Blog EntryGENERASI PEMILIK MASA DEPANOct 8, '06 11:26 AM
for everyone

 

 

 

 

 

 

Kolom: Agusti Anwar

 

Wimar Witoelar begitu gembira disebut sebagai seorang blogger. Seusai trialog interaktifnya di televisi bersama Budi Putra, wartawan Tempo yang juga seorang blogger yang telah mendapat tempat di dunia iptek regional, Wimar dengan penuh semangat membuat posting tentang pengakuan statusnya itu.

 

Tentu saja Wimar seorang blogger lewat Perspektif.net-nya, bahkan tergolong yang rajin. Ini sebuah klaim yang tidak akan digugat orang, kecuali barangkali oleh pakar multimedia Roy Suryo yang disebut-sebut alergi blog. Yang menarik justru pertanyaan mengapa Wimar menjadi begitu bahagia atas pengakuan itu.

 

Saya tidak tahu persis jawabannya. Bagaimanapun, figur jenaka yang berpikiran tajam ini adalah orang yang sangat bertautan dengan teknologi, terutama internet. Namun, biasanya selalu ada ruang yang janggal antara generasi yang lebih senior dengan heboh perkembangan teknologi, paling tidak pada awalnya. Gaptek, atau gagap teknologi, barangkali itulah namanya---seperti diaku Menteri Perumahan Rakyat Yusuf Asy’ari yang baru bergabung dalam atmosfir blogging. Toh, bukan sesuatu yang sangat serius.

 

Bagaimanapun, benar bahwa dunia blog lebih banyak diakrabi generasi yang lebih muda. Dalam geliat perkembangan zaman modern ini, blogging adalah salah satu pernik dari kemajuan teknologi informasi berbasis internet yang semakin digemari luas. Sepertinya sudah menjadi hukum alam (sunnatullah) bahwa yang muda lebih berani menerima perubahan, termasuk dalam menjelajahi [kalau bukan menikmati] perkembangan teknologi itu. Sementara yang senior cenderung lebih konservatif; bertahan dengan apa yang lebih dikenalnya. Atau bergerak ikut secara lebih perlahan.

 

Sebagai contoh ringan, coba hitung ada berapa banyak pejabat senior di kantor yang cekatan menggunakan komputer? Ketika masa muda mereka, perangkat word processor termaju hanya mesin tik, perkembangan teknologi dengan segala keajaiban komputer membuat banyak generasi senior merasa janggal. Untung mereka telah berada pada posisi jabatan tertentu sehingga urusan penyuguhan materi dapat dibebankan kepada staf yang lebih muda setelah didikte atau diberikan konsep bertulis tangan.

 

The future is for the young, itulah esensinya.  Dalam setiap zaman adalah generasi muda yang lebih awal bersentuhan dengan perubahan-perubahan. Dalam setiap zaman itu, selalu generasi muda yang lebih siap menerima perubahan---bahkan menggoyang kemapanan. Dalam hal teknologi pun akan tetap demikian.

 

Perbedaan mencolok antara zaman sebelumnya dengan sekarang ini adalah bahwa gagasan dan realisasi perubahan, khususnya karena teknologi, menjadi lebih cepat, bahkan terus mengalami percepatan. Tidak ada lagi perhitungan deret hitung, tetapi perkelipatan deret ukur. Perubahan tidak lagi kalkulasi n + n tetapi percepatan nn. Bagi generasi muda sekarang, kesiapan menerima perubahan mau tidak mau sudah bersifat otomatis dalam struktur genetik jati dirinya.

 

Yang berbeda dalam tubuh antar generasi barangkali adalah soal pendayagunaan kemajuan itu. Pemanfaatan perkembangan teknologi bagi generasi muda memang lebih sebagai urusan hip, keasyikan darah muda, sementara bagi yang lebih tua digunakan untuk sesuatu yang lebih memiliki tujuan. Sebutlah blogging misalnya; seperti disurvei oleh Pew, kebanyakan digunakan anak muda untuk peluahan perasaan (curhat) dan ekspresi diri yang lebih personal, bahkan narsistik. ExibitioNet, kata Robert J. Samuelson.

 

Bagi yang lebih dewasa, bahkan yang senior, kesertaan di dunia maya mungkin dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang lebih sarat kepentingan. Kalau generasi tua pun memuat entri sebatas mengatakan kepada dunia bagaimana gedebar hatinya ketika bangun tidur tadi pagi tanpa ada sesuatu makna di dalamnya, pastilah ada sesuatu yang salah. Bagi seorang Wimar atau seorang menteri menyentuh medium blog dapat dipastikan bahwa di dalamnya ada kepentingan komunikasi publik, sesuatu yang lebih serius.

 

Generasi senior mungkin datang lebih belakangan, tetapi mereka akan lebih tanggap memanipulasi kemajuan teknologi itu untuk tujuan yang lebih spesifik. Ingat soal televisi. Kemajuan teknologi tabung gelas itu diubah para politisi AS untuk kepentingan kampanye presiden baru sejak September 1960, yang menampilkan debat publik Richard Nixon dan John F. Kennedy. Televisi telah ada dan dinikmati bahkan sejak tahun 1930an dan semakin meluas di tahun 1950an, namun baru dimanfaatkan untuk kepentingan politik sejak satu dekade kemudian. 

 

Kendati demikian, masa depan yang penuh kemajuan tetap akan menjadi privelese suatu generasi muda ke generasi muda yang berikutnya, karena merekalah yang akan meneruskan estafet zaman. Ketika kolumnis yang baru menerbitkan biografi Hell Yeah-nya itu berbahagia dinobatkan sebagai seorang blogger sekarang ini, adalah generasi muda berikutnya nanti yang akan punya kesempatan untuk menjadi saksi kemajuan yang lebih banyak lagi. Saya sendiri pun merasakan adanya kecemburuan antar generasi di sini, generasi belia yang amat beruntung itu.

 

Betapa ingin rasanya sempat ikut mengendarai mobil udara a la anak jenius Jimmy Neutron di masa depan, berwisata antar planet via transporter versi Star Trek, menjelajahi informasi dan hiburan multimedia tiga dimensi super lengkap lewat ‘ipod’ sebesar biji kacang dan entah apa lagi. Karena Tuhan telah memberikan manusia setitik dari ilmu-Nya, maka akan sangat banyak kemajuan peradaban yang menanti di hadapan.  Moga-moga semua kemajuan itu tetap membawa pencerahan.

 

Jakarta, 9 Oktober 2006

 

[Diedit ulang tanggal 14 Oktober. Teks editan berwarna agak abu-abu.]

 


bambangpriantono wrote on Oct 9, '06
Roy Suryo anti blog? cuek aja lagi..hehehehehe
gitasinta wrote on Oct 9, '06
The future is for the young, itulah esensinya. Dalam setiap zaman adalah generasi muda yang lebih awal bersentuhan dengan perubahan-perubahan. Dalam setiap zaman itu, selalu generasi muda yang lebih siap menerima perubahan---bahkan menggoyang kemapanan. Dalam hal teknologi pun akan tetap demikian.
jika kelak kita beranjak menjadi generasi yang tidak lagi muda...apakah itu berarti kita juga tidak mau bersentuhan dengan perubahan-perubahan?
imamisnaini wrote on Oct 9, '06
The future is for the young, itulah esensinya.
Benar sekali ungkapan diatas Mas. Memang generasi muda lebih tanggap dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan perubahan. Tapi rasanya generasi muda masih tetap membutuhkan peran dari generasi tua karena mereka lebih dulu hidup di dunia sehingga lebih kaya pengalamannya. Generasi tua seperti Wimar itu minimal yang kita butuhkan, generasi tua tapi bisa enak berkomunikasi dengan yang muda.
agustianwar wrote on Oct 10, '06
Roy Suryo anti blog? cuek aja lagi..hehehehehe
He he...yang sering saya baca komentar orang tentang fenomena RS ini, 'anjing menggonggong kafilah berlalu'..
agustianwar wrote on Oct 10, '06
jika kelak kita beranjak menjadi generasi yang tidak lagi muda...apakah itu berarti kita juga tidak mau bersentuhan dengan perubahan-perubahan?
Pertanyaan bagus ini: Saya kira ada bedanya generasi kita sekarang dan masa depan, termasuk yang lebih tua, yakni kesiapan untuk lebih menerima perubahan. Ke depan perubahan yang berkelanjutan akan menjadi karakter inheren sehingga perlu kesiapan terus-menerus. Jurang antar generasi saya kira akan lebih mengecil, walaupun mungkin tidak akan hilang... Satu hal lagi, yang muda memang lebih terbuka terhadap perubahan, tetapi yang lebih tua cenderung akan lebih memanfaatkannya... Salam.
agustianwar wrote on Oct 10, '06
Memang generasi muda lebih tanggap dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan perubahan. Tapi rasanya generasi muda masih tetap membutuhkan peran dari generasi tua karena mereka lebih dulu hidup di dunia sehingga lebih kaya pengalamannya. Generasi tua seperti Wimar itu minimal yang kita butuhkan, generasi tua tapi bisa enak berkomunikasi dengan yang muda.
Good point Mas. Sambungan sinergis antar generasi perlu diperkuat agar leih bermanfaat.... Bung Wimar jelas contoh baik; semakin haris semakin banyak yang tampaknya menolak problema gaptek itu. Kita punya pak Yusuf Asy'ari, Juwono, Sarwono dan lainnya... Yang belum, sayangnya, justru Pak Sofyan Jalil yang semestinya bisa terdepan...(dalam soal pemanfaatan teknologi informasi) he he.... salam.
wimar wrote on Oct 12, '06
Mungkin saya merupakan contoh yg kurang bagus sebab memang berpendidikan sebagai system analyst dan aktif membangun software house dan MIS consulting sejak muda, terus hobby internet karena malas keliaran di jalan macet. Untuk saya umur hanya satu parameter dalam hidup orang selain gender, suku, agama, tinggi & berat badan, kegemaran dll. Diantara semua parameter itu saya tidak melihat satupun yang bisa dipakai untuk mengkategorikan orang, Pluralisme bolah juga termasuk soal umur. Contoh: perempuan umur 23 agama islam suku padang tinggi 160 cm berat 55 kg sekolah di STIE Perbanas, hobby melukis. Bandingkan dengan laki-laki umur 55 tahun, agama Hindu, suku jawa, tinggi 170 kg pendidikan Teknik Mesin, hobby melatih anjing. Ternyata yang lelaki lebih terampil IT daripada yang perempuan lebih gaptek. Apakah karena pendidikan, gender, agama, suku atau umur?
agustianwar wrote on Oct 13, '06, edited on Oct 13, '06
wimar said
Mungkin saya merupakan contoh yg kurang bagus sebab memang berpendidikan sebagai system analyst dan aktif membangun software house dan MIS consulting sejak muda, terus hobby internet karena malas keliaran di jalan macet.
Mohon maaf kalau pengamsalannya ternyata kurang pas bung WW. Barangkali pembahasaan saya agak salah. Namun, sebetulnya, saya merasa kagum kok bung yang memang sudah malang melintang menunjukkan keriangan yang khas ketika disebut sebagai blogger. Orang-orang lain mungkin akan menilai apresiasi demikian sebagai suatu yang taken for granted, karena toh sudah pasti.... Pengklasifikasian, dengan parameter apa pun, dapat bermakna, tapi dapat pula sia-sia. Apa pun itu, tidak perlu menjadi penghambat, bahkan mesti menjadi pemerkaya. Bahkan umur, sebetulnya tidak punya makna khusus---kecuali ekspekstasi bahwa yang lebih banyak makan garam bisa lebih bijak. Bung WW jelas tergolong yang ini. Yang lebih muda justru bangga ketika dan perlu bersentuhan dengan profil sekaliber bung. Saya pun tidak muda---bahkan iri melihat anak-anak ABG yang mendapat limpahan kemajuan ketika masih muda (walaupun sering tidak mampu memanfaatkannya), berbeda dengan kita.... By virtue of time, masa depan memang milik yang muda (yang pada saatnya juga akan menjadi lebih tua dan seterusnya), namun yang lebih tua pun tidak harus tertinggal kan? Bung saya kira adalah the king of Indonesian bloggers....salam, Anwar.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help