Anda sudah menonton filmnya Danzel Washington "The Great Debaters"?
Baiklah, sedikit latar belakang. Kolom ulasan ringan ini ditulis di atas pesawat, ketika terbang dari Los Angeles ke Boston, Massachussetts, via Philadelpia. Kebetulan saya akan menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan MIT - Harvard dengan topik menarik yang terkait dengan sikap publik.
Kadang memang sesuatu terjadi begitu saja, tanpa direncanakan, tetapi mengandung
ambiance yang pas.* Ketika terbang dalam perjalanan yang akan menghabiskan waktu 7 jam itu, film yang ditayangkan United Airlines adalah filmnya Danzel Washington, "
The Great Debaters", yang dirilis Desember 2007. Duduk di seat tengah, diapit seorang wanita kulit hitam dan kulit putih, bayangkan setting situasinya bagi saya.
Saya memang terpukau dari awal sampai akhir menonton film ini, karena ceritanya yang menarik. Kisah yang berdasarkan true story itu berlatar waktu tahun 1939, ketika AS masih sangat tidak 'settled' dalam masalah ras. Tentu terkait dengan kulit hitam.
Film yang disutradarai sendiri oleh Denzel Washington dengan produser Oprah Winfrey ini memang berangkat dengan cerita tentang sebuah kampus kulit hitam di Texas, yakni Wiley College, dalam hal mana Danzel yang menjadi guru mengasuh para mahasiswa muda itu dalam berdebat. Mengingat lingkup waktunya masih pada masa-masa ketika wilayah Selatan AS masih sangat rasis, tentu pertarungan yang menjadi warna adalah pertarungan tentang hak-hak kulit hitam.
Dalam konteks keadilan hak ini, sudah pasti juga akan terkait dengan kemiskinan, pengangguran, segregasi, dikelasduakannya warga kulit berwarna. Ada rujukan pendek tentang ibu kulit hitam yang punya anak-anak busung lapar.
Digambarkan bahwa James Farmer Jr dengan ayahnya yang diperankan Forest Whitaker, mengalami tekanan ketidakadilan hanya karena warna kulit. Ceritanya, ketika pulang seusai sebuah acara, James sekeluarga pulang dengan sebuah mobil dan di jalan yang bersemak di pinggirannya itu tiba-tiba mobil menabrak sesuatu---seekor babi. Mati babi itu.
Ini situasi yang menimbulkan masalah, karena pemilik babi adalah peternak kulit putih, yang dengan garang datang mengancam. Anda tahu, di AS dulu karena pengaruh perbudakan, warga kulit hitam dipanggil "boy", sedangkan kulit putih oleh kulit hitam akan dipanggil dengan "tuan".
Dalam cerita itu, ayah James mengalah. Pastilah karena pertimbangan keamanan keluarga. Ia menawarkan penggantian dengan cek senilai $17.00 yang semula diperuntukkan untuk biaya kuliah anaknya. Nilai $17 di waktu itu sudah sangat tinggi tentunya, beberapa kali lipat dari harga seekor babi yang mati tertabrak. Tetapi, karena ancaman pistol, ayah James merelakannya.
Itu adalah momen "disobedient" bagi James yang tidak dapat menerima begitu saja perlakuan rasis dan tidak adil yang dialami keluarganya. Ia menolak; meskipun tetap harus taat pada kata-kata ayahnya. Persitiwa itu menempel sangat dalam di benak James.
Apa yang dialami James merupakan bukti bahwa pembentukan diri seseorang, secara psikologis, sering terjadi ketika peristiwa di waktu muda, bahkan saat kecil. Persepsi kontekstual dapat mewarnai pembentukan diri; kekerasan hati atau bahkan latar belakang mengapa seseorang di masa datang akan memilih atau berbuat A atau B. James menjadi 'articulate' dalam menggambarkan ketidakadilan ras; justru dengan menggunakan pengalaman keluarganya itu.
Dalam film ini, kelompok debat yang diasuh Danzel memang berkembang semakin handal. Dari satu sekolah ke sekolah lain, mereka memenangkan perdebatan yang diadakan. Setiap isu bisa diperdebatkan; dan diperdebatkan dari dua arah---mendukung atau menolak. Film ini tepat sekali menjadi contoh betapa sebuah argumen selalu dapat dipertahankan dari dua sisi. Apa pun permasalahnnya sering kali tergantung bagaimana keandalah kita memperdebatkannya.
Namun, dalam film ini, sekalipun argumen dapat selalu dilakukan, esensi yang lebih ditanamkan adalah hakikat perdebatan yang lebih tinggi. Ketika terkait dengan warna kulit, kisah perdebatan di sini malah menjadi bentuk gerakan mengangkat harkat warga kulit hitam, bagaimana mereka dapat dianggap dan dihargai setara---regardless of color.
Mr. Tolson adalah guru yang bercita-cita besar; ia jelas tipe 'doer' yang yakin akan dapat melakukan apa saja, asalkan kita bersungguh-sungguh mengerjakannya. Tim debat Wiley College menjadi juru bicara kulit hitam ketika akhirnya Harvard mengundang mereka untuk sesi debat yang disiarkan di seluruh AS melalui radio.
Harvard di Massachussetts memang berbeda. Paling tidak, konteks masyarakat di Utara AS memang lebih mampu bersimpati kepada perbedaan warna kulit. Perang Sipil di AS berlarut-larut justru terkait dengan perbudakan, ketika wilayah Utara menolak, sedangkan Selatan, terutama Texas, ingin mempertahankannya.
Alur cerita fim semakin menarik ketika ternyata isu perdebatan yang diangkat justru lebih netral: ketidakpatuhan sipil (civil disobedience). Bagi Harvard, isunya bukan lagi soal warna kulit, tetapi perdebatan tangguh antar tim yang kuat. Sebagai tim pemenang debat nasional secara berturut-turut, tim Harvard memang mendapatkan lawan yang kuat.
Elemen menarik lainnya terutama karena cerita yang dituturkan betul-betul menyangkut fakta sejarah: perselisihan karena ketidakadilan ras sebagai sisa-sisa dari era perbudakan. Lebih menarik lagi adalah ketika para aktor yang memainkannya begitu masuk, terutama di kalangan tokoh utamanya, sehingga soal figur mereka sebagai aktor di luar film tidak terlalu menjadi hirauan kita.
Danzel adalah Mr. Melvin Tolson; Withtaker ayahnya James. Namun, karena cerita yang mereka mainkan lebih besar (larger than life), mereka ternyata hanya menjadi wayang yang diperlukan untuk penuturan kisah itu sendiri. Tentu di dalamnya ada banyak drama yang menambah warna dan konteks bagi film ini. Ada latar belakang gerakan 'radikal' Tolson yang terlibat dengan aspirasi gerakan buruh; ada kisah cinta anak muda, patah hati; ada kerusuhan ras dan seterusnya.
Dari konteks materi pemberi bobot debat, film ini juga menyinggung gerakan damai 'satyagraha"-nya Gandhi di India. Dari film ini anda akan tahu bahwa Gandhi bukan hanya mendasarkan gerakan damainya dari kitab suci Hindu, tetapi pemikiran pasifis Henry David Thoreau, yang ternyata lulusan Harvard. Film ini juga menyebut-nyebut tentang
lynching mob, atau jenis siksaan mematikan yang dilakukan kepada orang kulit hitam untuk menjadi mempertakut dan contoh bagi yang lain.
Texas memang dikenal lebih rasis dibandingkan beberapa negara bagian lain di AS. Betul bahwa pembuatan film yang dibintangi dua pemenang Oscar ini, Denzel dan Forest Whitaker, sarat dengan beban perjuangan warna kulit. Ia mungkin tidak akan menjadi film, sekiranya bukan Oprah yang menjadi produser. Yang pasti, banyak pelajaran di dalamnya. Bagi rakyat AS, tentang sejarah hitam bangsanya dalam hal rasisme. Bagi kita, bahwa perjuangan menolak ketidakadilan perlu dilakukan di semua lini. Apa pun mediumnya, meskipun dalam hal debat, esensinya bahwa hak-hak asasi manusia tidak mengenal warna.
Di udara antara Los Angeles - Boston, 30 Mei 2008
*) Seperti saat makan di restoran Cina dan dapat fortune cookie yang kata-katanya mengena sekali.