ReviewReviewReviewReviewReview[Film] Pelajaran dari The Great DebatersApr 30, '08 11:39 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Anda sudah menonton filmnya Danzel Washington "The Great Debaters"?

Baiklah, sedikit latar belakang. Kolom ulasan ringan ini ditulis di atas pesawat, ketika terbang dari Los Angeles ke Boston, Massachussetts, via Philadelpia. Kebetulan saya akan menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan MIT - Harvard dengan topik menarik yang terkait dengan sikap publik.

Kadang memang sesuatu terjadi begitu saja, tanpa direncanakan, tetapi mengandung ambiance yang pas.* Ketika terbang dalam perjalanan yang akan menghabiskan waktu 7 jam itu, film yang ditayangkan United Airlines adalah filmnya Danzel Washington, "The Great Debaters", yang dirilis Desember 2007. Duduk di seat tengah, diapit seorang wanita kulit hitam dan kulit putih, bayangkan setting situasinya bagi saya.

Saya memang terpukau dari awal sampai akhir menonton film ini, karena ceritanya yang menarik. Kisah yang berdasarkan true story itu berlatar waktu tahun 1939, ketika AS masih sangat tidak 'settled' dalam masalah ras. Tentu terkait dengan kulit hitam.

Film yang disutradarai sendiri oleh Denzel Washington dengan produser Oprah Winfrey ini memang berangkat dengan cerita tentang sebuah kampus kulit hitam di Texas, yakni Wiley College, dalam hal mana Danzel yang menjadi guru mengasuh para mahasiswa muda itu dalam berdebat. Mengingat lingkup waktunya masih pada masa-masa ketika wilayah Selatan AS masih sangat rasis, tentu pertarungan yang menjadi warna adalah pertarungan tentang hak-hak kulit hitam.

Dalam konteks keadilan hak ini, sudah pasti juga akan terkait dengan kemiskinan, pengangguran, segregasi, dikelasduakannya warga kulit berwarna. Ada rujukan pendek tentang ibu kulit hitam yang punya anak-anak busung lapar.

Digambarkan bahwa James Farmer Jr dengan ayahnya yang diperankan Forest Whitaker, mengalami tekanan ketidakadilan hanya karena warna kulit. Ceritanya, ketika pulang seusai sebuah acara, James sekeluarga pulang dengan sebuah mobil dan di jalan yang bersemak di pinggirannya itu tiba-tiba mobil menabrak sesuatu---seekor babi. Mati babi itu.

Ini situasi yang menimbulkan masalah, karena pemilik babi adalah peternak kulit putih, yang dengan garang datang mengancam. Anda tahu, di AS dulu karena pengaruh perbudakan, warga kulit hitam dipanggil "boy", sedangkan kulit putih oleh kulit hitam akan dipanggil dengan "tuan".

Dalam cerita itu, ayah James mengalah. Pastilah karena pertimbangan keamanan keluarga. Ia menawarkan penggantian dengan cek senilai $17.00 yang semula diperuntukkan untuk biaya kuliah anaknya. Nilai $17 di waktu itu sudah sangat tinggi tentunya, beberapa kali lipat dari harga seekor babi yang mati tertabrak. Tetapi, karena ancaman pistol, ayah James merelakannya.

Itu adalah momen "disobedient" bagi James yang tidak dapat menerima begitu saja perlakuan rasis dan tidak adil yang dialami keluarganya. Ia menolak; meskipun tetap harus taat pada kata-kata ayahnya. Persitiwa itu menempel sangat dalam di benak James.

Apa yang dialami James merupakan bukti bahwa pembentukan diri seseorang, secara psikologis, sering terjadi ketika peristiwa di waktu muda, bahkan saat kecil. Persepsi kontekstual dapat mewarnai pembentukan diri; kekerasan hati atau bahkan latar belakang mengapa seseorang di masa datang akan memilih atau berbuat A atau B. James menjadi 'articulate' dalam menggambarkan ketidakadilan ras; justru dengan menggunakan pengalaman keluarganya itu.

Dalam film ini, kelompok debat yang diasuh Danzel memang berkembang semakin handal. Dari satu sekolah ke sekolah lain, mereka memenangkan perdebatan yang diadakan. Setiap isu bisa diperdebatkan; dan diperdebatkan dari dua arah---mendukung atau menolak. Film ini tepat sekali menjadi contoh betapa sebuah argumen selalu dapat dipertahankan dari dua sisi. Apa pun permasalahnnya sering kali tergantung bagaimana keandalah kita memperdebatkannya.

Namun, dalam film ini, sekalipun argumen dapat selalu dilakukan, esensi yang lebih ditanamkan adalah hakikat perdebatan yang lebih tinggi. Ketika terkait dengan warna kulit, kisah perdebatan di sini malah menjadi bentuk gerakan mengangkat harkat warga kulit hitam, bagaimana mereka dapat dianggap dan dihargai setara---regardless of color.

Mr. Tolson adalah guru yang bercita-cita besar; ia jelas tipe 'doer' yang yakin akan dapat melakukan apa saja, asalkan kita bersungguh-sungguh mengerjakannya. Tim debat Wiley College menjadi juru bicara kulit hitam ketika akhirnya Harvard mengundang mereka untuk sesi debat yang disiarkan di seluruh AS melalui radio.

Harvard di Massachussetts memang berbeda. Paling tidak, konteks masyarakat di Utara AS memang lebih mampu bersimpati kepada perbedaan warna kulit. Perang Sipil di AS berlarut-larut justru terkait dengan perbudakan, ketika wilayah Utara menolak, sedangkan Selatan, terutama Texas, ingin mempertahankannya.

Alur cerita fim semakin menarik ketika ternyata isu perdebatan yang diangkat justru lebih netral: ketidakpatuhan sipil (civil disobedience). Bagi Harvard, isunya bukan lagi soal warna kulit, tetapi perdebatan tangguh antar tim yang kuat. Sebagai tim pemenang debat nasional secara berturut-turut, tim Harvard memang mendapatkan lawan yang kuat.

Elemen menarik lainnya terutama karena cerita yang dituturkan betul-betul menyangkut fakta sejarah: perselisihan karena ketidakadilan ras sebagai sisa-sisa dari era perbudakan. Lebih menarik lagi adalah ketika para aktor yang memainkannya begitu masuk, terutama di kalangan tokoh utamanya, sehingga soal figur mereka sebagai aktor di luar film tidak terlalu menjadi hirauan kita.

Danzel adalah Mr. Melvin Tolson; Withtaker ayahnya James. Namun, karena cerita yang mereka mainkan lebih besar (larger than life), mereka ternyata hanya menjadi wayang yang diperlukan untuk penuturan kisah itu sendiri. Tentu di dalamnya ada banyak drama yang menambah warna dan konteks bagi film ini. Ada latar belakang gerakan 'radikal' Tolson yang terlibat dengan aspirasi gerakan buruh; ada kisah cinta anak muda, patah hati; ada kerusuhan ras dan seterusnya.

Dari konteks materi pemberi bobot debat, film ini juga menyinggung gerakan damai 'satyagraha"-nya Gandhi di India. Dari film ini anda akan tahu bahwa Gandhi bukan hanya mendasarkan gerakan damainya dari kitab suci Hindu, tetapi pemikiran pasifis Henry David Thoreau, yang ternyata lulusan Harvard. Film ini juga menyebut-nyebut tentang lynching mob, atau jenis siksaan mematikan yang dilakukan kepada orang kulit hitam untuk menjadi mempertakut dan contoh bagi yang lain.

Texas memang dikenal lebih rasis dibandingkan beberapa negara bagian lain di AS. Betul bahwa pembuatan film yang dibintangi dua pemenang Oscar ini, Denzel dan Forest Whitaker, sarat dengan beban perjuangan warna kulit. Ia mungkin tidak akan menjadi film, sekiranya bukan Oprah yang menjadi produser. Yang pasti, banyak pelajaran di dalamnya. Bagi rakyat AS, tentang sejarah hitam bangsanya dalam hal rasisme. Bagi kita, bahwa perjuangan menolak ketidakadilan perlu dilakukan di semua lini. Apa pun mediumnya, meskipun dalam hal debat, esensinya bahwa hak-hak asasi manusia tidak mengenal warna.

Di udara antara Los Angeles - Boston, 30 Mei 2008

*) Seperti saat makan di restoran Cina dan dapat fortune cookie yang kata-katanya mengena sekali.


16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
eminxsgallery wrote on Apr 30
ReviewReviewReviewReview
nggak abis pikir hingga sekarang tentang kelakuan AS, toh mereka itu bukan penduduk asli dari sana, jadi sebenarnya apa yang mereka bangun di sana, dibangun dengan apa ?, moga-moga keadilan Tuhan tetap berpihak pada mereka yang mengerti arti sejarah...
ciput wrote on May 1
Di mana-mana ketidak adilan pasti ada, cuma skalanya yg berbeda. U/ AS, perbudakan tidak bisa lepas dari persoalan ekonomi. Budak kulit hitam didatangkan dari Afrika u/ mencari tenaga kerja murah di perkebunan-perkebunan kapas, teh dan tembakau yg dominan di Selatan. Begitu policy federal mengarah pada pelarangan perbudakan, tentunya para juragan kebun itu yg pertama berteriak menentang, yg berujung pada perang saudara antara bule!

Belakangan, kaum kulit hitam terus mengembangkan kapasitas dirinya, u/ menyejajarkan diri dengan kolega bulenya. Yg terjadi sebagian besar orang bule malah diam di tempat, merasa sudah superior padahal sekolah pun tidak! Alhasil mereka termarjinalkan secara sosial. Pelampiasannya ya menekan minoritas kulit hitam!

Di negara kita juga banyak peluang begini loh, cuma beda bungkusan/kemasan :(
imamisnaini wrote on May 1
Film ini tepat sekali menjadi contoh betapa sebuah argumen selalu dapat dipertahankan dari dua sisi. Apa pun permasalahnnya sering kali tergantung bagaimana keandalah kita memperdebatkannya.
Mas inilah yang tidak disadari banyak orang sehingga menganggap dirinya yang paling benar. Padahal dari sudut pandang dan argumen yang lain pandangannya itu bisa salah. Dan lebih parah lagi, sering juga terjadi tindak kekerasan sampai bunuh-bunuhan akibat perbedaan itu.

Indah sekali hidup di dunia dengan pemikiran yang terbuka seperti itu Mas...
wisat wrote on May 1
Anda sudah menonton filmnya Danzel Washington "The Great Debaters"?
Belum. Tapi akan saya tonton setelah membaca review ini. Soal ras memang selalu menarik. Di AS, kesan yang saya tangkap, kini masyarakat Muslim yang menjadi korban diskriminasi, terutama dari pemerintah dan sebagian warga kulit putih.
sultanhaidar wrote on May 1
terima kasih resensinya. Sangat menarik. Akan saya cari film-nya sesegera mungkin.
ambarbriastuti wrote on May 1
sejarah US masih muda ya mas anwar. Bila ingat masalah segregasi itu hanya 30 tahun yang lalu dan masih saja perubahan itu belum terasa benar hingga jantung politik
agustianwar wrote on May 1
nggak abis pikir hingga sekarang tentang kelakuan AS, toh mereka itu bukan penduduk asli dari sana, jadi sebenarnya apa yang mereka bangun di sana, dibangun dengan apa ?, moga-moga keadilan Tuhan tetap berpihak pada mereka yang mengerti arti sejarah...
Mungkin, semua bangsa memang perlu belajar dan melihat kembali, secara lebih jernih. Film ini saya kira upaya untuk memperlihatkan dan mengingatkan publik tentang apa yang pernah terjadi. Bangsa kita mungkin juga perlu melakukan introspeksi yang sama, lewat film, tentang penjajahan, misalnya.... salam....
agustianwar wrote on May 1
ciput said
Di negara kita juga banyak peluang begini loh, cuma beda bungkusan/kemasan :(
Setuju Mas---makanya film dalam konteks AS ini pun bisa jadi pelajaran. Bahkan termasuk pelajaran bagaimana berdebat....salam....
agustianwar wrote on May 1

Indah sekali hidup di dunia dengan pemikiran yang terbuka seperti itu Mas...
Perbedaan memang alamiah ya Mas Imam; tetapi pendekatan terhadap perbedaan itu yang perlu lebih berfokus pada mutual-gain. Ini memang susah......
agustianwar wrote on May 1
wisat said
Di AS, kesan yang saya tangkap, kini masyarakat Muslim yang menjadi korban diskriminasi, terutama dari pemerintah dan sebagian warga kulit putih.
Advokasi masyarakat Muslim AS memang juga semakin berkembang Mas.....
agustianwar wrote on May 1
terima kasih resensinya. Sangat menarik. Akan saya cari film-nya sesegera mungkin.
Selamat menikmati.....salam....
agustianwar wrote on May 1
sejarah US masih muda ya mas anwar. Bila ingat masalah segregasi itu hanya 30 tahun yang lalu dan masih saja perubahan itu belum terasa benar hingga jantung politik
Betul sekali mbak; dalam beberapa hal penjajahan Belanda bahkan telah 60+ tahun berlalu.....salam....
elbintang wrote on May 2
waaa...saya pengagum Denzel Washington :D
film yang menarik juga membuat saya teringat akan sesuatu...
Oprah Winfrey yang juga merasakan "pilu"nya sentimen ras bisa dengan entengnya menudingkan telunjuk pada muslim -tanpa data- sebagai pelaku pengeboman WTC. berkali-kali.
sigh!
agustianwar wrote on May 2
Oprah Winfrey yang juga merasakan "pilu"nya sentimen ras bisa dengan entengnya menudingkan telunjuk pada muslim -tanpa data- sebagai pelaku pengeboman WTC. berkali-kali.
memang, tidak selalu pelajaran yang dialami dalam satu hal menjadikan lapang pikir di bidang lain. Oprah termasuk di dalamnya. Menyangkut agama, ia bisa saja terpaku bias yang biasa itu.........salam...
nadaminor wrote on May 5
Benar, debat akan menghasilkan alternatif solusi, selama yang melakukannya menjaga alur pikir pada pokok masalahnya, dan tetap menerima reason dari dua sisi. Hal ini juga yang perlu dicontoh dalam bermasyarakat dan bernegara di Indonesia. Sukses selalu, salam.
agustianwar wrote on May 8
Benar, debat akan menghasilkan alternatif solusi, selama yang melakukannya menjaga alur pikir pada pokok masalahnya, dan tetap menerima reason dari dua sisi. Hal ini juga yang perlu dicontoh dalam bermasyarakat dan bernegara di Indonesia. Sukses selalu, salam.
Cocok, setuju sekali. Perdebatan tidak harus berarti kesepihakan, tetapi kesediaan mendengarkan argumen lain. Siapa tahu, toh manusia, justru lawan debat yang justru lebih benar, iya kan Mas Nadaminor?....salam juga....
Add a Comment
How would you rate this movie? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help