Kolom: Agusti Anwar
Anda masuk angin?
Jawaban paling populer untuk mengatasi masalah ini adalah kerokan, selain/plus minum jamu tolak angin atau membalur tubuh dengan minyak penghangat. Paling tidak bagi masyarakat Jawa, kerokan merupakan metode praktis penanggulangan kondisi tubuh yang tidak nyaman, apalagi sehabis bergadang.
Sebagai orang tanah sebrang, saya termasuk yang tidak biasa dikerok. Saya tidak yakin istilah ‘kerokan’ sudah memenuhi kaidah bahasa yang baik dan benar. Entah siapa yang pertama sekali menemukannya, yang pasti kerokan bukan barang baru bagi banyak orang. Bagi saya, kalau pun masuk angin, perlakuan penanganan yang lazim adalah dioles minyak angin, minum atau makan yang hangat-hangat, minum jamu tolak angin dan dipijat. Pilihan dikerok jarang sekali. Haruskah orang menahankan sakit yang perih untuk mendapatkan tubuh yang nyaman?
Kerokan bagi yang tidak terbiasa dapat terkesan sedikit sadistik. Sekeping uang logam yang ditorehkan ke permukaan kulit punggung atau leher, dengan format satu arah yang berulang-ulang sehingga menghasilkan loreng-loreng merah, secara literal memang terlihat tidak wajar. Ini seakan tindakan penyiksaan atau dilakukan hanya oleh orang yang menggemari rasa sakit, sebentuk masokhisme.
Saya pernah dikerok sekian tahun yang lalu dan rasa sakit yang ditimbulkannya membuat saya menolak treatment dengan cara itu. Bagi saya, berbagai cara lain selain dikerok dapat menjadi opsi yang wajar. Herannya, orang-orang di sekitar, baik di rumah, di lingkungan warga, bahkan di kantor, sangat banyak yang sigap memilih metode ini untuk menyegarkan tubuh yang melemah, pegal dan linu, yang terkait dengan masuk angin.
Namun, kemudian, datanglah titik balik itu. Beberapa hari saya merasakan tubuh lemah, kulit tipis, kepala yang naik, perut mulas melilit, ketidaknyamanan yang luar biasa. Ini masuk angin yang serius. Barangkali inilah yang disebut orang sebagai ‘angin duduk’.
Cuma, saya orang yang suka enggan ke rumah sakit, kecuali sudah parah. Kebiasaan buruk ini bertahan terus, selagi obat-obat ringan tanpa resep dokter bisa mengatasi permasalahan. Satu dua obat itu ditelan, ditambah satu merek pil anti-diare untuk menghilangkan sakit perut.
Herannya, di kantor beberapa rekan juga menyebut anggota keluarga mereka yang terkena kondisi tubuh yang mirip. Angin Jakarta yang tidak sehat, ke situlah penisbatannya. Seorang rekan bahkan mengatakan bahwa suaminya yang juga sakit demikian telah diperiksakan ke klinik terdekat. Alih-alih diberi resep obat yang biasa-biasa, malah dirujukkan ke rumah sakit besar untuk diagnosa USG, guna memastikan jenis penyakit. Saya kaget juga---ternyata USG bukan hanya untuk pemeriksaan kehamilan. Penambah kekalutan adalah kilas balik beberapa kasus orang yang tiba-tiba meninggal dunia karena terkena ‘angin duduk’.
Akhirnya saya dikerok, sebelum betul-betul ke dokter. Sekeping uang logam baru, minyak angin penghangat, punggung yang terdedah dan torehan-torehan satu arah menyamping ke bawah itu. Sekali, dua kali, tiga kali: sakit. Lebih sering lebih sakit lagi. Namun karena angin itu telah bersarang terlalu banyak, hanya tiga kali toreh saja, loreng-loreng merah itu telah bermunculan. Sekujur punggung, belakang leher, sisi perut, merah menyala, perih. Hangat.
Setelah keseluruhan paket kerokan itu tuntas, termasuk pijat, maka selesailah sudah. Tidak berapa lama kemudian, tubuh terasa lebih ringan, lilitan di perut terlupakan. Mata menjadi lebih bersinar. Bibir dan lidah terasa kering memahit, ada rasa selera, rasa ingin makan.
Benar, kerokan itu cukup luar biasa. Ia memang metode penyiksaan yang pantas dilalui demi mendapatkan tubuh yang lebih nyaman. Kutipan umum ‘no gain without pain’ itu betul-betul diterjemahkan secara literal lewat sebentuk rasa sakit yang perih. Jadi, ini bukan sekedar menelan pil sepahit empedu agar menjadi sembuh. Filsafatnya justru, karena sakit, anda perlu disakiti, agar sehat. Wah?
Pertanyaannya, bagaimana sebetulnya mekanisme kerja kerokan itu? Apakah karena masuk angin, kulit tubuh perlu ditoreh-toreh sampai menipis dan memar, sebagai jalan agar angin dapat tembus keluar? Jenakanya, kalau memang untuk mengeluarkan angin, kenapa tidak ditusuk saja agar, mm, bocor?
Ternyata, menurut Dr. Koosnadi Saputra, seorang akupunturis klinik, “prinsip kerokan adalah upaya meningkatkan temperatur dan energi pada daerah yang dikerok”. Efek kerokan, seperti kata Dr. Handrawan Nadesul, adalah “mengembangnya pembuluh darah kulit yang semula menguncup akibat terpapar dingin atau kurang gerak, sehingga darah kembali mengalir deras.”
Dengan kata lain, kerokan bukan untuk mengeluarkan angin, namun untuk memanaskan urat saraf dan saluran darahnya. Karena angin yang membebalkan tubuh, rangsangan panas bertindak menetralkan efek angin tersebut.
Faktanya, kerokan memang merupakan metode alternatif yang murah dan praktis dalam menangkal serangan angin tubuh. Bagi orang yang sudah terbiasa, rasa perih karena dikerok seperti telah menjadi inheren sebagai resiko wajar (calculated risk) yang telah diterimakan ke otak, sehingga tidak lagi menjadi faktor. Itulah sebabnya ketika tubuh terasa tidak nyaman karena angin, banyak orang yang segera merogoh koin minta dikerok. Pesan positif yang perlu, barangkali, hindarkanlah tindakan sharing koin kerokan guna menangkal kemungkinan penularan penyakit, misalnya hepatitis, yang menembus masuk dari kulit yang memar menipis.
Di rumah, waktu saya berganti baju dan punggung terbuka, putri-putri saya yang masih kecil-kecil (2 dan 6 tahun) yang kebetulan melihat, berteriak kaget dan ketakutan karena loreng-loreng merah itu. Padahal ayahnya sedang merasakan tubuh yang lebih enteng, setelah beberapa hari masuk angin.
Jakarta, 5 Juli 2006