 Oleh: Agusti Anwar
Apakah pilihan anda membaca novelnya atau menonton filmnya? Your choice!
Ini bukan dilema klasik yang usianya telah setua bumi. Dalam tenggang sejarah peradaban manusia, pertanyaan seperti ini hanyalah masalah kemaren sore yang seumur jagung. Seawal-awalnya pun, persoalan menonton baru muncul sejak abad 20, ketika industri ‘gambar bergerak’ (motion pictures) yang berbasis celluloid mulai dirambah. Kendati demikian, ketika teknologi cine-camera masih sederhana, apakah tanpa suara, masih dengan gerak yang patah-patah, sampai yang tanpa warna, tantangan menonton belum begitu mengancam.
Slapstick klasik Charlie Chaplin atau The Three Stooges akan tetap menimbulkan nostalgia yang menyenangkan. Beberapa karya gala klasik hitam putih di tahun 1950 atau 1960an seperti The Ten Commandments dan Spartacus, atau mungkin Gone With the Wind, tetap saja bagus. Namun, semua suguhan layar lebar klasik itu praktis belum sedemikian memukaunya.
Revolusi menonton barangkali baru terasa kuat setelah era berwarna lewat Technicolor dan suskesnya reka efek (special effects) yang mengagumkan sejak Star Wars-nya George Lucas di akhir 1970an. Semakin ke depan, batas-batas visualisasi imaginasi pun terus-menerus menipis.
Sekarang ini, dunia cinemathography telah memiliki perangkat teknik, tips and tricks, yang seakan sudah tak terhingga. Hollywood merupakan kota suci bagi industri perfilman dunia, tempat di mana bersarangnya raksasa-raksasa seperti MGM, Warner Bros, Fox, Columbia, Universal Studio dan seterusnya yang telah lama malang melintang. Berbagai studio lain bermunculan terus dan saling mengungguli.
Dengan segenap kelengkapan yang ada, menonton sekarang adalah hal yang luar biasa. Imaginasi yang ditawarkan sudah sangat kompleks dan mempunyai daya pukau yang sangat believable. Digitalisasi dunia layar lebar sangat memanjakan kreativitas imajinasi yang hampir tanpa batas. Sekarang, apa pun konstruksi yang dihayalkan si pengarang dapat dituangkan dengan sangat nyata ke hadapan kita.
Bayangkan perbedaan antara King Kong buatan 1930an dengan retake baru-baru ini. Berbagai karya besar lain muncul dan mencuat karena keunggulan reka efek seperti Jumanji, Jurassic Park, Godzilla dan lainnya. Peperangan dan pertempuran pun terasa sangat riel seperti digambarkan dalam Braveheart, the Gladiator, Alexander, Troy terus sampai Kingdom of Heaven dan yang akan muncul lebih belakangan. Bahkan dunia alien yang lucu a la Men in Black-nya Will Smith, pesona sorgawinya What Dreams May Come Robin William sampai kehidupan mutan para X-Men milik Marvel.
Siapakah yang tidak terkesima menyaksikan trilogi Lord of the Ring. Meskipun J.R. Tolkien tidak pernah bermaksud memisahkannya sebagai cerita tiga rangkai, namun karena memang panjang, ini adalah bentuk trilogi yang manis. Membaca novel lengkap karya monumental Tolkien ini sudah pasti sangat menyita waktu, karena sangat tebal. Bahkan, ketika telah diangkat pun ke layar lebar, durasi filmnya pun tergolong panjang-panjang.
Untunglah filmnya baru dibuat sekarang ini, yang berkat teknik reka efek yang sangat handal plus permainan aktor dan arahan sutradara yang sangat bagus, penyuguhan Lord of the Ring secara visual pun menjadi sangat spektakuler. Dapat dipastikan bahwa pilihan membaca atau menonton filmnya, apalagi sekarang ketika dua versi itu telah tersedia dengan lengkap, menjadi pilihan yang kurang fair. Jangan salahkan kalau banyak yang sudah sangat puas hanya dengan menonton saja.
Benar bahwa sejumlah film didasarkan langsung pada skenario dan keterampilan sutradara. Namun, yang didasarkan pada karya novel, saya kira, tetap tak kalah banyak. Sekarang bahkan sudah paket yang menjadi trend dan impian para pengarang bahwa sebuah karya sukses akan dibeli dan diproduksi menjadi film. Karya-karya John Grisham sejak The Firm, Pelican Brief dan seterusnya, adalah contoh novel berbasis hukum yang dikenal bermutu bagus, baik untuk dibaca maupun ditonton. Stephen King pun tidak ketinggalan dalam urusan book-to-movie ini. Kalangan bisnis entertainment bahkan lebih lihai lagi, karena semua aspek asesoris terkait dijadikan uang, sampai ke mainan dan computer game-nya.
Sebetulnya pilihan mana yang lebih berkualitas antara membaca novel atau menonton filmnya? Para pembaca The Da Vinci Code tampaknya banyak yang tidak puas dengan versi layar lebarnya, meskipun itu Tom Hank yang menjadi aktor unggulannya. Saya sebagai pembaca yang tergolong kurang puas dengan tempo ending novelnya, sebagai penonton lebih merasa hambar melihat filmnya.
Barangkali memang membaca novel sebelum menonton filmnya akan selalu membuat kita berpenilaian tidak adil, terutama kepada filmnya. Soalnya, ketika kita membaca sebuah karya, bukan saja ekspresi sifat (adjective) dan perasaan dari pengarang lebih mengalir ke urat hati kita, tetapi juga karena masing-masing kita berubah peran menjadi sutradara film imajinasi yang sifatnya pribadi. Sebagai individu yang masing-masing adalah unik, pengalaman yang berlainan membuat kita memiliki pilihan imaji yang beragam.
Meskipun novel yang kita baca sama, kualitas kedalaman menikmatinya dapat sangat berlainan. Saya kira, novel-novel yang syarat perasaan akan cenderung lebih buruk dalam bentuk filmnya, karena kita para pembaca tidak mungkin melepaskan persepsi yang subjektif. Bagaimana pun, sebuah film dapat dimaknai sebagai tindakan pemaksaan, kalau bukan pengkolonian, sebuah imajinasi yang seragam oleh seorang sutradara. Itu pulalah sebabnya maka menonton cenderung menawarkan efek pendangkalan imajinasi.
Malangnya, kita selalu menjadi makhluk yang penuh keterbatasan, bahkan dalam hal waktu. Keterbatasan yang ada sering membuat kita bertindak praktis. Walaupun sebagai pembaca yang fanatik, seringkali dilema membaca atau menonton harus diselesaikan dengan pilihan yang lebih pragmatis sesuai situasi dan kondisi yang ada. Pada akhirnya, saya kira bagi yang berpeluang, maka membacalah karena nilainya berbeda. Namun kalau tidak, menontonlah, agar mendapat manfaat. Toh kedua-duanya merupakan finesse dari peradaban manusia.
Jakarta, 17 April/27 Juni 2006
  | membaca, membaca, membaca baru menonton :-)
|
 | Lebih suka membaca, dan sering kecewa setelah menonton filmnya. Dua contoh kekecewaan saya ada pada Harry Potter dan Da Vinci code. |
Comment deleted at the request of the author.
 | Baik membaca atau menonton, saya kira ada "nilai" sendiri-sendiri. Memang ada sebuah case dimana, setelah sebuah novel dijadikan film, banyak penggemarnya yg kecewa. Itu wajar, karena film dibatasi oleh waktu.
Berbeda dgn novel, yang bisa lebih detail menggambarkan suasana, tokoh, setting dst. |
 | Membaca atau menonton? Jawabannya: membaca!!! LOTR is a good film. Tapi novelnya jauuuh lebih bagus... |
 | buat saya, nonton... nonton... nonton aja pak... some people fancy watching rather than reading, maybe because they are both auditory as well as visual type of person...
|
 | some people fancy watching rather than reading  That's true. Both reading and watching have thier own limits, and, of course strengths. Reading will confer us with more luxury of being the director of our own imagination, the movie in our head. Watching will limit our freedom to the extent of the imagination of the movie director. It is always fun though, given our different circumstances. To be fair, with the dvd mass production around (pirated or not), watching is a lot cheaper and less time-consuming. Yet, reading is more personal and more on quality. For me, if you cannot read, just watch. Both are part of the finesse of our civilization. Regards, Anwar. |
 | yup.. i agree with u, i like it both though.. but s'time we put high expectation on the filmed books that's why when it brought up to the big screen all we got is disappointed, when the film creator couldn't meet our expectancy. and thats what happen to the da vinci code, well at least for me.. i dunno bout the others, then again everyone has their own preferences |
 | You are very right on the Da Vinci Code movie, I am not that happy either. Reading is most likely more fulfilling---but it takes more of our time. Reading allows us to be our own director of the imagined movie of our mind. A film is a director's interpretation of the same script, of which we may not be fully satisfied. Yet, when time is the issue, I usually set myself ready just to see the movie and based my judgment on what is seen and be pleased with it. |
 | mulanya saya hanya menonton film the Da Vinci Code karena tak sempat baca bukunya tetapi selepas nonton kok banyak hal yang membingungkan. Setelah baca novelnya baru deh jelas ceritanya.
Tapi kadang kalu baca novelnya duluan suka tidak puas dengan perwatakan dari pemain dengan perwatakan yang di gambarkan di novel. |
| |