 | HAJI | Aug 24, '06 9:28 AM for everyone |

Kolom: Agusti Anwar
Beberapa waktu lalu, di toko buku-buku Islam Wali Songo di Kwitang, seorang ibu menjelang usia enam puluhan, rambut yang beruban, kacamata plus, asyik membolik-balik halaman-halaman buku di bagian Haji & Umrah. Ia tidak berselendang atau berjilbab, tetapi mengenakan daster sehari-hari, sangat bersahaja dan cuma bersandal. Namun, sekilas dua saya perhatikan, ia cukup khusyuk dan lama mengintip isi buku-buku itu, tanpa perduli dengan sekeliling.
Barangkali, hati ibu itu terpanggil untuk menunaikan ibadah haji. Barangkali, ada kerinduan untuk ke Tanah Suci, entah kapan, apalagi ketika usia telah semakin senja. Meskipun [saya sendiri] belum berhaji, tetapi sangat lazim di negeri kita yang masyarakat muslimnya terbesar di dunia, mencita-citakan untuk sempat menunaikan rukun Islam yang kelima itu, walau hanya sekali.
Seringkali cita-cita demikian menyusup sangat dalam di sanubari. Walau hidup tidak kaya, tidak punya harta berlebih, namun kerasnya cita-cita membuat banyak orang yang menabung sedikit demi sedikit, bertahun-tahun lamanya, agar suatu waktu kelak cukup untuk biaya haji. Mekkah cukup jauh dari tanah air dan biaya perjalanan haji memang mahal. Tidak jarang kita temukan seorang bapak atau ibu tua yang terperangah gundah karena tabungan tak jua cukup-cukup, karena saban tahun biaya haji biasanya naik lagi. Sejak krisis ekonomi melanda, biaya itu bahkan terasa semakin berlipat ganda.
Kendati demikian, jangan sangka akan berkurang jumlah pendaftar haji di negeri ini. Tiap waktu selalu saja tinggi jumlahnya, bahkan biasanya melampaui kuota. Krisis atau tidak, ibadah yang wajibnya hanya sekali seumur hidup itu tetap menjadi cita-cita umat Islam.
Dari berbagai cerita mereka yang telah berhaji, ada sejuta pengalaman individual yang demikian khusus dialami dan dirasakan sepanjang proses pelaksanaan ibadah di Tanah Suci. Dalam buku kompilasi oleh E. Syarief Nurdin dan E. Kosasih, “100 Keajaiban di Tanah Suci: Pengalaman Unik Jamaah Haji”, secara ringkas disingkap berbagai pengalaman unik yang dialami masing-masing. Ada yang mendapat pengalaman sejuk, ada yang justru sakit dan kepanasan, ada yang mendapatkan kejutan unik yang membahagiakan, ada yang malah mendapat peringatan. Tentu saja, katanya, ada banyak juga yang tidak merasakan apa-apa.
Ibadah haji sekarang memang bukan lagi sesuatu yang teramat berat, apabila di bandingkan dengan yang dahulu, ketika alat transportasi (mode of transport) masih lebih dominan melalui laut. Dari negeri kepulauan kita, orang berlayar berbulan-bulan untuk sampai ke Saudi Arabia. Banyak pula yang sakit dan meninggal dalam perjalanan, bahkan ketika sebelum sampai ke tanah suci. Barangkali itulah sebabnya banyak ragam tradisi masyarakat kita dalam memberangkatkan para calon jamaah haji maupun menyambut kepulangan mereka. Dulu, berhaji menjadi peristiwa teramat besar, yang dapat saja menjadi titik perpisahan. Setelah pulang pun, status telah berhaji itu menjadi titik pemisah ke tingkat keislaman yang lebih.
Sekarang, dengan sejumlah uang, ibadah haji dapat dilakukan dengan cara yang lebih ringkas dan cepat. Para jamaah diterbangkan dengan pesawat, hanya lebih kurang delapan jam, telah dapat mendarat di tanah Arab. Paket haji pun beragam, dari yang reguler sampai yang plus. Kenyamanan diperoleh berdasarkan kesanggupan membayar.
Itu pulalah sebabnya mengapa berhaji bagi sebagian orang telah disederhanakan seakan menjadi sebuah perjalanan wisata belaka---katakanlah, sebuah wisata religius. Sebab, bagi yang kaya raya, berhaji bahkan dapat lebih murah biayanya daripada berwisata ke Paris atau Los Angeles. Di sinilah titik kontras perbedaan antara seorang ibu tua yang mengumpulkan uang bersusah-susah untuk sempat sekali dalam hidupnya berkunjung ke Baitullah dengan seorang pelancong religius yang ingin sekedar mencatatkan perjalanan ke tanah diturunkannya agama Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam. Siapa tahu, barangkali itu jualah sebabnya mengapa banyak para koruptor kita ternyata telah berlabel haji, bahkan mungkin lebih dari beberapa kali.
Sekiranya ibu tua berdaster dan bersandal yang membolak-balik buku mengenai haji itu memang tengah mencari keteduhan dalam cita-cita berhaji sekali waktu nanti, marilah kita sama-sama mendoakan tersampaikan kerinduannya tersebut. Kata orang, kalau telah datang ‘panggilan’, maka insya Allah akan terbuka jua jalannya. Siapa tahu, doa andalah yang telah memudahkan jalan itu.
Jakarta, 24 Agutus 2006
Gambar dari koleksi www.al-islam.org 
 | Kata orang, kalau telah datang ‘panggilan’, maka insya Allah akan terbuka jua jalannya == huhuhu..iyaa..:(( saya ngerasain sendiri.. saya ada uangnya, pengen ke sana, trus deket lagi (hanya 3 jam naik pesawat--kalo gak salah).. tapi ya itu, namanya belum dipanggil, sampai skrg belum bisa juga ke Tanah Suci, ada saja halangannya..jadi sediiih :( |
 | Tulisan Pak Anwar membuat kerinduan ini semakin membuncah. Allahu Rabbi, berilah kesempatan kepada kami untuk bisa pergi ke 'rumahMu' itu, amiin [-o< |
 | Insya allah kedua ayah ibu saya tahun ini berangkat haji,.. setelah 2 tahun nunggu kuota... memang pendaftar haji tiap tahun nya meningkat terus, sehingga daftar sekarang berangkatnya bisa tahun 2008 jadi selalu indent 2 thn....
|
 | ass wr wb
setahu saya wajibnya berhaji itu memang hanya sekali seumur hidup. Rasulullah saw pun hanya sekali saja menunaikan ibadah haji nya, ya sewaktu haji wada itu. Dulu, pembimbing haji kami (Ust.Muslih Abd. Karim) berkata, bagi yang sudah berhaji, dan punya rizki lebih untuk berhaji lagi, lebih baik dipikirkan untuk menyumbangkan uang berhaji lagi nya itu kepada fakir miskin. Selain karena memang sudah tidak wajib, mengurangi panjangnya antrian kuota, mengentaskan kemiskinan juga adalah kewajiban sesama muslim. Ada hadist rasul (yang bukunya kalo di saudi nanti dibagikan oleh pemerintah Saudi) yang mengatakan bahwa bersedekah pada fakir miskin itu lebih utama dari pada ber i'tikaf di mesjid beliau selama 2 bulan!
Di lain sisi, haji itu selain ibadah spiritual, juga tak kalah penting adalah ibadah fisik. Jadi bagi yang masih muda dan jika mampu segeralah berhaji, karena fisik kuat bisa lebih leluasa jadinya, insya allah. Bisa ke raudah dengan mudah, bisa ngelempar jumrah dari pinggir sumur nya, bisa sholat dekat ka'bah, bisa berdoa di multazam....dst dst, yang akan susah dilakukan ketika kita sudah udzur.
Tentang niat, itu ada dalam hati kita. Ketika memang niat itu kuat, Insya Allah segala kesulitan tidak akan dirasakan berat. Bismillahi tawakkaltu Alallah. Ketika kita sudah berbicara ttg Allah, tidak ada yang patut ditimbang berat kecuali hanya diriNya.
Mohon maaf lahir bathin, tidak bermaksud mengajari apalagi menggurui, saya hanyalah hamba Allah yang dhaif.
Kerinduan untuk kembali ke Baitullah memang selalu ada di hati........
Oh ya ada perbedaan utama dari segi biaya (utk kita yang di Indonesia khususnya) antara pergi menuniaikan ibadah haji dibandingkan dengan berwisata. Pergi haji itu, semakin sebentar waktunya, semakin mahal harganya!
|
 | rizha wrote on Aug 25, '06 Membaca blog ini saya jadi sedih Kang...., ingin menghajikan orang tua tapi lom bisa... Ya Allah.... |
 | orang tua ku malah bercita cita pengen menghajikan aku.. Amiiiin.. semoga kesampaian... :D (orang tua berbakti nih) |
 | rizha wrote on Aug 26, '06 wakakak terbalik nih... semoga tercapai! amiiin |
 | Rasulullah saw pun hanya sekali saja menunaikan ibadah haji nya, ya sewaktu haji wada itu.  Betul itu, Nabi pun hanya 1 kali berhaji dan melakukan umrah 3 kali. Karena perilaku Nabi merupakan teladan, maka berlebih-lebihan malah tidak relevan. Tentang haji berulang-ulang ini, KH Ali Mustafa Yakub yang orang MUI baru merilis buku barunya, "Haji Pengabdi Setan" yang mengkritik prilaku muslim berduit yang asyik berhaji di tengah masyarakat yang justru sedang menderita kemiskinan. Kata Ayah saya, kerinduan dan keinginan hati untuk berhaji paling tidak sekali lagi, justru karena merasa ingin melengkapkan yang terasa kurang di haji pertama, karena tidak punya pengalaman. Karena semangat yang meluap, di haji pertama katanya banyak jamaah yang melakukan semua hal selengkap-lengkapnya, sehingga justru kurang maksimal... Terima kasih atas komentarnya, insya Allah akan menambah semangat semua yang membaca... Salam, Anwar.
|
 | salam di Qom- Iran, ada seorang ulama besar yang selama hidupnya belum pernah menunuaikan ibadah haji. Tentu bukan karena tidak wajib, tapi karena uangnya tidak pernah mencukupi.
Semasa hidupnya, setiap kali ada uang, beliau gunakan untuk membeli buku. Setelah beliau meninggal, koleksi bukunya dikelola menjadi perpustakaan umum. |
 | Bung Anwar: saya Insha Allah akan berangkat nanti tgl 22 dec. y.a.d ke Tanah Suci. Membaca ulasan Bung Anwar makin tergugah di kalbu bahwasanya melakukan ibadah ini adalah memenuhi perintahNya yang kelima. Mohon doa restu! Wassalam! |
Comment deleted at the request of the thread owner.
 | pak agus..gambaran tentang haji terang sekali..per scane...detail.sudah jadi pergi haji pak? perkenalkan km dari HIKMAHtravels (www.hsptravels.tk), solusi perjalanan ke tanah suci. baiklah.semoga tercapai cita-cita haji semua keluarga blogger dan para kometator semuanya. Amin SLamet RIYADI -021- 71 421 888 |
| |