
Kolom: Agusti Anwar
Setiap kali hari Jumat, ada perasaan tidak nyaman sebagai seorang PNS---paling tidak bagi saya pribadi. Bukan karena hal-hal lain, tetapi tersebab keharusan memakai batik ke kantor. Seperti dimaklumi, sejak beberapa tahun terakhir para pegawai negeri banyak yang diharuskan mengenakan pakaian batik ke kantor, satu hari dalam seminggu. Hari Jumat umumnya yang dipilih, termasuk untuk DKI.*
Itulah sebabnya mengapa pada hari itu banyak sekali terlihat orang yang mengenakan batik sepanjang hari, dengan tas jinjing atau tentengan koran, yang bergelantungan di bis kota, yang naik motor atau bermobil kijang. Beberapa yang kebetulan berbaju batik di hari Jumat itu mungkin akan menghadiri suatu resepsi dan sebagainya, namun sebagian besar lainnya adalah pasukan Omar Bakri-nya Iwan Fals yang tengah menjalankan tugas kantor.
“Batikan di hari Jumat itu enak, sekalian bisa untuk Jumatan dan menghadiri kondangan”, gurau seorang teman. Ini batik biasa yang dapat dipakai untuk berbagai acara---berbeda dengan seragam biru Korpri yang juga bermotif batik itu.
Semua tahu bahwa batik merupakan pakaian kebanggaan nasional. Setiap resepsi atau acara nasional yang penting, bahkan juga untuk mengikuti kegiatan ibadah, mengenakan pakaian batik dinilai telah memenuhi etika dan kepantasan. Batik sebagai konsep artistik yang telah dikenal di nusantara sejak zaman prasejarah, memang berkembang dan menyatu sesuai babakan peradaban bangsa. Bahkan ragam motifnya pun berhubungan dengan peradaban sejarah di masa Hindu/Budha maupun Islam. Seperti ditulis seorang pakar tekstil, Hasanudin, dalam bukunya “Batik Pesisiran: Melacak Pengaruh Etos Dagang Santri pada Ragam Hias Batik”, “menyurutnya ragam hias figur manusia pada batik berhubungan dengan pengaruh nilai-nilai Islam pada kehidupan keraton”, karena khawatir ragam hias manusia dapat menjadi sesembahan*** [yang bernilai sirik]. Sebagai dampaknya, kerangka geometris dan simetris serta tumbuh-tumbuhan lebih dominan sebagai motif perbatikan hingga sekarang.
Semakin hari batik bukan lagi atribut simbolik yang ekslusif dari suatu suku. Semua orang Indonesia, baik dari suku Batak, Minangkabau atau Ambon, merasa enak dan pantas mengenakan batik. Warna dan motifnya yang hidup, disain tampilannya yang elegan, menjadikan batik pakaian yang membanggakan. Batik telah identik dengan bangsa kita---meskipun yang telah bersicepat mengajukan klaim hak paten bagi disain batik justeru Malaysia.**
Bagi kita, pada resepsi formal ketika para tamu banyak memakai jas dan dasi, apalagi tamu asing, akan setara posisi kepatutannya jika yang lain cukup mengenakan batik. Kalau orang Filipina terkenal dengan baju barongnya, Malaysia dan Brunei dengan baju Melayu, lengkap dengan sarung dan peci, kita lebih umum mengenakan batik. Karena memang lebih ringkas dan populer, tamu-tamu asing pun semakin sering mengenakan batik. Herannya, batik selalu tampak pas bagi siapa pun atau bangsa mana pun yang memakainya, tak soal warna kulitnya.
Inisiatif untuk satu hari dalam seminggu mengenakan kemeja batik ke kantor jelas punya maksud positif. Maksud itu tidak lain untuk menonjolkan kebanggaan nasional sekaligus promosi sehari-hari keunikan Indonesia. Berbagai bangsa lain, tidak mesti negara, melakukan hal yang senada. Para polisi Hawaii mengenakan kemeja lengan pendek bermotif kembang dan bercelana pendek sebagai polisi pariwisata. Di Bali, juga ditemukan petugas yang mengenakan destar dan batik bermotif lokal. Pendeknya, sesuatu yang khas selalu dapat dijadikan bahan promosi.
Tidak dapat disangkal bahwa ketika para pegawai negeri berkemeja batik, paling tidak di Jakarta, maka semarak eksibisi ‘batik berjalan’ semakin tertampilkan. Ia terpamer di banyak bis kota, bis-bis departmen, kebutan motor dan, tentu, juga mobil. Karena motifnya yang memang kaya dan menawan, batik selalu menarik perhatian. Yang membuat sedih, mengapa hanya pegawai negeri yang berseragamkan batik di hari Jumat itu? Mengapa karyawan swasta lainnya tidak dihimbau dan disertakan?
Alasan mengapa hati terasa terganggu setiap Jumat berbatik ria, bukan karena batiknya, tetapi karena citra yang terpaksa dibebankan kepada batik yang demikian indah hanya karena dikenakan oleh para pegawai negeri, para ambtenaar. Harap maklum bahwa citra pegawai negeri di mata masyarakat, malangnya, lebih merupakan sebuah streotip negatif yang lebih dekat pada korupsi daripada prestasi. Lalu, ketika PNS yang berbatik dilihat bergelayutan dan bersidesak dalam bis kota, yang tergambar adalah citra PNS yang bergaji kecil, sebuah kehidupan yang susah. Namun sebaliknya, apabila seorang PNS yang berbatik mengendarai mobil sedan, apalagi mewah, maka prasangka yang timbul bahwa semua itu pasti hasil korupsi.
Bahwa sebagian birkorat justru berprestasi sedangkan sebagian terlibat korupsi, adalah masalah lain. Dalam konteks keindahan budaya batik, yang mengkhawatirkan justeru apabila semakin hari semakin melekat pula cap batik yang identik dengan PNS, sedangkan citra PNS, suka atau tidak, tertuduh sebagai abdi masyarakat yang korup. Ketika maksud berbatik adalah untuk menonjolkan budaya bangsa, maka maksud itu dapat tercemar karena streotip pemakainya, meskipun sebuah streotip tidak selalu benar.
Sekiranya memang kita ingin lebih menonjolkan keberbudayaan kita melalui batik, barngkali akan lebih konstruktif apabila seluruh karyawan [kalau bukan seluruh warga] yang dihimbau mengenakan batik di hari Jumat, PNS maupun swasta. Bukankah upaya mengedepankan budaya menjadi tanggung jawab semua rakyat tanpa terkecuali? Sementara komitmen penanggulangan korupsi terus diperkuat, kiranya janganlah sampai streotip ‘batik dan PNS’ menjadi tumpang-tindih dan justru merugikan. Situasinya tentu akan berbeda apabila citra kinerja PNS di mata publik sudah berubah positif. Semoga.
Jakarta, 15 September 2006.
*) Untuk Pemprov Jateng, justru tiap Kamis.
**) Semua pegawai negeri di Malaysia diwajibakan mengenakan batik di hari Sabtu.
***) Lihat buku Drs. Hasanudin M.Sn., “Batik Pesisiran: Melacak Pengaruh Etos Dagang Santri pada Ragam Hias Batik”, P.T. Kiblat Buku Utama, Bandung, 2001, khususnya hal. 25. Mengingat sangat sedikitnya studi ilmiah perbatikan nusantara, buku ini cukup memadai untuk mengenal sejarah dan seluk beluk batik, terutama batik pesisiran, di tanah air.
Sumber foto: http://www.kulukgallery.com 
 | Inget batik, inget selemari baju batik dikamar..hehehehehe |
 | Saya suka memakai batik, apalagi batik yang sudah di desain baju gaul, berlengan pendek misalnya. Batik juga bagian karya seni negeri ini yang patut untuk dibanggakan.
Lambat laun anggapan yang kurang bagus akan hilang sendiri jika banyak orang yang suka memakai batik. Jadi pakai batik, siapa takut. (bukan karena headshot saya pakai batik lho...) |
 | pegawai BRI diwajibkan pake batik juga mas pas hari jumat, saya juga suka pakai batik kalo jumat, rasanya lebih Indonesia di tengah himpitan fashion yang menurut saya 'mengkooptasi' etika. terlepas dari itu saya ini pedagang batik pekalongan, jadi kalo mau pesen batik, bolehlah :) terlepas dari itu semua, denger2 mau tugas di LA? |
 | ciput wrote on Sep 15, '06 “Batikan di hari Jumat itu enak, sekalian bisa untuk Jumatan dan menghadiri kondangan” ------------------------------------------------------------------------ I cant agree more! *yg sukacita pakai batik tiap Jumat, kecuali libur :D* |
 | terlepas dari itu saya ini pedagang batik pekalongan, jadi kalo mau pesen batik, bolehlah :)  He he he ini yang ayik itu---kalau pesan bisa dapat diskon besar kali ya...? Betul bahwa beberapa bank, termasuk BRI, juga mengenakan batik dan itu positif... Saya berharap agar semua rakyat kalau bisa berbatik ria di hari Jumat, agar display keindonesiaan itu semakin menonjol. Berbatik itu enak, ringkas dan juga modis, pkoknya banyak lebihnya... [Soal yang terakhir, insyaAllah ya---tapi, mm, kok bisa tahu ya aduuhh...he he..??] Salam, Anwar. |
 | Yuuk kampanye berbatik ria bagi semua rakyat... Salam. |
 | 16j42 wrote on Sep 15, '06 tapi saya kok lebih sreg kalau jumatan mengenakan baju kemeja koko, yeah? |
 | 16j42 wrote on Sep 15, '06 gimana kalau selain batik juga baju koko dipopulerkan? selain kian tambah variasi, juga meningkatkan industri, dus penambah luang pekerja? |
 | ehh, sitha (pegawai swasta) juga suka pake baju batik yang dah modifikasi, seminggu sekali rutin pake baju batik...motifnya lucu lucu kan. |
 | divdenic wrote on Sep 15, '06, edited on Sep 15, '06 ****************************************************************************
BAKRI SQUAD'S IMAGES
&
BATIK.
**************************************************************************** ****************************************************************************
Glad to know that you like and accept batik as your national dress. It's good that all of your people are united by batik. Stick to your own good cultural values could create the needed understanding and solidarity among the differences in sub-cultural background. On the "... semarak eksibisi ‘batik berjalan’ ", it must be a very beautiful moving batik exhibition is showed by a mass of people in a very big space to all of the other people. An exhibition participant must feel a degree of similarity that could grow to solidarity toward the other participants as the fellow servants of the public.
Hoping after you have a better image as the member of the well known Omar Bakri Squad in the future, your everyday uneasiness wearing your Friday batik only stems from some precautions that you should behave properly as you have to pose as a model to display the national dress by wearing them.
Your movements, body language should be correct and your behaviour should be accepted according to the right code of conducts and should not deteriorate the image and the stereotype of the squad. Anyway you should be an "actresses or actor" in batik clothes and you know that you should be a good one as a performer in that very big cultural exhibition.
Concerning the patent claims etc. I am afraid that someone want to say that most of you are the sleepy boys who don't care too much to what is happening in another parts of the world.
A lot you are not used to exercise their minds and hearts properly and not behave in the productive habits. Don't know why, possibly because you are staying in good tropical climate and no need to hurry and worry about the the sudden changes of temperature in different seasons.
One of your Professors said said that you are the N.A.T.O. people. NATO is his abbreviation for: No Action Talking Only.
They are some of your people who prefer western formal coats and ties, or safari coats. That kinds of dresses are not suitable in the hot tropical climate and a lot of that people who are wearing them are suffering from the very deep inferiority complexes to the western culture.
Your idea to appeal to everyone to wear batik is a great and very important one in your struggle against the globalization of the world popular culture with sensuality spirits supported by the very strong power of the world materialist capitalism today.
Considering the very deep inferiority complexes among your people including the private corporate managers, it's better that the appeal is made formally to those non-governmental agencies and private corporations.
It's clear that your squad need to adopt a new attitude that you are just the servants to the public in your positions as the public servants.
On the wide corruption practices among the squad members I agree that we should differentiate between the squad members who are serving and those ones who are corrupt. I think you should discussed corruption among the squad members in another blog entry.
The people have some great expectations from all of you, the members of Omar Bakri Squad.
Hudson Lane, Fri. evening, 15 September 2006.
|
 | peduli wrote on Sep 15, '06, edited on Sep 15, '06 Soal yang terakhir, insyaAllah ya---tapi, mm, kok bisa tahu ya aduuhh...he he..?  Kabarnya dari saya pak, heheh. Maaf, ndak minta izin duluan untuk ngasih kabar ini, cuma ke pak dhika doank koq, ndak apa2 khan ? Jadinya kapan berangkat ? * Pengen 'nimpuk' Pak Dhika ni :)
# Saya koq jadi pengen nyambi jualan batik ya. Pak Dhika, sini saya bantu jualin batiknya. Tapi kasih diskon yg besar ya, khusus untuk saudarinya ini :) * Memelas :) Atau mungkin bisa nitip Pak Anwar untuk jualin Batik Kejora di LA ? Biar makin tenar gitu :)
|
 | Saya termasuk orang yang ndak punya baju batik he he Mungkin karena bukan pegawai negeri yaaa? Btw, kapan foto yang pake baju batik di-upload Bang?:-)
|
 | aku cintaaa batik dalam segala bentuk deh mas anwar! lukisan, vas bunga, sampe baju batik beragam warna, juga buat anak-anak dan bapaknya! hore, hidup batik! :) |
 | Gee, thank you for your extensive and critical comments. Batik is indeed Indonesia's unique attires loved by everyone. I do think that if batik not only for civil servants to don on friday but by the people at large, perhaps even only in friday, that will be a delightful show of, again, not only solidarity, but pride as a nation. Such an exhibition is a tourism promotion by its own right.
On your points concerning 'sleepyness', 'NATO' and 'inferiority', though they sounded hurting, I do admit that you are right to quite an extent. The article above is in fact a kind of self-criticsm of how the people letting such a precious batik not what it deserves. I do worry that to some level batik would be implicated to the low performance of some civil servants---instead of promoting it. You are also right on the inferiority complex which I really despise. A lot of things certainly need to be done, including on the corruption things. All will take time, but we do need to start moving. Thank you for your attentive browsing.... best regards, Anwar. |
 | Kos mending itu ikut jualan batik, yang banyak, biar keuntungannya sekian persen disalurkan ke anak-anak yang butuh bantuan itu....he he..... [tolong Dhika betul-betul ditimpuk ya he he he...] Salam. |
 | 16j42 wrote on Sep 15, '06 Saya setuju saja bang...apalagi di saat 'cinta buatan Indonesia' mengalami krisis. Batik dan baju koko dapat saling bersinergi kok, kenapa tidak? Salam....  baju koko selain batik bisa dikembang luaskan pengenaannya -- saling mengisi memperkaya bentuk dan warna warni selaras kebhinekatunggalikaan budaya bangsa kita. bersamaan itu, betapa bangganya saya ketika berkunjung langsung ke sumatera barat dan kepri -- di tempat keramaian, juga di pasar pasar besar, kaum perempuan mengenakan busana aneka warna. bukan hanya dalam pesta atau ketika parawisata, melainkan juga ketika dagang di kios kios pasar besar maupun kecil, bahkan di trotoar atau kaki lima: ibu ibu berbusana cakep, apik atau keren. tanpa maupun yang mengenakan kerudung. btw: kaum perempuan memang lebih cakap memilih warna warni busana, rupanya.
wassalam, kohar |
 | baju batik ? oke-oke saja...anak sma juga make kok pak :p baju batik model koko ? :p |
 | Numpang komentar aja aah.. Biar sedikit terkenal..hehehe Soalnya ndak punya batik sama sekali neh.. Ada yang mau bagi ndak? |
 | Di South Africa batik jadi miliknya Nelson Mandela ... |
 | Jadi ingat suamiku yang kerja diperusahaan asing. Tiap Jum'at kan pada pakai jeans & t-shirt. Beberapa kali dia pakai batik lengan pendek, karena kan nyaman & rapi buat jum'atan...Tapi dia bilang dipanggil pak Lurah ama temen-temen di kantor :-). Dia sih cuek aja, malahan pada beberapa presentasi, dia milih pakai batik ketimbang kemeja berdasi..(padahal batiknya ya itu-itu aja... kalau ada yang jual murah meriah, boleh tuh...:-) |
 | pake batik ..? he.he.. *mikir dulu* mo kondangan aja pake kaos dulu, ampe ditempat baru dipake... he.he.. :) abis kondangan buru2 buka lagi... he.he..
belum nyaman pake batik.. he.he.. kt nya sih kayak bapak2.... :( |
| |