Blog EntryMADE IN CHINA!Aug 29, '06 12:27 AM
for everyone

 

 

 

Kolom: Agusti Anwar

 

 

Mari kita mulai dengan fragmen umum ini, yang terjadi beberapa waktu lalu:

 

“Anwar, kalau kau bicara selalu bicara kerakyatan. Berpenampilan juga gaya kerakyatan. Tetapi pena yang dikantong Mont Blanc. Bagaimana itu?”

 

Baiklah, stop press, itu pembicaraan waktu rehat dengan sejawat di kantor, yang kebetulan sekampung dan berasal dari Padang Sidempuan, meskipun seumur hidup belum pernah menginjakkan kaki ke negeri ‘salak sibakkua’ itu. Ia lahir dan besar di Bandung, namun selalu berupaya menggunakan dialek Angkola atau Mandailing yang terkesan janggal.

 

Soal kontradiksi gaya kerakyatan dan pena Mont Blanc itu pun sebetulnya tidak seperti yang dibayangkan. Di kantong kemeja saya memang tersembul ujung pena berlogo Mont Blanc, dengan bintang enam segi berwarna putih dibungkus lingkar hitam. Penanya pun bertuliskan merek tersebut.

 

Tentu saja tidak asli. Jujur saja, mana mungkin saya mau dan mampu membeli sebuah pena berharga ribuan dollar, ketika fungsinya sebagai alat tulis dapat diperoleh dengan beberapa lembar uang rupiah saja? Ketika pena itu saya tunjukkan, termasuk motif hias klasik khas naga yang menjadi alasan mengapa saya menyukainya sebagai suvenir, barulah teman tersebut tertawa. Soalnya, mana ada Mont Blanc asli yang bermotif naga seperti itu? 

 

Pena demikian, yang sekarang juga banyak di jual di emperan dan pasar kaget, apa pun merek besarnya, hanyalah barang produk massa yang berstatus low-end, walaupun menumpang merek dagang yang berkelas. Waktu itu saya memang membelinya di Hongqiao, Beijing, pasar beragam barang tiruan maupun asli, mulai dari mainan, pena, jam tangan sampai produk jade dan permata, yang dikenal murah dan digemari semua termasuk orang asing, bule atau bukan. Hongqiao terkenal bergelimang barang bajakan. Namun demikian, Margaret Tatcher dan Bill Clinton pun pernah mengunjunginya dan foto-foto kunjungan mereka terpampang besar di beberapa bagian pasar bagaikan iklan dukungan.

 

Faktanya, barang apa sih yang tidak tersedia di RRC? Praktis seluruh produk konsumen yang lagi mode di dunia internasional akan dapat ditemukan di negeri yang berpenduduk 1,3 milyar itu, yang asli maupun tiruannya. Bahkan ketika orang butuh transplantasi ginjal pun, suka atau tidak, besar peluangnya akan diperoleh di Guangzhou, Shanghai atau kota besar lainnya. Yang ini tentu saja asli.

 

Keunikan produk-produk tiruan bukanlah semata menyangkut kualitas yang lebih rendah. Jika anda mencari jam tangan, katakanlah, merek Omega, Patek Philippe, bahkan Rolex, atau mungkin tas kulit Gucci atau Aigner, para pedagang dapat menawarkan kelas-kelas kesempurnaan tiruan yang diinginkan. Jangan heran bila para pedagang itu pun akan menyodorkan brosur asli dari masing-masing merek untuk diperbandingkan. You would simply be amazed.

 

Benar bahwa isu pembajakan, khususnya dalam kaitannya dengan intellectual property rights, banyak difokuskan pada negeri naga ini. Agenda wajib dalam diplomasi perdagangan RRC-AS selalu mencantumkan masalah HAKI, seakan tak kunjung selesai. Kalau kita mau jujur, realitasnya,  perbedaan antara kemampuan meniru dan mencipta terpaut jurang yang tipis belaka. Sebetulnya seberapa banyak perbedaan mendasar fitur berbagai jenis merek telepon genggam yang beredar, misalnya? Sangat sedikit, bukan? Yang seringkali menyebabkan suatu barang menjadi bajakan adalah karena tiruan itu tetap membawa merek dagang orisinalnya sementara profit diperoleh pihak lain, sedangkan keseimbangan suplai di pasaran menjadi terganggu. Lebih parah lagi, ketika kualitas barang tiruan ternyata lebih rendah, nama baik merek tersebut ikut tercemarkan.

 

Pertanyaannya, mengapa tindak pembajakan tetap dilakukan ketika sebetulnya mampu menghasilkan produk tandingan? Jawaban untuk ini tentu merupakan adonan antara gairah untung cepat dari para produsen produk bajakan dan animo publik yang haus gaya hidup, namun harus dengan harga yang lebih murah. Dapat dimaklumi bahwa bersamaan dengan peningkatan kemampuan ekonomi rakyat yang telah memperbesar kelas menengah yang kemampuan riilnya untuk menopang gaya hidup mewah belum memadai, penampilan kamuflatif ‘seolah-olah’ lewat produk tiruan merupakan alternatif yang mudah. Ini sekedar mutualisme dua lajur ekonomi---permintaan dan penawaran.

 

Mungkin ada yang bertanya sampai sejauh mana pembajakan akan dilakukan? Dalam kasus RRC, jawaban pendeknya adalah, apa pun produk itu maka pasti dapat dibuat tiruannya. Dalam kasus-kasus tertentu bahkan dapat terasa ekstrim atau, mungkin, tidak masuk akal. Sebagai contoh, di tahun 2002, ketika J.K Rowling belum lama meluncurkan sebuah seri Harry Porter (ha li bo te) yang laris manis di RRC, tak lama kemudian terbit sebuah seri yang lebih baru atas nama Rowling dengan setting yang sangat pas. Pasar pembaca Cina berkapasitas ratusan juta langsung saja menyerap serial baru itu tanpa banyak tanya. Lucunya, ketika dikonfirmasi dengan Rowling, ternyata ia tidak merasa mengarang seri palsu berjudul "Harry Potter and Leopard-Walk-Up-To-Dragon" yang tengah beredar di dataran Cina. Ketika Rowling justru masih sedang merancang karangan yang berikutnya, namanya telah dicatut demi memanfaatkan selera pasar.

 

Juga benar bahwa Pemerintah RRC terus giat berusaha menangkal berbagai pembajakan produk asing tersebut dan lebih mengarahkan pada inovasi produk tandingan dengan merek dagang sendiri. Seperti diperhatikan, beragam produk ekspor Cina semakin merambah pasar global, termasuk Indonesia, terutama dalam kategori mainan, peralatan rumah tangga, elektronik, alat-alat listrik sampai sepeda motor. Tentu saja yang beredar di pasar dunia bukanlah barang bajakan, namun produk dengan merek dagang tersendiri yang mencantumkan label “made in China”.  

 

Mahalnya upah tenaga kerja di berbagai negara maju yang mendorong relokasi industri ke Cina juga menyebabkan banyaknya produk dengan nama besar asing yang tetap berlabelkan buatan Cina. Ada sangat banyak merek dagang terkenal yang sekarang diproduksi oleh buruh-buruh pabrik di RRC, kemudian dipasarkan secara global. Sebagian perusahaan asing yang telah melakukan relokasi ke negara Asia lainnya bahkan pindah dan melakukan relokasi ulang ke RRC.

 

Adakalanya terjadi kisah-kisah lucu soal negara asal produksi (rule of origin) ini. Seorang teman yang tengah bermukim di Beijing, misalnya, sekali waktu mengirim pesanan seperangkat amplifier dan speakers dari merek Eropa yang terkenal melalui mail-order business Peter Jerpersen yang berbasis Denmark. Ketika kiriman pesanan sampai dan diterima dengan baik, periksa punya periksa, barang yang dibayarkan dengan dollar dan dipesan lintas benua, ternyata mencantumkan label ‘made in China. Maka jangan heran ketika anda membeli suvenir gantungan kunci bergambar kanguru di Sydney atau seuntai bunga lei sintetis di Honolulu, label kecil yang menempel adalah ‘made in China. Ini sudah menjadi fenomena sehari-hari di seluruh pelosok dunia sekarang ini, sama seperti di Indonesia.

 

Jadi, Cina bukan lagi sekedar soal barang bajakan atau tiruan, melainkan soal barang kebutuhan. Ketika dunia melihat RRC dan menanamkan investasi baru hampir setiap harinya di negeri itu, ada faktor kebutuhan pasar serta kebutuhan suplai produk yang terkandung di dalamnya. Tidak dapat disangkal bahwa negeri yang dipimpin Hu Jintao sekarang ini akan menjadi raksasa ekonomi dunia yang tangguh dan kuat, menjadi engine of global growth

 

Itulah sebabnya tidak sekedar bicara ketika di zaman Rasulullah pun telah disebutkan perlunya menuntut ilmu walaupun sampai ke negeri Cina. Sebab, banyak hal yang memang dapat dipetik dari negara yang telah berperadaban besar sejak empat ribu tahun yang lalu itu. Tentu saja salah satu yang tidak adalah soal pembajakan.

 

 

Jakarta, 28 Agustus 2006



12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
rikaadinda wrote on Aug 29, '06
hihihi... tapi daku bukan made in cina loh, tapi made in depok kekekeke...
agustianwar wrote on Aug 29, '06, edited on Aug 29, '06
daku bukan made in cina loh, tapi made in depok
Berarti orisinal dong...ha ha ha? Salam.
arifbastari wrote on Aug 29, '06
Sekarang di AS juga diserbu produk Cina, dari peniti sampai mesin mesin, Elektronik, Merek Produk AS seperti RCA, Kodak tertulis Asembling Cina. Komponen Komputer Game mirip Time Zone ternyata buatan Cina. Betapa kekuatan Raksasa RRC telah menembus Amerika, apalagi Indonesia tentu lebih mudah untuk mereka tembus. Tahun Depan MoCi (Mobil Cina ) masuk ke AS.
Comment deleted at the request of the author.
agustianwar wrote on Aug 29, '06
Sekarang di AS juga diserbu produk Cina
Betul itu; AS bahkan mitra daganga terbesar RRC. Ketimpangan neraca perdagangan yang menimbulkan defisit besar bagi AS justru karena produk ekspor Cina ke AS terlampau besar. Saat ini Cina merupakan pemenang produk ekspor karena masuk ke mana-mana, seolah tanpa batas. Salam.
bambangpriantono wrote on Aug 30, '06
Sekarang Mocin ada dimana-mana, bahkan mercypun sudah ada wujud buatan Cinanya yang bisa membuat Amerika ketakutan. Yah, mungkin Cina akan jadi negara adidaya baru nantinya
agustianwar wrote on Aug 30, '06
bahkan mercypun sudah ada wujud buatan Cinanya
Relokasi industri ke Cina sudah sangat luar biasa. Taiwan semakin ketakutan karena merek-merek besar yang sudah malang melintang bemukim di Taipei justru beralih ke Shanghai dan Fujian dan sekitranya. Saya kira itu untungnya jadi negara besar ketika ekonomi stabil, magnet investasi jadi sangat kuat. Mercy buatan Cina setahu saya ditargetkan untuk pasar Cina. Banyak produk yang dibuat hanya untuk pasar Cina (1,3 milyar) dan tidak dijual di tempat lain. Saya punya printer HP yang multif fungsi, ketika toner habis saya cari sampai ke pusat HP di Jakarta, tidak ada. Ternyata serial printer saya itu hanya khusus untuk pasar Cina---akhirnya sekarang tidak terpakai. Saya kok optimis RRC akan besar dan kita perlu banyak belajar. Salam, Anwar.
bundakirana wrote on Aug 31, '06
Cina emang hebat...
di Iran, ketika negara Barat rame2 pengen menjegal Iran, Cina ngotot belain Iran..hasilnya...wuih.. bisnisnya tambah mantep di Iran, org2 Cina kerja di Iran dapat gaji ribuan dollar dan dianakemaskan pemerintah..sampai bikin iri pekerja2 asing lainnya:)
agustianwar wrote on Sep 1, '06
ketika negara Barat rame2 pengen menjegal Iran, Cina ngotot belain Iran
Memang hubungan Cina-Iran sangat erat, termasuk soal nuklir: maklum sama-sama kritis terhadap AS. Lebih hebatnya lagi, RRC selalu memanfaatkan hubungan secara optimal, termasuk kepentingan ekonomi. Hubungan RRC yang komunis dengan sejumlah negara Islam dari Timur Tengah bahkan sangat erat (dan kongkrit). Leagi-lagi kita perlu banyak belajar...Salam, Anwar.
gitasinta wrote on Sep 3, '06
Wah bang, membaca ini aku buru-buru cek jam tangan hadiah seseorang dari luar negeri. Jangan-jangan juga "made in China" :-))...
agustianwar wrote on Sep 4, '06
Wah bang, membaca ini aku buru-buru cek jam tangan hadiah seseorang dari luar negeri. Jangan-jangan juga "made in China" :-))...
Yah nggak apa-apa kok, namanya hadiah....he he he... Ngomong-ngomong jam tangan saya juga idem. Tahu nggak, ada joke teman-teman di Beijing, kalau jam omega anda rusak nggak usah di bawa tukang jam, ganti saja yang baru... he he... Salam.
qarie wrote on Apr 11
Saya beli motorsikal easyrider made in China.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help