Awas:
Big brother is watching you!Itu kata
George Orwell lewat karya besarnya “1984” yang ditulis di tahun 1949. Penulis Inggeris yang nama aslinya Eric Blair itu tengah menggambarkan dominasi fasisme sistem satu partai yang mengamati semua rakyat, tanpa terkecuali. Sebuah mata besar menatap ke mana pun pergi.
Proyeksi Orwell tidak menjadi kenyataan di tahun 1984. Tetapi di abad posmodern sekarang, mata besar yang mengawasi kita itu tampaknya bukan lagi atau tidak harus milik partai tunggal yang fasis, tidak harus badan intelijen atau pemerintah. Menurut Newsweek edisi Asia, 3 April 2006, lewat tulisan David Friedman
Why Privacy Wont Matter, kemungkinan besar itu milik google.com. Atau paling tidak, milik dunia maya, apa pun perusahaannya, sebutkanlah.
Globalisasi memang membuat satu sama lain terpaut dan penaut yang paling aktif adalah dunia internet. Informasi apa pun diperoleh dengan mudah melalui mesin pencari yang tersedia. Google barangkali saat ini yang terbaik, melampaui rekor Yahoo.com yang dulu unggul. Di Indonesia, mantan Jubir Deplu Marty Natalegawa yang sedang bertugas sebagai Dubes RI untuk Inggeris, suka bercanda bahwa ia sangat bergantung pada "Direktorat Google" sebagai penyedia informasi yang paling cepat, paling tidak untuk telusuran fakta.
Ke depan, dominasi dunia maya tampaknya akan mengambil peran ‘big brother’-nya Orwell. Bedanya, informasi yang dikumpulkan bukan untuk kepentingan spionase strategis yang terkait dengan keamanan negara, melainkan lebih untuk kepentingan bisnis. Singkatnya, ini masalah iklan (advertisment), soal penargetan pasar (market targeting).
Iklan? Benar, tapi bukan sesepele itu. Lewat cookie yang sudah inheren dalam paket dunia maya, upaya pemantauan secara virtual sebetulnya sudah cukup lama dilakukan. Yang sekarang terjadi justru intensifikasinya ke tingkat yang lebih dalam.
Dalam era cyber sekarang, semua manusia modern cenderung untuk get connected. Kita pengguna rutin email, instant messaging, blogs (lengkap dengan sharing foto-fotonya) dan berbagai layanan berbasis web lainnya. Kita menjelajahi dan lebih mengenal dunia dengan cara surfing di internet.
Realitasnya, setiap kali kita terhubung via medium virtual tersebut, kita telah kehilangan sebagian dari privasi. Lebih dari itu, kita justru ingin memanfaatkan fasilitas yang tersedi untuk menjadi bagian dari dunia publik. Alhasil, seperti kata Friedman, privasi malah dengan sengaja kita abaikan. Semakin lama dan dengan semakin canggihnya sistem informasi global yang kita gunakan, maka semakin banyak dari diri kita yang diketahui secara publik. Pada saatnya nanti, penggunaan telepon genggam pun akan semakin intensif menjadi medium pengumpulan data tentang kita.
Saat ini disebutkan bahwa google merupakan mesin pengkoleksi ‘data’ terhebat tentang kita. Setiap kali kita memasukkan kata ke mesin pencari itu, dengan sendirinya google melakukan pendataan, menyimpan dan menganalisa informasi yang kita inginkan. Ini adalah titik jual, peluang uang. Karena dengan penawaran informasi yang diberikannya, google menjadi makelar yang mendapatkan keuntungan dengan mempertemukan penjual dan kita yang jadi target pasar. Itulah sebabnya, ketika kita mencari sesuatu lewat google, sebetulnya secara bersamaan google justru sedang mencari kita.
Konsep yang lebih integrated di masa depan adalah konsep ‘sentient network’ yang sedang digagas Yahoo. Sebabnya, melalui pendataan kebiasan dan kecederungan kita dalam memanfaatkan jasa dunia maya selama ini, maka kita telah di-customized oleh mesin itu sebagai suatu ‘ultrapersonalised information’ yang dapat dijejali dengan tawaran-tawaran sesuai dengan ‘karakter’ kita. Karena sifatnya yang melayani, meskipun dengan tujuan menjual, diyakini bahwa kita akan dengan rela menghilangkan sebagian dari privasi sendiri.
Yang menjadi masalah, apakah informasi tentang kita itu sepenuhnya hanya menjadi kepentingan bisnis semata? Ketika kita sudah searchable, tampaknya penggunaan informasi tentang kita akan dapat menjadi apa saja, sesuai dengan yang menggunakannya. Sebagai perbandingan, ketika Inggeris memanfaatkan kamera-kamera CCTV di kota untuk mendokumentasi siapa pun yang lewat, dengan otomatis informasi intelijen telah diperoleh. Itu juga yang menjadi sebab mengapa aksi teroris pemboman di London, Juli 2005, dapat cepat ditelusuri, karena kamera-kamera merekam gerak-gerik beberapa teroris tersebut di stasiun kereta atau tengah melintas di lampu merah.
Apabila konsep sentient network menggabungkan seluruh informasi yang diperoleh tentang kita melalui semua medium yang ada, dari sidik jari biometrik, rekaman CCTV, akses internet, telepon genggam, PDA dan seterusnya maka privasi kita untuk menjadi 'orang yang tidak dikenal' adalah hal yang sulit. Ini adalah pisau bermata dua---bisa positif namun juga negatif.
Dengan kata lain, big brother-nya Orwell bukan kenyataan di dekade 1980an, tetapi realitas abad 21, sekarang dan ke depan. Tentu saja, kita juga mempunyai pilihan untuk melakukan pemblokan atau lainnya. Tetapi, ketika kehidupan semakin menautkan kita dengan teknologi, termasuk dunia maya, maka umunya kita dengan sadar atau tidak akan mengabaikan sebagian dari privasi itu. Bagaimana menurut anda?
Jakarta, 28 Maret 2006