Blog EntryKEKUASAAN SEORANG TUKANG CUKURJul 23, '06 10:56 AM
for everyone

 

 

 

 

Kolom: Agusti Anwar

SEBAGAI sebuah pekerjaan rakyat jelata, adakah hubungan antara tukang cukur atau tukang pangkas dengan kekuasaan?

Hernando Tellez, seorang pengarang asal Colombia,  dalam sebuah cerpennya “Just Later, That’s All” (Espuma ye nada mas), bercerita tentang peristiwa potong rambut yang dramatis seorang pemimpin militer, Kapten Torress, yang otoriter dan dimusuhi rakyat. Si tukang cukur yang berjiwa revolusioner, saat memegang pisau cukurnya yang tajam mengkilat dihadapkan pada sebuah ujian batin yang intens; sebuah dorongan kuat untuk dengan ringkas menyayatkan bilah tajam pisaunya ke urat leher pemimpin yang dibenci itu.

Itu adalah momen berat, saat mana seorang tukang cukur memiliki kuasa luar biasa, bebas memegang, menggoyang mengolengkan kepala sang pemimpin militer. Sementara sang Kolonel yang duduk di hadapannya, diam pasrah dengan mata terpejam, berselimutkan kain pelapis yang terikat di lingkar leher. Sungguh itu ujian yang tidak mudah. Dalam kisah itu, si tukang cukur, dalam segenap rasa kejelataannya yang tertindas, ternyata menjawab ujian hatinya secara profesional, menyelesaikan tugas mencukur seperti seharusnya. Tidak ada insiden yang terjadi; pertarungan batin berakhir dengan hasil cukuran yang memuaskan bagi sang diktator.

 

Setiap kali memotong rambut di tukang cukur, cerita Tellez, sang sastrawan yang unggul itu suka mengambang di benak saya. Setelah rambut di-trim, dipotong pendek, kemudian diikuti dengan perapian rambut-rambut halus dengan bilah pisau cukur tajam itu, maka cerita Tellez pun teringat. Pisau cukur yang diasah terlebih dahulu itu, ditekan dan diusapkan di kedua sisi kepala dan tengkuk, didedahkan sedemian rupa, agar pekerjaan yang menuntut kehati-hatian itu dapat dikerjakan dengan baik. Bayangkan apabila si tukang cukur adalah orang yang kurang ingatan atau bahkan musuh anda, dengan sebilah pisau cukur tajam di tangan, hidup kita berada pada titik yang rawan.

 

Tidak dapat tidak, hubungan kita dan tukang cukur adalah hubungan yang menuntut kepercayaan penuh. Tanpa itu, proses bercukur tidak akan terjadi. Harus ada kepasrahan di sana; kepasrahan bahwa ia akan bekerja secara baik, aman dan hati-hati. Pada saat itu, seorang tukang cukur adalah pemilik kekuasaan penuh atas keselamatan dan jiwa kita, sementara kita diam dan pasrah, seringkali bahkan dengan mata yang mengantuk dan terpejam.

 

Tidak perlu heran bahwa posisi seorang tukang cukur telah sejak lama dimapankan dalam struktur kemasyarakatan. Di zaman Mesir kuno, seorang tukang cukur memiliki posisi terhormat. Demikian pula dalam kultur Kristen tradisional. Dalam Islam pun bercukur menjadi perhatian. Bukankah ketika ibadah haji, memotong beberapa helai rambut, tahallul, juga ikut menjadi rukun, kalau tidak sekalian bercukur?

 

Memang bersamaan dengan perkembangan zaman, profesi tukang cukur mengalami titik surut yang mencolok, menjadi bagian dari kehidupan yang biasa. Di zaman sadar-mode sekarang, seorang tukang cukur seperti Peter Saerang barangkali harus disebut sebagai hair-stylist, agar lebih fashionable, karena seni disebut-sebut menjadi bagian inherennya. Sekarang, yang rela disebut tukang cukur hanyalah mereka yang bekerja di kios kecil, emperan atau malah yang ‘ngamen’ keliling.

 

Sebagai rakyat jelata, saya lebih suka memotongkan rambut ke tukang cukur, bukan di salon-salon sejuk mewah yang bernama besar. Selain karena memang mahal, saya juga tidak begitu menikmatinya. Pergi ke tukang cukur tradisional selalu menjadi pilihan saya. Sering kali saya menemukan butir-butir kehidupan  setiap ke tukang cukur, di mana pun itu. Ada berbagai ragam rakyat yang datang memotongkan rambutnya; ada berbagai cerita yang dibahas; selalu ada yang unik. Bincang-bincang dengan tukang cukur, apalagi yang sudah masak pengalaman hidupnya, dapat menjadi kesempatan untuk mengukur temperatur kehidupan rakyat secara nyata dan apa adanya. Ada politik, ada gosip, ada keluhan dan penderitaan. Saat Piala Dunia, sudah pasti ada sepak bola.

 

Sekali waktu di masa-masa Pemilu 2004, saat memotong rambut di Kebayoran Lama, saya mendengarkan pandangan politik sang tukang cukur yang memilih untuk tidak mencoblos dalam Pemilu Presiden saat itu. “Saya kecewa, Pak”, katanya. Bukan terhadap pemilu tahun itu, tetapi yang di tahun 1999. Ia berkisah tentang perannya dalam menggerakkan massa untuk memenangkan seorang figur partai untuk jabatan legislatif. Katanya ia dapat mendatangkan jumlah massa yang besar apabila diperlukan, tentu dengan uang lelah yang pantas. Banyak tokoh yang datang kepadanya meminta bantuan menggerakkan massa. Seorang figur yang dibantunya bahkan berhasil mendapatkan kursi yang diingikan. Tetapi, di situlah kekecewaannya, ketika ternyata sang politisi itu ingkar; ketika sudah menang justru melupakan janji. “Saya kecewa, Pak,” katanya. Dan kekecawaan itu ditumpahkan dengan keputusannya untuk tidak memilih pada Pemilu 2004.

 

Tentu saja ada sekian banyak cerita lainnya yang dapat disebutkan. Esensinya adalah bahwa keperdulian mereka merupakan keperdulian kita sebagai bangsa. Bagi saya, itu yang membedakan memotong rambut di salon besar yang berhawa pendingin, lengkap dengan para hair-stylist yang sering menyangkal fitrah jenis kelaminnya sendiri, dengan di tukang cukur berkios kecil di sudut pasar. Kesahajaan itu. Selain itu, kebetulan saya juga cucu seorang tukang cukur, karena seorang kakek saya terkenal dengan keterampilan mencukurnya. Kakek saya memang telah lama sekali meninggal, tetapi di waktu kecil ia sangat sayang pada cucunya. Waktu pulang ke kampung, selain selalu mengupayakan makanan enak bagi si cucu, kakek yang tubuhnya telah membungkuk itu pun mencukur rambut saya, di bawah pohon nangka di depan rumah.

 

Barangkali, itu pulalah sebabnya maka pilihan saya selalu ke tukang pangkas yang biasa, yang tanpa AC, yang murah meriah dengan suasana rakyat yang sangat terasa. Saya bahkan siap dicukur tukang cukur keliling, yang membawa bangku lipatnya ke mana-mana dan memotong rambut di bawah pohon rindang. Kalau lagi untung, barangkali yang memotong rambut pun sudah cukup berumur orangnya, yang suka bekerja sambil bercerita tentang segala pahit getir kehidupan. Saya memasrahkan diri dalam kekuasaan pisau cukurnya, yang diusapkan tajam di kedua sisi pipi dan di belakang tengkuk yang terdedah urat nadinya. Sosok kakek pun terkenang; sebuah perasaan damai yang jauh, yang membuat lupa cerita Hernando Tellez.

 

Jakarta, 23 Juli 2006

 

Gambar, Kreo, 23 Juli 2006



gitasinta wrote on Jul 23, '06
Tulisan ini mengesankan sekali...Mengingatkan saya ketika masih ada adik tinggal satu rumah (sekarang sedang bertugas di pedalaman Kaltim), kami selalu search makanan di pinggir-pinggir jalan setiap malam sepulang kantor. Bukan makanannya saja yang dicari, tapi suasana kedekatan dengan penjual dan keluarganya yang seringkali ikut, dengan tukang tambal ban yang kebetulan mangkal di sekitar sana, bahkan dengan pembeli lain. Ngobrol dan sering mendengarkan curhat mereka tentang kehidupan sehari-hari (yang tidak jarang membuat miris). I really miss those moments...
Thanks a lot tulisannya :-)
rikaadinda wrote on Jul 24, '06
keren nih tulisannya. pengen nulis seperti ini, maksudnya hal yang sepertinya remeh spt cukur rambut tapi bisa jadi tulisan yang yang menyegarkan dan mencerahkan :)
agustianwar wrote on Jul 24, '06
Bukan makanannya saja yang dicari, tapi suasana kedekatan dengan penjual dan keluarganya yang seringkali ikut, dengan tukang tambal ban yang kebetulan mangkal di sekitar sana, bahkan dengan pembeli lain
Cocok deh ini....di situlah kita sempat mengukur temperatur masyarakat, merasakan suka-duka sebagai bangsa.... Salam.
agustianwar wrote on Jul 24, '06
pengen nulis seperti ini
Kenapa tidak, sis.... U can do it... Salam.
sapto72 wrote on Jan 17
wow.....sangat inspiratif......sarat pesan moral.....( saya jadi pengen nulis juga nih ) salam
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help