ReviewReviewReviewDILEMA BURUH NEGERIMay 8, '06 7:55 AM
for everyone
Category:Other
Oleh: Agusti Anwar


Kaum buruh Indonesia, bersatulah!

Itu bukan lagi soal himbauan Marx, melainkan ekspresi semangat kaum buruh Indonesia yang melakukan demonstrasi besar-besaran di awal Mei ini untuk menolak revisi UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan.

Mereka bersatu. Lalu ratusan ribu buruh dari berbagai wilayah sekitar Jakarta tumpah di Budaran HI, di depan Istana dan gedung DPR. Aparat keamanan mengantisipasi pengamanan secara gala. Demonstrasi berjalan damai.

Mereka bergerak lagi di tanggal 3 Mei, dengan konsentrasi utama di depan kantor para wakil rakyat. Kali ini tidak mulus; terjadi kericuhan.

Kendati demikian, secara keseluruhan, demonstrasi buruh itu telah berlangsung cukup konstruktif. Bila diperhatikan dari skala massa yang ikut, dengan konteks politik yang tidak solid, tekanan ekonomi yang melilit, aksi yang terjadi dapat dinilai relatif baik.

Buruh seringkali menjadi kekuatan massa yang sangat menentukan dalam kancah politik. Jatuhnya berbagai rezim otoriter di berbagai negara berkembang seringkali berawal atau ditopang oleh aksi buruh yang tidak puas karena tekanan ekonomi dan ketimpangan.

Untungnya, demonstrasi buruh yang terjadi di bulan Mei ini adalah aksi di negara demokrasi. Presiden sempat melontarkan duga-duga bagi kalangan yang masih belum legowo menerima kepemimpinannya, walaupun tidak bermaksud menuduh. Sebagai selebritis politik, Gus Dur pun ikut bicara: Pemerintah harus minta maaf? Partai lain juga berkomentar, untung tidak berlebihan.

Realitasnya, dalam kondisi negara yang belum sempat-sempat pulih ini, ditambah lagi dengan daftar tunggu bencana, keterlaluan memang apabila ada pihak yang mencoba memancing di air keruh.

Semua mengalami tekanan sulit: buruh, investor, pemerintah, politisi. Oleh sebab itu, semestinya jangan saling menendang. Buruh sudah sejak lama menjadi penanggung derita dalam proses ekonomi yang berwarna pertumbuhan ini. Meski buruh pun harus bersikap proporsional, keluhan mereka sangat perlu didengarkan.

Investor, yang perlu diundang masuk ke dalam negeri agar roda ekonomi bergerak maju, perlu diyakinkan. Mereka punya uang dan siapa punya uang bisa memilih. Semua orang sudah maklum bahwa investor sekarang lebih memilih Cina dan Vietnam daripada Indonesia. Mestikah kita membuat mereka lebih ketakutan lagi?

Pemerintah memainkan peran menyeimbangkan semua kepentingan itu. Tanggung jawab perbaikan ekonomi berada di pundak mereka; dan semua pihak perlu dilayani.

Politisi bertanggung jawab mengutamakan kepentingan pemilihnya, dan itu para rakyat, buruh-buruh itu.

Kalau semua saling tendang; semua jadi korban. Politisi jangan sok pahlawan, pemerintah jangan asal tindak; pengusaha/investor jangan sampai kabur; buruh jangan semakin tertelantarkan.

Ini rumus yang tidak mudah. Tidak akan ada solusi yang memuaskan semua pihak. Tetapi, kalau semua saling bersinergi, saling membahu, saling perduli, bangsa kita akan punya peluang. Demokrasi menjajikan semua menang.

Mohon jangan lupa, selain masalah buruh, masalah-masalah lain termasuk bencana masih tercatat berstatus pending dalam daftar tunggu yang panjang.


Jakarta, 5/8 Mei 2006

Tautan Lain:
  • Abdillah Toha, Demo Buruh dan Blunder Pemerintah

  • Menakertrans: Industri Rugi Rp840 Miliar Karena Peringatan Hari Buruh

  • Studi Kasus Taiwan oleh Asiandi Ahmad:"Buruh, Prestasi dan Kebangkitan"


  • ferryzuljanna wrote on May 8, '06
    Memang untuk memperbaiki negeri ini perlu upaya yang menyeluruh dan integral, tidak bisa parsial.
    imamisnaini wrote on May 8, '06
    mengapa paradigma yang diapakai selalu buruh dan juragan (bos), yang satu dipandang lebih rendah dari yang lain karena bukan pemilik modal (uang). sebenarnya hubungan tersebut kan saling menguntungkan, sama-sama punya modal, yang satu modal uang dan yang laen modal tenaga.
    agustianwar wrote on May 8, '06
    Agar berhasil---dan ini kompleks---solusi harus bersifat integral dengan tidak menelantarkan siapa pun. Hubungan buruh-juragan adalah permanen, dalam arti tidak ada yang bisa saling mengabaikan. Mencari solusi yang tidak saling mengorbankan adalah resepnya, tetapi ini sangat sulit dan saya kira akan menuntut semua kita untuk berfikir besar sebagai sebuah bangsa... Salam, Anwar.
    imamisnaini wrote on May 8, '06
    agustianwar wrote on May 8, '06
    Buruh, Prestasi dan Kebangkitan
    Thx mas Imam. Itu artikel bagus, terutama untuk studi kasus Taiwan. Salam, Anwar.
    fauziach wrote on May 9, '06
    Memang sudah sejak dahulu permasalahan buruh di dalam negeri ini timbul, berbagai solusi untuk mensinergykan tripartit( buruh, pengusaha, dan pemerintah) dari mulai UMK yang semestinya didasarkan pada mekanisme pasar, tidak bisa disamakan antara perusahaan yang satu dengan yang laen. harus disesuaikan dengan produktifitas dari TK dalam perusahaan. Sedangkan produktifitas usaha kita masih sangat rendah bila dibandingkan dengan negara yang tersebut diatas china dan vietnam.
    agustianwar wrote on May 10, '06
    Sedangkan produktifitas usaha kita masih sangat rendah bila dibandingkan dengan negara yang tersebut diatas china dan vietnam.
    Benar Mas. Re Cina dan Vietnam, kita memang semakin ketinggalan jauh. Dari pengalaman melihat sendiri dari Beijing, hampir setiap hari ada penandatanganan investasi baru---ini tentu berarti perluasan lowongan kerja. Yang terjadi pada kita, justru pelarian investor, termasuk pelarian modal domestik. Pendeknya, sinergi sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan. Salam, Anwar.
    fauziach wrote on May 11, '06
    Benar Mas. Re Cina dan Vietnam, kita memang semakin ketinggalan jauh. Dari pengalaman melihat sendiri dari Beijing, hampir setiap hari ada penandatanganan investasi baru---ini tentu berarti perluasan lowongan kerja. Yang terjadi pada kita, justru pelarian investor, termasuk pelarian modal domestik. Pendeknya, sinergi sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan. Salam, Anwar.
    Sebetulnya permsalahan utama pada support dan komitmen dari pemerintah kita sendiri. Belum adanya kemudahan dan kecepatan perijinan dalam investasi, masih banyaknya pungutan2 yang semestinya tidak perlu, sehingga menimbulkan highcost economy. ini dipicu lagi oleh otoda yang tiap2 daerah ingin memperbesar PAD saja sedangkan pos atau sumber PAD kurang tepat. Untuk permasalahan buruh demo, bagi mereka bukan yang utama, tapi karena ini bisa jadi dijadikan isu terbesar oleh lawan politik pemrintah saat ini. yang tidak ingin situasi kondusif.... ya... semoga kembali ke jalan yang benar :)
    samuelsilaen wrote on Jun 23
    Politisi bertanggung jawab mengutamakan kepentingan pemilihnya, dan itu para rakyat, buruh-buruh itu.Pemerintah memainkan peran menyeimbangkan semua kepentingan itu. Tanggung jawab perbaikan ekonomi berada di pundak mereka; dan semua pihak perlu dilayani.
    Add a Comment
    How would you rate this thing? (optional)
       
    © 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help