Blog EntryNASIONALISME SEBUAH BENDERA Aug 13, '06 9:36 AM
for everyone

 

 

 

 

 

Kolom: Agusti Anwar

 

Setiap awal Agustus, bahkan kadang sejak akhir Juli, musim jualan bendera merah putih bermula. Di sisi-sisi jalan raya, akan banyak terpampang bendera-bendera yang digantung, mengibar meriap ditiup angin. Ada segala ukuran, mulai dari ukuran lapangan, ukuran reguler untuk halaman atau di dalam rumah (indoor flag), bendera meja, sampai yang segitiga. Tiang-tiang pun dijual, diikat bertumpuk. Seringkali, penjajaan bendera dengan gerobak dorong itu dilakukan dengan cara berkeliling, masuk-keluar kampung.

 

Kadang-kadang timbul juga pertanyaan di hati, apakah masih ada warga kita yang belum punya bendera? Apakah bendera-bendera yang terbuat dari lembar kain katun itu sifatnya hanya sekali pakai, yang setelah dikibarkan di Agustus yang lalu, harus langsung dibuang?

 

Mungkin banyak jawaban terhadap pertanyaan seperti itu. Ada yang karena hilang atau terselip entah tersimpan di mana, maklum jarang dipakai; ada yang lusuh karena terbiar lama; ada yang menjadi lapuk, cacat atau robek. Sebagian kita mungkin hanya ingin memakai yang baru, karena toh harganya tidak mahal. Mudah-mudahan, bendera yang sudah tidak dipakai itu tidak sekedar menjadi kain perca penambal yang koyak atau lap pengepel lantai.

 

Bagaimana pun, sepanjang peradaban bangsa-bangsa, sejarah bendera umumnya bersifat sakral. Sejauh ini diyakini bahwa bangsa Cina atau India yang pertama sekali menggunakan bendera sebagai simbol yang agung. Dinasti Chou yang bertarih tahun 1122 SM, telah menggunakan bendera putih, yang diidentikkan dengan figur kaisar. Para mughal dari India juga menggunakan bendera sebagai insignia kerajaan. Demikian pula kerajaan-kerajaan Mesir kuno dan Assyiria. Sejak dulu, bendera lazim dikibarkan di bagian terdepan arak-arakan kerajaan, dikibarkan di wilayah-wilayah taklukan. Bendera diusung para jenderal; jatuhnya bendera menyiratkan kekalahan dalam perang.

 

Menurut catatan sejarah, bendera adalah juga praktek yang diwariskan dunia Islam kepada wilayah Eropa, pada masa-masa jaya yang melintas sampai ke dataran Eropa. Warna hijau yang sekarang sering dipautkan dengan Islam dipercaya berasal dari Dinasti Fatimiyyah sejak abad pertama hijriah. Adapun penggunaan simbol bulan bintang baru menjadi lazim pada periode sejarah yang lebih belakangan.

 

Faktanya, penggunaan bendera dan penghormatan atasnya sebagai simbol nasionalisme, telah menjadi tradisi semua bangsa di dunia. Tidak satu negara pun di dunia ini yang tidak mempunyai bendera sendiri. Bendera menjadi penting baik dalam suasana damai maupun perang. Ketika damai, bendera menjadi simbol kebanggaan dan peringatan keberbangsaan. Ketika perang, keberadaan simboliknya bahkan menjadi semakin terasa, karena eksistensi kebernegaraan atau keberbangsaan itu sendiri berada pada situasi yang terancam.

 

Bacalah buku-buku sejarah peperangan; atau, lebih visualistik lagi, tontonlah film-film peperangan itu. Seringkali kita temukan para pemegang bendera atau panji-panji negara berada pada garis depan, dengan sikap yang sangat gigih dan heroik, seringkali tanpa senjata, namun terus maju menanantang badai musuh atau hujanan peluru. Jika yang pertama mati terbunuh, yang lain maju mengambil alih dan meneruskan tugasnya. Dalam tradisi dinasti-dinasti Cina, pemegang bendera (flag bearer) ini bahkan memancarkan aura kesakralan tersendiri, hingga tindakan menyentuhnya pun dapat dianggap sebagai perbuatan kriminal.

 

Di antara berbagai simbol atau tanda lainnya, nasionalisme memang lebih terpampang dari keberadaan bendera ini. Walaupun yang kita sebut sebagai simbol atau lambang negara adalah burung Garuda, secara global adalah keberadaan bendera yang paling mengibarkan wajah keberbangsaan itu. Bendera dikibarkan di halaman-halaman kantor pemerintahan, di pasang di ruang-ruang kerja wakil-wakil puncak suatu negara. Bendera dikibarkan di markas besar PBB, berjejer sejajar sebagai simbol negara-negara yang merdeka dan berkedaulatan.

 

Bagi seorang pemimpin asing yang melakukan kunjungan kenegaraan, secara protokol diplomatik ia berhak diarak dengan kendaraan yang mengibarkan bendera negarnya beserta bendera tuan rumah. Para duta besarnya pun begitu. Demikian simboliknya sebuah bendera, bahkan ketika tim pendaki gunung Everest mencapai puncak, tidak lupa bendera negara ditancapkan. Pasukan marinir yang menginjakkan kaki di pulau-pulau karang yang menjadi sengketa dengan negara tetangga, menancapkan bendera untuk mengisyaratkan kedaulatan nasional.

 

Bendera adalah simbol sebuah pengakuan---an act of recognition. Itu pulalah sebabnya, ketika menarik, mengecam atau menolak pengakuan terhadap bangsa lain, penistaan bendera seringkali menjadi ekspresi yang paling sempurna dari sikap demikian. Ketika para demonstran mengecam kekejaman bangsa lain, penistaan dan pembakaran bendera bangsa yang dikecam seringkali dilakukan.

 

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan kita, ketika berjuang berperang melawan penjajah Belanda, para pemuda pahlawan bangsa itu maju menembus desingan peluru untuk menurunkan bendera merah-putih-biru sang kolonial, merobek warna birunya, dan mengibarkannya kembali. Merah putih berkibar di udara! Nyawa dipertaruhkan dalam setiap jengkal aksi heroik yang sangat subversif di mata penjajah itu. Dan yang gugur. Dan yang gugur.

 

Kendati demikian, pada hakikatnya bendera tetap hanya sebuah ekspresi. Dalam konteks yang lebih ringan, sebuah tim sepak bola mempunyai bendera tersendiri, yang dielu-elukan para pendukungnya. Perusahaan-perusahaan besar mengibarkan bendera korporatnya di halaman kantor atau pabrik, baik bersamaan dengan bendera kebangsaan atau dengan ketinggian yang dibedakan. Partai-partai politik mengusung benderanya. Sedangkan para bajak laut, dikenal dengan bendera hitam bergambar tengkorak yang berkibar angker di atas kapal yang diterpa ombak.

 

Bahkan, dalam perannya sebagai simbol atau penanda situasi, bendera putih merupakan simbol perdamaian; sedangkan secarik kain putih yang dikibarkan dalam siatuasi pertempuran merupakan tanda menyerah. Suasana berkabung karena meninggalnya tokoh bangsa dilambangkan dengan kibaran bendera nasional setengah tiang. Bagi rakyat pada umumnya, seperti di beberapa wilayah di Indonesia, selembar kain putih yang dikibarkan merupakan penanda ada warga yang meninggal, menyerah kembali ke sang pencipta. Di Jawa, simbol duka kematian itu berwarna kuning, yang ditunjukkan lewat kibaran kertas minyak berwarna kuning. Secara global, bendera kuning dulu lebih dikenal sebagai penanda adanya penyakit menular yang mematikan, oleh karena itu menjauhlah.

 

Pendeknya, bendera merupakan simbol ekspresi kepada siapa pun itu. Sekali dua, kita mungkin menemukan rumah-rumah sederhana yang besemak, namun dengan bendera merah putih yang selalu dikibarkan setiap harinya, sepanjang tahun. Seringkali, kalau diusut lebih jauh, itu adalah ekspresi tulus hati dari sisa-sisa pejuang tua yang dulu ikut bertempur mengusir penjajah. Memang, menjelang hari ulang tahun kemerdekaan 17 Agustus ini, kita pun bisa menemukan rumah-rumah megah milik pribadi, entah pejabat sipil atau militer atau justru pengusaha besar, yang tembok pagarnya ditutup kain merah putih yang diuntai memanjang dari ujung ke ujung, seperti di gedung-gedung kantor pemerintahan. Begitu megah kelihatannya.

 

Saya tidak akan heran, apabila sempat ada yang bertanya di kalbu: penanda ekspresi apakah semua itu? Apakah itu simbol hati kalangan berharta yang sangat cinta kepada negeri? Sebab, ketika sehari-hari diberitakan banyaknya anak bangsa yang menjadi kaya raya karena korupsi, siap menelan atau menjual murah negara ini, umbaran warna merah putih di mana-mana dapat saja sekedar sebuah simbol sandiwara. Mudah-mudahan, kekhawatiran demikian tidak beralasan; dan tim KPK tidak menggiring penghuninya dengan borgol ke meja pengadilan, tak lama setelah peringatan hari kemerdekaan. 

 

Dirgahayu Republikku!

 

 

Jakarta, 13 Agustus 2006

 



arifbastari wrote on Aug 13, '06
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA, TERIMAKASIH KEPADA PARA PATRIOT BANGSA.
elbintang wrote on Aug 13, '06
tujuh belas agustus selalu mengingatkan : The Gorgeous Indonesia and The Severe Indonesia like twins all the times ?
agustianwar wrote on Aug 14, '06
TERIMAKASIH KEPADA PARA PATRIOT BANGSA
Ini memang momentum untuk melihat seberapa dalam kita cinta bangsa sendiri kan? Salam.
agustianwar wrote on Aug 14, '06
like twins all the times
Yes, two unfortunate sides of a coin---moga-moga muka jelita dan ramahnya akan lebih sering terlihat... Selamat hari kemerdekaan.. Salam.
bambangpriantono wrote on Aug 14, '06
Merdeka! Meskipun belum sepenuhnya merdeka...
agustianwar wrote on Aug 14, '06
Merdeka! Meskipun belum sepenuhnya merdeka...
Tapi tetap merdeka kan...he he...? Salam.
sukmaerni wrote on Aug 17, '06
Selamat HUT RI ke-61...semoga Indonesia pulih dan kembali jaya....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help