Sudah lihat film ini---Freedom Writers? Kalau belum, tontonlah. Anda akan belajar sesuatu yang penting.
Saya? Saya bukan saja telah menonton filmnya, tapi juga beli dan baca bukunya, mengakses website-nya, bahkan mendaftar dalam mailing-list agar diinfokan jika ada sesuatu yang baru.
"That much, ha?"
Ya! Sebab, saya terpesona. Bukan karena film itu dimainkan oleh Hillary Swank yang pemenang Oscar; atau hadirnya Peter Dempsey yang lagi naik daun sebagai peran pembantu.
Jujur saja, sebelum betul-betul maklum tentang Freedom Writers itu, bahkan di bagian awal film ketika yang dipertontonkan adalah latarbelakang anak sekolah menengah dengan kehidupan a la "gangsta" berwarna gelap, saya pun hampir jadi jengah.
Memang, saya biasanya agak enggan menonton ekspose kekerasan yang tidak perlu, apalagi kalau diorientasikan hanya pada ekses kehidupan modern penuh narkoba dan perang antar gang.
Namun, ternyata, film yang ini berbeda. Ia bukan lagi soal perang antar gang atau kacau balaunya remang-remang perkotaan. Bukan lagi soal kekerasan rasial, narkoba, imigran gelap dan lainnya. Ini soal semangat; bahwa ada masa depan bagi semua orang, apalagi bagi anak remaja di bangku sekolah menengah. Hidup tidak selalu berjalan linier; bahwa dari lingkungan kumuh atau pojok perkotaan tak lagi ada harapan perbaikan.
Melalui film ini, kita dapat melihat perjuangan Erin Gruwell, sang guru Mrs. G, yang pantang menyerah dan punya rasa hati yang kuat. Ia adalah pembawa harapan dan berani berjuang keras, tanpa pamrih, agar harapan itu menjadi kenyataan. Bahwa ini bukan sekedar film, tetapi kenyataan yang sesungguhnya, maka nilainya menjadi lebih.
Freedom Writers juga menempatkan menulis sebagai terapi untuk menjadi pendorong semangat perubahan. Belajar dari Anne Frank, katanya. Penderitaan dan luka ada di mana-mana; namun demikian pun harapan, juga ada di mana-mana.
Kisah dari Long Beach, yang melibatkan prasangka dan kekerasan antar ras, membawa pelajaran yang tidak biasa. Paling kurang bagi Amerika.
Erin pun membangun yayasan dan juga menulis buku manual agar pengalaman kelas bahasa Inggerisnya itu dapat diterapkan di sekolah-sekolah lain. Inspirasi bagi perubahan dan kebaikan.
yeap, saya udah nonton filmnya, very touching story, dan film ini memenangkan beberapa awards kalo nggak salah... ada satu lagi film yang seperti ini, true story juga, kalo nggak salah judulnya the story of rob graham (if I'm not mistaken), itu juga sama, inti ceritanya tentang susahnya mengajar dan memberi pelajaran tentang kehidupan di dunia yang "keras"
Film ini mengingatkan saya akan film Dangerous Mind (Michelle Pfeiffer; 1995) yang juga diangkat dari kisah nyata dan buku (berjudul My Posse Don't Do Homework).
Oh, ya. soal Film tentang guru-murid-sekolah, tentu saja menyebalkan kalau meihat film seperti ini juga menjadi sejenis film action belaka (seperti Substitute-nya Tom Berenger dan Only The Strong-nya Mark Dacascos), tapi saya pernah tonton juga satu film bernuansa sekolah yang kental dengan warna kekerasan tetapi cukup menarik (karena satir saya kira), judulnya 187, kebetulan memang dibintangi aktor favorit Samuel L jackson.
Iya, saya juga sudah lihat film Dangerous Mind; dan yang "187" sudah masuk dalamf daftar rental saya dari Netflix ha ha ha.... Sebetulnya memang ada sejumlah film inspirational tentang sekolah... Yang membedakannya dengan proyek Erin Gruwell adalah bahwa pola itu dibukukan, di-yayasankan, selain difilmkan; artinya langkah-langkah untuk menjadikannya contoh mengambil berbagai bentuk yang beragam dan luas, bahkan sebelum lagi difilmkan.... Sebagai orang yang berdarah guru, saya sangat senang dengan film inspirasional seperti ini, Mas Denny...salam....
Film yang bener-bener menyentuh hati... ampe nangis nontonnya
menjadi guru bukanlah hanya memberikan sekedar pengetahuan tapi juga semangat.. semangat untuk berubah..For Change...
coba aja guru-guru Indonesia juga melakukan hal yang sama mudah2an saya juga bisa menjadi guru seperti Mrs.G bagi diri sendiri dan orang lain disekitar saya
akan tetapi bila ditelisik lebih jauh..serasa ada penyuntikkan paham-paham Yahudi dengan dibenarkannya Holocaust
coba aja guru-guru Indonesia juga melakukan hal yang sama mudah2an saya juga bisa menjadi guru seperti Mrs.G bagi diri sendiri dan orang lain disekitar saya
akan tetapi bila ditelisik lebih jauh..serasa ada penyuntikkan paham-paham Yahudi dengan dibenarkannya Holocaust
Moga-moga tercapai ya....dan itu tidak mudah.. Mengajar memang harus dengan kecintaan, baru kita menjadi kreatif dan inovatif...
* Soal paham Yahudinya itu cukup dilihat sebagai hal sampingan saja, itu menurut saya. Bagaimana pun Holocaust itu cukup riil bagi yang terkait dengannya, walaupun soal skala banyak yang memperdebatkan lagi.....