Blog EntrySEMARAK TELEVISI LOKALAug 27, '06 9:53 AM
for everyone

 

 

Kolom: Agusti Anwar

 

WAKTU adakalanya memberikan kejutan-kejutan manis, meskipun kecil. Setelah beberapa lama tidak singgah ke Pekanbaru, beberapa waktu lalu tatkala sempat, saya pun singgah. Kota bertuah Negeri Payung Sekaki itu tetap rapi dan bersih, indah di pandang mata. Pembangunan semakin giat melebar meluas ke berbagai wilayah, terutama sejak era otonomi daerah ini.

 

Suasana memang sudah lain, ketika dulu Riau dikenal menjadi ajang meraup pendapatan bagi Pusat dan juga, katanya, pemasukan pribadi bagi gubernur non-lokal yang tidak perduli. Itulah periode ketika pendidikan Riau tergolong salah satu yang paling tertinggal, ketika kontribusinya bagi anggaran pendapatan nasional salah satu yang terbesar.

 

Setelah reformasi, tampaknya putra daerah telah memetik banyak manfaat, termasuk di ajak kepolitikan lokal.* Entah seperti membalaskan luka karena dominasi Pusat sebelumnya, kepemimpinan daerah pun menuntut orisinalitas kesukuan figurnya. Memiliki latarbelakang ‘Melayu’ telah menjadi kata kunci. Namun, di luar sekap konteks tersebut, faktanya memang kemajuan semakin terasa di propinsi ini setelah putra daerah yang memimpin. Benar bahwa dulu pun ada gubernur yang bukan putra daerah, misalnya Pak Soebrantas, yang dicintai masyarakat karena keperduliannya. Sebagai warga yang tumbuh besar di Riau, meski bukan orang Melayu, saya turut gembira atas perkembangan pembangunan ini---dengan segala kekurangannya.

 

Salah satu gerak langkah kemajuan di Riau sekarang adalah keberadaan televisi lokal. RiauTV atau RTV namanya.** Tentu saja RTV hanyalah salah satu darin sedikitnya 60-an televisi lokal swasta yang ada di Indonesia, mulai dari BukttinggiTV, TegalTV, BaliTV, GorontaloTV dan seterusnya. Berkat UU No. 32/2002 tentang Penyiaran sebagai payung bagi eksistensi televisi lokal swasta, investasi bisnis di dunia pertelevisian daerah turut berkembang, dengan titik unggul kemampuan membaca dan mengkomunikasikan kearifan dan kebutuhan masyarakat setempat. Karena bersifat swasta dan hidup dari pemasukan iklan, situasi spesifik masing-masing televisi lokal bermacam ragam, dari yang mereguk untung dan terus berkembang sampai yang kembang-kempis dan terancam gulung tikar. Untuk kasus Riau, kiprah RTV telah melengkapkan semarak pembangunan daerah yang memiliki nilai dan kebanggaan tersendiri.

 

Yang semakin membuat saya kagum adalah besarnya minat masyarakat terhadap televisi daerahnya. Ketika berkeliling dan singgah di berbagai bagian kota, saya selalu menemukan televisi yang dipatok di saluran RTV itu. Tentu saja tetap banyak yang juga gemar dengan sinetron atau gosip infotainment produk Jakarta yang telah diharamkan para ulama NU karena unsur pergunjingannya yang membuka aib orang lain (ghibah). Namun televisi lokal pun ternyata punya magnet yang kuat, tidak begitu saja dikalahkan oleh ‘kesebelasan’ televisi besar yang direlai dari Jakarta.

 

Dulu tidak terbayangkan akan ada banyak stasiun televisi independen di negeri kita ini. Di era Orde Baru, otoriterisme politik juga diwujudkan dengan monopoli televisi siaran pemerintah lewat TVRI yang kemudian ditambah dengan beberapa saluran swasta yang lebih sedikit jumlahnya dari banyaknya jari tangan. Mula-mula saya menduga semua negara yang non demokratis akan berperilaku terpusat sedemikian itu.

 

Ternyata salah. Sebab, RRC, misalnya, sebagai negara komunis yang sentralistik justeru memiliki stasiun televisi terbanyak di dunia (data CIA world Fact: 3240 saluran, 31 televisi propinsi, 3000 televisi daerah tingkat dua). CCTV sebagai televisi nasional atau BeijingTV yang berbasis ibukota, memiliki belasan saluran yang bersegmen khusus, mulai dari yang umum, spesialis berita, pendidikan, olah raga, internasional dan sebagainya. Televisi lokal yang membawakan siaran pertanian seperti cara budidaya lele dumbo atau teknik biogenetika pembibitan unggulan ternyata memberi manfaat besar bagi para petani, tanpa harus berbaris mendengarkan ceramah penuh anggukan sejenis Klompencapir. Putri saya yang berusia 3 tahun sempat belajar bahasa Mandarin dan Inggeris di saluran televisi pendidikan.

 

Berkembangnya televisi lokal di tanah air yang sekarang telah kita miliki jelas mempunyai potensi besar untuk semakin mencerdaskan dan mentransfer pembangunan dalam konteks kedaerahan. Memang televisi daerah dapat saja sekedar memperluas pergosipan model infotainment dunia selebritis yang memang gatal kamera, baik yang di pusat maupun daerah. Namun hendaknya semangat diversity of content dan diversity of ownership yang didorong UU Penyiaran tahun 2002 tidak sekedar duplikasi ‘ekses negatif’ pusat ke konteks daerah, melainkan program positifnya. Televisi lokal jelas menyediakan ruang luas untuk mengemas keunggulan daerah secara lebih mendalam---those that matter to the locals.

 

Anda tahu, satu hal lagi yang membuat saya semakin terkesima menyaksikan kiprah televisi lokal Riau adalah ketika di pagi hari Jumat itu, dengan jam tayang 10.00-11.00, ada acara dialog interaktif Lentera (BKMT) yang dipandu Dra. Sukma Erni MPd, dosen UIN Sulthan Syarif Kasim yang juga aktivis perempuan di Riau. Rupanya, karena akan memandu acara dialog itulah maka adik perempuan saya itu bergegas pergi satu jam sebelum jam tayang, rupanya ke stasiun RTV untuk live shooting. Komitmen untuk berbuat memang dapat dilakukan tanpa banyak cerita (apalagi berbangga), tetapi langsung saja berbuat. Televisi lokal juga dapat berbuat banyak bagi daerah, walau tidak terdengar di pusat.  

 

Jakarta, 27 Agustus 2006

 

 

-Dapat dirujuk juga Asosiasi Televisi Lokal Indonesia dan Komisi Penyiaran Indonesia

-Daftar lengkap televisi lokal di Indonesia dapat dilihat di Asiaawaves.net.

 

 

*) Patut dicatat bahwa dalam Pemilu 2004, di antara 2 orang yang mendapatkan suara langsung mencukupi raihan suara yang diperlukan sesuai ketentuan Bilangan Pembagi Pemilih, bukan sekedar nomor urut, untuk duduk di DPR adalah Hidayat Nur Wahid dari PKS dan Saleh Djasit, tokoh asli Riau yang dari Golkar. Semua di Riau tahu bahwa ia tokoh yang dicintai masyarakat.

 

**) Kepemilikan RiauTV sebetulnya berada pada Jawa Pos group.



16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
rizha wrote on Aug 27, '06
wah dunia pertelevisian kita makin ramai yach.... hehehe
arifbastari wrote on Aug 27, '06
Ketika berkeliling dan singgah di berbagai bagian kota, saya selalu menemukan televisi yang dipatok di saluran RTV itu. Semoga Masyarakat RIAU semakin Cinta akan Daerahnya. Banyaknya Studio TV bukan pula mencerminkan lepas dari Monopoly Bisnis Penyiaran, padahal dari setiap Studio TV tersebut dimiliki oleh orang itu itu juga
agustianwar wrote on Aug 27, '06
rizha said
wah dunia pertelevisian kita makin ramai yach
Betul itu, walaupun jelas ada yang statusnya megap-megap....salam.
agustianwar wrote on Aug 27, '06
Semoga Masyarakat RIAU semakin Cinta akan Daerahnya
Saya pun cinta Riau...Moga-moga struktur kepemilikian 'pembangunan' pun dapat pula mencerminkan kelokalan sejauh itu positif... Salam.
ciput wrote on Aug 28, '06
Jogja punya JogjaTV, Jatim punya J-TV bahkan Mataram (Lombok) pun ada SasakTV. Ini fenomena lumrah di mana pun di seluruh dunia, kita aja dulu yg digoblog2in rezim Orba sehingga peluang bisnis begini jadi tertinggal jauh, bahkan oleh negara otoritarian seperti RRC sekalipun.

Tapi ga selalu linier juga sih, sepengalaman saya di UK, jarang ada kota punya tv lokal. BBC pun cuma pasang 5 channel (gratisan semua), sisanya dikuasai oleh tv cable (berlangganan) yang didominasi oleh SKY-Net (punya juragan media dunia, Rupert Murdoch, dan kalo ga salah yg beli sahamnya antv juga deh).
bambangpriantono wrote on Aug 28, '06
Jatim tidak hanya punya J-TV...bahkan kota Malang, tempat tinggal saya ini juga punya banya TV lokal....macam Batu TV, Malang TV, ATV (Agropolitan TV), Mahameru TV dan Gajayana TV (TV internal Univ Gajayana)...
Yah, makin pusing saja pak...namun saya bangga dengan acara2 JTV, karena muatan lokalnya makin kental, termasuk berita2 dalam bahasa Suroboyoannya...
agustianwar wrote on Aug 28, '06
ciput said
sepengalaman saya di UK, jarang ada kota punya tv lokal
Betul itu, di Eropa televisi lokal memang tidak bertebaran seperti di RRC. Esensi sebetulnya dalam konteks kita adalah kontribusi positif yang dapat dilakukan TV lokal itu buat daerah masing-masing, bukan justru melipatgandakan dampak negatifnya. Salam, Anwar.
agustianwar wrote on Aug 28, '06
namun saya bangga dengan acara2 JTV, karena muatan lokalnya makin kental, termasuk berita2 dalam bahasa Suroboyoannya...
Dari data memang ada lebih dari 60 TV lokal sekarang ini dan Jatim termasuk yang punya banyak. Riau cuma 3 kalau tidak salah, dengan RTV yang terbesar. Seperti Mas sendiri bangga dengan JTV, itu dia sebetulnya yang dicari.... All in all kita pun bisa bangga dengan Indonesia kita ini, ya nggak? Salam.
deshinta wrote on Aug 28, '06
Wah, saya baru tau, jadi banyak TV yah di setiap daerah. Semoga membawa kebaikan bagi masyarakat kita, aminnnnnnnnnn
Oh iya, mau sharing aja, ada satu hal positif yang kita mungkin kita bisa belajar dari Malaysia. Sekarang ini, di Malaysia ada sekitar 6 aja saluran TV, kalau di gabung ama Astro (parabola kecil), ada sekitar 20 an lah. Herannya, dari 20 an itu, termasuk yang internasional, Malaysia tidak membenarkan iklan rokok. Betul, di Malaysia tidak ada satu detik pun iklan rokok...!!! Apakah bisa di contoh oleh negara kita tercinta ?? Wallahualan *smile*
qzoners wrote on Sep 2, '06
Waah... kalo ana sih sebenarnya sedih dengan makin banyaknya televisi daerah, karena isinya sama aja banyak maksiatnya. Mending juga banyak televisi pendidikan atau televisi Islam, insya Allah itu lebih bermanfaat terutama untuk memperbaiki moral bangsa yang udah amburadul ini.

http://qzoners.co.nr
agustianwar wrote on Sep 2, '06
Wah, saya baru tau, jadi banyak TV yah di setiap daerah. Semoga membawa kebaikan bagi masyarakat kita, aminnnnnnnnnn
Amin juga.... salam.
agustianwar wrote on Sep 2, '06
qzoners said
kalo ana sih sebenarnya sedih dengan makin banyaknya televisi daerah, karena isinya sama aja banyak maksiatnya
Mm yah...jumlah memang tidak meniscayakan adanya kebaikan... Dukungan kita kan kalau itu bersifat positif... Salam, Anwar.
jua14 wrote on May 9
Yang jelas, asal gk bersifat premodial aja..RTV kan bukan milik satu etnis. Jangan sampaikan di jadikan ajang "Tebar Pesona" oleh para Calon Pilkada, yang manis dahulu, pahit belakangan! Cukup sudah saya "muak!" dengan acara TV swasta nasional yang gak mendidik sama sekali, contoh sinetron anak sekolahan, apa bgitu gaya anak sekolah jaman sekarang..berpelukan di depan umum, pakaian seenaknya (apalagi ceweknya..), rambut di cat..Gile bener! Dan yang memiriskan brani memperolok guru dan Ortu! Satu lagi acara Idola Cilik di RCTI, anak2 di eksploitasi menjadi layaknya orang dewasa ( kayak monyet aja, plagiat abis) di tingkahi klakuan tim jurinya yang menyebalkan..Mudah2an ini akan selalu menjadi perhatian kita bersama jangan sampai TV menjadi ajang "Perusak Mental". Ayo pemerintah, jangan internet aja yang lu blok, tu TV, lu kontrol juga doong! Geto, ah..capee dee..
agustianwar wrote on May 9
jua14 said
Yang jelas, asal gk bersifat premodial aja..RTV kan bukan milik satu etnis. Jangan sampaikan di jadikan ajang "Tebar Pesona" oleh para Calon Pilkada, yang manis dahulu, pahit belakangan! Cukup sudah saya "muak!" dengan acara TV swasta nasional yang gak mendidik sama sekali, contoh sinetron anak sekolahan, apa bgitu gaya anak sekolah jaman sekarang..berpelukan di depan umum, pakaian seenaknya (apalagi ceweknya..), rambut di cat..Gile bener! Dan yang memiriskan brani memperolok guru dan Ortu! Satu lagi acara Idola Cilik di RCTI, anak2 di eksploitasi menjadi layaknya orang dewasa ( kayak monyet aja, plagiat abis) di tingkahi klakuan tim jurinya yang menyebalkan..Mudah2an ini akan selalu menjadi perhatian kita bersama jangan sampai TV menjadi ajang "Perusak Mental". Ayo pemerintah, jangan internet aja yang lu blok, tu TV, lu kontrol juga doong! Geto, ah..capee dee..
Ha ha ha...yg lagi sebal ya.....
rangkuantan wrote on May 22
Memang TV lokal dapat menjadi komplementer pertelevisian kita yang terlalu sentralistik, sayangnya bahasa yang digunakan sering "bahasa Indonesia-Jakarta", padahal saya sangat senang dengan bahasa Indonesia yang dituturkan dengan style khas masing-masing daerah.
agustianwar wrote on May 25
sayangnya bahasa yang digunakan sering "bahasa Indonesia-Jakarta"
Betul juga ya, semestinya lebih berwarna lokal, meski tanpa mengaburkan esensi kenasionalannya...salam...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help