Blog EntryFILOSOFI KEROKANJul 6, '06 6:12 AM
for everyone

 

Kolom: Agusti Anwar

 

 

Anda masuk angin?

 

Jawaban paling populer untuk mengatasi masalah ini adalah kerokan, selain/plus minum jamu tolak angin atau membalur tubuh dengan minyak penghangat. Paling tidak bagi masyarakat Jawa, kerokan merupakan metode praktis penanggulangan kondisi tubuh yang tidak nyaman, apalagi sehabis bergadang.

  

Sebagai orang tanah sebrang, saya termasuk yang tidak biasa dikerok. Saya tidak yakin istilah ‘kerokan’ sudah memenuhi kaidah bahasa yang baik dan benar.  Entah siapa yang pertama sekali menemukannya, yang pasti kerokan bukan barang baru bagi banyak orang. Bagi saya, kalau pun masuk angin, perlakuan penanganan yang lazim adalah dioles minyak angin, minum atau makan yang hangat-hangat, minum jamu tolak angin dan dipijat. Pilihan dikerok jarang sekali. Haruskah orang menahankan sakit yang perih untuk mendapatkan tubuh yang nyaman?

 

Kerokan bagi yang tidak terbiasa dapat terkesan sedikit sadistik. Sekeping uang logam yang ditorehkan ke permukaan kulit punggung atau leher, dengan format satu arah yang berulang-ulang sehingga menghasilkan loreng-loreng merah, secara literal memang terlihat tidak wajar. Ini seakan tindakan penyiksaan atau dilakukan hanya oleh orang yang menggemari rasa sakit, sebentuk masokhisme.

 

Saya pernah dikerok sekian tahun yang lalu dan rasa sakit yang ditimbulkannya membuat saya menolak treatment dengan cara itu. Bagi saya, berbagai cara lain selain dikerok dapat menjadi opsi yang wajar.  Herannya, orang-orang di sekitar, baik di rumah, di lingkungan warga, bahkan di kantor, sangat banyak yang sigap memilih metode ini untuk menyegarkan tubuh yang melemah, pegal dan linu, yang terkait dengan masuk angin.

 

Namun, kemudian, datanglah titik balik itu. Beberapa hari saya merasakan tubuh lemah, kulit tipis, kepala yang naik, perut mulas melilit, ketidaknyamanan yang luar biasa. Ini masuk angin yang serius. Barangkali inilah yang disebut orang sebagai ‘angin duduk’.

 

Cuma, saya orang yang suka enggan ke rumah sakit, kecuali sudah parah. Kebiasaan buruk ini bertahan terus, selagi obat-obat ringan tanpa resep dokter bisa mengatasi permasalahan. Satu dua obat itu ditelan, ditambah satu merek pil anti-diare untuk menghilangkan sakit perut.

 

Herannya, di kantor beberapa rekan juga menyebut anggota keluarga mereka yang terkena kondisi tubuh yang mirip. Angin Jakarta yang tidak sehat, ke situlah penisbatannya. Seorang rekan bahkan mengatakan bahwa suaminya yang juga sakit demikian telah diperiksakan ke klinik terdekat. Alih-alih diberi resep obat yang biasa-biasa, malah dirujukkan ke rumah sakit besar untuk diagnosa USG, guna memastikan jenis penyakit. Saya kaget juga---ternyata USG bukan hanya untuk pemeriksaan kehamilan. Penambah kekalutan adalah kilas balik beberapa kasus orang yang tiba-tiba meninggal dunia karena terkena ‘angin duduk’.

 

Akhirnya saya dikerok, sebelum betul-betul ke dokter. Sekeping uang logam baru, minyak angin penghangat, punggung yang terdedah dan torehan-torehan satu arah menyamping ke bawah itu. Sekali, dua kali, tiga kali: sakit. Lebih sering lebih sakit lagi. Namun karena angin itu telah bersarang terlalu banyak, hanya tiga kali toreh saja, loreng-loreng merah itu telah bermunculan. Sekujur punggung, belakang leher, sisi perut, merah menyala, perih. Hangat.

 

Setelah keseluruhan paket kerokan itu tuntas, termasuk pijat, maka selesailah sudah. Tidak berapa lama kemudian, tubuh terasa lebih ringan, lilitan di perut terlupakan. Mata menjadi lebih bersinar. Bibir dan lidah terasa kering memahit,  ada rasa selera, rasa ingin makan.

 

Benar, kerokan itu cukup luar biasa. Ia memang metode penyiksaan yang pantas dilalui demi mendapatkan tubuh yang lebih nyaman. Kutipan umum ‘no gain without pain’  itu betul-betul diterjemahkan secara literal lewat sebentuk rasa sakit yang perih. Jadi, ini bukan sekedar menelan pil sepahit empedu agar menjadi sembuh. Filsafatnya justru, karena sakit, anda perlu disakiti, agar sehat. Wah?

 

Pertanyaannya, bagaimana sebetulnya mekanisme kerja kerokan itu? Apakah karena masuk angin, kulit tubuh perlu ditoreh-toreh sampai menipis dan memar, sebagai jalan agar angin dapat tembus keluar? Jenakanya, kalau memang untuk mengeluarkan angin, kenapa tidak ditusuk saja agar, mm, bocor?

 

Ternyata, menurut Dr. Koosnadi Saputra, seorang akupunturis klinik, “prinsip kerokan adalah upaya meningkatkan temperatur dan energi pada daerah yang dikerok”.  Efek kerokan, seperti kata Dr. Handrawan Nadesul, adalah “mengembangnya pembuluh darah kulit yang semula menguncup akibat terpapar dingin atau kurang gerak, sehingga darah kembali mengalir deras.”

 

Dengan kata lain, kerokan bukan untuk mengeluarkan angin, namun untuk memanaskan urat saraf dan saluran darahnya. Karena angin yang membebalkan tubuh,  rangsangan panas bertindak menetralkan efek angin tersebut.

 

Faktanya, kerokan memang merupakan metode alternatif yang murah dan praktis dalam menangkal serangan angin tubuh. Bagi orang yang sudah terbiasa, rasa perih karena dikerok seperti telah menjadi inheren sebagai resiko wajar (calculated risk) yang telah diterimakan ke otak, sehingga tidak lagi menjadi faktor. Itulah sebabnya ketika tubuh terasa tidak nyaman karena angin, banyak orang yang segera merogoh koin minta dikerok. Pesan positif yang perlu, barangkali, hindarkanlah tindakan sharing koin kerokan guna menangkal kemungkinan penularan penyakit, misalnya hepatitis, yang menembus masuk dari kulit yang memar menipis.

 

Di rumah, waktu saya berganti baju dan punggung terbuka, putri-putri saya yang masih kecil-kecil (2 dan 6 tahun) yang kebetulan melihat, berteriak kaget dan ketakutan karena loreng-loreng merah itu. Padahal ayahnya sedang merasakan tubuh yang lebih enteng, setelah beberapa hari masuk angin.

 

 

Jakarta, 5 Juli 2006

 



27 CommentsChronological   Reverse   Threaded
rikaadinda wrote on Jul 6, '06
oh gitu ya dikerok? aku tmsk orang yg ga suka di kerok juga sih. tapi tnyta ada manfaatnya juga...
ferryzuljanna wrote on Jul 6, '06
Barusan rekan-rekan saya di kantor mencoba metode lain: berbekam. Kira-kira ada sepuluh bapak-bapak dan lima ibu-ibu yang di bekam. Alternatif juga.
agustianwar wrote on Jul 6, '06
tapi tnyta ada manfaatnya juga
Cuma, yang jelas sakit lho... he he... Salam, Anwar.
agustianwar wrote on Jul 6, '06
metode lain: berbekam
Saya juga sudah pernah hampir berbekam, tapi batal---karena apa, sudah lupa... InsaAllah akan nyoba suatu waktu nanti. Kalau soal populer-populeran, kerokan lebih unggul sepertinya, walaupun mungkin lebih sakit... Setahu saya, baik kerokan atau berbekam serta satu dua teknik lainnya, punya prinsip yang sama... Keunikan kerokan mungkin karena lebih sakit... he he... Itu barangkali filosofinya... Salam, Anwar.
sepasangmatabola wrote on Jul 6, '06
takut dikerok! :)
imamisnaini wrote on Jul 6, '06, edited on Jul 6, '06
Pernah saya terlibat debat kusir sama istri soal kerokan, dia bilang kalau dikerok dan warna kulit merah atau cenderung keungu-unguan berarti masuk angin. Saya bilang, dimana-mana kalau dikerok ya merah meskipun tidak masuk angin, coba patung itu, kalau dikerok pasti juga merah, saya tertawa sambil kabur.

Eh suatu waktu saya mengalami gejala yang sama dengan Mas Agusti, beberapa treatment saya lakukan termasuk dioles minyak kayu putih di perut, dada dan punggung, tapi tidak ada perubahan. Istri saya menawarin untuk dikerok. Apa salahnya dicoba, eh badan jadi enteng...Giliran sekarang istri yang ngeledek, yah aku habis ngerokin patung...
agustianwar wrote on Jul 7, '06
takut dikerok! :)
Filosofinya memang sakit dulu baru sehat... he he... Salam, Anwar.
agustianwar wrote on Jul 7, '06
Giliran sekarang istri yang ngeledek, yah aku habis ngerokin patung...
Ha ha ha...tuh patungnya juga merah setelah dikerok.... Cheers.., Anwar.
gitasinta wrote on Jul 8, '06
metode lain: berbekam
Hmm baru denger nih. Apa sih berbekam tuh? Apa yang seperti di lakukan tabib2 Cina itu?
agustianwar wrote on Jul 8, '06
Apa sih berbekam tuh?
Sekeder menaut ke info re berbekam (pending info dari Pak Ferry) bisa ke sini. salam.
gitasinta wrote on Jul 8, '06
Sekeder menaut ke info re berbekam (pending info dari Pak Ferry) bisa ke sini. salam.
Thanks! The information is really useful for me :-)
martant21 wrote on Jul 15, '06, edited on Jul 15, '06
Setubuh... eh, setuju. cuma jangan latah, dikit dikit minta kerok. Kasihan kan sikulit jadi kasar dan pori-pori tambah besar, jelek ah. Balance is the most important thing to avoid any abnormal situation/condition.
agustianwar wrote on Jul 17, '06
Balance is the most important thing
Setuju tentang keseimbangan itu. Memang kalau berlebihan, segala sesuatu itu bisa jadi kontra-produktif. Salam.
abhicom2001 wrote on Jul 20, '06
dikerokin dgn 100 rb 5 lembar.....aaaaah saya suka sekali :D
agustianwar wrote on Jul 20, '06
dikerokin dgn 100 rb 5 lembar.....
Itu bukan kerokan, Mas, tapi kipas-kipas.... he he...
ivandinita wrote on Aug 4, '06
wah hati-2 kecanduan kerokan seperti orang jawa pak :p
agustianwar wrote on Aug 4, '06
wah hati-2 kecanduan kerokan seperti orang jawa pak :p
Wah, kayaknya nggak bakal kecanduan yangbegitu sekali, kalau terpaksa aja...he he.. salam.
dianabagus wrote on Aug 20, '06
Dulu waktu masih di kampung, saya termasuk orang yang kecanduan kerok. Bener-bener obat segala macam sakit deh buat saya. Dari mulai sakit kepala, pegel-pegel, sakit perut, demam, meriang semuanya obatnya satu. Yaitu kerokan.
Tapi setelah pindah, kebiasaan kerok ini amat sangat berkurang. Selain tidak ada yang ngerokin (bibi nggak ikut pindah), juga karena sering mendapat protes dari suami tercinta. Malu juga ngajak jalan-jalan, kalo leher istrinya loreng-loreng. He..he..he...:D
Salam kenal Pak Anwar.....
agustianwar wrote on Aug 22, '06
Malu juga ngajak jalan-jalan, kalo leher istrinya loreng-loreng.
Iyu tuh, bisa disangka macam2 oleh yang lain. Apalagi di Australia, bisa-bisa disangka domestic violence he he...salam kenal juga mbak.. Salam.
azayaka wrote on Oct 9, '06
Saya termasuk maniak kerokan pak :) Pegel2....masuk angin...alhamdulillah bablas setelah kerokan :)
*lagi blogwalking baca2 postingan2 di blog pak Agusti*
agustianwar wrote on Oct 9, '06
azayaka said
lagi blogwalking baca2 postingan2 di blog pak Agusti*
Wah, tambah lagi nih penggemar (berat) kerokan...
Blogwalkingnya boleh sering-sering kok he he....moga-moga ada yang bermanfaat.. Salam, Anwar.
anionghasiyo wrote on Mar 3, '07
Teman saya Edi, pernah mengibuli rekan-rekan dari Bangladesh. Ia memperlihatkan punggungnya yang banyak garis-garis merah, ia berkata:aku baru dicambuki orang tak dikenal malam tadi. Orang Bangladesh melihatnya dengah ekpresi wajah setengah percaya dan tidak. Hari senin Edi masuk angin, seperti biasa ia minta dikeroki. Saat mengeroki Edi, sempat sayapun bertanya, bagaimana sih mekanisme dikerok dapat menyembuhkan masuk angin?. Alhamdulillah kini saya jadi tau. Makasih Kang Agustian. Salam hangat.
agustianwar wrote on Mar 4, '07
Teman saya Edi, pernah mengibuli rekan-rekan dari Bangladesh. Ia memperlihatkan punggungnya yang banyak garis-garis merah, ia berkata:aku baru dicambuki orang tak dikenal malam tadi. Orang Bangladesh melihatnya dengah ekpresi wajah setengah percaya dan tidak. Hari senin Edi masuk angin, seperti biasa ia minta dikeroki. Saat mengeroki Edi, sempat sayapun bertanya, bagaimana sih mekanisme dikerok dapat menyembuhkan masuk angin?.
Ha ha ha....boleh juga tuh ceritanya.... Memang, bagi yang tidak mengerti, loreng merah bekas kerokan bisa saja dianggap tanda-tanda korban kekerasan.... Yang jelas, kalau masuk angin dan dikerok, rasanya jadi nyaman....salam....
kusumahastuti wrote on Mar 28, '07
Saya setuju sekali dengan kerokan..murah mudah dan muanis jadinya leher warna wani. Saya dulu anti kerokan, tapi setelah mencoba sekarang ketagihan...pegel sedikit minta kerok dan benar benar mujarab!
Salam hangat untuk Pak Agusti sehangat sehabis kerokan......
agustianwar wrote on Mar 28, '07
Salam hangat untuk Pak Agusti sehangat sehabis kerokan......
weleh weleh yang jadi penggemar kerokan....mmmmm....salam hangat juga.
faridrifai wrote on Apr 2, '07
iyah..kayaknya seru klo dibuat grup pecinta kerokan:d
salam dari kairo untuk pak agusti:)
agustianwar wrote on Apr 2, '07
iyah..kayaknya seru klo dibuat grup pecinta kerokan:d
salam dari kairo untuk pak agusti:)
Alaikumsalam...mas... Kalau ada grupnya, barangkali bisa banyak tuh anggotanya. Sudah siap belum jadi ketua...ha ha ha......
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help