagai ibukota negara yang bermuatan politik dan birokrasi, pusat ekonomi, tempat perkembangan budaya dan sebagainya, adalah penambah identitas iyang lebih bersifat kontekstual.
Kendati demikian, tentu saja bagaimana ruang digunakan merupakan elemen lain yang menonjol. Dalam konteks Jakarta, setelah rekayasa dan administrasi a la Batavia yang lebih tertib, ruang Jakarta sekarang ini tampaknya berkembang secara tidak terkendali, baik secara legal mapun ilegal, bahkan seakan selalu di luar format perencanaan kota yang semestinya.
Presiden Sukarno yang dikenal sebagai figur yang visioner memang mengangkat nuansa perlawanan terhadap sejarah kolonial dengan sejumlah desain kota yang mengedepankan citra sebuah bangsa yang merdeka. Adalah Sukarno yang merancang awal baik tugu Monas, mesjid Istiqlal, Hotel Indonesia, Sarinah, Gelora Bung Karno, Monumen Selamat Datang dan berbagai tugu raksasa lainnya. Monas dan Istiqlal tetap menjadi simbol kebanggaan Jakarta, kalau bukan seluruh bangsa Indonesia, sampai saat ini.
Namun belakangan, dimensi ruang Jakarta terkesan, seperti istilah pengamat perkotaan Marco Kusumawijaya, seperti “tunggang-langgang”. Secara struktural, dengan semakin mencuatnya karakter Jakarta sebagai sentra ekonomi sejak Orde Baru hingga kini, maka visi Jakarta yang berwibawa semakin terburamkan. Seperti sosok monster yang liar, Jakarta berkembang tanpa bentuk, meliar, penuh relung-relung bagai leviathan.
Benar bahwa ada pembangunan di sini, gedung-gedung, apakah perkantoran maupun pusat-pusat perbelanjaan, jalan-jalan layang dan seterusnya. Tetapi tendensinya lebih menyiratkan ketidakterencanaan daripada sebaliknya. Bersama jumlah penduduk yang terus meningkat, kesemrawutan dan tumpang tindih tata kota itu tidak lebih menghasilkan identitas kekinian metropolitan yang penuh-sesak dan tidak ramah. Semua bersijejal mengedepankan diri sendiri, sehingga apa yang disebut pembangunan Jakarta terlihat sebagai kegiatan random yang penuh tanda tanya.
Persoalannya, sekali ia telah salah kaprah dan terus dibiarkan, maka yang akan menonjol adalah persepsi kekacauan (perception of disorder). Celakanya, persepsi demikian menular dengan sangat cepat dan membuat kita merasa lemah tidak berdaya dan tidak mau tahu (ignorant). Akibatnya, kekacauan itu pun semakin berlipat ganda dan semakin tidak terkontrol. Sebuah sampah terbiar yang tak cepat dipungut, akan mengundang tumpukan sampah lainnya hingga akhirnya akan menggunung.
Itulah yang menjadikan sosok Jakarta semakin menjadi monster yang tidak terbayangkan. Di dalamnya berkecamuk, bukan saja polusi, kemacetan, kejahatan, kesesakan, kesulitan hidup, keangkuhan, individualisme, sikap saling curiga dan mau aman sendiri, serta segala macam bentuk dekadensi. Inilah identitas baru Jakarta, sehingga seluruh aspek keindahan, kebaikan maupun segenap finesse of life yang sebetulnya juga ada, menjadi terkalahkan. Monster Jakarta dapat mencekik kita hingga mati sendiri-sendiri.
Dan ketika tanggal 22 Juni ini Jakarta berulang tahun kembali, marilah kita semua melakukan introspeksi, mencoba memberikan kontribusi sekecil apa pun. Jakarta semestinya tetap menjadi simbol heroik sebuah perlawanan.
Jakarta, 21 Juni 2006
Referensi yang bagus:
- Farabi Fakih, "Membayangkan Ibu Kota, Jakarta di bawah Soekarno", Ombak, Yogyakarta, 2005
- Marco Kusumawijaya, "Jakarta, Metropolis Tunggang-langgang", Gagas Media, Jakarta 2004