ReviewReviewReviewDUNIA TANPA PRIVASI?Mar 28, '06 6:02 AM
for everyone
Category:Other
Awas: Big brother is watching you!

Itu kata George Orwell lewat karya besarnya “1984” yang ditulis di tahun 1949. Penulis Inggeris yang nama aslinya Eric Blair itu tengah menggambarkan dominasi fasisme sistem satu partai yang mengamati semua rakyat, tanpa terkecuali. Sebuah mata besar menatap ke mana pun pergi.

Proyeksi Orwell tidak menjadi kenyataan di tahun 1984. Tetapi di abad posmodern sekarang, mata besar yang mengawasi kita itu tampaknya bukan lagi atau tidak harus milik partai tunggal yang fasis, tidak harus badan intelijen atau pemerintah. Menurut Newsweek edisi Asia, 3 April 2006, lewat tulisan David Friedman Why Privacy Wont Matter, kemungkinan besar itu milik google.com. Atau paling tidak, milik dunia maya, apa pun perusahaannya, sebutkanlah.

Globalisasi memang membuat satu sama lain terpaut dan penaut yang paling aktif adalah dunia internet. Informasi apa pun diperoleh dengan mudah melalui mesin pencari yang tersedia. Google barangkali saat ini yang terbaik, melampaui rekor Yahoo.com yang dulu unggul. Di Indonesia, mantan Jubir Deplu Marty Natalegawa yang sedang bertugas sebagai Dubes RI untuk Inggeris, suka bercanda bahwa ia sangat bergantung pada "Direktorat Google" sebagai penyedia informasi yang paling cepat, paling tidak untuk telusuran fakta.

Ke depan, dominasi dunia maya tampaknya akan mengambil peran ‘big brother’-nya Orwell. Bedanya, informasi yang dikumpulkan bukan untuk kepentingan spionase strategis yang terkait dengan keamanan negara, melainkan lebih untuk kepentingan bisnis. Singkatnya, ini masalah iklan (advertisment), soal penargetan pasar (market targeting).

Iklan? Benar, tapi bukan sesepele itu. Lewat cookie yang sudah inheren dalam paket dunia maya, upaya pemantauan secara virtual sebetulnya sudah cukup lama dilakukan. Yang sekarang terjadi justru intensifikasinya ke tingkat yang lebih dalam.

Dalam era cyber sekarang, semua manusia modern cenderung untuk get connected. Kita pengguna rutin email, instant messaging, blogs (lengkap dengan sharing foto-fotonya) dan berbagai layanan berbasis web lainnya. Kita menjelajahi dan lebih mengenal dunia dengan cara surfing di internet.

Realitasnya, setiap kali kita terhubung via medium virtual tersebut, kita telah kehilangan sebagian dari privasi. Lebih dari itu, kita justru ingin memanfaatkan fasilitas yang tersedi untuk menjadi bagian dari dunia publik. Alhasil, seperti kata Friedman, privasi malah dengan sengaja kita abaikan. Semakin lama dan dengan semakin canggihnya sistem informasi global yang kita gunakan, maka semakin banyak dari diri kita yang diketahui secara publik. Pada saatnya nanti, penggunaan telepon genggam pun akan semakin intensif menjadi medium pengumpulan data tentang kita.

Saat ini disebutkan bahwa google merupakan mesin pengkoleksi ‘data’ terhebat tentang kita. Setiap kali kita memasukkan kata ke mesin pencari itu, dengan sendirinya google melakukan pendataan, menyimpan dan menganalisa informasi yang kita inginkan. Ini adalah titik jual, peluang uang. Karena dengan penawaran informasi yang diberikannya, google menjadi makelar yang mendapatkan keuntungan dengan mempertemukan penjual dan kita yang jadi target pasar. Itulah sebabnya, ketika kita mencari sesuatu lewat google, sebetulnya secara bersamaan google justru sedang mencari kita.

Konsep yang lebih integrated di masa depan adalah konsep ‘sentient network’ yang sedang digagas Yahoo. Sebabnya, melalui pendataan kebiasan dan kecederungan kita dalam memanfaatkan jasa dunia maya selama ini, maka kita telah di-customized oleh mesin itu sebagai suatu ‘ultrapersonalised information’ yang dapat dijejali dengan tawaran-tawaran sesuai dengan ‘karakter’ kita. Karena sifatnya yang melayani, meskipun dengan tujuan menjual, diyakini bahwa kita akan dengan rela menghilangkan sebagian dari privasi sendiri.

Yang menjadi masalah, apakah informasi tentang kita itu sepenuhnya hanya menjadi kepentingan bisnis semata? Ketika kita sudah searchable, tampaknya penggunaan informasi tentang kita akan dapat menjadi apa saja, sesuai dengan yang menggunakannya. Sebagai perbandingan, ketika Inggeris memanfaatkan kamera-kamera CCTV di kota untuk mendokumentasi siapa pun yang lewat, dengan otomatis informasi intelijen telah diperoleh. Itu juga yang menjadi sebab mengapa aksi teroris pemboman di London, Juli 2005, dapat cepat ditelusuri, karena kamera-kamera merekam gerak-gerik beberapa teroris tersebut di stasiun kereta atau tengah melintas di lampu merah.

Apabila konsep sentient network menggabungkan seluruh informasi yang diperoleh tentang kita melalui semua medium yang ada, dari sidik jari biometrik, rekaman CCTV, akses internet, telepon genggam, PDA dan seterusnya maka privasi kita untuk menjadi 'orang yang tidak dikenal' adalah hal yang sulit. Ini adalah pisau bermata dua---bisa positif namun juga negatif.

Dengan kata lain, big brother-nya Orwell bukan kenyataan di dekade 1980an, tetapi realitas abad 21, sekarang dan ke depan. Tentu saja, kita juga mempunyai pilihan untuk melakukan pemblokan atau lainnya. Tetapi, ketika kehidupan semakin menautkan kita dengan teknologi, termasuk dunia maya, maka umunya kita dengan sadar atau tidak akan mengabaikan sebagian dari privasi itu. Bagaimana menurut anda?

Jakarta, 28 Maret 2006


10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
hericz wrote on Mar 28, '06
Hmm, di eropa chip yang ditanam dalam tubuh sudah akan mulai ke tahap eksperimental dengan sekitar 1000 pengguna. (beritanya lupa). Memang saat ini chip ini masih pasif, tapi ke depannya bisa menjadi chip aktif yang lebih mengancam privasi.

Privasi memang hanya bisa didapatkan di rumah, kamar sendiri, atau di kamar mandi. Kecuali ada orang iseng yang pengen digebuki.


iwan95 wrote on Mar 28, '06
Wah ketemu lagi ama mas Hericz di sini :)

Nice article Bang Anwar :)
deshinta wrote on Mar 28, '06
Apa sih, definisi privasi itu? Ada yg bilang, privasi adalah kegiatan individual yang tidak terkait dengan kegiatan sosial dan tidak ada orang yang tahu. Kalau menurut saya, sebagai muslim, kita tidak pernah di ajarkan tentang Privasi. Privasi itu tidak ada, kenapa? Krn di setiap tindak tanduk kita ada Allah yang mengamati, ada malaikat yang mencatat dan semuanya akan di pertanggungjawabkan di akhirat. Di setiap langkah kita, ada yang mengamati. Bedanya, kita tidak bisa melihat yang mengamati kita itu (padahal sdh di kasih tahu lho).

Nah, kalau ada manusia, yang mengamati dgn semua teknologi tercanggih yang ada, apakah kita harus merasa 'terganggu'? Rasanya, bukan 'pengamatan' yang menjadi masalah. Tetapi akibat dari pengamatan itu, yang ada kemungkinan digunakan utk hal2 yang kurang baik. Kalau Allah dan Malaikat, pasti tidak akan menggunakan data yg di dapatkan utk memfitnah kita kan... tetapi kalau manusia yg mengamati, ada kekuatiran, data itu dimanipulasi dan menjadi boomerang utk kita sendiri. Rasanya concern kita lebih kepada 'itu'. Anyway..it's only my simple thought... so...Dunia Tanpa Privasi...so what..?? hehe...
agustianwar wrote on Mar 28, '06
hericz said
di eropa chip yang ditanam dalam tubuh sudah akan mulai ke tahap eksperimental dengan sekitar 1000 pengguna
Benar mas, saya pernah baca tentang chip ini. Di Meksiko, pemerintah justru mengimplant chip di lengan para jaksa dan hakim untuk mendeteksi keberadaan mereka, karena seringnya para penegak hukum diculik kawanan pedagang narkotika. Privasi memang jadi dilematis... Salam, Anwar.
Comment deleted at the request of the author.
agustianwar wrote on Mar 28, '06
iwan95 said
Nice article Bang Anwar :)
Thanks mas Iwan, semoga ada manfaatnya..
agustianwar wrote on Mar 28, '06
Apa sih, definisi privasi itu?
Aduh, pertanyaan ini sangat filosofis dan susah dijawab. Privasi memang hal yang dilematis. saya setuju betul bahwa di hadapan Allah tak ada itu privasi-privasian. Data tentang kita sangat jauh lebih lueengkap dalam catatan langit. Memang yang menjadi isu adalah apabila hal-hal pribadi kita dimanfaatkan oleh pihak lain untuk kepentingan-kepentingan tertentu yang negatif. Contoh ringan, karena punya email publik, spam berdatangan bagai bah---kadang bisa menjengkelkan juga.. Untung ada penawarnya lewat spam blocker... 'Privasi' di hadapan orang lain mungkin akan bernilai saat, misalnya, kita ingin beramal secara ikhlas, yang ketika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu... Soalnya takut jadi riya... Anyway, nice thought----kiranya sempat diramu menjadi artikel sendiri... Salam, Anwar.
marufafandi wrote on Mar 29, '06
waduh.. berat2 tulisan yang diangkat..belum nyampai ke sana neh pagi ini kayaknya..
mungkin agak siangan dikit..mesin udah mulai panas..hehehe
Comment deleted at the request of the author.
agustianwar wrote on Mar 29, '06
mungkin agak siangan dikit..mesin udah mulai panas..hehehe
Kalau begitu ditunggu komentarnya kalau udah panas deh---diesel kayaknya ini? Salam, Anwar.
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help