
Kolom: Agusti Anwar
Dapat dipastikan bahwa terbang merupakan salah satu capaian teknologi manusia yang sangat banyak manfaatnya. Sejak terobosan dua bersaudara Wilbur dan Orville Wright yang mendisain dan membangun pesawat pertama ke udara Desember 1903, maka masa depan manusia menjelajah angkasa menyaingi burung-burung telah terbuka lebar. Lebih dari burung-burung yang sejak zaman kuno menimbulkan inspirasi, lengkap dengan bentangan dua saya lebar di belakang punggung, manusia bahkan telah menembus angkasa luar dan mendarat di bulan.
Dalam keseharian hidup sekarang, berpergian dengan menggunakan pesawat terbang telah menjadi bagian yang lengkap. Revolusi medium transportasi telah memberikan sangat banyak kemudahan bagi manusia. Jarak yang ribuan kilometer telah sangat diperdekat; waktu perjalanan sangat dipersingkat. Globalisasi baru betul-betul punya makna karena capaian teknologi modern demikian ini.
Di tanah air, kemudahan terbang memang belum begitu lama ini betul-betul menjadi milik publik secara luas. Dulu, menggunakan pesawat terbang merupakan kegiatan sangat mahal yang hanya dinikmati orang-orang kaya. Bagi masyarakat umum, kalau bukan karena sangat terdesak, termasuk karena keluarga yang sakit keras atau ada yang meninggal, berpergian lewat udara tidak menjadi pilihan, walaupun jarak yang harus ditempuh sangat jauh. Maskapai penerbangan komersil pun masih sangat terbatas yang dulu dipegang Garuda atau Merpati, yang penumpangnya jarang penuh karena harga tiket yang sangat mahal. Dari pengalaman, saya pernah terbang Pekanbaru-Jakarta karena sebuah keperluan yang mendesak, dengan pesawat Boeing 737-300 hanya dengan 6-7 penumpang.
Sekarang, alhamdulillah, pesawat terbang telah menjadi miliki semua orang. Realitasnya, Indonesia adalah negeri kepulauan yang luas. Jarak tempuh dari Jakarta ke Pekanbaru yang paling cepat ditempuh selama 48 jam lewat darat (bayangkan Aceh), dapat dicapai hanya dalam 1 jam 30 menit. Terbang ke Manado yang memerlukan waktu 5 jam (termasuk transit), tentu akan membutuhkan waktu perjalanan yang lama, lewat laut, apalagi darat. Kemudahan untuk terbang jelas semakin membaurkan rakyat kita karena telah semakin ringan peluangnya untuk dapat saling bertemu. Kerabat keluarga yang saling berjauhan semakin mudah bersilaturahmi. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa jasa penerbangan swasta sekarang turut berjasa dalam memudahkan kontak-kontak fisik antar warga kita dari berbagai suku dan daerah, termasuk untuk berwisata domestik.
Tanpa pretensi apa pun, mungkin kita harus berterima kasih kepada, misalnya, maskapai penerbangan Lion Air, yang nekad memulai layanan penerbangan murah (budget flying) sejak tahun 2000, justru ketika Indonesia ditengah deraan krisis moneter sejak tahun 1997. Betul bahwa di negara lain, metode penerbangan murah telah dilakukan lebih lama, namun di tanah air ia baru beriak dan marak bergema sejak akhir 1990an itu hingga, terutama, sekarang ini. Setelah rintisan itu, sekarang kita punya banyak sekali pilihan penerbangan swasta untuk berbagai kota di seluruh pelosok negeri, lengkap dengan persaingan harga tiket yang semakin terjangkau. Layanan penerbangan per harinya tersedia untuk 2-3 tiga kali untuk tujuan kota-kota besar tertentu. Bahkan daerah pun memiliki maskapai penerbangan lokal yang semakin memberagamkan pelayanan publik itu.
Semaraknya layanan penerbangan merupakan bukti bahwa secara ekonomis bisnis itu menghasilkan untung. Prinsip terbang dengan anggaran rendah (low budget) bahkan lebih menjamin dilampauinya margin profit daripada harga tiket yang dijual amat mahal. Sekarang, tidak akan ada lagi pesawat yang terbang dengan 7 orang penumpang, tetapi penuh tanpa adanya kursi (seat) yang kosong. Prinsip dagang a la Cina, biar untung tipis tetapi laris manis, terbukti lebih produktif daripada mencari untung besar tetapi malah rugi. Lebih dari itu, prinsip terbang murah ini sangat sesuai dengan semangat dan martabat kebersamaan bangsa kita karena sifatnya yang inklusif, yang merangkul dan memberikan kemudahan seluas-luasnya bagi semua orang.
Tentu saja, di tengah masyarakat yang semakin gemar terbang, selalu ada cerita serangan ‘takut terbang’ yang dapat menimbulkan senyum bagi warga, apalagi yang baru pertama kali naik pesawat udara. Ada yang tegang, yang kagok, yang snobis, yang berzikir tak putus-putus (dan ini positif tentunya), anak-anak yang menangis terus. Ketika pesawat komersil kita kebanyakan adalah pesawat bekas, adanya peristiwa kecelakaan, tergelincir di landasan sampai yang nyasar, semuanya pun menjadi bagian dari proses ‘belajar terbang’-nya bangsa kita, demi suatu kemajuan yang lebih baik. Terlepas dari permasalahan teknis yang memang perlu serius diatasi,* terbang, menurut para pakar, tetap merupakan cara perjalanan yang paling aman. Flying is the safest way to travel. Dan itu kini terbuka bagi semua anak bangsa.
Karena harga tiket yang telah semakin terjangkau, moga-moga sekarang tidak akan ada lagi anak kita yang nekad bersembunyi di rongga roda pesawat karena tersangat ingin naik pesawat terbang.
Kepada seluruh penumpang…..dipersilahkan masuk ke dalam pesawat.
Jakarta, 27 Agustus 2006
*) Kemudahan terbang juga menimbulkan dampak negatif bagi perusahaan bis antar kota maupun pelayaran. Persaingan antar model transportasi ini tidak perlu saling meniadakan, melainkan saling melengkapi; menjadi peluang bagi seluruh elemen ekonomi bangsa.