Blog EntryPENGALAMAN TERIMA JADIAug 13, '06 7:06 AM
for everyone

 

 

Kolom: Agusti Anwar

 

 

Humor politik di zaman Orde Baru, yang bisa saja dituduh subversif kalau didengar Pak Harto, adalah soal syarat menjadi Presiden. Lima kali Pak Harto dipilih dan dipilih lagi, ternyata kiatnya adalah karena syarat sah untuk menjadi presiden Orde Baru harus punya pengalaman. Syarat ini pun tentu mulai diberlakukan hanya setelah periode pertama kekuasaan, ketika ia pun cuma seorang pemula dalam profesi eksekutif puncak itu. Barulah setelah itu, years of experience applied.

 

Faktor pengalaman kerja adalah momok terbesar para pencari kerja pemula. Para job seekers ini, yang masih segar dan baru keluar dari sekolah lanjutan atas atau perguruan tinggi, sebagian ditambah dengan kursus keterampilan komputer atau bahasa Inggeris, beradu di bursa pekerjaan. Semua sibuk mengubak-abik halaman-halaman iklan lowongan di berbagai koran. Ini ditandai, yang itu dilingkar, semua yang bisa akan dicoba. Setiap kali ada bursa lowongan akan dibanjiri, hampir mengalahkan banjir kiriman yang meluapkan sungai-sungai dan dataran rendah Jakarta.

 

Namun halaman-halaman iklan lowongan kerja itu semakin hari semakin tidak menarik bagi para pemula ini. Sebabnya tidak lain sama dengan syarat untuk menjadi presiden di Orde Baru: anda perlu punya pengalaman kerja terlebih dahulu. Tanpa itu, profil sebagai pencari kerja adalah barang yang tidak dapat dijual---simply unmarketable. Sebagian besar iklan lowongan yang dipampangkan koran-koran itu, apalagi koran-koran mapan, menuntut adanya pengalaman kerja sekian tahun, untuk masing-masing posisi yang ditawarkan. Kecuali menjadi PNS, barangkali hampir tidak pernah ada lowongan untuk posisi swasta yang tidak menyaratkan pengalaman kerja, terutama yang bagus. Paling-paling lowongan pramujual di lapangan untuk pemasaran produk-produk a la multi-level marketing atau yang sejenisnya saja yang mau menerima pencari kerja yang masih hijau itu. Sedangkan untuk semua posisi yang lebih baik, pengalaman adalah wajib.

 

Negara ini memang dalam keadaan sulit. Tingkat pertumbuhan masih tetap rendah; di antara investasi asing yang sedikit masuk ke dalam, sisanya justru berebut keluar. Dengan sendirinya, lowongan kerja akan terbatas. Pasar kerja semakin kompetitif. Banyak anak-anak muda kita (yang baru lulus sekolah dengan susah payah) yang jadi frustrasi.

 

Faktanya, dengan pengangguran yang diperkirakan mencapai statistik 40 jutaan sekarang ini, ketersediaan lapangan kerja, apalagi posisi-posisi yang baik, merupakan barang langka yang diperebutkan mati-matian. Banyaknya suplai tenaga kerja, baik yang pemula maupun yang mengalami PHK, menyebabkan perusahan-perusahaan itu tidak mau susah dan menghendaki tenaga yang telah terima jadi. Tersedianya berbagai lembaga SDM yang mencari untung sebagai perantara (broker), lebih memperketat permintaan kualitas dari perusahaan-perusahaan itu, apalagi yang terkategori bonafide.

 

Occupational training di bidang industrial mulai lazim dilakukan sejak PD II. Dalam era global yang semakin kompetitif, training karyawan di kalangan swasta tidak menjadi pilihan yang menyenangkan, apalagi kalau harus bersifat ekstensif, karena biaya ekstra yang diperlukan. Sudah praktek yang lazim apabila sebuah perusahaan memutuskan mengeluarkan anggaran untuk pelatihan, maka di dalamnya akan tercantum ketentuan mengikat yang mewajibkan setidaknya pengabdian sekian tahun. Tidak ada yang mau rugi. Apalagi sangat dimaklumi bahwa semakin hari loyalitas karyawan terhadap pekerjaan dan perusahaannya semakin menjadi mitos belaka. Loyalitas hanyalah istilah yang berlebihan, sangat overrated.  

 

Yang ada, menurut logika Freakanomic Stephen D. Levitt, hanyalah insentif. Motif seseorang tergantung atau dikompromikan sesuai besaran insentif yang ditawarkan. Perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga terlatih siap pakai dan terima jadi, sangat tahu menggunakan leverage insentif ini. Ia bagaikan madu dalam jebakan serangga. Akibatnya, secara alamiah saja bahwa terdapat korelasi positif antara insentif dengan perilaku kutu loncat tenaga-tenaga berpengalaman itu. Ketika tersedia tenaga yang memiliki pengalaman kerja yang kompetitif sedangkan  perusahaan lain merayu dengan insentif posisi atau gaji yang lebih besar, maka terjadilah peristiwa loncat-meloncat itu.

 

Ini pun sudah menjadi fenomena global. Kultur masyarakat posmodern yang sangat konsumtif dan image-sensitive dengan sendirinya mengkondisikan fenomena “selalu ingin lebih”. Itulah yang menggiring kemunculan sebuah keseimbangan baru: loyalitas tidak boleh dianggap niscaya (taken for granted). Seperti pernah di survei, seringkali penggunaan internet di kantor oleh para karyawan bukan semata untuk menunjang kinerjanya dalam bekerja, tetapi untuk mengintip lowongan lebih yang sedang ada di bursa.   

 

Lalu yang tetap bingung adalah para pencari kerja pemula itu, yang masih hijau tanpa pengalaman apa pun. Bagi mereka, membaca kolom-kolom iklan lowongan kerja yang sekarang kebanyakan berbahasa Inggeris itu sudah mirip dengan membaca cerita legenda yang terasa jauh. Tentulah lebih jauh lagi peluang mereka untuk menjadi kutu loncat berpengalaman yang loyalitasnya adalah terhadap insentif-lebih yang ditawarkan perusahaan pesaing. Karena untuk hidup perlu makan, maka mereka pun akhirnya turun mengerjakan apa saja.

 

Seringkali yang terjadi adalah fenomena rantai para predator itu: yang lulusan S2 merebut pekerjaan untuk S1, yang S1 merebut yang D3/2/1. Lulusan Diploma pun merebut jatah yang SMA. Karena pekerjaan formal tidak cukup, berkembangbiaklah pekerjaan informal. Yang kemudian muncul bukan saja over-supply tukang ojek, pedagang kecil atau penjaja rokok, tetapi juga pengamen, preman, pencopet, pengemis dan seterusnya.  Jangan-jangan, untuk yang demikian pun masih memerlukan pengalaman.

 

 

Jakarta, 13 Agustus 2006



10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
arifbastari wrote on Aug 13, '06
Mengatasi pengangguran dinegeri sekarang sebaiknya di awali oleh Pemerintah melaksanakan Proyek Raksasa seperti Jalan Tol, PLTN atau Bendungan. sehingga dari tukang batu hingga S3 yang berpengalaman dapat diserap Tenaganya. Industri akan mendapat Order.
bundakirana wrote on Aug 13, '06
temen saya, demi dapat kerja, menulis SMA sbg pendidikan terakhir, supaya punya peluang lebih besar (krn jenis kerjanya memang 'biasa').. pdhl dia sarjana:(
agustianwar wrote on Aug 13, '06
Proyek Raksasa seperti Jalan Tol, PLTN atau Bendungan. sehingga dari tukang batu hingga S3 yang berpengalaman dapat diserap Tenaganya
Setuju sekali. Coba kalau ide seperti ini betul bisa diwujudkan, akan menjadi 'a massive haul' bagi angkatan kerja kita. Susahnya, perlu investasi besar untuk proyek2 seperti itu...(yang otomatis akan menunjukkan peningkatan pertumbuhan ekonomi). Asyik kalau dari S3 sampai lulusan SD pun terserap perekonomian kita, bisa kita lupakan pengangguran dan kemiskinan itu... Mm, salam.
agustianwar wrote on Aug 13, '06
temen saya, demi dapat kerja, menulis SMA sbg pendidikan terakhir, supaya punya peluang lebih besar
Kasus seperti ini semakin sering saja terjadi, demi untuk memperbesar peluang. Jadinya situasi overqualified, namun dengan pendapatan lebih rendah.... Sedih sekali memang... Salam, Anwar.
elbintang wrote on Aug 13, '06, edited on Aug 13, '06
he he he...ada lagi kemaren teman saya di tolak kerja dengan alasan kualifikasinya ketinggian untuk pekerjaan itu...
uwah... ???
data tahun 2002 hanya ada 2 % orang Indonesia yang pendidikannya SMU-S3
yang 2 % itu menjadi pekerja...
kekayaan beredar hanya pada 2 % orang Indonesia yang 90% berada pada jenjang pendidikan ts-SMU....
huh ? (sumbernya lupa)
agustianwar wrote on Aug 14, '06
kekayaan beredar hanya pada 2 % orang Indonesia yang 90% berada pada jenjang pendidikan ts-SMU....
Idem re keprihatinannya... Salam.
kangbayu wrote on Aug 14, '06, edited on Aug 14, '06
Ide penggiringan kearah enterpreneurship juga menarik tuh, alih-alih semua orang pinter nya sibuk mencari lowongan kerja, sebagian akan terdorong untuk juga mendirikan bisnis. Pemerintah seharusnya bisa lebih mendukung percepatan pembangungan bisnis kelas kecil; memudahkan masyarakat untuk memiliki badan usaha, sekaligus menyusun koridor aturan yang mencegah para pemain besar masuk ke jenjang pasar ini.
agustianwar wrote on Aug 14, '06
Ide penggiringan kearah enterpreneurship juga menarik tuh
Betul kang...ada beebrapa yang 'berani' begini, meskipun sebagian besar lebih siap di sektor formal... Yang informal, justru yang tidak begitu inovatif dan semuanya di bidang yang sama sehingga suplai berlebihan dan kurang diversifikasi. SMEs sebetulnya telahlama diperhatikan, meskipunselalu belum cukup... Saya berharap akan lebih baik.... Salam.
vientomatic wrote on Jul 10
salam semuanya...skrg ini memang susah,saya skarang sedang cari2 kerja yg tidak membutuhkan pengalaman, tp susahnya mnta ampun..saya sengaja cuti dr kuliah saya buat cari kerja,ya sekalian biayain kuliah saya.tapi smpai skarang saya masih blm dpt apa-apa..mgkin kalau bapak-bapak/ibu-ibu ada yang punya lowngan kerja apapun,saya minta tolong dengan sangat.trima kasih.-alfin- 08568227560 e-mail : viendazsta@hotmail.com
agustianwar wrote on Jul 11
mgkin kalau bapak-bapak/ibu-ibu ada yang punya lowngan kerja apapun,saya minta tolong dengan sangat.trima kasih.-alfin- 08568227560 e-mail : viendazsta@hotmail.com
Maaf Mas, saya sendiri belum ada yang bisa ditawarkan. Tetapi moga-moga ada bapak/ibu lain yang bisa menolong...salam dan terus penuh semangat!
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help